Rahasia Hati

Rahasia Hati
Request


__ADS_3

Hentakan lembut musik goodbye dari Le Youth mengiringi perjalananku menuju pulang. Sekarang setiap minggu aku pasti bertemu dengan Miko. Kalau tidak aku yang pulang atau Miko yang menemuiku di kota. Kami bergantian mengunjungi karena Miko belum pindah.


Mungkin dalam minggu ini dia bisa stay di dekatku karena sudah pasti akan masuk kantor berdekatan denganku. Kami sudah mengurus kepindahan dan semua barang-barang Miko. Rencana setelah menikah akan tinggal di rumahku.


Sebetulnya Miko mau renovasi rumahnya yang ada di kotaku tapi aku tidak mau. Aku ingin kami tinggal di rumah Papa saja kalau pulang ke kota. Jadilah kamarku yang harus di renovasi supaya agak lebih besar. Mama sudah bicara bahwa kalau kami pulang harus tinggal di rumah Papa.


Minggu lalu kami sudah melakukan foto free wedding dengan nuansa alam pantai sesuai keinginanku. Tiga hari aku menginap di rumah Tanteku bersama Miko. Karena aku ingin liburan dengannya sebelum menikah. foto itu sampai aku taruh di wallpaper handphone karena aku merasa sangat indah sekali dan ada beberapa scene yang di bikin seperti film pendek untuk di putar sebelum acara pengucapan janji nikah.


*********


Satu bulan mendekati hari H, semua keluargaku kumpul begitu juga keluarga Miko. Sudah ditetapkan acara akan di gelar di sebuah halaman hotel dengan garden party yang bertema hutan putih. Karena semua acara akan dilakukan di sana termasuk pengucapan akad atau janji pernikahan.


Miko sebenarnya takut karena cuaca bisa saja berubah. Apalagi akan dilaksanakan pada saat musim hujan. Tapi EO pernikahan sudah berjanji akan mengantisipasinya. EO yang di pakai juga teman Lala isteri Andi jadi lebih gampang di ajak diskusi. Andi bahkan membayar semua pada teman Lala tanpa ku ketahui. Aku ingin menolak sebenarnya tapi Andi bersikeras bahwa dia ingin ikut andil dalam hari bahagiaku.


Semua perihal cattering sudah di back up oleh keluarga Miko. Tidak ketinggalan dua sahabatku Nisa dan Rima, mereka bilang akan handle semua kue dan cemilan di acaraku. Sekali lagi aku tidak bisa menolak apalagi melihat Nisa yang over antusias. Karena dari dulu dia ingin melihat aku menikah.


Semua busana dua keluarga Tanteku yang urus, dia membawa orang dari butik, temannya yang juga owner sebuah butik terkenal setelah acara lamaranku selesai. Aku tidak bisa berkata apapun semua terlihat sangat mudah seperti doaku yang cuma ingin di mudahkan untuk kebahagiaanku.


*******


Saat aku datang, kulihat banyak mobil terparkir di halaman termasuk mobil Miko. Keluarga tanteku semua juga kumpul kecuali kak Ary yang berjanji akan datang dua hari sebelum acara. Aku jadi bersemangat masuk ketika Miko muncul di depan pintu.


"Capek Beb?"


"Sedikit."


"Mulai minggu depan kita akan pulang sama-sama."


"I miss u," bisikku manja.


"Too,' Miko berkata sambil memelukku bahuku dan masuk ke dalam menemui keluarga yang berkumpul di ruang tamu.


*******


"Naaah.... pengantinnya sudah datang," seru om Dedy yang duduk di sebelah Papa.


"Kia... sini," ajak Tanteku yang berdiri di depan pintu kamar Mama.


"Biarkan Kia istirahat dulu Tante," rengekku dengan wajah memelas.


Miko tertawa mendengar aku yang ingin menolak tapi tetap mendorong tubuhku tepat ke depan Tante dan segera ditarik masuk ke dalam kamar.


"Aku bicara sama Andi sebentar," kata Miko dan meninggalkanku menuju ke tempat di mana para lelaki sedang berkumpul.


********


Sebuah kotak besar kulihat ada di atas ranjang Mama. Betapa terkejutnya setelah melihat isi kotak tersebut ternyata sebuah gaun pengantin berwarna putih.


"Ini di rancang seorang desainer khusus gaun pengantin, Tante pesan istimewa buat kamu dan ini pemberian nenek."


Aku terkejut mendengar ucapan Tante, mengapa ini dari nenekku yang sudah lama meninggal.


"Semua sesuai wasiat nenek, kalau Kia menikah buatkan gaun pemgantin persis seperti punya nenek dulu saat menikah."


"Tapi sudah di tambah beberapa ornamen agar kelihatan mewah," lanjut Tante.


Aku masih terdiam tapi Mamaku tersenyum sambil memelukku.


"Kamu... satu-satunya cucu perempuan nenek. Pastilah nenek mau pernikahanmu istimewa."

__ADS_1


Benar, dulu nenek berjuang menahan sakit hanya untuk melihat aku menikah. Tapi takdir berkata lain, nenek harus pergi sebelum melihatku bersanding di pelaminan. Hatiku sakit mengingat bagaimana kerasnya kemauan nenek ku untuk sembuh karena sangat ingin melihat aku menikah. Dia bahkan mau melakukan apapun yang di suruh Dokter agar bisa bertahan hidup.


Aku mendekati gaun yang masih berada di dalam kotak. Perlahan ku sentuh terasa lembut sekali. Air mataku menetes mengingat nenek yang sangat menyayangiku sampai akhir saja masih memikirkan kebahagiaanku.


"Besok kita fitting saat teman Lala datang membawa penata rias," Tante memelukku dari belakang. Mama mengenggam tanganku yang masih terisak sedih.


"Kia kangen Nenek Ma... Kia sayang Tante... Kia cinta Mama......"


"Mama senang masih bisa melihat Kia bahagia. Tidak ada keinginan lain selain Kia bahagia," kata Mama sambil menghapus tetesan air mata yang masih mengalir di pipiku karena mengingat Nenek.


"Ayo kita lihat dulu seberapa cantik gaunnya."


Tanteku berdiri dan di bantu Lala memperlihatkan gaun pemberian nenek. Sederhana sekali gaun berbahan satin dengan tangan panjang dan kerah sabrina. Yang menarik adalah hiasan punggung dengan bordir bunga dengan paduan kancing dari atas sampai pinggang.


Aku takjub melihat gaun ini mirip sekali dengan gaun yang dipakai bella swan, cuma hiasan belakang yang berbeda. Tanteku kalau soal gaun lux dia memang jago karena memang dia orang yang fashionable. Dan lebih mengejutkan semua lengkap dengan sepatu dan pernak pernik yang harus kupakai nanti.


"Acaranya masih dua minggu lagi Ma. Kia juga harus pulang dulu untuk masuk kantor. Minggu depan baru Kia minta cuti bersama Miko. Itu juga cuma dapat satu minggu, tidak bisa lebih" keluhku.


"Biar saja... nanti kalo ada yang tidak pas bisa kita perbaiki," sahut Tanteku ketika aku mengeluh semua seperti terburu-buru untuk fitting.


"Kotak sebelah punya Miko?"


"Iya... lengkap, sepasang," jawab Lala.


"Coba lihat," pintaku.


Lala langsung membuka dan memperlihatkan pada kami. Sebuah jas model Italian style warna hitam dengan bahan wool silk lengkap dengan celana panjang dari bahan dan warna senada.


"Waah... keren sekali."


Aku sangat gembira, yang bisa kulakukan cuma memandang isi dua kotak di depanku. Tidak menyangka ternyata semua orang sangat menantikanhari bahagia aku dengan Miko.


"Ya sudah, Mama siapkan."


"La... bereskan semua," suruh Tanteku.


Aku bergegas keluar dan memanggil Miko . Mengajak dia makan bersama menemaniku.


*********


"Itu undangan sudah selesai, di dalam kotak merah untuk keluarga Miko. Di dalam kotak hitam untuk keluarga kita," kata Mama sambil menunjuk dua kotak yang tergeletak di lantai.


"Iya Ma... nanti Miko kasih sama Tari buat di sebar."


"Buat teman-teman kantor sudah selesai?" tanyaku pada Miko karena dia yang pesan.


"Besok aku ambil di tempat teman Luthfi. Susah juga kenapa harus beda-beda sih?"


"Ya beda lah... buat kantor kan."


"Makan dulu nanti bahas soal itu," kata Mama sambil menaruh beberapa macam hidangan di atas meja.


"Mama mau telpon teman Mama, menanyakan tentang souvenir buat tamu."


"Terima kasih atas segalanya Ma."


Miko menatap Mama dengan rasa senang. Mama mengangguk dan berlalu kembali ke dalam.


"Kamu tahu tidak, aku rasa pernikahan kita jadi pernikahan yang menguntungkan."

__ADS_1


Aku duduk dan mulai mengambil makanan.


"Maksudnya?" Miko memandangku dengan wajah bingung.


"Yah... semua seperti request dari mereka. Andi dan Lala karena ingin nuansa hutan gara-gara melihat pernikahan di film, sanggup bayar EO buat tempat dan dekorasi. Tante karena ingin pernikahanku fashionable sanggup mengurus semua busana. Keluarga kamu yang ingin makanan sesuai dengan daerah kita, siap menangani semua juga. Sampai tadi kak Lina telepon, aku mau makanan apa supaya nanti bisa di sediakan. Nisa sama Rima karena ingin minuman dan makanan kecil ada, mereka berkongsi untuk dananya. Mama dengan souvenir dan undangan. Nenek yang pernah ingin melihatku menikah sampai membuat kan kita sepasang baju pengantin dari seorang desainer teman Tante."


"Terakhir... cincin pernikahan, Bimo yang sediakan," ucap Miko sambil tersenyum.


"Jadi kita tidak keluar uang sama sekali buat pesta ini. Waah... amazing dong."


"Ya... aku juga tidak menyangka sama sekali."


Kami berdua tertawa menyadari bahwa pesta pernikahan ini tidak membebankan biaya pada kami.


" uhh.... senangnya di kelilingi dengan semua orang yang menginginkan aku bahagia," ucapku.


*********


Aku mengantar Miko yang akan pulang ke depan rumah tempat mobil Miko di parkir.


"Besok harus ke sini lagi buat fitting baju."


"Iya... telpon satu jam sebelum mereka datang."


"Ok."


"Setelah itu ikut aku menemui Bimo."


Degh.


Aku terdiam menatap Miko.


"Aku sudah berjanji kalau akan menikah denganmu, aku harus menemuinya dulu. Tidak apa kan?"


"Miko........."


"Tidak apa... aku cuma memenuhi janji saja. Lagian aku cuma ingin meledek dia bahwa yang terakhir menggenggam tangan kamu yang berhak memilikimu," bujuk Miko.


"Jadi itu request dari Bimo, sebelum menikah minta izin sama dia?"


Miko cuma mengangguk dan perlahan mendekatiku.


"Aku boleh request juga?"


"Apa?"


"Malam pertama aku dan kamu nant,i pakai lingerie warna biru muda kesukaanku, nanti aku yang sediakan," bisiknya sambil tersenyum manis.


"Ihhh....suka banget menggodaku," kesalku sambil mencubit lengan Miko tapi dia malah tertawa masih memandangku dengan tatapan memohon.


"Iya... boleh."


**********


** Ada yang mau request sesuatu nggak, buat acara pesta pernikahan Kia? Kalau ada tulis di komen ya... reader tercinta.


**Maaf dari saya buat pembaca yang selalu menunggu update Rahasia Hati. Memang tidak bisa teratur tapi pasti saya usahakan sampai tamat.


** Terima kasih atas semua yang sudah mendukung novel ini. Stay healthhy, stay happy and stay with Kia. Salam paling hangat dari Kia buat pembaca. Jangan lupa protokol kesehatan, 3M dan jaga jarak aman. See you next later guys, I love you so much.

__ADS_1


__ADS_2