
Siang sekitar jam 14.00 setelah jam istirahat, Wiwin datang dengan beberapa lembar kertas dan langsung menaruh di depanku yang sedang sibuk memeriksa neraca invoice satu bulan yang lalu.
"Kenapa meminjam uang kantor sebanyak 100 juta tanpa pemberitahuan apapun padaku?"
Mata Wiwin sampai mau keluar karena sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat Bang Riko menyuruh dia memeriksa kembali aktivitas financial lima bulan yang lalu.
"Apa maksudnya? Siapa yang meminjam uang kantor?"
Aku langsung kaget mendengar kata-kata Wiwin yang langsung menuduh aku melakukan hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh otakku. Aku langsung mengambil kertas yang di taruh Wiwin di meja ku dengan sangat marah langsung meneliti satu persatu barisan angka yang tertera.
Betapa tambah terkejutnya aku ketika melihat ada namaku yang meminjam uang perusahaan lewat leasing pegawai sebanyak 100 juta dan akan di potong gaji perbulan. Selama ini aku tidak pernah meneliti gaji perbulan yang masuk ke rekening ku karena sering berbarengan dengan uang bonus jadi yang tertera masuk setiap bulan pasti berbeda.
Dan aku tidak pernah meneliti berapa uang yang keluar setiap bulan karena semua akan di potong otomatis lewat mobile banking dan yang dibayar dari PLN sampai beberapa pembayaran card member club olahraga dan club kuliner yang ku ikuti kegiatannya jadi tidak pernah terpikir ada uang yang keluar lain dari kewajiban ku. Tapi anehnya tidak pernah ada yang kurang semua pas saja, jadi ada yang memakai namaku saja tapi dia tetap membayar pada bulan awal saja setelah tiga bulan berjalan dia tidak bayar lagi hingga tim financial mengetahuinya.
Yang lebih parah perjanjian leasing dilakukan sendiri tanpa seorangpun dari tim financial mengetahuinya dan menyetujuinya karena dilakukan lewat website kantor dan ditanda tangani lewat digital hanya bisa dilakukan orang tertentu di kantor yang bisa memasuki website financial yang sangat rahasia padahal sudah sangat kuat safetynya tidak mungkin hacker atau pishing bisa melakukan akses masuk.
Jadi mereka langsung menunjuk padaku karena namaku yang tertera disitu, makanya Wiwin marah sekali dia manager financial sekaligus temanku merasa di tampar dengan kejadian ini. Memalukan kenapa seorang Kia yang tidak pernah melakukan hal licik bisa berbuat sejauh itu, aku sangat tidak terima dengan kata-kata yang di lemparkan Wiwin padaku.
"Untuk apa aku pinjam uang dari kantor tanpa pemberitahuan divisi financial, apa kamu percaya aku sanggup melakukannya?"
Aku juga langsung menatap Wiwin dengan kesal karena sudah meragukan sikapku selama ini karena ini dilakukan lewat situs divisi accounting yang tertera dari alamat pengirim akses yang di pakai membuka sistem data dari divisi financial.
"Kalau bukan kamu siapa yang melakukan? Ini lima bulan yang lalu tepat saat Papamu operasi hanya dua orang yang bisa memasuki situs serta mengetahui password keuangan kantor yaitu kamu dan aku."
"Bukan aku yang melakukannya!"
"Siapa kalau begitu?"
Aku langsung memandang Lisa asistenku yang dari tadi wajahnya kelihatan takut sekali sampai pucat pasi. Sangat jelas terlihat bahwa dia menyimpan sesuatu yang tidak baik. Aku langsung menghampirinya dan memandang wajahnya dengan penuh selidik. Dia hanya menunduk kemudian menangis tersedu sambil memegang tanganku. Benar juga hanya dua divisi yang bisa memasuki akses data keuangan kantor yaitu divisi aku dan Wiwin otomatis hanya Lisa yang bisa memainkan data selama ini.
"Maafkan saya Kak Kia, maaf sekali saya terpaksa melakukannya."
Dia memohon maaf padaku, aku langsung melepaskan pegangan tangannya dan langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku karena sangat tidak terima kalau orang yang sangat aku percaya sudah berkhianat padaku.
Lisa bukan hanya ku anggap asistenku dia juga sudah kuanggap adik dan keluargaku. Apabila ketika aku kesulitan mengatur waktu kerja dan harus menjenguk orang tuaku dialah orang yang aku minta tolong untuk menyelesaikan semua pekerjaan kantor makanya tidak ada satupun rahasia untuknya dia bahkan tahu semua password akunku dan laptop kerjaku.
Aku tidak percaya dia sanggup melakukan hal licik padaku hanya karena uang. Satu lagi kenyataan yang benar-benar memukulku telak karena sangat percaya pada seseorang yang ternyata malah bermain api dibelakang ku.
Aku duduk sambil menahan air mataku hatiku sakit sekali, orang yang sudah terlanjur aku sayangi mampu melakukan hal yang akan menyakitiku. Kalau masalah ini sampai ke atas aku akan di beri SP yang pasti berpengaruh pada karir kerjaku saat ini. Aku tidak bisa berbicara apapun hanya memandang Lisa dengan nanar tanpa terasa aku juga ikut menangis.
Wiwin sangat marah dia menarik Lisa dengan kasar dan mendorongnya duduk di sofa.
"Jelaskan semua apa yang kamu lakukan, perbuatan kamu menyakiti orang lain apa itu bagus, apa kamu bahagia?"
Wiwin berteriak pada Lisa hampir membuat aku sendiri tidak percaya dia lebih marah dari pada aku.
"Saya terpaksa melakukannya karena hutang dengan Bank yang sudah 6 bulan dari waktu jatuh tempo, rumah kami akan di sita kalau tidak membayar cicilan jadi saya meminjam di kantor dan melunasi hutang Ayah saya di Bank dan membayar cicilan di kantor saja tapi tiga bulan kemarin Ayah saya sakit uang saya yang
harusnya buat membayar cicilan jadi untuk membeli obat Ayah saya," tangis Lisa sambil memcoba meyakinkan aku.
Ternyata Lisa mengambil kredit dari kantor sebesar 100 juta untuk membayar hutang keluarganya di Bank yang sudah lama jatuh tempo dan kalau tidak segera di bayar akan disita rumah mereka sebagai agunan lalu mereka akan tinggal dimana. Lisa masih menangis dan memohon maaf padaku dan aku cuma menatap dia dengan perasaan kasihan.
Aku tidak sanggup melihat kalau semua kesalahan ditimpakan ke Lisa yang akan membuat di dipecat lalu bagaimana dengan keluarganya. Apalagi Ayahnya sedang sakit aku jadi terpikir saat Papa sakit bagaimana cemasnya aku dan Lisa orang yang membantu aku dalam menyelesaikan pekerjaan kantor. Aku harus berbesar hati memaafkan dan memberi ia kesempatan lagi supaya bisa memperbaiki diri.
"Berapa semua kalau dilunasi sekarang?" tanyaku pada Wiwin.
Wiwin memandangku tidak percaya kemudian ia menghubungi ruangan financial untuk mengetahui konfirmasi seluruh total tagihan yang diambil Lisa. Aku memandang Lisa dengan tajam dan memberi ia sedikit pengertian supaya ia tidak khawatir lagi.
"Seharusnya kamu bicarakan dulu denganku supaya aku juga bisa ikut memikirkannya, kamu sudah seperti keluarga bagiku jadi apapun kesulitan kamu aku akan berusaha membantu."
Aku berkata sambil tersenyum pada Lisa yang membuat tangisan Lisa pecah sambil memelukku. Dia tidak mengira aku akan memaafkannya dugaan yang ada di kepalanya tadi adalah akan berakhir dengan di pecat.
"Semua 97 juta Rupiah kalau dilunasi seluruhnya," kata Wiwin sambil menyerahkan catatan kecil padaku.
Aku langsung melihat jumlah uang di rekeningku ternyata jumlahnya hampir sama. Kalau aku pakai maka aku tidak punya pegangan lagi sedang deposito belum bisa diambil karena belum waktunya. Aku kemudian menelpon Mamaku untuk minta tolong membantu masalah Lisa.
__ADS_1
"Ma, Kia pinjam uang 100 juta dulu ya, nanti kalau deposito Kia sampai waktunya Kia akan kembalikan."
"Baiklah nanti Mama suruh Lala kirimkan lewat Bank saja, karena uang sebanyak itu tidak bisa lewat ATM, kebetulan uang sewa 4 Ruko Papa dibayar minggu lalu jadi pakai saja tidak usah di kembalikan, itu juga uang Kia."
Dari dulu sampai sekarang Mamaku orang yang paling mengerti tentang keinginanku dan saat ini pun Mama tidak bertanya untuk apa uang itu ketika aku memintanya. Aku sangat berterima kasih pada Mama dan berjanji akan segera pulang menjenguk mereka kalau ada hari libur.
"Aku akan lunasi semuanya besok saat uang dari Mama sudah di transfer ," janjiku pada Wiwin.
"Inilah seorang Kia... yang selalu membuat orang senang tapi dia sendiri yang pusing," ejek Wiwin sambil melihat Lisa yang masih diam tertunduk karena merasa sangat bersalah.
"Sekarang berjanji padaku jangan lakukan hal seperti itu dan tetap bekerja seperti biasa, kamu tahu aku sangat mengandalkan kamu Lisa,
jadi bicarakan semua masalah kamu padaku."
Lisa hanya mengangguk sambil menatapku dan tersenyum, dia sepertinya senang aku tidak marah seperti yang dibayangkannya dari tadi. Aku malah membantu dan memaafkan semua kesalahan yang dilakukannya.
"Kita selesaikan semua masalah disini saja jangan melebar ke mana-mana Win, akan panjang kalau ada orang lain sampai tahu," pintaku pada Wiwin.
"Baiklah kalau itu mau kamu dan Lisa kamu harus berterima kasih pada Kia, ini pelajaran berharga bagimu."
"Terima kasih atas pertolongan dari Kakak, tidak akan terulang lagi saya jamin."
"Ayo kita minum kopi di Galaksi mereka baru buka dua hari yang lalu, aku mau coba kopi hitam drip menu yang sedang viral sekarang di sana," ajakku pada Wiwin dan Wiwin langsung setuju sambil berdiri mengikutiku ke luar ruangan.
**********
Sesampai di Galaksi coffe suasana ramai sekali maklum tempat minum kopi ini baru saja buka jadi pengunjung banyak. Aku sampai harus memarkir mobil di gedung sebelah karena tempat parkir yang penuh sampai ke jalan.
Kami masuk dan memesan kopi yang aku mau juga camilan berupa fries berbagai macam dari kentang hingga udang. Suasana sangat natural dengan beberapa ornamen kayu di dinding dan beberapa pohon hidup yang diletakan ditengah ruangan bahkan ada taman dan air mancur menambah ketenangan pengunjung yang datang.
Aku memandang ke arah luar halaman Galaksi coffe sambil menopangkan tangan kiri ke dagu ingin sekali melepaskan semua pikiran yang bergelayut di otakku dan berusaha merelakan semua yang sudah terjadi. Wiwin memandangku sambil menghembuskan napas dan tersenyum memegang tanganku yang duduk di depannya.
"Apa ada pemandangan menarik di luar?" tanyanya sambil menengok kearah luar juga.
"Kamu tidak marah karena Lisa berbuat seperti itu?"
"Marah betul sebenarnya tapi apa dengan aku marah semua balik seperti semula tidak kan, jadi buat apa marah-marah kalau itu membuang energi dan membuat stress semuanya bisa diselesaikan baik-baik, lagipula dia melakukan untuk keluarganya bukan untuk yang tidak bermanfaat."
"Tapi uang segitu banyak lo Kia."
"Biar saja, kalau uang itu bisa membantu dia bagiku tidak masalah."
"Bagaimana kalau dia tidak bisa mengembalikannya nanti?"
"Dia tidak kembalikan juga tidak apa, masih banyak kok rezeki bagi aku mungkin jalannya saja berbeda."
"Hah, Lisa beruntung sekali dapat atasan seperti kamu kalau aku berpikir dua kali untuk bisa seperti itu."
"Dia tulang punggung keluarga adiknya masih perlu biaya untuk sekolah, kalau dia di pecat bagaimana nasib mereka, kamu tahu persis bagaimana arti teman menurutku, aku sanggup mengorbankan apa saja supaya temanku tidak menderita apalagi hanya karena soal uang."
"Jangan lihat jumlah uangnya, lihat ketulusannya," lanjutku meyakinkan Wiwin bahwa semua sudah ku ikhlaskan.
"Bagaimana kalau aku juga mengkhianati dan membuat kamu sakit?"
"Tidak mungkin, aku percaya kamu tidak akan mampu berbuat seperti itu padaku ," jawabku sambil mengambil kopi yang datang di antar oleh pelayan.
"Bagaimana kalau itu mungkin?"
"Aku tetap memaafkan kamu, bagiku kamu lebih penting dari kesalahan apapun yang kamu buat Win, aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi diriku sendiri."
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu," tegas Wiwin sambil meminum milk kopi yang dipesan dan memandangku yang juga menikmati kopi dan cemilan.
"Kamu adalah orang manis yang suka minum kopi pahit," gelak Wiwin sambil menunjuk ke arahku.
"Enggak juga kok, cuna lagi pengen saja karena sedang trend di sini," sahutku.
__ADS_1
"Iya...iya, kamu menang apa yang tidak sih buat kamu Kia, my best friend."
"Biar tahu kalau kehidupan juga ada pahitnya tidak selalu manis."
Kami tertawa bersama sampai lupa kalau di sebelah kami ada beberapa pengunjung, mereka menoleh ke arah kami karena bingung dengan apa yang kami tertawa kan.
**********
Handphone berdering saat aku baru selesai mandi dan berniat untuk istirahat ternyata dari Miko. Aku segera menerimanya entah kenapa sekarang aku selalu menunggu telepon dari Miko.
"Kamu apa kabar?" tanyanya dengan suara pelan.
"Lagi capek sangat," jawabku singkat sambil merebahkan diri di ranjang.
"Kamu sudah makan?" tanyaku sambil mengambil lotion untuk tangan dan kaki kemudian mengoleskannya.
"Uhh...senangnya ada yang memperhatikan, terima kasih sayang," jawabnya dengan senang.
"Jangan sampai sakit ya, jaga kesehatan sayangi diri sendiri supaya bisa menyayangi orang lain."
"Pasti, aku akan tetap sehat supaya bisa tetap bersama kamu sekarang dan nanti."
"Iya... iya, aku pegang janjimu."
Aku menceritakan semua kejadian siang tadi pada Miko dia mendengarkan semua yang ku katakan tidak sedikitpun menyela hanya menjadi pendengar yang baik. Hanya sekali-kali menimpali dengan kata yang menyetujui semua keputusanku dalam masalah yang dilakukan Lisa.
"Hmm... tunanganku memang baik hati."
"Siapa tunangan kanu?"
"Kamu."
"Masa... kamu tidak pernah menyatakan cinta padaku."
"Buat apa dinyatakan, dirasakan saja kan sudah tahu."
"Tidak bisa... harus ada pernyataan yang jelas, enggak mau hanya dirasa saja," canda ku sambil tertawa.
"Ya ampun masa seperti artis saja yang harus bikin pengumuman, enggak lucu Sayang."
"Bodoh amat, harus begitu supaya lebih greget , kalau perlu pakai puisi lebih romantis,"kataku sambil menahan tawa.
"Aku menyerah kalau begitu, nanti puisi nya akan melenceng ke jenis kabel sama jaringan," balas Miko sambil tertawa.
Kami tertawa bersama ada mood yang baru ketika aku bersama Miko, dia selalu membuatku merasa gembira dan menghiburku lewat candanya juga perhatian yang di lakukan nya membuat aku senang. Perasaan yang telah lama tidak aku rasakan hingga membuat aku bisa membuka hatiku yang selama ini ku tutup rapat untuk berhubungan dengan seorang Pria.
"Aku ada bertemu dengan Andi di rumah kamu," ujar Miko pelan berusaha menjelaskan padaku.
Aku langsung kaget mendengar apa yang dikatakan Miko dan lebih terkejut lagi ketika dia juga menceritakan bagaimana pertemuan dengan Papaku. Aku jadi gugup mendengar semua hampir tidak percaya kalau Miko sudah bertindak sejauh itu padahal aku memikirkannya saja belum berani.
"Bagaimana perasaanmu setelah bertemu Papa?"
"Tidak ada keraguan bagiku, ayo kita melangkah bersama sekarang Kia, setelah aku akan membereskan semua masalah yang ada dengan keluargaku," tegas Miko mengemukakan semua keputusan hatinya.
"Ayo kita menikah."
**************
**Kalau kamu ingin terbang tinggi dan sukses maka lepaskan semua beban yang ada, maafkan semua orang yang pernah menyakitimu jangan lupa berdoa dan bersyukur akan hidupmu setiap waktu.
**Jangan pernah melihat kebelakang dengan penyesalan tapi jadikan semua pelajaran berharga dan kejar kembali yang sudah tertinggal kamu berhak mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu selagi kamu mau berusaha.
** Maafkan penulis karena sering terlambat untuk update dan terima kasih atas semangat serta dukungannya karena dengan itu semua akan saya jadikan sebuah motivasi yang memacu kreatifitas agar lebih maju ke depan.
**Selamat membaca novel ini sehat selalu dan bahagia untuk semua pembaca, mari sebarkan kebaikan walau hanya kecil untuk semua reader terima kasih atas segalanya.
__ADS_1