Rahasia Hati

Rahasia Hati
Rasa Yang Belum Selesai


__ADS_3

Di dalam ruangan rumah sakit saat Bimo sedang berbaring mencoba memejamkan mata setelah mendapat suntikan dan meminum obat. Terlihat Luthfi sedang duduk di kursi tamu yang berada di depan ranjang dia sedang menjaga Bimo.


Handphone Bimo yang di letakannya di bawah bantal berbunyi dan bergetar. Bimo langsung membukanya ternyata notifikasi telegram bahwa Heri mengirim sebuah video padanya. Bimo kemudian melihat video yang dikirim Heri.


Disana terlihat teman kami sekelas waktu SMA berkumpul sedang makan. Terlihat juga aku yang sedang bercanda dengan teman-teman kami dulu.


Bimo tersenyum saat melihat kami semua dan masing-masing mengucapkan semangat untuknya. Dia bahkan tertawa ketika Heri mengatakan kangen minum dengannya dan bersedia mentraktir Bimo karena selama ini selalu Bimo yang bayar kalau mereka minum.


Bimo terdiam ketika melihat Heri merekamku yang tidak mau mengucapkan apapun padanya saat mencuci tanganku. Bimo sampai menatap seksama handphonenya dan mengulang kembali adegan dimana Heri menanyakan padaku kenapa tidak mau mengucapkan semangat untuk orang yang pernah kucintai.


Hati Bimo berdenyut sakit melihatku menunduk yang menarik napas panjang walau akhirnya mengucapkan kata semangat untuknya dengan melihat ke kamera. Bimo teesenyum melihatku tampak masih seperti dulu.


"Coklat, aku benar-benar rindu padamu," katanya lirih.


Bimo tidak bisa menahan perasaannya lagi kemudian dia meloncat dari atas ranjang dan langsung melepas selang infus di tangannya.


"Kita temui Coklat," ajaknya, pada Luthfi yang duduk di kursi depan ranjang.


Luthfi kaget lalu ingin menyerahkan jaket yang dipakainya pada Bimo tapi Bimo menolak. Luthfi tidak percaya akhirnya Bimo menyerah untuk menemuiku. Bimo melepaskan baju rumah sakit dan menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai dia mengambil baju ganti di lemari kecil di samping ranjang dan bergegas keluar ruangan rumah sakit.


"Apa tidak masalah kalau nanti ada Perawat yang akan kontrol?" tanya Luthfi dengan cemas.


"Aku harus menemui Coklat sekarang tidak bisa di tunda lagi, ini mungkin kesempatan terakhir untukku," jawab Bimo sambil berjalan ke arah parkir rumah sakit.


Padahal badan Bimo masih lemah, bukan hanya tentang penyakit kanker yang di derita tapi juga karena sekarang dia juga terkena anemia. Bimo bergegas naik ke mobil Luthfi sambil menelpon Heri.


"Tahan Coklat di situ, aku ke sana sekarang," kata Bimo pada Heri saat Heri mengangkat telpon.


*******


Didalam mobil Bimo cuma memejamkan mata, reaksi obat yang diberikan sebelum dia menerima video yang di kirim Heri tadi sudah be-reaksi menyebabkan kantuk yang hebat karena Bimo harus beristirahat total.


Setelah sampai di depot tempat kami mengadakan reuni. Bimo memasuki depot lewat pintu samping jadi aku tidak melihatnya ketika datang. Heri langsung menghampiri Bimo dan Bimo mengangkat tangannya menyuruh Heri tenang dan menaruh telunjuknya di mulut supaya teman-temanku diam.


Dia memasuki tempatku yang sedang menyanyi dan tersenyum ketika melihatku. Bimo masih berdiri dan menatapku. Mata itu ternyata menyimpan rindu yang sangat dalam kemudian perlahan mulai basah menahan sesak di dadanya.


Luthfi menjaga dan berdiri di samping kalau-kalau Bimo jatuh. Jumlah trombosit Bimo sangat rendah tidak sampai 11.000 Mcl ketika pemeriksaan tadi sebelum pergi menemuiku jadi sangat rentan Bimo bisa pingsan.


"Coklatku," desisnya lirih.


Bimo mendekat ke meja tempat kami berkumpul dengan perlahan hingga yang lain tidak menyadari kedatangannya dan duduk di kursi kosong yang ada samping Dewi.


"Bimo!" teriak Dewi terkejut sekali dan Bimo cuma tersenyum pada Dewi kemudian kembali menatapku yang sedang menyanyi.


*******


Aku sangat terkejut langsung berhenti menyanyi dan menatap tidak percaya. Bimo ternyata datang dan yang lebih membuatku sangat terguncang Bimo sekarang kelihatan sangat kurus dan sangat pucat. Dia bahkan tidak bisa berjalan dengan sempurna karena anemia. Bimo tersenyum manis padaku sambil menahan sesuatu yang sangat sakit.


Aku masih terkejut tidak bisa berbicara apapun cuma menatap Bimo yang duduk tepat di depanku dengan nanar. Air mataku turun perlahan melihat Bimo di situ dadaku terasa sesak aku bahkan sampai membuka mulutku supaya bisa bernapas.


"Bimo mau bicara padamu sebentar, aku mohon Kia," kata Luthfi padaku.


Aku diam tidak bergerak masih di tempatku tadi dan Bimo yang kemudian berdiri dari kursi secara perlahan dia menghampiriku sambil tersenyum, aku cuma bisa menatapnya dengan air mata yang masih mengalir di pipiku.


Dadaku teenyata masih berdebar saat Bimo melangkah mendekatiku aku hanpir pingsan menahan kakiku supaya masih bisa berdiri. Bimo sampai didepanku dia langsung memelukku.


Tangisku pecah saat Bimo memelukku. Pelukan yang pernah kurasakan bagaimana kehangatannya dulu bisa membuatku tak ingin melepaskannya. Kehangatan yang pernah menjadi milikku seutuhnya saat kami berdua bersama. Bimo-ku yang sangat aku rindukan sekaligus sangat aku benci kini memelukku.

__ADS_1


Jantungku se-akan berhenti beedetak, cinta lama itu kembali dihadapanku tapi kini hatiku sudah berselimut dengan kebencian. Aku memejamkan mata merasakan getaran yang masih ada. Bimo bahkan membelai rambutku dan mencium dahiku.


"Hey...Coklat," bisiknya di telingaku.


Aku semakin keras menangis bahkan memukul belakang Bimo yang masih memelukku. Lama sekali kami berpelukan seolah ingin melepaskan semua rindu yang terpendam. Bimo kemudian memegang wajahku dan menghapus air mataku yang masih mengalir deras.


Sambil tersenyum dia menatap wajahku yang masih penuh dengan sisa air mata. Bimo sangat bahagia sekarang masih bisa memeluk dan memegang tanganku ternyata cinta itu tidak pernah hilang di hatinya.


"Aku kangen kamu."


Bimo lalu mengajakku duduk dan masih memegang tanganku. Menarik sebuah kursi buatku. Aku duduk dan dia kemudian duduk di sebelahku. Aku masih menatap Bimo tanpa ekspresi menarik napas panjang dan menghapus air mataku yang sudah mulai bisa berhenti.


Aku akan menuruti kemauan Bimo, baiklah ini saatnya untuk menyelesaikan semuanya batinku. Teman-temanku yang lain mulai menjauh meninggalkan kami berdua yang duduk di ujung ruangan. Luthfi masih di dekat Bimo kemudian dia duduk di kursi belakang Bimo takut kalau terjadi sesuatu dengan Bimo.


Bimo sekarang jauh berbeda dengan Bimo yang dulu terlihat sangat kurus dan pucat seakan sudah menyiratkan bahwa dia sangat sakit. Aku menatap Bimo dengan hati yang sedih melihat keadaannya sekarang. Bagaimanapun Bimo pernah menjadi orang yang ku cintai dan dia adalah Ayah anak-anakku. Aku sudah menyiapkan diriku dengan apa yang akan dikatakan Bimo padaku.


"Hey, Coklat!" katanya dengan suaranya lemah tidak seperti dulu.


Aku masih memandang Bimo tanpa menyahut dan mencoba menenangkan diriku. Kulihat teman-temanku melihat ke arah kami tetapi saat aku menatap mereka seakan tidak melihat masing-masing membuang wajah seolah tidak mau aku tersinggung.


Rima bahkan menunduk dan Heri pura-pura melihat handphonenya. Ingin sekali aku berteriak kesal pada mereka yang sudah berjanji padaku bahwa Bimo tidak datang.


"Bicaralah... apa yang mau kamu bicarakan," kataku tanpa menatapnya.


"Aku kangen kamu," katanya sambil menatapku.


Aku merasa marah sekarang bukan kata itu yang kuharapkan dari mulut Bimo saat ini. Aku ingin dia setidaknya meminta maaf dan menyesal atas semua yang terjadi padaku dulu.


"Sudahlah, jangan bernostalgia lagi... semua sudah selesai," kataku agak dingin.


"Bagaimana mungkin sudah selesai, kalau masih banyak masalah diantara kita," ujar Bimo.


Bimo mencoba memegang tanganku tapi aku menariknya karena menolak.


"Kenapa tidak pernah bilang padaku tentang kehamilanmu, kenapa malam itu lari dariku?"


"Seandainya kamu bilang padaku saat itu, kita tidak mungkin menderita seperti ini," katanya sambil menatapku sedih.


Aku sangat terkejut mendengar Bimo mengatakan hal ini di tengah orang banyak. Sesuatu yang sangat ingin kututupi sampai mati. Tapi Bimo malah mengatakan di depan Rima dan Heri. Kemarahan padanya yang ada padaku selama ini kutahan akhirnya meledak.


"Lupakan saja semua," kataku dengan wajah memerah antara marah dan malu.


"Kita punya dua orang anak, apa bisa aku melupakan mereka dan kamu?" tanya Bimo padaku.


Aku hanya diam tidak menjawab kalau aku menjawab semua rahasiaku akan terbongkar di depan teman-temanku. Tapi rupanya Rima mendengar dia sangat terkejut tidak menyangka sama sekali.


"Kamu... kenapa tidak berkata apapun padaku, kenapa harus menjalaninya sendiri," kata Rima saat mendatangiku sambil menangis.


Air mataku jatuh saat Rima memelukku, rasa sakit yang sangat ingin kulupakan kembali datang satu persatu sekarang. Heri sangat terkejut tidak menyangka kejadian antara kami seperti itu dan sangat rumit.


Bimo kemudian mengambil tanganku dan menggengamnya erat kali ini aku tidak menolaknya.


"Ayo kita berdamai, aku yang bersalah atas semuanya aku mengakuinya," kata Bimo dengan mata yang sedih sambil menggenggam tanganku.


"Aku akan menerima apapun hukumanmu, asal kamu mau berdamai denganku," ujarnya terisak.


Aku melepaskan tangan Bimo yang memegang tanganku dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Minta maaf padaku," pintaku.


"Kita berdamai saja, kalau aku minta maaf belum tentu kamu bisa ikhlas," katanya pelan.


Aku menatap Bimo tidak percaya dia ternyata tidak berubah sedikitpun tetap keras kepala kalau dalam hal itu. Dia orang yang paling pantang mengucapkan maaf dan cinta padaku. Aku tersenyum sinis dan sangat marah pada Bimo di saat sperti ini-pun dia tetap masih pada pendiriannya.


"Baiklah... hidup saja dengan rasa bersalahmu," kataku sinis.


Dia memandangku dengan wajah sedih dan seolah memohon padaku.


"Aku sembilan tahun sudah hidup dalam rasa bersalahku, sekarang berdamai denganku Coklat, hidupku mungkin tidak lama lagi, ayo kita berdamai," katanya pelan.


Aku menggeleng kepalaku dengan cepat dan menahan supaya jangan berteriak marah pada Bimo.


"Minta maaf padaku, apa sangat susah mengatakannya?" tanyaku sambil memandangnya kesal.


"Jangan menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan," jawabnya seakan memberi pengertian.


Hati Bimo memang sekeras batu dan aku menyerah membuatnya minta maaf padaku. Aku memandangnya dan tersenyum sambil mengangguk kepala.


"Aku sudah berkata waktu dulu, kalau kamu melepaskan cincin kita aku tidak akan memaafkanmu sampai mati," kataku mencoba mengingatkan Bimo.


"Tidak bisakah Coklat, Kita sudah punya anak...kan?" tanyanya seakan memohon.


Akhirnya kemarahan yang tadi kutahan meledak saat Bimo menyebut anak-anak. Aku lalu berteriak dan tidak sadar lagi bahwa teman-temanku masih ada dalam ruangan.


"Jangan pernah berani menyebut tentang anak di depanku karena kamu tidak berhak atas mereka, aku yang paling menderita karena semuanya," teriakku pada Bimo sambil berdiri dari kursi.


"Kalau dulu aku mengetahui semua itu kita tidak akan berhadapan seperti saat ini, kita bisa bahagia," katanya mendekatiku.


Bimo seakan ingin memeluk dan menenangkanku yang sudah meledak marah. Aku sangat marah sekali mendengar dia mengatakan seandainya dan bahagia lalu yang paling membuatku sangat emosi ketika Bimo mencoba menyalahkanku atas semuanya.


"Apa kamu mau menyalahkanku karena aku tidak mengatakan padamu? Tanyakan saja pada Mamamu, alasan dia menyuruhku mengugurkan bayiku, aku sampai sekarang masih ingat detak jantung bayiku, Mamamu berjanji akan menikahkanmu denganku setelah kamu sukses, tapi ternyata dia menikahkanmu dengan orang lain, kalian membuangku seperti sampah saat itu aku sendirian tanpa siapapun dan aku bahkan mencoba mati saat kamu menikah, bayangkan bisakah kamu merasakan betapa aku sangat menderita?" tanyaku berteriak pada Bimo sambil menangis dengan keras.


Aku bergegas beranjak dari kursi dan ingin secepatnya pergi. Bimo menahanku dengan tubuhnya tapi aku sudah terlanjur sangat marah. Aku mendorongnya sampai jatuh teeduduk di lantai dan aku berlari menuju mobil. Bimo mencoba menyusulku dan menarik tanganku yang sudah membuka pintu mobil.


"Lihat aku sebentar, aku akan bertanggung jawab sekarang, kalau itu yang membuatmu tenang," katanya sambil menahan sesuatu seperti ada yang sakit.


"Aku tidak pernah menuntut apapun darimu setelah apa yang kau lakukan padaku dan setelah apa yang ku alami karenamu," teriakku sambil menangis dan memasuki mobil.


"Kita jangan pernah bertemu lagi, sampai kapanpun, aku sangat benci kamu," kataku sambil menjalankan mobil.


Bimo terduduk memegang perutnya yang sakit. Luthfi langsung berlari mengejarku sampai ke jalan besar.


"Kia! Bimo sakit, Kia! Bimo sakit," teriaknya sambil menggedor kaca mobilku.


Aku tidak memperdulikan semua kata-kata Luthfi lagi dan langsung menjalankan mobil dengan cepat. Aku akan membenci Bimo selamanya dan aku akan hidup dengan rasa itu. Kalau aku memaafkannya belum tentu aku bisa merelakan apa yang telah dia lakukan padaku.


"Aku benci semua yang ada di sini, Kota ini dan semua tempat kami dulu bersama serta teman temanku yang sudah berbohong padaku bahwa Bimo tidak datang, aku bejanji tidak akan menemui mereka lagi," kataku sambil menangis.


"Bimo brengs*ek dia bahkan membongkar rahasiaku di depan mereka semua," umpatku sambil memukul kaca dengan kepalaku saking marahnya.


Aku benar-benar merasa malu ketika teman-temanku sudah mengetahui semua aib ku dengan Bimo. Mulai saat itu aku tidak mau lagi menemui mereka. Bahkan saat Rima menelpon aku tidak mau menerimanya.


Aku memutuskan semua komunikasi dengan mereka. Aku mengganti nomor telponku dan tidak satu-pun nomor telpon mereka yang kusimpan. Kalau pulang ke kota ini aku cuma di rumah saja itu pun tidak lama. Aku menyuruh Mamaku tidak memberitahu siapapun kalau aku datang dan ada di rumah termasuk Rima.


**********

__ADS_1


Jangan lupa rate vote like dan komen, terima kasih atas semua yang telah mendukung karya saya...selamat membaca...


__ADS_2