
WARNING
Ada adegan dewasa yang manis dan romantis. Hati-hati baper dan siap-siap otak traveling. Buat adek-adekku tolong di skip aja yah, kalian belum.cukup umur. Mohon bijaksanalah dalam memilih bacaan, selamat membaca.
Flasback On.
Dua orang lelaki berdiri sambil menatap ke arah jendela kamar rumah sakit yang sedang terbuka lebar.
"Kenapa tidak bisa melupakan Kia, Bim?"
Miko yang saat itu masih memegang surat donor mata menatap Bimo dengan penasaran, tetapi Bimo cuma diam.
"Apa karena dia Ibu dari anakmu?"
"Salah satu di antaranya," jawab Bimo pelan.
"Karena rasa bersalah sudah menyakiti Kia?"
Bimo masih diam kemudian menatap Miko.
"Karena bagi aku dan Kia, kami sama-sama pertama dalam berhubungan intim, aku masih ingat bagaimana menggelikannya ekspresiku saat kaget ketika melihat noda darah di tempat tidur dan ketakutan kalau terjadi apa-apa dengan Kia. Aku bahkan mempemalukan diriku di apotik saat membeli obat karena bingung."
Bimo tersenyum kecil, seakan memutar kembali kenangan saat bersamaku dulu.
"Waaah... kau ingin memamerkan hal itu padaku? Kalau aku menyetujui tawaranmu untuk bersama Kia berarti aku menerima bekasmu begitu?"
Miko bergumam agak kesal saat melihat tawa kecil Bimo, hingga Bimo langsung menghentikan ekspresi senang di wajahnya.
"Dengarkan suara hatimu Mik. Aku percaya Kia masih belum bisa kamu lupakan juga."
"Pecaya diri sekali," sungut Miko sambil menaruh kertas di tangannya.
"Katakan kepastian itu sekali lagi, aku bisa minta Luthfi menjaga Kia selama mungkin atau bahkan mendampingi Kia."
"Entahlah Bim, semua sekarang berbeda tidak seperti dulu," lirih Miko.
"Nanti saat bertemu Kia, cobalah tatap matanya, kamu pasti akan kembali menemukan rasa itu," saran Bimo.
"Sekarang aku menyadari mengapa dulu aku tidak bisa mendapat kasih sayang seorang kekasih yang kucintai dengan hati. Karena aku merebut sesuatu darimu yaitu semua kasih sayang ayah. Saat aku jatuh cinta pada seorang wanita tapi ternyata dia malah mencintaimu. Rupanya takdir menyimpan semua dan memberikan Kia padamu supaya kau bisa merasakan bagaimana dicintai. Kalau nanti aku benar-benar bisa memiliki Kia berarti takdir telah mengembalikan semua padaku."
Bimo menatap Miko dengan penuh harap.
"Aku mohon Mik, kalau nanti kau bisa memeluk Kia. Tolong jangan menuntut apapapun darinya, telah banyak yang kuambil dari dia. Biarkan dia memberikan cinta seperti yang dia mau jangan memaksa, ikuti saja alurnya."
Bimo kemudian mulai berbaring di ranjang dan memejamkan mata menghindari pertanyaan Miko yang akan susah dia jawab.
"Apa kau benar-benar rela.kalau aku menikah dengan Kia? Kau tidak akan menyesal kalau orang yang kau cinta di miliki oleh adik tirimu?"
Bimo tidak mengindahkan hanya memejamkan mata dengan rapat seolah tidur. Miko akhirnya berhenti memaksa, membiarkan Bimo istirahat dan meninggalkannya sendiri.
"Heh licik... membuat aku yang menebus semua kesalahanmu. Baiklah Bim, aku akan buktikan kalau aku bisa memiliki Kia."
**********
Rumah kediaman keluarga Bimo, delapan jam sebelum pernikahan Kia dan Miko. Seseorang bergerak perlahan mendekati Miko yang sedang duduk di sebuah meja taman dengan memegang gelas kopi yang masih mengepul asap dan se-bilah rokok yang tertinggal setengah putung terselip di antara jari.
Miko tersentak kaget ketika sebuah tepukan pelan mendarat di bahu. Dengan cepat dia menoleh dan tersenyum pada Luthfi yang berdiri di belakang. Sambil tertawa kecil Luthfi mengambil tempat duduk tepat di depan Miko sambil ikut menatap langit malam bertabur bintang.
"Ada dua jenis manusia di dunia ini, pertama yang merasa bersalah tapi tidak bersalah. Kedua yang merasa bersalah karena memang bersalah, kau termasuk yang mana?" Luthfi menyandarkan punggung ke kursi menatap Miko.
"Aku... yang pertama, kalau itu menyangkut Kia," jawab Miko, menyerahkan bungkus rokok pada Luthfi.
Aku merasa bersalah atas semua yang Bimo lakukan pada Kia, kesakitan bahkan trauma yang Kia rasa. Semua karena aku adalah adik tirinya."
Luthfi tersenyum dan kembali bicara serius dengan Miko.
"Kia punya luka yang sangat dalam tentang cinta, semua karena Bimo. Kami teman, semua yang dekat berusaha membantu tapi nihil. Bimo saja tidak bisa menyembuhkan walau seribu cara sudah dia lakukan," Luthfi memandang Miko lekat seperti mencari sesuatu kebenaran di manik mata Miko.
"Aku sudah membuat keputusan dari hati Fi, aku akan berjalan di atasnya. Aku sangat yakin itu benar dan nanti aku pasti akan berhati-hati dalam hal apapun supaya jangan membuat lagi luka pada Kia. Cuma itu yang bisa aku janjikan sekarang."
Luthfi tersenyum sambil menghisap rokok dalam.
"Dulu... saat Bimo meninggalkan Kia untuk menikah, aku berniat merebut hati Kia. Tapi tidak bisa, karena cinta mereka sangat luar biasa, tidak mungkin aku bisa menggantikan Bimo. Ketika Bimo pergi dan menyuruhku menjaga Kia, saat itu aku menyadari bahwa bukan tidak bisa tapi aku yang tidak punya kepercayaan diri untuk menyembuhkan luka hati Kia. Karena setiap aku menatap wajah Kia, selalu ada wajah Bimo. Bagiku Kia adalah Bimo dan Bimo adalah Kia......"
Kata-kata Luthfi terhenti sejenak, membuat Miko bingung dan menunggu kelanjutan kalimat dari mulut Luthfi.
"Sekarang aku harus percaya padamu Mik, kamu orang yang tepat. Kia akan aku lepas kali ini, sebagai janjiku pada Bimo dalam hal menjaganya. Sembuhkan luka Kia, jangan pernah ditambah lagi dengan yang baru, aku mohon," perlahan Luthfi beranjak dari kursi.
__ADS_1
Miko tersenyum mendekati Luthfi, lalu memeluknya.
"Bantu aku Fi, jadikan aku sahabatmu seperti dulu kamu dengan Bimo."
"Pasti... "
*******
Di dalam kamar hotel, aku termangu di depan meja rias. Menatap semua yang akan kupakai besok satu persatu. Kulihat Lala sedang menelepon ke rumah mungkin masih ada yang belum beres. Dia berhenti bicara dan tersenyum padaku ketika mata kami beradu pandang lewat kaca.
Lala mendekatiku dan duduk di ujung ranjang tepat di hadapanku.
"Kenapa? Gugup?"
"Sedikit," jawabku pelan.
"Biasa... semua pengantin seperti itu. Yang penting sudah tetap hati kamu dan percaya pada Miko."
Aku menatap Lala dengan tersenyum dan mengangguk pasti.
"Ya... sudah, istirahat besok pagi kita harus siap-siap."
Aku mencoba memejamkan mata perlahan. Seseorang yang ada di pikiranku dari tadi semakin nyata.
"Bimo... "
Lirih hatiku berdesah, nama itu masih hidup dalam dada. Sekuat tenaga sudah coba kulepas tapi mungkinkah masih ada ikatan yang belum terurai di antara kami.
"Selamat tinggal Bim, aku akan memulai lembaran baru bersama Miko."
Tapi hatiku sudah menentukan kepastian tanpa ragu. Aku sekarang memilih mendengarkan kata hati untuk menikah dengan Miko. Lama kelamaan aku akhirnya bisa tertidur di samping Lala.
"Miko... I love you."
***********
Beberapa tahun yang lalu di kamar rumah sakit tempat Bimo dirawat. Tepat beberapa jam saat Bimo sebelum pergi. Malam dengan dingin menusuk sampai ke tulang, sedingin hati Bimo.yang sudah pasrah akan segalanya. Harapan sudah pupus dan seperti harus di kubur dalam. Cuma satu keinginan yang masih dipendam tanpa terucap. Nanar manik mata Bimo memandang sebuah foto di tangannya. Air mata mengalir di pipi sambil berucap lirih.
"Selamat tinggal Coklatku....."
Flashback off.
***********
Ruang hotel yang dipesan oleh Miko mampu membuatku kagum dengan interior bernuansa minimalis dan romantis. Serba modern dan luks, terlihat indah dengan pemandangan laut di depan tempat tidur kalau dibuka tirainya. Ada dua kursi dan satu meja untuk bersantai langsung di depan pantai karena setiap kamar hotel punya akses pribadi langsung ke pantai. Hotel ini terkenal paling romantis dan cocok sekali untuk honeymoon.
"Aku mau mandi duluan, gerah banget rasanya. Apa mau ikut Beb?"
Senyum nakal di bibir Miko membuatku tertawa kecil menahan malu.
"Aku mau bereskan isi koper, kamu duluan deh," tolakku halus.
Tanpa banyak bicara Miko langsung masuk kamar mandi sedang aku sibuk membongkar isi koper yang di benahi oleh Lala saat sehari sebelum acara pernikahan tanpa
sepengetahuanku.Betapa terkejutnya aku melihat isi koper yang ternyata hanya dua pasang baju buat jalan dan beberapa pakaian dalam.
Saat aku membuka koper Miko ternyata sama, cuma sedikit juga yang dia bawa. Ada dua buah kotak, yang satu pemberian Alan dan yang satunya aku tidak tahu tapi bertuliskan merk brand pakaian dalam.
Tak lama Miko sudah selesai mandi. Dia keluar dan mendekatiku sambil mengambil sesuatu dari koper yaitu kotak yang lebih tipis dari kotak satunya. Hanya dengan berbalut handuk.dan masih ada tetesan air.di bahu. Aku menggigit bibir lembut ketika melihat dada bidang Miko dan hanya bisa menunduk menahan malu. Tapi anehnya Miko seperti acuh, dia hanya tersenyum kecil saat melihatku menunduk.
"Kok cuma segini pakaian yang dibawa?"
"Nanti bisa beli, lagi pula kita cuma seminggu dan akan banyak menghabiskan waktu di kamar," jawab Miko.
"Hmmm... okelah dan Ini apa sih?"
"Request aku dulu, pakai Beb," pintanya sambil menyerahkan kotak padaku.
"Dan cepat mandinya... aku menunggu," bisik Miko tepat di telingaku.
"Iya... ok my man," balasku juga berbisik di telinganya dan Miko langsung mencium pipiku.
**********
Setelah selesai mandi dan sudah merasa segar, aku membuka kotak yang diberikan Miko. Kalau isi aku sudah tahu pasti lingerie warna biru yang di pinta Miko dulu. Tapi mataku terbelalak saat membuka, ternyata pakaian tidur dengan bahan tembus pandang dan transparan.
Aku makin memejamkan mataku saat memakai dan melihat diriku di cermin.
__ADS_1
"Astaga... seumur hidup baru kali ini aku memakai pakaian seperti ini, jadi tidak percaya diri,' aku meringis di depan cermin sambil memikirkan bagaimana cara keluar.
"Mending bug*l sekalian,' decakku bingung sendiri.
Akhirnya aku keluar juga dengan perasaan sedikit malu, aku bahkan menutup dadaku dengan satu tangan dan menutup perut bawah dengan tangan satunya. Berjalan perlahan mendekati Miko yang sedang duduk.di ujung ranjang dengan gelas wine di tangan.
********
Senyum lebar mengembang di.wajah Miko saat melihatku keluar kamar mandi dengan sikap kikuk.
"Sekalian aja tertawa, enggak terbiasa aku memakainya," keluhku sambil cemberut dan duduk di samping Miko.
"Cantik kok... sexy dan kelihatan semua........"
Aku makin malu, dengan cepat ku ambil sebuah bantal dan menutup bagian perut. Hal itu ternyata membuat Miko makin tertawa keras sambil mengambil bantal yang kupegang dan melempar ke ujung ranjang.
"Tidak usah malu, sama suami sendiri."
Miko menyerahkan sebuah gelas berisi wine, dengan segera kucicipi.
"Emmmm... aku suka, rasa buahnya kuat tapi smooth, tidak terlalu sepat."
Aku mengambil botol di atas meja, mencoba membaca, ternyata brand wine Australia terbaik.
"Satu lagi, easy drinking," ucap Miko menyetuh gelasnya ke gelasku.
"Cheers."
Kami menikmati hadiah pemberian Alan yang dipilih oleh kak Arya. Mereka seperti mengerti bahwa harus ada minuman pembuka saat bulan madu kami.
Setelah habis setengah gelas flute, tiba-tiba Miko menggendongku dan menaikan ke atas meja. Aku kaget tapi berusaha tenang karena ini malam penyerahan diri. Apapun yang diinginkan Miko pasti akan aku turuti karena dia sekarang suamiku.
Aku tertawa tertahan saat muka Miko memandang wajahku hanya dengan jarak beberapa sentimeter. Berulang kali dia mengecup kening dan pipiku dengan tangan bertumpu di sisi meja.
"I love you my wife."
"Too... my husband."
Aku menangkupkan kedua telapak tanganku di pipinya. Perlahan mencium bibir di depanku dan Miko memejamkan mata menikmati kecupan yang kuberikan.
"Hatiku berkata, aku mau kamu seutuhnya malam ini. Tidak bisa ditunda lagi. I want you, you want me Beb?"
"Yes... I want you,"ucapku sambil menggigit bibir menahan rasa geli ketika sebuah kecupan berlabuh di leher sebelah kanan.
"Ayo kita lakukan," kata Miko dengan suara berbisik dan napas yang berat.
Miko kemudian meminum isi gelas wine sampai habis dan menaruh tangan kanan di bawah dagu. Perlahan menekan sampai mulutku terbuka dan mendaratkan bibinya tepat di bibirku yang setengah menganga. Perlahan dia memberikan wine yang ada di mulutnya padaku, diakhiri dengan sebuah ciuman.
Badanku bergetar menerima perlakuan baru dari Miko. Sangat intim, romantis dan membuat jantungku berpacu cepat. Aku memandang wajah Miko dengan tatapan sendu membuat Miko tersenyum geli.
"Janji... pelan-pelan... aku sudah lupa caranya."
********
**Hmmm... sorry reader tercinta, saya cut di sini. Maaf jika selalu terlambat update, semoga masih ada yang meenunggu cerita Kia. Buat reader tercinta ayo dong komen di sini, ditunggu loh supaya saya lebih dan lebih semangat.
** Saat hatimu berkata
Dengarkanlah....
Saat hatimu menginginkan sesuatu
Lakukanlah.....
Kalau kau melakukan seperti apa
yang hatimu inginkan, percayalah
tidak akan ada penyesalan diakhir
cerita asal semua untuk kebaikan.
** Terima kasih atas semua dukungan yang diberikan. Vote, gift, like dan komen dari kalian semua pembaca setia Rahasia Hati. Saya tidak ada apa-apa tanpa kalian. Semangat yang kalian berikan sangat berarti buat saya. Semoga kebaikan kalian dibalas dengan kebaikan juga, amin... amin.
**Semoga semua reader selalu sehat dan kuat dalam kondisi apapun. Tetap bahagia dan tenang, karena kalau panik atau kalut akan menurunkan imun dan virus cepat masuk ke dalam tubuh kita. So.... stay healthy, stay happy and stay with Kia.
__ADS_1