
Aku terbangun ketika suara alarm di handphone Bimo berbunyi sangat nyaring. Aku melihat di layar handphone waktu menunjukan jam lima pagi dan kerja tulisannya karena saat itu memang waktunya Bimo akan berangkat bekerja.
Kepalaku masih terasa berat dan mataku masih bengkak karena menangis hampir semalaman. Mama membuka pintu kamarku tiba-tiba sangat terkejut melihatku seperti tidak bersemangat dan banyak barang-barang berserakan di atas ranjangku.
Mama menghampiriku yang masih berbaring lemas dan duduk di ranjangku. Betapa terkejut Mama melihat barang-barang Bimo. Aku menyerahkan buku catatan Bimo sambil menangis tersedu. Mama kemudian membaca dan ikut menangis langsung memelukku.
"Bimo memang anak baik," kata Mama pelan.
"Kia bahkan memyalahkannya selama ini Ma," kataku sambil menangis tersedu-sedu.
"Dokter bilang akan mengirim surat pernyataan dan nama pendonor tiga tahun lagi," ucap Mama sambil membelai kepalaku.
Aku menceritakan semuanya pada Mama tentang perbuatan Papa pada Bimo dan Mama hanya menangis memelukku.
"Papamu sedang dihukum sekarang," bisik Mama masih sambil membelai kepalaku.
"Kamu harus membantu Ibunya Bimo mereka terpuruk sekarang karena ditinggal oleh Bimo, mereka keluargamu juga apalagi Bimo sudah memberikan penglihatannya untuk Papa, sekarang gantian berikan kasihmu untuk mereka," kata Mama sambil memegang wajahku.
"Mama percaya Kia anak yang baik," lanjut Mama sambil memelukku.
"Ayo sarapan, Papa sudah menunggu," ajak Mama.
********
Aku beranjak dari kasur kemudian membasuh muka dan sikat gigi. Aku langsung ke meja makan menghampiri Papa dan Papa tersenyum melihatku datang.
Papa sekarang jarang bicara mungkin karena daya ingat yang menurun. Papa kadang-kadang bingung dan lupa menyebutkan apa yang di inginkannya.
Aku menatap mata Papa sambil memegang wajah Papaku dan memandang mata itu dengan mesra.
"Kia sayang Papa," kataku sambil mencium kedua pipi Papa.
Aku menatap mata Papa lama "Hai.. Bim, apa kabar? Aku rindu padamu," kataku dalam hati.
Mata orang yang sangat ku rindukan sekarang ada di depanku dan aku bisa menatap dengan sepuasnya itulah yang membuat aku bahagia sekali.
"Kia mau pindah ke sini Ma, ada posisi kosong di kantor cabang yang cocok untuk Kia," kataku sambil duduk di depan Papa.
Aku mengambil telur dadar dan memberikan pada Papa sambil tersenyum. Aku akan selalu tersenyum pada Papa sekarang agar Bimo selalu bisa melihat senyumku.
"Bagus, Mama setuju," sahut Mama sambil memberikan teh hangat padaku.
Aku dan mama tidak akan memberitahu apapun tentang donor kornea mata yang diberikan Bimo pada Papa. Baik pada keluarga Bimo maupun Papa sendiri bahkan orang lain.
__ADS_1
Karena Bimo sudah meminta semua itu dalam catatannya. Bahwa yang tahu hanya orang-orang tertentu saat itu dan aku akan tahu ketika aku membuka buku catatannya karena dia ingin aku memaafkan semua kesalahan yang pernah di lakukannya padaku.
Bimo ingin aku tahu bahwa dia juga sanggup berkorban untukku. Setelah apa yang dilakukannya padaku dan dia sangat menyesal atas semua yang pernah terjadi karena semua itu meninggalkan trauma yang dalam di hatiku.
Bimo menyesali semua yang terjadi pada kami. Dia sangat ingin kembali padaku tapi kesalahannya padaku membuat dia mengurungkan niatnya.
Apalagi setelah dia tahu bahwa kami telah mempunyai dua orang anak yang pernah aku kandung walaupun mereka semua telah tiada.
Bimo menyangka dirinya mandul hingga merasa rendah diri pada mantan istrinya. Dan dia juga tidak pernah mencintai mantan istrinya karena cuma aku yang ada dihatinya.
Dia sangat ingin kembali pada saat kami di bandara saat di Balikpapan. Seandaimya waktu bisa diputar kembali dia akan membawaku lari jauh sekali dimana tidak seorangpun mengenal kami walaupun harus meninggalkan semuanya.
Bimo hidup dengan rasa bersalah selama sembilan tahun karena meninggalkanku menikah. Dan penyesalannya semakin dalam saat mengetahui tentang kehamilanku dan ditambah dengan sakit yang di deritanya sampai menutup mata.
Makanya ketika dia mendengar Papaku terkena glukoma dia langsung menyetujui untuk memjadi donor kornea mata untuk Papa. Dia masih ingin memandangku. Ibu dari dua anaknya. Dia masih ingin melihat senyumku. Dia masih ingin melihat aku memandangnya dengan mesra.
Dia menyuruh luthfi dan seseorang menjadi Walinya agar menanda tangani surat peryataan bersedia menjadi donor kornea mata. Bimo bahkan tidak memberitahu seorangpun dari keluarganya.
Bimo juga menyuruh luthfi agar tidak memberitahu keluarganya saat dia meninggal karena dia tidak ingin ada seorangpun yang yang tahu kecuali setelah dokter melakukan operasi pengambilan kornea matanya.
Dan semua prosesi pemakaman juga dilakukan di rumah sakit. Jadi saat dirumah semua sudah selesai tinggal menguburkan saja. Sebelum meninggal dia sudah berpesan pada Mamanya seperti itu alasannya supaya tidak ingin merepotkan orang di rumahk arena Mamanya stoke dan tari tidak mengerti apapun sedang yang lainnnya jauh di luar kota.
Kebencian dan kemarahan yang aku rasa sekian lama seketika sirna kini berganti penyesalan yang sangat dalam karena tidak mau mendengarkan penjelasan Bimo saat terakhir dia menemuiku.
Dan aku juga menyesal meninggalkannya saat terakhir di saat aku keguguran. Seandainya aku beritahu tentu Bimo akan membatalkan pernikahannya yang didepan mata. Dia pasti akan kembali ke sampingku apapun yang terjadi. Aku sangat sedih sekali mengapa seperti ini jalan kisah kami.
Kami menahan semua rahasia kami agar tidak memyakiti orang lain. Tapi akhirnya kami juga yang sangat tersakiti. Bimo hidup dalam rasa bersalah sedang aku hidup dengan hati penuh kebencian.
Kami sama-sama sangat terluka sampai akhirnya Bimo menutup mata. Aku juga merasa bersalah telah membencinya sekian lama dan aku juga menyesal telah berprasangka buruk padanya.
Bimo-ku, dia adalah Ayah anak-anakku. Dia orang yang sangat kucintai dan dia pernah jadi tujuan hidupku. Dia juga orang yang mengenalkanku dengan manis dan pahitnya cinta.
Selamat jalan Bimo, kamu masih tetap di hatiku. Air mataku mengalir deras saat aku mengingat semua hal yang ditinggalkannya demi aku dan Papaku yang sangat berharga sekali dibanding apapun.
********
Aku tersenyum melihat Papa yang sedang duduk di ruang tengah dan menghampiri Papa
"Papa sudah bisa lihat televisi dengan jelas?" tanyaku pada Papa.
Saat bersama Papa duduk di depan televisi dan Papa menoleh sambil tersenyum padaku.
"Iya," sahut Papa dengan singkat sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku mendekati dan duduk di sebelah Papa, memeluk Papa dan menatap wajah Papa.
"Mau Kia belikan skincare supaya wajah Papa bersih dan mulus," kataku sambil memegang wajah Papa.
"Ada yang seperti itu?" tanya Papa.
"Iya...nanti Kia belikan, setiap hari di pakai ya, Pa...," jawabku sambil memcium pipi Papa.
Papa memelukku sambil tersenyum dan tertawa kecil. Aku sekarang berbicara pada Papa dengan sangat lembut seolah-olah aku merasa Bimo sedang menyaksikannya.
Kadang kadang aku juga menggenggam tangan Papa bahkan kami pernah tidur bertiga dengan Mama di depan televisi, aku sekarang selalu ingin dekat dengan Mama dan Papa.
Dulu aku sangat menyukai sinar mata Bimo karena mata itu berbinar indah saat dia berhasil mencium pipiku dengan tiba-tiba apalagi saat Bino berhasil menggodaku dan membuatku marah dia akan tertawa keras sambil membujukku.
**********
Papa sekarang sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Pagi ini kulihat Papa berjalan-jalan di halaman depan rumah. Bahkan Papa sekarang sering duduk santai di depan salon mobil.
"Hendra...kamu sudah sembuh sekarang?"
Teman Papa saat masih bekerja dulu menyapa Papa dan terlihat senang melihat Papa sudah sembuh saat dia sedang membawa mobilnya untuk dicuci di salon mobil milik Papa.
Papa cuma tersenyum dan mengangguk. Kemudian Mama menceritakan semua pada teman Papa bahwa Papa terkena penurunan daya ingat karena komplikasi penyakit yang diderita tapi mata Papa sudah bisa melihat jelas. Papa terlihat berbicara dengan temannya dan Mama mendampingi di sebelah Papa.
"Yang penting sekarang kamu sudah sehat dan bisa melihat dengan jelas lagi," katanya.
"Penglihatan itu mahal, tidak bisa di tebus dengan uang, beruntung sekali kamu Hen," lanjut Pak Edy teman Papa.
Aku tersenyum mendengarnya memang benar seandainya Bimo tidak memberikan kornea matanya pada Papa mungkin Papa saat ini makin terpuruk karena tidak bisa melihat dengan jelas jadi lebih nyamanlah kalau Papa bisa melihat lagi seperti semula.
"Kia pulang Pa, Nanti Kia ke sini lagi, Kia mau urus pindah kerja dulu," kataku pada Papa sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan Bimo kemarin katanya mau melamarmu, kenapa tidak datang juga ke sini?" tanya Papa sambil menatapku.
"Nanti Kia akan marahi dia, Kia akan bawa ke sini biar kita marahi sama-sama ya... Pa," jawabku sambil bercanda.
Papa tertawa sambil menatapku dengan tatapan kasih dan aku balas menatap mata Papa yang berbinar senang.
"Terima kasih Bim, kamu memberikan penglihatan baru untuk Papaku," batinku.
"Aku akan selalu tersenyum untukmu sekarang mari kita berdamai tunggu aku di sana, aku akan menemuimu nanti kau harus minta maaf langsung padaku."
**Bimo menitipkan penjaga untuk Kia, bukan cuma satu tapi lebih... siapa ya ?... terima kasih reader atas semua dukungannya jangan lupa rate, vote, like dan komennya dan selamat membaca😊
__ADS_1