
Miko memandangku dengan penuh sangsi. Dia seolah tidak percaya aku bisa melewati malam ini sendirian dengan baik. Di dalam mobil tadi tangannya tidak pernah lepas dari tanganku. Wajahnya di balut rasa cemas yang begitu kentara karena kejadian di konser tadi.
Saat kami pulang dengan mobil perusahaan yang kami bawa dan melaju menuju hotel pandangan Miko tidak pernah lepas dari wajahku. Walau berulang kali aku sudah bilang semua sudah baik tapi dia tetap merasa cemas.
"Benar tidak ingin aku temani?"
"Tidak usah, aku langsung tidur setelah minum obat," jawabku meyakinkan.
"Aku akan tidur di sofa, ayolah Kia aku masih khawatir," rengek Miko.
"Tidak apa, malah lebih khawatir kalau ada kamu."
"Aku bukan orang seperti itu."
"Mana aku tahu, kalau berdua-an pasti ada setan di belakang yang menggoda."
"Berarti dia setan dong," kata Miko menunjuk seorang pelayan yang datang dari arah belakangku.
Aku langsung menoleh dan tertawa kecil. Pelayan melewati kami yang sedang bicara di depan pintu kamar terlihat bingung tapi dengan cepat dia berlalu. Miko ikut geli langsung mendekatiku. Aku agak kaget dengan yang dilakukan Miko seketika mundur satu langkah ke belakang.
'Okey... aku biarkan malam ini kamu sendiri tapi ingat kalau ada sesuatu yang tidak nyaman, aku siap meloncat ke kamarmu."
Aku mengangguk sambil tersenyum pada Miko berusaha meyakinkan bahwa aku pasti bisa.
"Ya sudah, sana masuk duluan," suruhnya.
"Lepaskan dulu tanganku," kataku pelan.
Miko melepaskan tanganku dan kami berpisah untuk istirahat karena besok Miko harus memberikan pendampinngan pada mahasiswa praktek. Karena masih ada satu materi lagi. Besok aku juga ada janji bertemu dengan Kak Lily di kantor sekaligus pamit karena sore kami mau pulang.
************
Pagi sekitar jam delapan tepat, aku bersiap untuk pergi ke kantor Kak Lily. Saat membuka pintu kulihat Miko juga sudah siap berangkat.
"Apa harus aku antar?" tanya Miko saat keluar dari kamar hotel berbarengan denganku.
"Cuma sebentar, aku mau pamit dengan Kak Lily, paling satu jam," jawabku.
"Okey... nanti pulang ke hotel sebelum makan siang, siap-siap aku jemput."
Setelah berada di depan hotel kami berpisah karena Miko menuju ke arah parkir mobil dan aku ke jalan besar depan hotel. Kantor Kak Lily tepat di samping hotel jadi bisa ke sana walau dengan jalan kaki.
*********
Ketika aku sampai di depan ruangan, Kak Lily terlihat sedang menerima seorang tamu. Jadi aku menunggu di depan, saat dia melihat aku melambaikan tangan sambil tersenyum. Tak berapa lama tamu itu keluar dan aku bergegas masuk.
"Lama nunggu nya?"
"Tidak."
Kaka Lily kemudian memesan makanan, seperti dulu saat masih satu kantor. Kak Lily orang yang sangat royal soal makanan, dia mau bayar berapa saja kalau ingin makan sesuatu. Kalau di dekat dia tidak bakal merasa lapar karena selalu ada makanan.
"Fried chicken atau pizza? Juice or coffe?"
"Pizza sama kopi, perfect blend," jawabku sambil duduk.
Kak Lily ikut duduk sambil sibuk dengan handphone kemudian dia memandangku.
"Jam berapa flight?"
"Jam 7 malam."
"Kalau begitu ajak Miko, kita makan siang sama-sama."
"Kami mau makan siang berdua, sekitar satu jam tempat makan itu berada dari sini," jelasku pada Kak Lily.
"Baiklah... nikmati waktu kalian," ujar Kak Lily sambil tertawa kecil.
Seorang OB datang membawa pesanan Kak Lily. Kami berbincang-bincang sambil makan.
"Bagaimana reaksi Wiwin saat kamu tahu rencana pindah?"
"Kaget... tapi dia menjelaskan bahwa semua masih tahap prematur, belum pasti lagi."
"Dia tanya siapa yang mengatakan padamu?"
Kak Lily memberikan potongan pizza padaku kemudian cup coffe juga.
"Aku tidak mengatakan Kak, tapi terima kasih sudah memberitahu, karena Kia bisa siap kalau benar Wiwin akan pergi," jawabku sambil menghembuskan napas.
Kak Lily tersenyum geli melihat wajahku yang berubah.
__ADS_1
"Kia... jarak dan waktu sekarang tidak menjadi masalah besar, yang jadi masalah itu adalah perasaan egois. Coba kamu pikir kalian sama-sama akan menikah, akan mendapat pasangan masing-masing. Masa masih mau ke sana kemari berdua? Berat sih...pada awalnya, tapi nanti semua pasti akan terbiasa."
Kak Lily mencoba menasehati aku dengan lembut. Dia tahu bagaimana keakraban kami berdua. Aku menurut apa kata Kak Lily, semua memang benar.
Di dunia ini semua ada waktunya temasuk kebersamaan dengan seseorang. Jangankan teman atau keluarga bahkan pasangan hidup saja harus berpisah kalau waktunya sudah sampai.
"Nanti Tuhan pasti kirim orang lain untuk menemani Kia menggantikan Wiwin, percaya deh."
"Benar Kak... tidak ada yang kekal di dunia ini. Semua bisa datang dan bisa pergi tapi yang pasti Wiwin masih sahabat terbaik Kia," kataku sambil memgambil potongan pizza terakhir.
Kak Lily hanya tertawa melihat aku makan dengan lahap.
"Kamu tahu tidak, kita berdua di kantor dulu yang hobby makan tapi tidak bisa gemuk."
"Benar Kak... dulu Kak Santi selalu menjauh kalau Kakak pesan makanan saat dia mau menikah, karena takut wedding dress yang di pesan tidak muat."
"Wiwin hampir menangis kesal saat Kakak memesan sushi tuna roll kesukaannya dan dia dalam program diet."
"Riko selalu ikut kumpul walau dia jadi satu-satu nya cowok di sarang cewek."
"Pak Satpam ikut kebagian rezeki kalau makanan banyak dia bisa bawa pulang."
"Satu lagi... OB kesal karena kantor berantakan dan kotor."
Kami berdua tertawa mengingat kejadian lalu, semua seperti mengulas nostalgia dulu bersama. Jarang sekali aku bisa bercanda dengan Kak Lily karena selain jarak, waktu jadi salah satu penghalang. Tapi saat bersama seperti ini kita berdua bebas bertukar pikiran, diskusi masalah perasaan dan menikmati makanan bersama.
Kak Lily salah satu mentor yang handal dalam memotivasi semangat. Dia yang dulu menyuruhku menangis satu hari saja saat aku hancur oleh Bimo. Dia juga yang mati-matian menghibur dan memompa semangatku untuk bangkit dan berdiri lagi. Kak Lily lawan yang tangguh kalau berdebat saat rapat. Dia akan berusaha mempertahankan ide yang di buat, sering adu mulut dengan Kak Santi tapi semua hanya di rapat setelah selesai kami kembali damai.
Satu yang aku kagumi adalah pandangan Kak Lily tentang bagaimana cara menyikapi persoalan kita. Dia selalu menyuruhku mendahulukan yang prioritas dari pada hal kecil dan tidak berguna.
"Fokus dengan masa depanmu, lupakan orang yang menyakitimu, tinggallah di tempat orang yang menyayangi dan mendukungmu. Abaikan yang tidak suka karena kamu hidup itu untuk dirimu sendiri, bukan untuk mereka yang tidak suka."
Itu kata yang diucapkan Kak Lily saat aku terpuruk dan hampir kehilangan semua dalam hidupku. Makanya aku tidak pernah bisa melupakan orang yang mengenggam tanganku saat aku menyerah pada Bimo dulu.
Hampir dua jam kami bersama, aku baru ingat kalau ada janji makan siang dengan Miko. Aku pamit dengan Kak Lily dan berjanji akan sering mengunjunginya kalau jalan-jalan ke kota ini lagi.
*********
Seorang kurir menyerahkan sebuah kotak saat aku membuka pintu kamar hotel.
"Dari Pak Miko."
"Terima kasih."
Aku menatap kotak kemudian membuka, ternyata sebuah dress panjang berbahan crepe dengan warna light brown. Berhiaskan bordir setangkai bunga dengan satu garis menyilang dari atas sampai bawah. Aku menutup kedua mulutku dan hampir melonjak karena senang.
"Terima kasih my Man... dress nya cantik sekali," puji ku saat Miko menanyakan cocok apa tidak.
"Pakai dan temui aku saat makan siang, nanti aku pesan taksi online untuk menjemput."
"Okey... I'm ready."
*********
Terpaku, tak bisa bicara apapun saat sampai di sebuah restoran dan ternyata Miko sudah menunggu di depan.
"Cantik."
Miko tersenyum menatap dress yang ku pakai. Mata Miko tidak lepas dari aku dan perlahan menghampiri aku berdiri
"Tetap di situ, aku yang akan melangkah ke sana menjemput kamu."
Miko mendekatiku, senyumnya masih merekah di bibir. Aku mengulurkan tangan dan Miko langsung menyambut. Kami berjalan masuk ke dalam restoran sambil berpegangan tangan.
Miko membawaku ke sebuah meja di sudut kanan yang agak jauh dari pengunjung lain. Meja di tata sangat apik, ada lilin juga di tengah persis seperti acara dinner. Senyuman di bibirku masih mengembang, rasa haru dan senang bercampur jadi satu.
Miko selalu memberi kejutan seperti ini, dia melakukan semua demi aku.
"How do you fell, Beb?"
"Happy... very happy."
"Kamu tahu, mengapa aku bersikap seperti ini padamu, Beb?"
Aku cuma menggeleng kepala dan masih tersenyum.
"Karena dulu aku tidak sempat melakukan apapun untuk mendiang Ibuku, jadi aku berjanji padanya kalau nanti punya seorang yang aku cinta, aku akan memperlakulan dia dengan baik, tidak seperti yang Ayahku lakukan pada Ibuku dulu," jelas Miko.
Aku menggenggam tangan Miko.
"Jangan sedih," hiburku.
__ADS_1
"Ingatkan janji yang aku ucapkan ini, kalau nanti kita bersama dan aku lupa."
"Apa perlu kita rekam, supaya ada bukti?"
"Jangan ah... lihat, orang lain sedang memandang kita. Aku jadi malu," keluhku.
"Biar saja... yang menjalani senua ini adalah kita berdua, untuk apa pusing dengan pemikiran orang."
Aku diam tidak menyambung lagi pembicaraan kami, untuk urusan kesenangan kami berdua, Miko memang agak egois. Kalau kami senang dan bahagia, masa bodoh dengan pandangan orang lain yang penting kita tidak menyakiti siapapun. Yang pasti aku akan menyerah kalau sudah begitu keadaannya.
Pelayan datang dan menaruh hidangan appetizer berupa fruit salad dalam porsi kecil. Kemudian main course, tadi Miko pilih tenderloin steak menu favorit restoran ini. Untuk dessert aku yang pilih yaitu mango ice cream.
Ketika menyuap satu sendok mango ice cream ke mulut, aku merasakan sesuatu yang keras. Aku lalu mengeluarkannya dari dalam mulut. Ternyata sebuah cincin yang dulu ingin di berikan Miko saat melamarku. Aku memandang Miko dengan cepat Miko memegang tanganku dan mengangguk kepalanya.
Miko mengambil cincin di tanganku dan membersihkan dengan tisu makan.
"Now is the time."
Aku terdiam, tangan Miko mengenggam jari ku dengan erat seakan memberikan kepastian bahwa ini adalah kesempatan terbaik. Aneh sekali, aku tidak lagi takut yang berlebihan seperti dulu hanya dadaku masih berdebar karena gugup.
Aku mencoba menguatkan dan meyakinkan diri sendiri bahwa ini harus dan bisa di lakukan sekarang. Aku mengangguk perlahan dan tersenyum memandang wajah Miko. Miko hampir berteriak senang karena aku tidak panik ketakutan seperti dulu saat pertama kali terjadi.
"Maukah kamu menikah denganku?"
"Ya... aku mau."
Aku menjawab sambil tertunduk menyembunyikan wajah merah malu supaya tidak kelihatan Miko. Aku bisa merasakan bagaimana bahagianya orang sedang di lamar, yang di perlakukan seperti seorang ratu. Pengalaman ini benar-benar membuatku terharu, kalau tidak ada pengunjung lain mungkin aku bisa berlari dan menangis memeluk Miko.
Miko dengan perlahan memasukan cincin ke jari manisku.
"Ayo kita bahagia, kita harus bahagia Kia, cukup semua kesakitan yang dulu kita alami. Sekarang kita bersama tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi."
"Aku akan mengucapkan cinta padamu setiap hari," kataku pelan.
"Terima kasih, aku juga akan melakukan itu Beb," ucap Miko sambil mencium cincin yang tersemat di jari tanganku.
**********
"Apa!"
Wiwin berteriak kaget di telepon ketika aku menjelaskan semua kejadian tadi siang.
"Selamat Cinta...."
"Thank you."
"Are you happy now?"
"Yes, sangat happy Cinta."
Aku bahagia saat Wiwin memberikan selamat.
"Sebentar lagi kami akan berangkat ke bandara untuk pulang, tunggu aku di rumah," rengek ku.
"Iya... ini sudah di rumah. Lagi membersihkan kulkas kamu, ihhh... dasar pemalas kalau sisa makanan yang tidak akan kamu makan lagi, di buang dong," kesal Wiwin.
"Maaf Cinta, lupa diriku."
"Heh, bagaimana nanti kalau aku jauh dari kamu Kia... "
Aku langsung terdiam saat Wiwin mengatakan ke kekhawatiran kalau dia jauh dariku.
"Jadi sekarang sebelum kita berjauhan tempat, aku akan coba memanfaatkan waktu denganmu Cinta. Ayo kita bersama sebelum waktu itu datang."
"Jangan bicara seperti itu Win, aku bisa menangis ini," ucapku dengan suara serak.
"Tunggu aku di rumah, nanti kita bisa bicara dengan intens. Aku berangkat dulu kayaknya Miko sudah siap tuh di depan, bye Cinta... see you at home."
"Bye... Cintaku."
*******
Next chapter:
Kia menatap nanar selembar kertas yang dia temukan di laci meja dan tidak terasa air matanya menetes. "Jadi selama ini, dia hanya kasihan padaku? Kenapa sekarang aku jadi meragukan dia?"
** Ketika semua mengarah padamu. Mata curiga, kata cacian, senyum mengejek, seringai marah, rasa penasaran bahkan hati yang benci. Tetaplah tersenyum dan sabar, walau tidak tahu kesalahan besar apa yang di buat. Yang pasti kamu sudah meminta maaf pada yang bersangkutan dan dimaafkan. Tetaplah mengalah dan merendah dalam hal apapun . Waktu pasti akan menjawab semua dan ingatlah janji Tuhan, buah sabar sangat manis.
** Author mengucapkan selamat natal buat yang merayakan dan selamat tahun baru pada teman-teman pembaca serta penulis semua. Semoga tahun depan kita semua akan jauh lebih baik dan lebih sukses.
** Terima kasih atas semua dukungan pada Rahasia Hati, semoga Tuhan yang membalasnya. Tetap sehat, tetap bahagia dan tetap nantikan chapter selanjutnya. See you next time, survived 2021.
__ADS_1