Rahasia Hati

Rahasia Hati
It's Over


__ADS_3

Hatiku khawatir tidak karuan ketika melihat Miko bergelantungan hampir 20 meter tingginya di atas rig. Mungkin ada yang harus di perbaiki dan Miko adalah orang tidak bisa percaya kalau pekerjaan tim benar sebelum mengecek semuanya.


Rasanya kalut sekali takut kalau terjadi sesuatu pada Miko apalagi melihat dia diatas berayun-ayun walaupun safety sudah cukup tetap saja hal itu membuat aku harus menepuk dada karena sesak. Aku bahkan melambaikan tanganku menyuruhnya turun saat dia melihatku karena temannya memberitahu dengan cara berteriak.


"Ihhh... suka sekali membuat aku khawatir," keluhku


Setelah semua pengecekan selesai Miko segera turun di bantu beberapa orang dan langsung menghampiri aku yang sedari tadi berdiri dengan wajah cemas, dia berjalan sambil tersenyum melihatku khawatir.


"Apa harus kamu yang naik ke atas? Kan banyak yang lain, baru tahu aku kalau sekarang manager asset merangkap tekhnisi juga."


Aku kesal sekali dengan pemandangan tadi, yang membuat rasa panik memenuhi otakku sehingga aku marasa agak marah pada Miko tapi Miko malah tersenyum senang tidak sedikitpun merasa takut.


"Takut yah, kalau aku jatuh? Aku suka sekali dengan rasa khawatir kamu berarti kamu sayang."


Aku langsung memukul belakangnya dengan keras. Kesal juga karena aku yang masih deg-deg an tapi dia malah biasa saja seolah tidak akan terjadi apapun, aku membayangkannya saja tidak berani.


"Kayaknya aku harus kembali berlatih panjat tebing, agak lupa trik-trik naik yang benar," katanya sambil tersenyum manis.


"Jangan melakukan olah raga ekstrim, jantungku bisa copot kalau kamu lakukan itu, olah raga yang mudah saja yang tidak besar resikonya," mohonku.


"Lari? Sepeda? Tenis? Golf?"


"Apa saja deh, yang penting tingkat resikonya kecil," jawabku.


"Aku tidak suka olah raga yang tidak menantang, lagi pula ini kan sesuai dengan dunia kerjaku, kalau cari aman yah main game saja."


"Itu bukan olah raga," protesku dan Miko tertawa melihat wajahku yang sebal dengan jawabannya.


Miko melepaskan tali-tali yang membelit tubuhnya di bantu dengan beberapa temannya. Setelah selesai dia mengajakku pergi dari lokasi. Setelah pamit dengan beberapa orang yang ada di situ kami kemudian meninggalkan mereka.


Di dalam mobil aku masih cemberut menatap Miko yang dari tadi tersenyum mengejek.


"Maaf....."


"Maafkan aku."


Miko memegang tanganku sambil memasang wajah memelas. Aku tentu saja luluh seketika dengan kata maaf itu dan langsung tersenyum padanya.


"Kamu memang berbeda," kataku pelan masih memandang Miko.


Benar, inilah perbedaan Miko dengan Bimo yaitu sikap yang mau mengalah dan tidak egois. aku tidak tahu apakah ada berhubungan dengan masa kecil mereka karena Miko masih merasakan kasih sayang seorang Ayah dan Bimo tidak hingga membuat dia sangat keras kepala dan egois.


"Tahu tidak kamu kenapa aku sangat membenci Bimo, selain semua kesalahannya?"


"Apa?"


"Karena dia tidak pernah meminta maaf atas semua rasa sakit yang dia pernah berikan padaku."


"Benarkah? Separah itukah dia?"


Miko memandangku dengan rasa tidak percaya dan aku hanya mengangguk lemah. Aku kemudian menjelaskan semua pada Miko seandainya dulu ada kata maaf terucap dari mulut Bimo mungkin kami bisa berbaikan walau hanya menjadi teman. Karena aku adalah orang yang tidak bisa kembali lagi bersama Bimo dengan hubungan cinta setelah semua yang terjadi pada kami.


"Jika saat itu dia minta maaf, apa akan berbaikan dan kembali bersama?" tanya Miko.


Aku menggeleng dan tersenyum, bagiku untuk bersama Bimo saat itu sudah tidak mungkin lagi.


"Sesuatu kalau sudah ku genggam tak akan ku lepaskan tapi kalau sudah lepas tidak akan ku kejar," jawabku.


Miko tertawa mendengar jawabanku sambil menagangguk seakan menyetujui perkataanku.


"Lucu ya, aku cuma mengejar kata maaf dari dia selama itu dan setelah meninggal baru aku menerimanya itu juga lewat sebuah catatan, sesulit itukah ternyata baginya mengatakan maaf sedang aku selalu meminta maaf kalau berbuat salah padanya."


Miko terdiam dan memandang ke arah jalan di depan. Benar waktu itu, waktu bersama Bimo semua yang kulihat hanya Bimo. Aku bahkan tidak pernah berani memandang lelaki lain selain dia. Aku memandang Miko dengan cemas tapi dia kemudian tersenyum ke arahku.


Miko tiba-tiba menghentikan mobil tepat di pinggir jalan di bawah sebuah pohon dan memandangku dengan penuh perhatian. Berusaha mendengarkan apa yang akan kukatakan selanjutnya.


"Maafkan aku, menyebut nama Bimo di depan kamu," ucapku dengan sangat menyesal karena baru menyadari pembicaraan ini bisa membuat Miko salah paham.


"Tidak apa, aku tidak menyuruh kamu melupakan Bimo cuma mengingatkan bahwa aku yang ada di sampingmu sekarang, lebih nyata bukan halusinasi belaka."


Aku tersenyum membelai pipi Miko dengan lembut sambil berkata." Kamu lebih segalanya dari dia."

__ADS_1


"Oh ya."


"Warmer, caring, understanding and more importantly all."


"Sure?"


"Heem," jawabku sambil mengangguk meyakinkan pada Miko.


"Wah, aku bahagia sekali sayang."


Benar kenyataan baru aku sadari setelah melihat Miko bergelantungan tadi, betapa tidak, rasa cemas seperti menjatuhkan jantungku hampir panik karena ketakutan. Artinya Miko sekarang yang berhak kupegang tangannya untuk melangkah lebih jauh kedepan.


"Temani aku menemui Bimo sekarang, aku harus menuntaskan semuanya," ajakku dan Miko menyetujuinya.


"Wanitaku sembuh sekarang, Kia ku kembali, wellcome to my real heart Beb," ucap Miko sambil mencium tanganku yang dari tadi di pegangnya.


*************


Aku memandang makam Bimo kemudian menengok Miko yang berdiri di sebelahku. Berjalan perlahan menghampiri serta menaruh bunga yang tadi aku beli di Rose florist tepat di atas makam.


Aku duduk tepat di samping makam sambil memandang ke arah nisan.


"Hai Bim... aku datang hari ini bersama Miko, aku mau memberitahukan sesuatu padamu, maaf kalau sangat terlambat," ucapku sambil menunduk.


"Baiklah... sekarang aku sudah memaafkan semuanya, aku akan melepaskanmu di hatiku, merelakan kamu pergi, melupakan rasa sakit tapi kamu harus ingat jaga anak-anak kita di sana, aku titipkan mereka padamu, aku mencoba berdamai dengan keadaan, kamu harus bahagia juga di sana jangan sampai menderita seperti dulu."


"Maafkan aku tidak bisa sering menemui kamu kelak karena aku akan menikah, aku mencoba bangkit lagi dan memulai lembaran baru bersama Miko, adik kesayangan mu jadi berjanjilah padaku untuk bahagia juga, sekarang kita berdamai saja aku benar-benar melepaskanmu sekarang."


"Kamu tetap di hatiku sebagai seorang Bimo yang baik sekarang percayalah semuanya sudah selesai di hatiku tidak ada yang tertinggal, its over... good bye Bim," lirih ku.


Tak terasa air mataku jatuh, ini bukan tangis kesakitan lagi tapi ini tangis terakhir untuk melepaskan Bimo dan aku berjanji di masa depan tangisku tak ada lagi untuknya.


Aku berdiri sambil terisak memandang Miko yang tersenyum padaku. Dia memelukku sangat erat, membelai kepalaku sambil berkata.


"Good, its good thinking and I like it, always with you and love you Beb."


"Aku lemah ya? Masih menangis karena Bimo?"


Miko memegang wajahku sambil memandangku dan memghapus bekas air mataku.


"Bagaimana kalau aku menciummu di depan Bimo?" tanyanya.


"Ini tempat pemakaman... jangan aneh deh," kataku dengan kesal sambil memukulnya.


"Oh iya... aku lupa."


"Ayo pulang, hari sudah senja," kataku sambil menarik tangan Miko.


"Bye Bim... doakan kami bahagia."


Miko langsung mengikuti aku yang sudah duluan berjalan keluar dari komplek pemakaman.


**********


"Tiket sudah siap, akomodasi sudah di booking selama 2 hari, lusa kita berangkat."


Wiwin menjelaskan kegiatan dinas kami di sambungan telepon, kegiatan dinas yang ber barengan dengan kegiatan Miko ternyata Alan juga ikut untuk memperkenalkan Wiwin dengan keluarganya yang masih di sekitar daerah tempat kami dinas.


"Waahh, ketemu Camer dong, gimana rasanya?"


"Agak cemas juga, takut akunya tidak sesuai ekspektasi mereka."


"Jangan pesimis dulu, belum tentu situasinya seperti yang kamu bayangkan," kataku menenangkan Wiwin.


"Sudah kepalang basah, yah jalani saja kalau tidak sesuai rencana itu urusan nanti."


"harus ada planing B jika A tidak bisa."


"Entahlah, Alan yang akan mengaturnya."


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar saja, aku doakan yang terbaik untukmu Cinta."

__ADS_1


"ohh, thank you friend....."


"Jangan cemas, kalau niat awalnya baik pasti akhirnya akan baik juga," kataku memberi semangat pada Wiwin.


"Jadi iri sama kamu yang punya camer sudah fix sama hubungan kalian."


Aku tertawa mendengar kata-kata Wiwin.


"Enak saja ngomong... dulu aku juga tidak di restui sama Bimo, tidak hanya satu pihak saja keduanya malah dan kamu tahu sendiri bagaimana aku melewatinya."


"Astaga maaf Kia, aku membuka kembali luka lama."


"Tidak apa, aku sudah berdamai dengan Bimo tadi sore semua sudah ku akhiri, aku tidak mau kami berdua saling menyakiti lagi."


"Baguslah, memang seharusnya begitu dari dulu supaya semua bisa kembali normal, apalagi kamu akan serius dengan Miko."


"Kamu juga kalau punya masalah harus cerita sama aku, jangan disimpan sendiri ya... ingat jangan ada rahasia di antara kita."


Aku tertawa sambil keluar dari kamar karena suara Mama memanggil menyuruh makan malam.


"Okey... aku akan siap-siap besok, berarti kita satu pesawat sama Miko kan?"


"Aku akan bawakan hasil laporan Lisa nanti kamu cek semua."


Bye Win... I miss u so much Cintaku."


Aku langsung memutuskan sambungan telepon dan menuju meja makan karena Mama meneriaki dengan tidak sabar.


************


Miko datang menjemput ketika aku sedang bersiap mengeluarkan koper dari kamar. Dia langsung berbicara serius dengan Mama yang duduk di depan dengan Papa.


"Miko akan bicara resmi sama Tante dan Om setelah selesai dinas."


"Tante percaya," kata Mama sambil tersenyum.


Miko mengangkat barang-barangku ke mobil dan kami berpamitan dengan kedua orang tuaku.


"Aku punya sesuatu untukmu," katanya sambil membuka dashboard mobil dan mengambil sebuah amplop lalu menyerahkannya padaku.


Aku membuka dan langsung berteriak dengan senang.


"Tiket konser artis luar negeri."


Aku menutup mulutku supaya tidak berteriak dengan nyaring karena merasa surprise.


"Di kasih temanku dari Balikpapan, kemarin saat rapat regional V, dia tidak bisa datang karena pekerjaan menumpuk, dari pada hangus dia berikan padaku saat tahu kita akan dinas dan bertepatan dengan tanggal konsernya " jelas Miko.


"Cause we were just kids when we fell in love


Not knowing what it was


I will not give you up this time


But darling, just kiss me slow, your heart is all I own


And in your eyes, you're holding mine."


Aku menyanyikan sepenggal lagunya sambil memandang dua tiket kelas VIP dengan hati senang dan menatap Miko sambil tersenyum.


"Hadiah," ucap Miko pelan sambil menggenggam tanganku.


"Terima kasih Beb, you are the best."


**************


**Jangan mencoba melupakan masa lalu karena makin ingin dilupakan makin kuat kamu mengingat nya jadikan saja semua untuk di kenang, cobalah direlakan saja dan belajar menerima serta berdamai dengannya. Karena hidup pada hakekatnya menjalani apa yang digariskan, menerima adalah cara bersyukur dan berusaha sekuatnya menjadi yang terbaik bagi diri sendiri.


**Teman-teman penulis yang saya hargai, mulai saat ini kalau mau saya feedback silahkan komen di karya saya, bukannya saya tidak mau datang ke karya lain tapi lebih pada saya yang takut kalau kedatangan saya di karya lain membuat authornya terbebani, maafkan yang sebesarnya karena statemen saya, mohon pengertiannya dan sekali lagi maafkan saya.


** Selamat membaca buat para readers terima kasih banyak atas dukungannya, mari tetap jaga kesehatan kita semua patuhi protokol standar, semoga kita semua terhindar dari wabah virus, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2