
Alan dan Wiwin berlari kearah tempat parkir setelah menerima telpon dari Miko. Mereka sangat cemas mendengar Miko yang sangat panik karena tidak bisa menemukanku. Saat itu mereka sedang makan malam di sebuah restoran tanpa menyelesaikan makan mereka langsung menyusul Miko yang berada di rumahku.
"Memang kenapa?" tanya Alan sambil menyetir.
"Aku juga tidak tahu, yang pasti sudah terjadi sesuatu pada Kia," jawab Wiwin dengan wajah sangat cemas.
************
Ketika Miko memelukku, aku langsung menangis sekerasnya. Miko tidak bicara apapun hanya memelukku dengan erat sambil membelai kepalaku. Kami tetap seperti itu beberapa menit lamanya sampai Miko sadar bahwa badanku menggigil karena kedinginan.
"Ganti baju dulu nanti sakit."
Miko berkata sambil menghapus air mataku lalu membantu aku berdiri dan mengambil handuk yang ada di atas lemari kecil memberikan padaku sambil tersenyum.
"Kenapa dengan Kia?"
Wiwin datang langsung masuk menghampiriku yang berdiri di depan Miko. Dia langsung memeluk ku dan menyuruh Miko keluar.
"Aku akan membantu Kia," kata Wiwin pada Miko.
Miko langsung keluar dengan baju basah dan Alan ada diruang tamu sedang duduk menunggu karena tidak berani masuk ke kamarku.
"Apa perlu beli baju ganti?"
"Tidak usah, koper pakaianku ada di dalam mobil," jawab Miko.
"Mana kuncinya? Aku yang ambil, dalam bagasi kan?"
Alan lalu keluar menuju mobil Miko dan mengambil koper yang ada di bagasi lalu menyerahkan pada Miko. Miko bergegas mengganti pakaiannya di kamar mandi tamu. Setelah selesai keluar dan duduk di sofa dekat Alan.
"Pesan makanan, aku lapar," suruh Miko pada Alan.
"Benar, makan dulu lah supaya bisa menghadapi kenyataan," kata Alan sambil tertawa.
Miko langsung melempar bantal yang ada di tangannya pada Alan. Bukannya menghindar Alan malah menangkap dan melempar kembali pada Miko sambil tertawa. Alan lalu memesan makanan yang diminta oleh Miko karena dia juga merasa lapar.
*****
Setelah selesai mengganti semua pakaian, aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ranjang. Mengambil selimut langsung berbaring dan menutupi seluruh tubuhku karena merasa sangat dingin.
Wiwin duduk di ujung ranjang dan hanya menatapku sambil mengambil air mineral botol kemudian pelan-pelan mendekatiku.
"Minum dulu obatnya," suruhnya sambil menyerahkan obat anti depresan yang sudah diresepkan oleh Dokter.
Aku bangun dan meminumnya, badanku masih menggigil karena kedinginan. Wiwin memegang tanganku kemudian membenarkan letak selimut agar seluruh tubuhku terkena dan memelukku sebentar seakan memberikan sedikit kehangatan padaku.
Aku masih menangis terisak menatap Wiwin.
"Tetap begini Win, lebih lama lagi peluk aku," pintaku.
"Are you ok? Apa mau cerita sekarang tentang semuanya?"
"Miko melamarku."
"Congratulation, tapi kok seperti ini reaksinya harusnya bahagia dong."
Wiwin sepertinya bingung melihat keadaanku yang baru dilamar tapi bukannya bahagia malah seperti orang depresi dan tertekan.
"I am scare, so scare," kataku sambil menutup wajah dengan selimut.
"Why?"
"Miko belum sepenuhnya tahu keadaanku," jawabku pelan.
"Kenapa harus takut? Apa karena vonis dokter kamu akan susah hamil?"
Aku tidak menjawab hanya mengangguk sambil memejamkan mata.
"Kamu bisa mengatakan itu nanti setelah kalian menikah, coba berobat dulu dan kita bisa cari Dokter yang bagus."
Wiwin mencoba membujukku agar berterus terang pada Miko supaya masalah antara kami dapat diselesaikan dan aku bisa melanjutkan hidupku
"Bagaimana kalau dia kecewa? Bagaimana kalau dia nanti meninggalkanku setelah tahu semuanya, aku benar-benar takut."
"Lebih cepat dia tahu itu lebih baik, kita bisa melihat bagaimana pendapat dan reaksinya, kamu serius tidak sama dia? Jangan plin-plan Kia, ini masalah hati seseorang kalau kamu tidak serius lebih baik putuskan lebih cepat jangan memberi harapan kosong, seseorang yang kecewa lebih menakutkan daripada seseorang yang membenci, kalau yang membenci suatu saat dia bisa berbalik suka tapi kalau kecewa jangan harap kamu bisa mendapatkan rasa sukanya lagi."
"Apa yang seharusnya aku tahu?"
Miko langsung menyahut kata-kata Wiwin, rupanya dia sudah lama ada di depan pintu mendengarkan kami bicara. Wiwin sangat terkejut dia tidak menyangka kalau Miko mendengar semua pembicaraan kami.
Aku lebih kaget lagi langsung duduk dan hanya bisa menatap Miko dengan sangat gugup.
"Saatnya kalian bicara masalah ini, apapun keputusannya nanti buatlah dengan bijak, aku mohon demi kebaikan kalian juga," ujar Wiwin meninggalkan kami berdua.
Miko mendekatiku masih menatapku yang menunduk dan dengan pelan duduk di ujung ranjang sambil meraih tanganku.
__ADS_1
"Sudah baikan? Katakan semuanya sekarang padaku jangan ada yang tertinggal."
Aku menatapnya dengan hati yang sangat gugup, air mataku keluar tidak bisa kutahan lagi ingin rasanya aku berteriak kenapa saat aku ingin membuka hati selalu dihadapkan dengan luka masa lalu dengan Bimo.
Ini bukan masalah aku mau apa tidak untuk berhubungan tapi ketakutan akan kelanjutannya kelak. Saat dengan Dony aku bisa menyimpan rapat dan bisa melepaskan Dony dengan baik karena memang dengannya aku tidak berharap serius dan terlalu jauh.
Tapi Miko yang adalah adik tiri Bimo dia sudah mengetahui semua rahasia kami. Semua rahasia Bimo dia tahu tak ada satupun yang tertinggal tapi rahasia yang aku pendam hanya sedikit yang dia tahu dan aku belum mengatakan sepenuhnya.
Fatal itulah kata yang tepat untuk semua masalahku, aku sangat ketakutan bukan hanya dengan kata menikah tapi juga tentang buah hati. Dulu saat keguguran kedua aku dikatakan Dokter bahwa aku susah untuk hamil lagi.
Bukankah tujuan menikah ingin memiliki keturunan semua orang menginginkannya dan aku tidak bisa dengan mudah mendapatkannya. Bagaimana kalau Miko sangat menginginkannya dan aku tidak bisa mewujudkannya.
Itulah yang membuatku selama ini memutuskan untuk menekan keras keinginan berhubungan serius dengan seseorang apalagi dengan momok masa lalu yang begitu masih jelas melukaiku.
Aku tidak ingin merasakan kegagalan ingin menikah untuk kedua kalinya, sangat sakit bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata. Semua hampir membuatku ingin mengakhiri hidup dan semua masih sangat diingat dengan jelas walau saat aku menutup mataku.
Saat pertama dengan Bimo aku sudah melakukan kesalahan yang banyak dan aku bahkan menerima pukulan yang sangat hebat. Sekarang dengan Miko aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang nanti akan membuat kami berdua menderita pada akhirnya.
"Kalau tidak mau cerita tidak apa, aku akan tunggu sampai kamu bisa mengatakannya."
Miko memegang wajahku dengan mesra dia mencoba memberiku pengertian. Aku tidak bicara hanya menatapnya. Miko sekarang di mataku adalah orang yang berusaha keras mengobati luka masa laluku.
"Aku akan cerita sekarang, kalau kamu mau meninggalkanku setelah ini aku akan terima," isakku sambil memandang Miko.
Miko menghembuskan napas masih memegang tanganku. Dia menunggu apa yang akan ku katakan sambil tersenyum.
"Aku sudah punya dua orang anak, itu mereka," kataku sambil menunjuk sebuah foto di atas meja.
"Aku tahu."
"Aku di vonis susah punya anak kemungkinannya hanya 10%, bagaimana kalau aku tidak bisa memberimu keturunan," kataku pelan sambil ter isak.
Miko masih tersenyum memandang dengan penuh kasih, dia makin menggenggam erat tanganku ketika mendengar pengakuan yang aku katakan. Aneh rasanya aku mengatakan padanya dengan perasaan malu dan hancur tapi dia malah tersenyum hingga membuatku sangat heran.
"Kamu tahu Kia, ketika aku memutuskan serius denganmu aku dengan senang hati menerima kamu apa adanya, tidak menuntut apapun dan tidak ada syarat lain, bagiku kamu membuka hatimu untuk aku itu lebih dari cukup."
Air mataku makin deras mendengar perkataan Miko tanpa ragu sedikitpun dengan keinginannya mendampingi aku. Bimo benar-benar mengirimkan seorang malaikat pelindung untukku yang berwujud Miko adiknya. Aku memeluknya sambil menangis keras di bahunya menumpahkan gundah yang selama ini bergelayut di hatiku yang ternyata terhempas dengan satu kata oleh Miko.
"Aku menerima kamu apa adanya tanpa melihat sedikitpun ke belakang."
Miko membelai kepalaku membalas pelukanku dengan erat.
"Bagaimana kalau nanti aku benar tidak bisa punya anak?"
Aku makin erat memeluknya terasa semakin hangat ketika Miko mengatakan aku lebih penting dari semuanya.
"Kenapa masih menangis? Apa sangat terharu, bukankah cintaku luar biasa?"
Aku langsung melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku sambil memandangnya sedikit kesal, miko masih bisa bercanda saat seperti ini. Aku sekarang baru menyadari kalau Miko memang benar untuk sekarang hanya bisa menerima keadaan tanpa rasa takut.
"Iya.. sangat terharu, terima kasih atas pengertian yang tulus dan cinta yang besar untukku," ucapku sambil mencium pipinya.
"Pesanan sudah datang Miko, tadi katanya kamu lapar," kata Wiwin berdiri di depan pintu kamar.
Miko langsung mengambil dompet tapi di tolak Wiwin dan dia mengatakan bahwa semua sudah di bayar oleh Alan.
"Ayo makan," ajaknya padaku.
"Aku mau istirahat sebentar nanti saja," tolakku karena sudah merasa reaksi obat yang ku minum mulai membuat mengantuk.
"Aku temani Kia, kamu makan dulu sama Alan dia sudah menunggu di meja makan," suruh Wiwin pada Miko.
"Kalau mau makan bilang padaku nanti kita pesan," ujar Miko padaku saat keluar kamar dan aku cuma mengangguk.
"Kamu juga makan sana," suruhku pada Wiwin kembali berbaring dan memejamkan mata.
Bukannya beranjak dia malah ikut berbaring di sebelahku sambil tertawa kecil dengan perasaan senang.
"Cintaku bukanlah cinta biasa jika kamu yang memiliki......."
Wiwin menyanyikan sepenggal bait lagu sambil memegang wajahku kemudian tertawa dan aku langsung memukul tangannya.
"Pasti tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Miko ya, dasar usil."
"Selamat temanku, apa perlu nanti kita ke Dokter memeriksa trauma kamu?"
"Tidak usah, aku masih waras."
"Benar juga obatnya sebenarnya mudah, cinta dari orang yang benar-benar tulus, aku bangga pada Miko jarang ada pria seperti itu," ujar Wiwin.
"Semoga hati Miko tidak berubah sampai akhir," ucapku.
"Semoga."
Sahabatku itu ikut mendoakan sambil memandangku dengan tersenyum senang seakan turut bahagia dengan selesainya masalah yang ada. Aku menatap Wiwin dan tersenyum senang juga mendengar kata-katanya.
__ADS_1
Aku benar-benar lega ternyata yang selama ini hal yang aku takutkan berlebihan dapat diterima oleh Miko dengan penuh pengertian. Dia malah menguatkanku bahwa semua takdir sudah ditetapkan tidak bisa di tolak dan kita cuma bisa menjalani saja.
"Miko orang yang tepat untukmu sekarang, aku percaya setelah mendengar reaksinya yang masih mau disampingmu setelah mendengar rahasia kamu Kia, dia pelindungmu jangan pernah punya perasaan ragu lagi."
Wiwin membenarkan letak selimut karena melihat aku mulai terlelap.
********
"Sudah tidur Kia,' jelas Wiwin sambil duduk di samping Alan.
Wiwin kemudian ikut makan bersama mereka, tadi di restoran mereka langsung pergi tanpa menghabiskan makan karena mendengar aku hilang bahkan Wiwin belum menyentuh makanan sama sekali.
Setelah makan mereka berbincang di ruang santai sambil nonton televisi.
"Ada wine dalam mobil," kata Miko langsung berdiri mengambil yang dimaksud.
Miko datang dengan sebotol wine dan Wiwin sudah menyiapkan gelas flutenya.
"Selalu bawa ini?" tanya Alan mengambil botol wine dari tangan Miko.
"Tadi harusnya aku buka saat Kia menerima lamaranku, tapi yah begitulah....."
Alan tertawa saat mendengar alasan Miko dan membuka tutup wine lalu menuangkan ke dalam gelas flute. Wiwin datang dengan kue tart coklat yang di dapatnya dalam kulkas, aku selalu punya persediaan kue karena aku orang yang paling malas makan nasi kalau sudah malam hari.
Mereka bertiga masih berbincang sambil menikmati red wine dan tart coklat karena red wine terkenal agak pahit after tastenya dan tart coklat pas sekali kalau jadi makanan pasangannya.
"Apa tidak ada acara lain selain pertandingan bola?" tanya Wiwin pada Alan.
"Jangan dipindah salurannya, pertandingan ini aku tunggu dari minggu lalu," sanggah Miko.
"Dasar laki-laki," gerutu Wiwin mulai bosan.
"Kenapa tidak tidur sama Kia di dalam?" tanya Alan.
"Kia kalau sudah tidur tidak bisa diganggu, ada suara sedikit saja dia pasti terbangun, kalau aku kesana takut nanti dia terbangun," jelas Wiwin.
"Kamu harus tidur lebih dulu kalau menikah nanti, kalau dia tidur kamu belum tidur dia pasti tidak bisa tidur juga," kata Wiwin pada Miko.
"Tidak usah tidur semalaman, apa susahnya?"
Alan menyahut Wiwin yang langsung kena cubit dan Alan mengerang kesakitan. Miko tertawa melihatnya kemudian kembali fokus ke pertandingan bola.
Wiwin sudah terlihat mengantuk, dia berbaring di bahu Alan dan tak lama terlelap dan Alan masih nonton televisi bersama Miko.
"Goo..ooolll......."
Teriak Miko saat tim favoritnya berhasil membobol gawang lawan, Miko langsung menutup mulutnya karena tidak sadar berteriak keras. Dia lupa yang dikatakan Wiwin bahwa jangan ribut dengan cepat di tengoknya Wiwin yang sedang tidur untung tidak terbangun.
Tapi dia terkejut saat aku berdiri di depan pintu kamar dan memandang kearah mereka yang sedang nonton televisi. Aku kemudian berjalan menuju ruang santai dan duduk di sebelah Miko.
"Aku mau itu," tunjuk ku pada botol wine yang ada di atas meja.
Miko tersenyum menuangkan, memutar gelasnya beberapa saat dan menyerahkan padaku. Aku meminumnya langsung habis. Miko memandangku dan tersenyum melihatku sudah agak baik keadaannya. Aku memeluk Miko dan merebahkan kepala di bahunya.
"Hai Alan," sapaku pada Alan yang duduk melihat televisi dan Wiwin sedang tidur di sampingnya.
Alan cuma menengok sebentar, tersenyum padaku kemudian kembali menatap televisi dan membiarkan kami berdua berbicara. Miko membiarkan aku duduk di samping dan memeluknya bahkan gantian dia memelukku.
"Apa teriakanku membangunkan kamu? Ribut ya...heh?"
Aku menatapanya dan menggeleng sambil menyandarkan kembali kepala ke bahunya.
"Aku pinjam pelukmu malam ini, bolehkah?" tanyaku pada Miko.
"Aku berikan dengan senang hati, tidak usah pinjam kamu boleh memiliki selamanya."
"Are you sure? Promisse me? Jangan lari dariku kalau nanti kita punya masalah," ancamku.
"Tidak akan pernah, aku menerima semua kekurangan dan kelebihan kamu, because I love you," kata Miko sambil memeluk dan memegang tanganku
"Jangan terima aku apa adanya, tuntut juga sesuatu biar kita bisa bersama dan saling melengkapi."
"Nanti, kalau sudah menikah aku akan menuntutnya, jangan berani menolak," kata Miko dengan senyum menggodaku.
Malam itu aku tertidur di pelukan Miko rasanya hangat dan terlindung dengan aman membuatku tertidur dengan lelap.
***********
**Semua yang ada di dunia ini ada waktunya, tangismu, sedihmu, susahmu, sulitmu, sakitmu, akan ada waktunya hilang. Begitu juga bahagiamu, senangmu, mudahmu, sehatmu akan ada waktunya berbalik dititik nol.
** Kita manusia semua pendosa, ada yang sering bermaksiat tapi selalu menyantuni dan bersedekah serta selalu membantu sesama. Ada yang rajin beribadah dan terlihat baik tapi suka menyakiti hati orang lain juga berbuat licik pada siapapun. Tidak ada yang paling suci kita semua cuma berbeda jalan dalam memilih dosa.
**Terima kasih sebesarnya buat para reader yang sudah menunggu update, maafkan saya yang tidak bisa selalu update mohon pengertian yang teramat sangat. Selamat membaca semoga masih ada yang mau membaca story ini,
I am nothing without you, stay healthy and don't forget to be happy, see you later, love from Kia😊
__ADS_1