Rahasia Hati

Rahasia Hati
Passion For Him


__ADS_3

Saat aku menjerit kecil karena sakit Mama langsung datang mengambil safety box dan menghampiriku.


"Kenapa ceroboh...sih?" tanya Mama sambil menarik kakiku yang berdarah.


"Sakit...Ma," jawabku singkat.


"Sudah tahu banyak pecahan gelas masih jalan di depannya, mundur saja bisa," omel Mama sambil menyiram lukaku dengan cairan rivanol dan mengoleskan salep luka.


Aku cuma bisa meringis pedih ketika air rivanol menyentuh luka yang berdarah. Hampir saja aku menarik kakiku tapi di cengkram Mama dengan erat, aku terpaksa menurut. Mama masih mengomel padaku mengatakan bagaimana kalau terjadi di rumah saat aku sendiri.


Pernah kejadian seperti ini terjadi waktu aku sendirian tapi aku cuma membiarkan saja sampai darahnya mengering tanpa berusaha mengobatinya karena saat itu sakit di hatiku lebih sakit dari luka di kakiku.


Itu terjadi ketika Bimo mulai berubah dan meninggalkanku ke Sangata dengan Luthfi tanpa bicara apapun padaku. Aku bahkan mengetahuinya dari Rima. Walaupun sudah di susul ke Kotaku tapi dia tidak mau kembali menghampiriku. Saat itu dia berhenti mengejar cintaku dan lari seperti pengecut hanya aku yang berusaha menemuinya, itupun cuma sekali setelah itu tidak pernah ada lagi pertemuan lagi di antara kami sampai sekarang.


********


Saat aku akan tidur, sudah berbaring di ranjang dan bersiap memejamkan mata handphoneku berbunyi. Ternyata dari Rima pasti tentang reuni yang akan diadakan besok.


"Besok akan datang...kan Kia?" tanya Rima.


"Apa mesti harus datang?" tanyaku balik.


"Anak tidak sopan, ditanya dia malah balik bertanya," gerutu Rima kesal.


"Kalau aku tidak datang, tidak apa juga...kan?"


Aku sebenarnya malas sekali datang tapi Rima berusaha keras membujukku supaya mau menghadirinya. Jadilah aku setuju untuk ke sana di acara reuni kelas kami dulu.


"Tapi kamu harus janji...tidak ada Bimo," ancamku.


"Kamu juga harus tahu sekarang Bimo di Rumah sakit sedang berjuang karena penyakitnya," jelas Rima.


Aku cuma terdiam mendengar penjelasan Rima. Entah berapa puluh kali Rima menelpon menyuruhku menjenguk Bimo tapi aku tidak menghiraukannya selain aku tidak mau bertemu Bimo aku juga malas bertemu dengan keluarganya.


"Kirim saja nama tempat dan alamatnya," kataku pada Rima.


"Besok aku kirim...setelah Dewi memastikannya..acaranya sore sekitar jam empat," kata Rima lalu menutup pembicaraan denganku.


Tak lama handphoneku berbunyi lagi ternyata dari Nisa.


Aku sudah lama tidak bertemu Nisa sejak kejadian Bimo collapse dan saat dia memberitahu rahasiaku pada Bimo.


"Katanya kamu di sini?" tanya Nisa saat ku angkat panggilannya.


"Iya...menjeguk Papa dan Mamaku," jawabku.


Sebenarnya aku takut Nisa marah karena selama aku ada di Kota ini aku tidak pernah menjenguknya. Ternyata dugaanku benar dia marah walaupun masih kelihatan biasa saja.


"Teman seperti apa yang datang ke sini tidak pernah berusaha untuk menjengukku, aku selalu ke rumahmu di sana kamu bahkan tidak pernah ke rumahku lagi," katanya bernada agak ketus.


"Kalau sempat aku ke sana besok Nis...maaf," kataku berusaha meminta maaf.


Benar juga saat aku kesusahan Nisa selalu di sampingku. Hanya karena satu kesalahan yang dibuatnya aku berusaha menjauh darinya. Aku jadi sangat menyesalinya Nisa sudah menganggapku seperti saudara tapi aku malah satu tahun ini tidak pernah menghubunginya.


"Aku janji besok aku ke toko kamu saja...aku mau beli baju buat Mamaku," kataku.


"Benar....ya, kamu tidak bohong...kan?" tanya Nisa.


"Iya...aku janji," jawabku.


"Aku akan siapkan makanan, kamu mau makan apa?" tanya Nisa dengan nada senang.


"Aku mau nasi kuning dendeng daging," jawabku cepat teringat Nisa sering membelikanku nasi kuning di warung dekat rumahnya.


"Oke...aku belikan tapi jangan sampai siang...ya, aku mau jemput anakku sekolah," katanya.


"Iya...Nisa..."


Aku kemudian mematikan telpon dari Nisa dan memejamkan mata untuk tidur. Aku selalu bisa tidur tenang kalau di rumah Papa dan Mama mungkin karena aku merasa tidak sendiri. Kalau di rumah sana aku bahkan harus meminum obat tidur kalau sampai jam satu malam tidak bisa tidur.

__ADS_1


******


Aku menjalankan mobil pelan di tempat parkir pasar kota karena orang sering lalu lalang memyebrang dan tempat parkirnya agak sempit. Sebenarnya ada parkir khusus mobil di depan taman kota tapi aku langsung memasukan mobil ke jalan pasar dan berhenti di depan toko Nisa.


Nisa langsung berlari keluar toko saat aku keluar dari mobil. Dia menghampiri dan memelukku sambil memukul bahuku.


"Aku sangat kangen tahu nggak?" tanya Nisa aku, cuma tersenyum padanya.


"Kamu ternyata teman yang jahat...tidak pernah berusaha menelponku, selalu aku yang menelponmu," katanya sambil mendorongku masuk ke dalam toko.


Aku tertawa kecil ketika memasuki toko Nisa dia ternyata benar-benar membelikan makanan yang kuinginkan. Kami langsung makan nasi kuning yang ku pesan sambil berbicara.


"Sudah menjenguk Bimo?" tanya Nisa padaku sambil menatap menyelidiki sinar mataku.


"Belum," jawabku langsung menunduk dan seketika Nisa memegang wajahku dia berusaha mencari kebenaran di mataku.


Nisa menarik napas seperti ada yang berat di hatinya, dia memegang tanganku. Aku belum berani menatapnya karena dia pasti tahu aku takut kebenaran yang ada dimataku pasti terungkap. Nisa kembali makan dan beberapa detik kami membisu tanpa ada yang memulai berbicara.


"Kalian harus bertemu sebelumnya terlambat, Kia," katanya pelan dan lirih seperti ada yang disimpan Nisa dariku.


"Kalau aku menjenguknya pasti akan ada salah paham, lagipula kami tidak mungkin bersatu," sahutku.


"Setidaknya satu diantara kalian ada yang berbesar hati mau mengalah jangan seperti ini...Kia, kamu harus tahu waktu hidup manusia tidak ada yang tahu," kata Nisa sambil minum es teh kemudian kembali menatapku yang mulai menghabiskan makananku.


Aku menatap Nisa dengan bingung seakan ada sesuatu yang besar yang aku tidak tahu. Seperti tersimpan di bibir Nisa tapi tidak bisa dia katakan padaku.


"Apa sangat parah?" tanyaku sambil menahan nyeri yang datang tiba-tiba di hatiku.


"Kamu harus lihat sendiri supaya tahu," jawab Nisa sambil membuang wajah dari tatapanku.


Aku semakin yakin kalau Bimo penyakitnya sangat parah tapi seperti keyakinan hatiku bahwa tidak ada kata maaf untuknya. Aku mencoba menahan getaran-getaran ngilu di dalam dadaku dan kembali menyadarkan pikiranku bahwa semua kisahku dengan Bimo tidak bisa disambung lagi.


Jadi antara kenyataan dengan kemauan hatiku yang berbeda tetap harus mengalahkan kemauanku. Karena semua yang sudah dilakukan Bimo dan keluarganya menyakiti bukan hanya hatiku tapi semua hati keluargaku. Ini bukan lagi antara aku dan Bimo tapi sudah membesar antara dua keluarga.


Nisa menyerahkan semua keputusan padaku, dia tidak lagi memaksaku memaafkan Bimo. Dia sekarang lebih menerima kalau kami tidak akan bisa bersama. Sepertinya dia sudah mengerti semua alasan utama kisahku dengan Bimo.


*******


Aku menjalankan pelan mobil sambil melihat-lihat di mana tempatnya karena lama sekali aku tidak bejalan-jalan di sini. Aku melihat banyak sekali perubahan di Kota ini. Semakin banyak tempat makan dan tempat nongkrong di sepanjang jalan juga sangat ramai dengan toko-toko.


Jalan di sini sekarang sudah agak macet, aku dulu bahkan takut kalau naik motor sendiri saat jalan sangat sepi. Sekarang jalan sangat ramai aku bahkan melihat pengguna jalan makin bertambah banyak. Kalau ini terjadi dulu pasti saat itu aku tidak berani mengendarai motorku ke sekolah.


Tempat yang akan di tuju sudah ku dapat itu juga harus bertanya dengan orang yang ada dipinggir jalan. Setelah menemukannya aku masuk dan memarkir mobil serta bergegas masuk ke dalam sebuah depot makan.


Aku yang hanya memakai celana jeans, kemeja pink dan sepatu kets putih, sekilas orang tidak mengira tentang usiaku sekarang. Tampak lebih muda sepuluh tahun lebih bahkan ada yang menyebut masih seperti anak kuliah.


"Waahh... ABG dari mana, nih?" tanya Heri ketika aku sampai, dan menghampiri mereka yang sudah berkumpul di sebuah meja.


Aku langsung memeluk Heri dan dia kaget sekali, tidak akan menyangka aku seperti itu ketika melihatnya.


"Aku rindu kamu," kataku pelan sambil menatap wajah dan memegang tangannya.


Teman-temanku yang lain melihat tertawa melihat tingkahku pada Heri, dia melepaskan tanganku sedikit malu karena di tertawakan teman yang lain.


"Aku sudah punya istri, bagaimana dong Kia? Haruskah aku bercerai?" tanyanya sambil menatapku dengan wajah lucu.


Dia tertawa dan aku juga ikut tertawa merasa bahwa tingkah kami masih seperti dulu saat kami masih SMA. Cuma bedanya saat ini kami sudah tidak berdebat seperti dulu lagi mungkin Heri merasa aku sudah tidak bersama Bimo lagi dia jadi agak berubah sekarang.


"Ayo pesan apa?" tanyanya sambil menyuruhku duduk di meja yang sudah di pesan oleh Dewi.


Rima segera menghampiri dan memelukku sambil menarik tanganku agar aku duduk bersama dia. Kemudian membuka buku menu dan menyuruhku memilih menu makanan sendiri sambil tersenyum melihatku.m


"Akhirnya bisa juga kumpul sama orang Telkom," katanya sambil tersenyum dan memandang Dewi di depanku.


"Kenapa badan Kia tidak berubah sama sekali tidak seperti kita melar ke samping, bagaimana cara menjaganya?" tanya Dewi padaku.


"Dia... kan belum menikah dan belum punya anak juga wajar saja badannya masih bagus," jawab temanku yang lain.


Aku hanya tersenyum pada mereka seolah-olah tidak pernah terjadi apapun padaku sehingga badanku masih bagus. Padahal hatiku sangat gugup kalau-kalau ada satu dari mereka yang tahu bagaimana kisahku dengan Bimo. Aku kemudian memesan makanan dan kembali memgobrol dengan mereka.

__ADS_1


Kulihat Heri sibuk merekam video kami saat makan. Dia merekam semua kegiatan kami untuk kenang-kenagan katanya.


Dia kemudian mendekati kami dan mengarahkan kamera pada kami satu-satu dan meminta sesuatu pada kami semua.


"Ayo ucapkan sesuatu untuk menguatkan Bimo yang lagi sakit, seperti kata-kata semangat," ajaknya pada kami semua. Aku langsung tercekat mendengarnya hatiku jadi gugup tapi berusaha aku tutupi.


Dia mulai merekam dan memulai video kata-kata semangat dari Dewi mantan ketua kelas kami.


"Semangat... ya, Bim...semoga cepat sembuh," katanya sambil tersenyum saat di rekam. Walau tidak akrab dengan Bimo dulu tapi Dewi selaku ketua kelas sangat membantu agar Bimo bisa lulus ujian.


Kemudian kamera beralih pada Rima yang saat itu sedang makan. Dia menghentikan makannya dan minum supaya bisa bicara dengan nyaman.


"Yang kuat... Bim, harus bisa kembali sehat aku selalu mendoakanmu, jangan pernah patah semangat...ya," katanya sambil menatap kamera seakan-akan Rima tahu Bimo pasti akan melihatnya.


Heri kemudian mengarahkan kamera pada semua teman-teman sekelas kamu dulu.


"Kami berdoa untuk kesembuhan kamu Bimo....jangan putus asa," kata Yadi teman kami sekelas.


"Bimo semangat," teriak mereka bersama-sama.


Heri kemudian mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri dan tersenyum.


"Sembuh cepat... Bim, jadi kita bisa minum lagi, kali ini aku yang traktir," kata Heri sambil tertawa dan menoleh kearahku.


Semua yang ada di situ ikut tertawa mendengar Heri bercanda. Heri lalu menuju ke arahku dan tersenyum penuh arti padaku dari tadi cuma diam.


"Oh.. iya ada Coklat di sini... ayo Coklat katakan sesuatu pada mantan pacarmu," ujar Heri sambil memajukan kameranya tepat di depan mukaku.


Aku menghembuskan napas panjang sambil menggelengkan kepala dan tersenyum pada Heri seperti ingin mengatakan bahwa aku menolak bicara apapun untuk Bimo.


"Ayolah...Kia, masa seperti itu sama mantan... satu kata saja please."


Heri mencoba membujukku tapi aku tetap tidak mau. Heri sepertinya tidak mau menyerah dia bahkan menyusulku saat aku mencuci tanganku di wastafel dan masih mengarahkan kamera pada wajahku.


Aku jadi salah tingkah dan yang kulakukan cuma menunduk supaya jangan sampai terlihat dengan jelas. Sampai aku melindungi wajahku dengan telapak tanganku.


"Ayolah...Kia, apakah kamu tidak mau mengatakan sesuatu pada orang yang pernah kamu cintai?" tanya Heri pelan.


Kata-kata Heri menyebabkan hatiku kembali sakit, aku menunduk sambil memcuci sabun yang ada di tanganku dan menahan air mataku yang hampir jatuh. Sambil menarik napas dan menenangkan perasaan yang tidak bisa di lukiskan kemudian aku menatap ke kamera yang di pegang Heri.


"Fighting!" kataku sambil mengangkat tangan dan menunduk dan menyapu tanganku dengan tisu yang ada di atasku kemudian aku meninggalkan Heri kembali ke kursi bergabung dengan Rima.


"Oke...harus kuat...Bim, bye..."


Heri memberikan kata penutup dan menghentikan video yang direkamnya kemudian mengirimkan kepada Bimo yang saat itu sedang di rumah sakit.


Kami masih berbicara satu sama lain dengan teman-teman kelas dulu. Ada yang beecerita tentang suasana sekolah dulu, memori yang masih terganbar jelas di hati kami.


Sebuah band yang sering main di situ kemudian memainkan sebuah lagu menghibur para pengunjung. Kami menikmati alunan musik sambil berkumpul dan bercanda.


"Ayo... nyanyi, Kia," ajak Heri sambil memberi kode pada pemain band.


"Nyanyi... apa?" tanyaku pada Heri.


"Apa saja lagunya aku rindu mendengar suaramu saat menyanyi," bujuk Heri.


"Hmm... mau menggodaku...ya?" tanyaku padanya.


Aku pun menyanyi dengan bersemangat lagu lebih indahnya dari Adeera. Semua orang di situ bertepuk tangan sambil ikut bergoyang. Rima bahkan ikut ke depan menemaniku menyanyikan lagu. Heri terlihat sangat senang aku sudah mau memenuhi permintaannya.


Dia bahkan bertepuk tangan dengan keras sambil tersenyum dan tiba-tiba Dewi berteriak karena terkejut.


"Bimo!"


*************


**Mata adalah jendela hati, dia tidak bisa berdusta dan kalau ingin melihat jujurnya seseorang lihatlah dari matanya.


**Satu kata yang berarti bisa membuat orang termotivasi dalam hal apapun, berikan kata yang bagus karena itu bisa menjadi doa.....

__ADS_1


**Selamat membaca dan terima kasih atas segala dukungannya.....


__ADS_2