
Saat pagi menjelang siang Tari sudah membereskan kamar tempat Bimo dirawat. Mamanya masih duduk di kursi roda di samping ranjang Bimo sambil memegang tangan Bimo. Raffa membantu Mamanya membereskan sampah bekas botol minuman yang ada di atas meja tamu.
Luthfi datang sambil mengangguk dan tersenyum pada Mama Bimo. Dia kemudian membantu Raffa memasukan botol ke dalam plastik dan membuangnya ke tempat sampah diluar ruangan dan kembali menemui Mama Bimo. Mama Bimo sudah bersiap-siap mau pulang bersama Tari dan Raffa.
"Mama pulang dulu, titip Bimo," ujar Mama Bimo pada Luthfi.
"Iya...Ma," sahut Luthfi pelan.
Bimo melihat Mamanya sambil mengangguk dan Raffa masih di samping memeluknya. Tari kemudian memanggil Raffa supaya ikut pulang.
"Kak Bimo...Tari pulang dulu nanti siang Tari bawakan bubur," kata Tari sambil mencium tangan Kakaknya.
Tari merasa bingung karena sekarang setiap dia memandang wajah Kakaknya ataupun berbicara, air matanya selalu menetes hatinya sakit melihat keadaan Kakak yang paling di sayanginya harus berjuang menghadapi penyakit tanpa seorang pasangan. Tari memeluk Bimo sambil terisak dia berjanji akan memenuhi usulan Kakaknya bahwa akan menikah saat Bimo pergi nanti.
**********
Luthfi duduk di ranjang Bimo karena Bimo yang menyuruhnya. Tak lama datanglah Pria yang menanda tangani surat kemarin sambil tersenyum dia menatap Bimo. Luthfi terlihat kaget dia berpikir tidak pernah bertemu dengan orang ini.
"Kalau kamu datang lebih cepat sedikit saja, kamu akan bertemu Tari dan Mamaku," kata Bimo sambil tersenyum pada Pria itu.
Luthfi kemudian berkenalan dengan Pria itu dan terlihat sangat kaget saat bersalaman lalu dia tersenyum pada Pria itu
"Dia orang yang kamu cari saat kita di Sangata dulu?" tanya Luthfi pada Bimo.
Bimo mengangguk sambil memyuruh Pria itu duduk dan menjelaskan pada Luthfi semuanya karena dia sudah berjanji akan mempertemukannya. Luthfi mulai mengerti cerita sebenarnya dan kemudian menepuk bahu Pria itu sambil tersenyum.
"Berikan mobil sama motorku padanya," suruh Bimo pada Luthfi.
"Tidak usah motormu saja, biar mobil buat Mamamu susah juga nanti kalau mau kemana-mana lagi pula aku juga sudah punya mobil," ujar Pria itu menolak kata Bimo.
Mereka kemudian berbincang sangat serius membahas keinginan dan keputusan Bimo. Beberapa kali Pria itu mengangguk tanda dia sudah mengerti, mereka sekarang tidak berusaha lagi menghalangi kemauan dan keputusan yang diambil Bimo.
*********
Suasana sepi saat malam sekitar jam 2 pagi, Luthfi masih menemani Bimo di ruangan rawat dan dia tidur di sofa. Terlihat Bimo masih terlelap di ranjang pasien seakan tenang tidak akan ada apa-apa yang terjadi.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba Bimo bangun dan muntah ke samping ranjang, Luthfi segera bangun dan panik melihat darah berceceran di lantai dekat ranjang Bimo. Dia langsung menghampiri Bimo yang saat itu lemas dan pingsan. Luthfi langsung berlari memanggil Perawat yang sedang piket di ruangan depan ruang ICU.
Mereka kembali lagi ke ruangan dan ternyata Bimo sudah tidak sadar tapi masih bernafas. Perawat langsung menyuruh Perawat lain memanggil Dokter jaga di UGD dan temannya langsung memberikan instruksi pada mereka berdua.
"Bawa ke ruang ICU berikan perawatan khusus, aku panggil Dokter," kata Perawat pada dua orang temannya.
Bimo kemudian di bawa ke ruang ICU dan mendapat penangangan khusus. Dokter terlihat berlari memasuki ruang. Terlihat beberapa Perawat membawa tiga macam alat dengan tergesa-gesa ke dalam ruangan. Luthfi tertegun lama dia tidak bisa berpikir apa yang harus dilakukan. Dia cuma menatap Bimo yang sedang diberikan penanganan medis.
"Detak jantung hilang," teriak perawat yang ada di samping Bimo saat memasangkan selang oksigen ke hidung Bimo.
"Sediakan defibrilator, siapkan 200 joule... minggir semua," kata Dokter sambil melempar kertas rekam medis yang ada di tangannya.
Dokter kemudian mengambil defibrilator dan menyuruh mengoleskan cairan serta dengan cepat menyentuhkan ke dada Bimo. Seketika tubuh Bimo terangkat karena reaksi alat setrum untuk memacu otot jantung.
"Tidak ada reaksi," kata Perawat sambil melihat layar defibrilator.
"Sekali lagi...naikan joulenya," kata Dokter sambil menyuruh perawat megoleskan cairan sekali lagi.
Tubuh Bimo kembali terangkat karena setrum alat itu dan layar defibrilator masih datar tidak ada tanda-tanda reaksi. Dokter naik keatas tubuh Bimo dan menekan dada Bimo mencoba memberikan CPR. Setelah 3 menit barulah ada reaksi dan Perawat kemudian memasang oximeter di jari Bimo.
"Panggil Wali pasien saya mau bicara," kata Dokter pada Perawat.
Luthfi ingin sekali menelpon Tari tapi sesuai pesan dari Bimo bahwa jangan ada keluarga yang ada saat dia meninggal. Yang boleh menemaninya hanya mereka bertiga yang tahu surat yang dibuat oleh Bimo.
*******
Heri berlari ke arah ruang ICU langsung menemui Luthfi. Dia berhenti dan menepuk bahu Luthfi dengan napas tersengal. Langsung melihat dan menghampiri Bimo yang masih terbaring dalam keadaan koma.
"Kita temui Dokter besok pagi," ajaknya sambil menepuk bahu Luthfi yang terlihat masih shock dengan kejadian barusan. Dia tidak menyangka Bimo akan meninggal malam ini.
Seorang Pria berlari dengan cepat dan langsung masuk ruangan ICU untuk melihat keadaan Bimo. Luthfi menelponnya yang mengatakan Bimo sudah kehilangan detak jantungnya satu jam yang lalu.
Heri terlihat kaget melihat Pria yang datang, dia kemudian menyalaminya dan Luthfi menceritakan semua pada Heri tentang Pria itu kemudian mereka berbincang dengan serius sambil sekali-kali menatap Bimo yang terbaring di ranjang.
Tiba-tiba irama fingger oximeter berhenti dan berbunyi nyaring dan jelas terlihat garis datar di layar monitornya. Heri langsung menghampiri Bimo dan memeriksa keadaannya. Luthfi berlari dengan cepat memanggil Perawat di depan.
__ADS_1
Pria itu memegang erat tangan Bimo seakan dia akan memegang tangan itu terakhir kali. Tak terasa air matanya menetes, dalam hidupnya hanya dua kali dia menangis ketika melihat mayat Mamanya dan ketika Bimo akan pergi sekarang.
"Aku benci kalian...kenapa selalu meninggalkanku sendiri," bisiknya sambil menaruh kepalanya di tangan Bimo yang sudah dingin.
"Aku akan membuat Coklat memaafkanmu...kamu lihat saja nanti Bim," desisnya seakan marah melihat Bimo pergi dengan keadaan begini dan aku belum memaafkannya.
Ada kemarahan di dadanya padaku karena sudah membuat Bimo melalui hal sulit sampai menutup matanya walaupun dia juga tahu tidak sepenuhnya kesalahanku.
Tapi hatinya kini sangat ingin berteriak memanggil namaku agar aku bisa melihat Bimo yang sekarang, sekarat dan meninggal tanpa satupun orang yang disayanginya ada di sampingnya dan itu semua dilakukan Bimo demi ingin mendapatkan satu kata maaf dariku.
*******
Terlihat para perawat sibuk melepaskan semua alat yang menempel di badan Bimo sesuai dengan anjuran Dokter.
"Jam kematian 07 lewat 35 pagi," kata Dokter sambil menatap mereka bertiga yang dari tadi berdiri menunggu di ruangan.
"Selamat jalan, Bim," bisik Heri sambil mengusap wajah Bimo dengan sedikit terisak.
"Aku akan melakukan apa yang pernah kamu minta, aku berjanji," isak Heri sambil memandang wajah Bimo yang sudah tanpa alat lagi.
Luthfi terduduk di samping ranjang dengan satu tangan memegang kaki Bimo sebelah kanan. Dia meremas sambil menangis dan memukul ujung ranjang.
Luthfi sekarang benar-benar harus melepaskan sahabat yang paling di sayanginya dengan ikhlas, karena Bimo sudah berkata bahwa dia akan pergi dengan tenang jika Luthfi merelakannya. Luthfi juga tahu Bimo sudah sangat sakit jadi kalau Bimo pergi dia tidak akan merasakan kesakitan itu lagi.
Pria itu berdiri sambil memeluk Bimo terakhir kali lama sekali sebelum dia melepaskan Bimo untuk selama-lamanya.
"Kita lakukan nanti semua sesuai dengan prosedur yang ada seperti yang tertera dalam surat wasiat ini," kata Dokter pada mereka bertiga yang menunggu Bimo dan mereka menyetujuinya.
************
*Kisah ini saya dedikasikan untuk seseorang yang bernama Bimo yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Selamat jalan Bimo kamu tetap di hatiku selamanya walau kita tidak pernah bisa bersatu, kau juga tetap selalu ada di hati pembaca. Mari kita mengenang Bimo yang mau berkorban untuk orang yang sangat dicintainya dengan segala kebaikannya karena dia tetap orang yang pernah dicintai oleh Kia, I Love You Bim.......
**Seperti apa reaksi Kia saat mendengarnya? Penasaran ...nantikan episode selanjutnya......
**Selamat membaca, Penulis akan rehat sejenak mohon pengertiannya dan terima kasih....
__ADS_1