Rahasia Hati

Rahasia Hati
49


__ADS_3

Ojeg yang di tumpangi julia sampai di halaman depan rumah sederhana cewek itu. Julia segera turun dan membayar ongkos ojeg tersebut.


"Makasih neng." Kata si tukang ojeg.


"Sama sama pak." Jawab julia tersenyum.


Julia menghela nafas setelah tokang ojeg tersebut berlalau. Saat hendak melangkah pandangan julia terarah pada nia yang sedang menjemur baju baju para pelanggan nya di halaman samping rumah nya.


Julia menatap sendu wanita yang telah sangat berjasa dalam hidup nya itu. Keringat bercucuran di kening sampai menetes di pipinya. Julia tau nia sangat kelelahan. Dulu hidupnya tidak sesusah sekarang. Hidup mereka dulu serba ada dengan fasilitas yang selalu terpenuhi.


Pelan pelan julia melangkah menghampiri nia yang masih terus menjemur baju yang begitu banyak di bak besar warna biru.


"Julia pulang bunda."


Nia langsung berbalik dan tersenyum mendapati julia yang berdiri di belakang nya.


"Eh tumben nak pulang jam segini."


Nia mengelap dulu tangan basah nya menggunakan kaos coklat yang di pakainya sebelum mengulurkan tanganya menyambut julia yang akan menyaliminya.


"Bunda sudah masak. Kalo kamu lapar kamu makan aja dulu." Ujar nia masih mempertahankan senyuman di bibir nya.


"Nanti aja bunda." Balas julia tersenyum tipis.


Julia benar benar merasa tidak tega melihat sang bunda begitu kecapean. Dulu nia adalah wanita cantik yang selalu tampil elegan dimanapun berada. Tapi sekarang, wanita itu tampil sangat sederhana hanya dengan kaos panjang warna coklat gelap dan rok panjang sampai mata kaki.


"Ya udah bunda julia masuk dulu yah?"


"Iya sayang." Balas nia tersenyum.


Julia melangkah pelan meninggalkan bunda nya memasuki rumah. Saat memasuki rumah julia kembali terdiam melihat tumpukan baju yang harus di setrika oleh bunda nya. Nia memang tampak tidak pernah kenal lelah membantu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari hari.


Julia melangkah kemudian duduk di kursi yang biasa di duduki nia saat menyetrika baju. Nia biasanya sampai larut menyetrika semua baju baju para tetangga yang memerlukan jasa nya.


Dengan pelan julia melepaskan tas slempang nya dan menaruhnya di samping tumpukan baju baju tersebut.


Julia meraih setrikaan dan menghidupkan nya. Tangan kirinya meraih satu kemeja laki laki yang julia yakini adalah milik para tetangga nya.


Pelan pelan julia mulai menyetrika kemeja tersebut. Julia tidak tau bisa atau tidak melakukan nya, tapi julia sangat ingin membantu meringankan pekerjaan nia.


Setetes air mata jatuh meluncur di pipi mulus julia. Julia sudah tidak bisa lagi menahan nya. Kedua matanya terasa sangat panas karna terlalu lama menahan air mata sejak menyapa nia tadi.


Tetes demi tetes air mata julia terus berlomba lomba meluncur di pipi nya. Julia bahkan sampai terisak.


Kenapa hidup kami jadi seperti ini tuhan..

__ADS_1


"Ya ampun julia."


Julia menoleh dengan wajah berderai air mata pada nia. Wanita itu baru saja masuk karna mungkin menjemurnya sudah selesai.


Nia menatap julia sendu. Dengan pelan nia menghampiri putrinya. Wanita itu mematikan setrikaan dan meraihnya dari tangan julia.


"Kamu kenapa nak?" Tanya nia menatap julia sedih.


Julia terus menangis terisak. Cewek itu langsung berhambur memeluk perut rata nia dengan air mata yang terus mengucur deras di pipinya.


"Julia apa kamu ada masalah? cerita sama bunda."


Julia menggeleng menjawab nya. Isakan nya semakin terdengar memilukan yang membuat nia semakin bingung juga sedih.


Nia melepaskan pelukan julia. Wanita itu menuntun julia agar berdiri dan menatap nya. Seulas senyum nia berikan pada putri sulung nya dengan tangan mengusap lembut pipi basah julia.


"Cerita sama bunda kalo kamu ada masalah." Kata nia pelan.


Julia masih terisak dengan tatapan lurus pada nia.


Lagi lagi julia menggelengkan kepalanya. Nia pasti akan merasa sedih juga jika tau alasan julia menangis.


"Kenapa anak bunda menangis?"


"Nggak papa bunda. Tadi tangan julia kena setrikaan." Jawab julia berbohong.


"Ya ampun jul.. kamu bikin bunda khawatir tau nggak? Lagian kamu baru pulang dan masih capek kenapa malah nyetrika."


Julia hanya tersenyum tipis mendengar nya. Cewek itu menghapus air mata nya sendiri kemudian menghembuskan nafas nya pelan.


"Ya udah sekarang kamu ganti baju terus makan." Kata nia mengusap bahu kanan julia.


"Bunda, julia boleh bantuin bunda kan?"


Pertanyaan julia membuat nia mengeryit. Wanita itu berpikir bagaimana mungkin julia bisa membantunya jika hanya karna terkena setrikaan panas saja julia menangis. Nia tidak ingin membahayakan anak nya.


"Ini kan kerjaan bunda nak." Senyum nia.


"Emang nya salah ya bunda kalo julia pengin bisa bantu meringankan pekerjaan bunda?"


Nia menelan ludah nya.


Pekerjaan nya memang banyak dengan tumpukan baju yang harus dia setrika setiap harinya. Tapi nia juga tidak mau kalo harus mengikut sertakan julia mengerjakan pekerjaan nya yang cukup menguras tenaga.


"Julia bisa bantu apa aja bunda."

__ADS_1


Nia tersenyum.


Julia memang tidak manja dari dulu. Meskipun kadang sifat nya sangat kekanak kanakan tapi semenjak pindah julia mulai memperlihatkan sisi dewasanya.


"Oke. Tapi sekarang kamu ganti baju dulu terus makan. Setelah itu baru kamu boleh bantuin bunda." Kata nia.


"Beneran bunda?" Tanya julia antusias.


Nia mengangguk dengan senyuman di bibir nya membuat julia yang kegirangan langsung memeluk nya.


"Makasih bunda." Katanya.


"Sama sama sayang."


Julia melepaskan pelukanya kemudia berlari masuk ke dalam kamar nya untuk mengganti seragam sekolah nya dengan baju sehari hari. Saking seneng nya bahkan julia sampai lupa membawa tas milik nya.


Nia yang melihat tingkah julia hanya menggeleng saja. Nia bersyukur karna kedua putrinya bisa dengan cepat beradaptasi dengan keadaan nya yang sekarang. Baik julia ataupun anya, keduanya tidak pernah mengeluh. Meskipun awal nya anya sempat rewel karna mungkin memang belum terbiasa.


Selesai mengganti baju julia segera mengisi perut nya terlebih dulu. Lauk pauk yang seadanya tidak membuat julia urung melahap masakan bunda nya. Baginya yang terpenting adalah keluarganya tetap utuh. Meskipun sekarang hidup mereka serba pas pasan tapi julia tidak pernah menyalahkan siapapun.


Selesai makan julia langsung mencuci piring kotor nya. Cewek itu tampak sangat bersemangat untuk segera membantu pekerjaan nia.


"Bunda."


Nia menoleh dan tersenyum mendapati julia yang sudah berdiri di samping nya. Cewek itu mengenakan kaos pendek biru dengan jins panjang warna hitam yang begitu pas melekat di tubuh mungil nya.


"Udah makan?" Tanya nia sambil melipat baju yang sudah selesai di setrika.


"Udah bunda. Julia juga udah cuci piring nya kok." Balas julia.


"Apa yang bisa julia bantu bunda?" Tanya julia menatap semua tumpukan baju di sekitar nya.


"Oh sebentar sayang."


Nia mematikan setrikaan nya kemudian bangkit dari duduk nya. Wanita itu melangkah menuju sebuah keranjang baju warna putih yang terletak di sudut ruangan dan membawanya kepada julia.


Julia menatap bingung pada beberapa kantong plastik berisi yang berada di dalam keranjang tersebut.


"Sayang, bunda minta tolong kamu antar baju baju ini ke rumah tetangga yang deket sini ya. Di plastik nya udah ada nama sama alamat nya kok." Ujar nia menatap putrinya.


"Oke bunda." Balas julia tersenyum senang.


"Pake sepeda ya nak."


"Iya. Ya udah julia anterin ini ya bunda." Pamit julia.

__ADS_1


Julia keluar dari rumah nya dengan membawa keranjang baju tersebut. Cewek itu menaruh keranjang berisi baju baju tetangganya di boncengan sepedanya dengan mengikatnya agar keranjang itu tidak terjatuh saat dirinya membawa sepeda.


__ADS_2