Rahasia Hati

Rahasia Hati
I'm Surprised


__ADS_3

Kantor pada jam 14.00 siang saat itu cuaca sangat panas. Aku menunggu Kak Santi datang karena ada sesuatu yang harus aku bicarakan yaitu masalah jabatan di Kantor cabang yang kosong seperti kata Kak Santi sebelum aku balik ke kotaku untuk menemani Papa operasi kornea mata yang diberikan oleh Bimo.


Kak Santi ternyata masih di ruang rapat karena sekarang ada jadwal rapat tentang target operasional di perusahaan kami. Kak Santi yang memimpin rapat karena dia adalah Manager area wilayah. Satu jam lamanya aku sudah menunggu tetapi rapat belum juga selesai. Aku sudah mulai bosan menunggu tapi tetap kutahan karena masalah ini sangat penting bagiku.


Tak lama kemudian Kak Santi muncul dari pintu meeting room. Aku segera menghampiri dan menariknya ke dalam ruanganku yang kebetulan berhadapan dengan ruangan rapat. Kak Santi terlihat kaget tapi dia menurut saja tidak menolak ajakanku.


"Ada apa Kia?" tanya Kak Santi dengan wajah bingung.


"Kia mau Kak, ditaruh di kantor cabang yang ada di kota Kia," jawabku sambil duduk di sofa yang ada dalam ruanganku.


"Coba kamu hubungi bagian HRD sama Bang Riko, posisinya masih kosong atau tidak," suruh Kak Santi padaku.


Aku mengangguk, mengerti dan tersenyum pada Kak Santi. Aku juga tidak mau mengganggu Kak Santi lama-lama karena Kak Santi terlihat sangat lelah setelah memimpin rapat selama 3 jam. Kak Santi kemudian keluar dari ruanganku dan memasuki ruangannya sendiri.


**********


Aku menuju ruangan HRD tempat Bang Riko bekerja. Kulihat Bang Riko sedang sibuk memeriksa file-file di laptopnya. Aku mendekatinya dan duduk di kursi depan Bang Riko dan dia terlihat kaget karena tidak menyadari aku datang.


"Bang...minta tolong cek posisi kantor cabang di kota Kia, Kia mau pindah kesana," pintaku sambil duduk.


"Yang mana,"? tanya Bang Riko dengan wajah bingung.


"Rasanya itu sudah terisi 2 minggu yang lalu," lanjut Bang Riko padaku masih menatap layar laptopnya.


"Benarkah?" tanyaku dengan kaget.


"Siapa yang ambil posisi itu


Bang?" tanyaku lanjut agak sedikit kesal.


"Entahlah...Arya yang urus kemarin sampai ke kantor pusat Jakarta," jawab Bang Riko.


"Jadi siapa yang menduduki posisi di kantor cabang itu, Bang?" tanyaku pada Bang Riko.


Bang Riko ingin menjawab pertanyaanku tapi tiba-tiba telepon kantor berdering. Jadi Bang Riko mengangkat telepon lebih dulu dan mengurungkan menjawab pertanyaanku. Aku jadi kesal langsung keluar dari ruangan Bang Riko menuju keruangan Kak Arya ingin menanyakan siapa orang yang membuat aku harus melepaskan posisi di kantor cabang.


"Mana Kak Arya?" tanyaku pada pegawai magang yang ada di situ.


"Sedang keluar Mbak Kia," jawab seorang pegawai yang sedang sibuk.


Aku menjadi sangat kesal kemudian menuju ruanganku sendiri. Perasaanku sangat tidak enak sambil memikirkan siapa orang yang telah mendahuluiku mengambil posisi jabatan di kantor cabang Itu. Aku kemudian mengambil tas dan memutuskan untuk pulang karena sudah jam 3 siang.


"Aku pulang duluan Lisa," kataku sambil keluar ruangan dan Lisa cuma mengangguk.

__ADS_1


Kemudian aku turun ke lantai 1 dan melihat Wiwin sedang duduk di lobi dengan beberapa pegawai magang. Terlihat dia sedang berbicara serius kemudian aku menghampirinya dan langsung memeluknya serta nembenamkan kepalaku di bahunya. Wiwin sangat terkejut, dia kemudian menyuruh para pegawai magang itu untuk menjauh pergi dari kami.


"Ada apa Kia?" tanya Wiwin sambil membelai kepalaku.


"Ada yang mau aku ceritakan," jawabku memandangnya.


"Ayo... pulang hari ini menginap di rumahku saja," ajakku pada Wiwin


Wiwin menyanggupinya dan dia kemudian mengambil tas kerjanya kemudian mengikutiku berjalan keluar kantor. Samoai di depan halaman parkir aku menghampiri Satpam yang berjaga di pos depan kantor.


"Pak satpam tolong jaga mobil Wiwin, kami akan pulang bersama," ucapku pada Pak satpam yang berdiri di depan kami.


Pak satpam cuma mengangguk dan mengambil kunci mobil dari tangan Wiwin. Aku berterima kasih pada Pak satpam dan menjalankan mobil dengan perlahan.


"Apa hal yang ingin di ceritakan padaku?" tanya Wiwin menatapku dengan selidik.


"Iya... nanti dirumah kuceritakan semua," jawab ku sambil menyetir mobil.


"Pesan pizza untuk makan malam," suruhku pada Wiwin.


Wiwin kemudian memesan pizza lewat delivery dan dia menanyakan minuman yang ku inginkan lalu aku menjawab bahwa aku ingin minum kopi malam ini.


*********


"Bimo meninggal," kataku membuka percakapan dengan Wiwin.


"Hah! Yang benar, Kapan?" tanya Wiwin dengan wajah terkejut dan melepas pizza yang ada ditangannya.


"Seminggu yang lalu," jawab ku sambil meminum kopi yang kupesan tadi.


Aku lalu menceritakan semua kisah yang sebenarnya terjadi. Bagaimana Bimo sampai meninggalkanku serta apa yang dikorbankan Bimo untukku dan keluargaku. Aku juga menceritakan pada Wiwin bagaimana Bimo melewati hari-harinya sebelum menutup mata.


Wiwin mendengarkan ceritaku kemudian memelukku dan menyuruhku untuk kuat. Tapi aneh sekali sekarang aku sudah tidak menangis lagi saat menceritakan semua kisah tentang Bimo. Mungkin aku sudah bisa merelakannya dan mengikhlaskan kepergian Bimo. Kebencian yang dulu kurasa sudah tidak ada lagi karena aku memaafkannya dan berterima kasih atas semua yang dilakukannya pada Paoaku. Aku sekarang sudah bisa menerima keadaan yang sedang kualami saat ini.


"Bimo memang hebat aku salut sekali padanya," kata Wiwin sambil tersenyum padaku.


"Lantas apa yang membuatmu kesal tadi siang di kantor?" tanya Wiwin padaku meneruskan makannya.


"Aku sebenarnya ingin pindah ke kantor cabang di kotaku, tapi sudah ada orang lain yang mengisi lebih dulu," jawab ku pelan dan setengah kecewa juga.


"Kenapa tidak bercerita padaku, kamu mau pergi begitu saja meninggalkanku?" tanya Wiwin sedikit kesal sambil menatapku tajam.


"Bukan begitu...aku cuma mau memastikan dulu bisa apa tidak aku pindah ke sana, nanti setelah pasti baru aku bicara sama kamu," jawabku mencoba meyakinkan Wiwin yang terlihat agak marah.

__ADS_1


"Jangan pernah pergi tanpa membicarakannya padaku karena aku adalah sahabat kamu dalam keadaan apapun satu lagi jangan pernah berpikir untuk tidak bicara denganku walaupun kamu berbeda tempat denganku, Kita-kan masih sahabat Kia," tegas Wiwin dengan sedikit mengancamku.


Aku mengangguk kemudian memeluknya dan aku tahu Wiwin pasti sedih kalau aku pergi tanpa memberitahunya walaupun kami cuma berbeda kota. Aku tersenyum pada Wiwin dan sekarang aku senang karena Wiwin sudah mengerti alasanku ingin pindah ke kantor cabang yaitu karena kedua orang tuaku dan Mama Bimo yang harus kujaga.


********


Libur akhir pekan lebih panjang pada akhir bulan ini dan aku kemudian memutuskan untuk pulang ke kotaku menjenguk orang tuaku sekaligus menjenguk Bimo serta keluarganya. Aku sudah menelpon Mama dan mengatakan bahwa aku ingin pulang kesana besok.


Aku berangkat menuju kota ku saat pagi hari supaya nanti sampai di kotaku masih siang hari. Betapa terkejutnya aku saat istirahat di persinggahan ternyata ada Nisa. Dia juga makan di sebuah restoran yang sama denganku dan ingin pulang ke kotaku bersama dengan keluarganya.


"Astaga Kia... kenapa tidak pernah menelpon sih, tidak pernah juga berkunjung ke rumahku," katanya dengan senang sambil memelukku.


"Kamu sudah tahu Bimo meninggal," tanyanya sambil menatapku.


"Sudah,"jawabku pelan.


Aku kemudian juga menceritakan pada Nisa semua kejadian saat aku mengetahui Bimo meninggal. Juga tentang keadaan keluarganya sekarang setelah Bimo tidak ada dan keputusanku untuk menjaga Mamanya.


Nisa menghela nafas dan dia juga menceritakan bagaimana dia mengetahui Bimo meninggal tapi tidak bisa datang melayat karena saat itu Nisa sedang di luar kota. Dia kemudian menjenguk Makam Bimo 2 hari setelah Bimo dikuburkan jadi Nisa tidak sempat melihat prosesi pemakaman Bimo.


Lama sekali aku bicara dengan Nisa. Kami sangat jauh saat ini mungkin karena kesibukan kami masing-masing. Nisa juga punya seorang putri yang sudah agak besar harus dijaga dan dirawat dengan baik jadi waktunya lebih banyak untuk keluarganya.


********


Aku sampai di makam Bimo dan aku sengaja langsung ke makamnya menjenguk Bimo. Karena makam Bimo lebih dulu kulewati sebelum sampai ke rumahku itulah mengapa aku memutuskan untuk singgah dulu kesana.


"Hai Bim... aku datang," kataku sambil tersenyum menatap nisan Bimo.


Masih dengan mengelus nisan Bimo aku mencoba tersenyum supaya Bimo bisa melihatku sudah mampu dan menerima kepergiannya. Saat itu hari sudah sore menjelang senja dan aku masih duduk di depan pusara Bimo sambil memeluk nisannya.


"Apa kamu mau tidur di kuburan?"


Sebuah suara berat mirip Bimo nyaring dan kasar mengejutkan ku. Aku langsung tersadar dan melepaskan tanganku yang dari tadi memegang nisan Bimo.


"Bimo," desis ku pelan.


Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa orang yang ada di depanku. Aku menatapnya dengan heran dan rasa tidak percaya siapa pemilik suara itu.


**********


**Episode depan kita flashback dulu untuk mengetahui siapa orang yang membentak Kia di makam Bimo.


**"Kalau bertemu dengan Ayahmu katakan Ibu akan mengutuk dia seumur hidupnya," teriaknya dengan histeris sambil menangis.

__ADS_1


**Selamat membaca jangan lupa vote like dan komen untuk mendukung penulis...terima kasih...


__ADS_2