Rahasia Hati

Rahasia Hati
Selamat Jalan, Ma


__ADS_3

Suasana bahagia masih terasa dan terbawa saat keluarga Miko kembali ke rumah. Tari masih sibuk membenahi semua yang berantakan saat mereka berangkat tadi pagi. Mas Tito terlihat bersantai di depan teras bersama Luthfi tanpa mengganti pakaian. Mama langsung masuk ke dalam kamar dengan alasan ingin beristirahat.


Tante Hera langsung pulang bersama keluarga. Dio yang di ajak Luthfi pulang bersama menolak, dia ingin pulang bersama Bunda panti dan Riza. Keluargaku masih di hotel, cuma Papa dan Mama yang pulang ke rumah. Tanteku ingin mememani kak Ary yang menginap di hotel tempat acara kami.


Tante terlihat bahagia saat mendengar Miko membawaku terbang berbulan madu.


"Kia harus bahagia, kalian harus bahagia."


Kalimat yang keluar dari mulut Tanteku saat melepas kami pergi, mampu membuat aku merasa senang. Bagaimanapun doa terbaik akan lebih ampuh dan terkabul bila diucapkan oleh keluarga sendiri dengan tulus.


****************


Sekitar pukul sebelas malam Tari masuk kamar Mama. Berniat ingin memberikan obat rutin yang diminum Mama. Betapa kaget dia melihat wajah Mama yang pucat.


"Apa yang sakit Ma?" Tari menghampiri Mama yang masih berbaring.


"Tidak... Mama cuma capek," jawab Mama pelan.


"Minum obat dulu, apa mau Tari temani tidur?"


"Tidak usah," tolak Mama.


Setelah meminum obat mama kembali berbaring.


"Mama istirahat, usahakan bisa tidur ya Ma. Nanti tekanan darah Mama tinggi lagi," saran Tari sedikit khawatir .


Mama cuma mengangguk sambil memejamkan mata. Perlahan Tari keluar meninggalkan kamar Mama.


*******


Diluar kamar Mama, Tari menghampiri Luthfi dan mas Tito yang masih  mengobrol di ruang tamu.


"Jadi pulang besok Mas?"


"Iya... aku sudah lama izin kerja. Lagipula kasihan Fira kangen sama bapaknya."


"Kenapa juga mereka tidak bisa ke sini," sungut Tari yang agak kecewa karena Kakak iparnya tidak datang saat perkawinan kami.


Mas Tito cuma diam tidak menyahut, dia maklum Tari kesal dan dia juga tidak bisa memaksa isteri dan anaknya karena alasan pekerjaan dan sekolah.


"Tari khawatir sama Mama, kelihatan pucat. Tadi waktu Tari tanya Mama bilang cuma capek."


"Mama terlalu banyak pikiran buat perkawinan Miko. Beberapa hari yang lalu pasti beliau kurang tidur, bahaya itu sebenarnya," kata Luthfi sambil memberikan tempat untuk Tari duduk.


"Tapi tidak bisa dibilangin, Mama orangnya keras gitu," keluh Tari.


"Ya sudah... malam ini Mas yang akan jaga Mama. Mas tidur di sini saja biar kamu tidak khawatir lagi," ujar mas Tito.


"Baiklah Mas, kalau terjadi sesuatu panggil Tari," Tari kemudian beranjak ke kamar bersama Luthfi untuk istirahat.


*******


Sekitar jam 00.00 malam, mas Tito dikagetkan dengan suara benda jatuh dari kamar Mama. Dia langsung bergegas masuk, dilihat Mama sedang berusaha mengambil gelas minum di atas meja kecil. Tapi mungkin karena lemas Mama menjatuhkan gelas ke lantai.


"Ma, apa.yang sakit?" 


Dengan tergesa mas Tito memegang tangan Mama yang terkulai lemas duduk di pinggir ranjang.


"Mama mau minum obat, kepala Mama pusing."


Mas Tito mengambil gelas yang terjatuh dan membaringkan Mama kembali.


"Tito ambilkan air yang baru, Mama tunggu sebentar."


Setelah berselang beberapa menit mas Tito kembali dengan segelas air. Secara pelan dia kembali membangunkan Mama dan membantu minum obat.


Dengan tatapan sedih mas Tito memperhatikan wajah pucat Mama. Baru kali ini dia merasa bahwa kondisi Mama benar-benar perlu dikhawatirkan. Kesehatan Mama sekarang  sangat turun membuat mas Tito mengurungkan niat untuk pulang besok.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekarang, Ma?"


Mama cuma menggeleng kemudian kembali berbaring. Mas Tito.masih memandang Mama dengan cemas. Dia hanya bisa menghela napas menghilangkan rasa khawatir di dada.


"Tito... ayo tidur sama Mama," pinta Mama lirih sambil memegang tangan mas Tito.

__ADS_1


Perlahan mas Tito berbaring di sebelah Mama. Dia memandang wajah Mama yang selama ini kurang di perhatikannya.  Lembut tangan Mama membelai wajah mas Tito sambil menangis.


"Ma........'


"Lihat Mama Tito... Mama sangat menyayangi semua anak mama.  Kalau nanti Mama tiada, kamu harus sering jenguk Mama. Sering  perhatikan  kakak dan adikmu. Mama rasa waktu Mama tidak lama lagi."


"Jangan bicara begitu, Ma."


"Dulu saat Bimo pergi, ingin sekali mama menukar posisi agar Mama saja yang pergi. Tapi ternyata Tuhan mau Mama memperbaiki kesalahan Mama pada Kia. Setelah melihat Kia menikah dengan Miko dan Miko berjanji menjaga Kia, Mama tenang. Sekarang kalau Tuhan mau ambil nyawa Mama, Mama ikhlas."


Masih menangis Mama menyeka air mata yang berderai.


"Mama capek sakit Tito, Mama ingin bertemu Papa sama Bimo. Mama rimdu sama Papa walau sering menyakiti Mama. Mama kangen sama canda Bimo, kalau bertemu Mama mau bilang Kia sudah bahagia sama Miko. Biar dia tidak khawatir lagi," ucap Mama terbata sambil memejamkan mata.


"Mama... harus sehat, janji Ma sama Tito."


Akhirnya mas Tito ikut menangis, tanpa pikir panjang dia memeluk Mama yang terlihat sangat lemah. Perasaan sakit menusuk hati mendengar Mama  yang bicara tentang keinginan pergi. Sambil membelai kepala Mama, mas Tito mencoba menahan isak tangis supaya jangan terdengar nyaring.


"Mama tidur dulu, besok Tito antar ke rumah sakit."


********


Pagi menjelang saat hujan turun, rintik kecil membasahi dedaunan. Bunyi jatuh air hujan di depan jendela kama Mama membangunkan mas Tito. Dia hanya tidur beberapa jam karena khawatir. Hati mas Tito lega melihat Mama yang masih bernapas walau masih tidur.


Lama mas Tito memandang wajah Mama yang sedang tidur lelap. Rasa sedih kembali di hati melihat wanita yang melahirkan dia sekarang yang terlalu lama merasakan sakit karena hipertensi dan komplikasi lain.


Entah berapa banyak obat yang di minum Mama dan terapi buat kaki Mama yang lumpuh. Diet bermacam makanan agar penyakit Mama tidak kumat. Membuat mas Tito merasa dia  anak kurang berbakti, padahal dia adalah anak yang paling disayang oleh Papa dan Mama lebih dari yang lain.


"Maafkan Tito Ma........"


*********


"Mama............."


Teriakan keras Tari berhasil.membuat semua orang yang ada di meja makan menghentikan kegiatan sarapan. Dengan cepat mas Tito berlari menuju kamar Mama diikuti oleh yang lain.


Kak Lina yang dari tadi mempersiapkan diri buat pulang langsung melempar tas ke sofa dan mengikuti mas Tito menuju kamar. Sebenarnya dia sudah diminta mas Tito untuk jangan pulang dulu, tapi tiket pesawat sudah dipesan jadi tidak bisa dibatalkan.


Kak Lina menjerit ketika melihat Mama terbaring dengan darah menetes di telinga. Tari menangis sambil memeluk  Mama yang sudah tidak sadar. Mas Tito terdiam melihat keadaan Mama yang saat ditinggalkan keluar tadi baik-baik saja. Tidak menyangka kejadian akan seperti ini membuat mas Tito tekulai lemas di samping ranjang.


*******


ICU itulah ruangan tempat Mama di rawat karena terkena stroke dengan pendarahan. Semua sudah pada tahap mengkhawatirkan,  Mama tidak sadar dan darah yang keluar di telinga tidak mau berhenti.


Mereka cuma bisa memandang Mama dengan hati sedih. Kak Lina tidak melepaskan genggaman pada tangan Mama. Tari terduduk dan tak berhenti menangis walau sudah dipeluk Luthfi. Raffa dan Putri cuma diam ikut terbawa suasana sedih. Hanya mas Tito yang tetap tabah, dia berulang kali membelai kepala Mama dengan penuh kasih.


"Aku akan menelepon Miko," ucapnya sambil mengambil handphone di saku.


"Jangan! Dia lagi bulan madu. Kita lihat dulu keadaan Mama. Kasih Miko kesempatan untuk menikmati masa pengantin," sanggah kak Lina.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku takut nanti dia kecewa pada kita," mas Tito bersikeras.


"Biarkan dulu, besok baru di telepon,"ujar kak Lina sambil berdiri dan memperbaiki selimut.


"Telepon saja Kak, nanti kak Miko makin sedih." Tari ikut memberi saran.


"Tadi malam Mama bicara kalau sudah lelah, ingin bertemu Papa sama Bimo. Kesalahan Mama pada Kia sudah diperbaiki jadi Mama sudah rela kalau harus pergi," lirih mas Tito berucap sambil tertunduk.


Tangis Tari semakin keras mendengar ucapan.mas Tito. Kak Lina berusaha tegar walau harus mengusap air mata berkali-kali.


"Kita tunggu hasil dokter setelah itu kita telepon Miko," tegas mas Tito.


**********


Ternyata stroke disertai pendarahan yang diderita Mama membuat beliau tidak tertolong. Dokter sudah menjelaskan kemungkinan terburuk yang bahwa Mama akan pergi. Tari tak kuasa menahan tangis saat  dokter selesai bicara.


"Telepon kak Miko sekarang," pintanya pada Luthfi yang berdiri di belakangnya.


"Iya... aku akan telepon. Kamu harus sabar dan kuat." Luthfi mencoba membujuk Tari agar tidak terlalu sedih.


Tepat pukul tiga tengah malam akhirnya Mama pergi setelah satu hari lebih berjuang di ruang ICU. Akhirnya Mama benar-benar menyusul suami dan Bimo. Kak Lina dari rumah sakit sampai ke rumah tidak melepaskan genggaman tangan Mama walau sudah terasa dingin.


Mas Tito menelepon Miko dan memberitahukan semua kejadian dengan berat. Disamping Mama yang sudah kaku, dia masih tertunduk dan menangis pelan. Hanya Tari yang agak sedikit histeris seperti belum rela Mama pergi secara mendadak.

__ADS_1


"Ma... jangan begini. Bangun Ma, Tari belum mengucapkan terima kasih pada Mama. Ma.... buka mata Mama, Tari mohon Ma............."


"Mas kenapa tidak bangunkan Tari tadi malam saat Mama sakit. Mas jahat... jahat," Tari memukuli kakaknya.


"Mas juga tidak tahu."


Dengan cepat Luthfi menahan tangan Tari yang masih ingin memukul lalu memelukmya. Bisa dimaklumi karena selama ini Tari yang paling dekat dan hidup bersama Mama. Sudah tentu dia yang paling sedih.


********


"Kita harus pulang!"


Miko dengan cepat mengambil koper yang kami bawa dan memasukan semua barang dengan sembarang letak.


"Kenapa? Siapa yang sakit?"


"Mama," jawabnya tanpa menoleh.


 


Mendengar jawaban Miko, aku langsung meloncat dan membereskan semua barang kemudian memasukan semua ke dalam tas dan koperku. Suasana panik terasa saat Miko menelepon travel untuk memesan tiket pulang. Ternyata hanya tersisa penerbangan pagi. Raut kecewa dan putus asa di wajah Miko tidak bisa ditutupi.


Aku jadi serba salah, cuma bisa diam dan mengikuti semua yang ingin Miko lakukan. Sambil memandang wajah Miko yang cemas. Perlahan ku pegang tangannya mencoba memberikan sedikit kekuatan agar Miko tetap tabah, walau perasaan bersalah menderaku.


"Maaf... Beb,"


"Kenapa minta maaf?"


"Karena bulan madu kita, kamu tidak bisa di dekat Mama saat sakit," lirihku.


"Bukan salah kamu, aku mohon jangan begini."


Perlahan Miko memelukku yang merasa sedih. Akhirnya aku lega Miko kembali tampak kuat, dia sudah bisa menguasai keadaan.


"Ayo bersiap, kita ke bandara. Siapa tahu ada penerbangan malam ini yang kosong supaya bisa cepat pulang," ajaknya.


******


Ternyata setelah menunggu dua jam tetap kami harus  pulang dengan penerbangan besok pagi.


Akhirnya kami pasrah karena tidak bisa pulang cepat. Masih delapan jam lagi menunggu terbang  dan Miko menolak saat ku ajak istirahat di guest house dekat bandara. Dia memilih tinggal di bandara dan mengajakku ke cafe untuk makan sambil menunggu.


Sepanjang malam saat menunggu aku tidak pernah melepaskan genggaman tangan Miko. Tidak ada cara lain untuk menguatkan, hanya itu yang bisa kulakukan. Ada perasaan takut kalau aku bicara membuat Miko makin tidak nyaman. jadi kami diam dengan pikiran masing-masing hanya beberapa kali Miko menoleh aku. Aku mencoba tersenyum walau hatiku juga sedih.


"Perasaanku sangat tidak enak. Seperti akan terjadi sesuatu pada Mama," gumamnya sambil menunduk.


Kami duduk di ruang tunggu dengan beberapa orang dan petugas bandara yang masih piket. Aku masih mengenggam tangan Miko, untungnya tiket sudah di peroleh jadi kami tinggal menunggu waktu untuk pulang.


Drrrrrt.


Getaran handphone mengejutkan Miko yang dari tadi masih terlihat cemas.


"Dari mas Tito," ucapnya sambil memandangku.


Wajah Miko pucat setelah menerima telepon dari mas Tito. Dia memandangku dengan mata sedih berkaca-kaca.


"Mama pergi."


Seketika tangisku meledak, tidak menghiraukan orang di sekitarku yang bingung memandang kami. Dengan terisak aku begumam memanggil Mama seakan tidak percaya ini terjadi.


"Mama..........."


Miko memelukku erat, kami merasakan sedih tak terkira.


"Selamat jalan, Ma," lirih Miko.


******


Titip rindu dan doa buat kedua orang tuaku yang jauh. Setiap tarikan napasku saat ini ada cinta untuk kalian.


Ayah, laki-laki yang kucinta pada pandangan pertama saat hadir ke dunia. Tak bisa ku balas semua pengorbananmu seumur hidupku.


Mama, demi apapun tidak ada cinta yang lebih besar sebesar cintamu padaku. Setiap sentuhan tanganmu membuatku melihat indahnya kasih sayang. Kalian adalah salah satu jalanku menuju surga.

__ADS_1


Terima kasih pada semua pembaca yang masih mau menunggu novel ini. Semua dukungan kalian membuat saya tetap menulis di tengah semua kesibukan. Jangan salah paham kalau saya lebih mementingkan real karena saya harus berpikir sesuai fakta, because you live in reality not virtual world.


Hai Kia lover... jangan lupa like, komen vote dan gift kalau berkenan. Dukungan kalian yang tulus semoga akan dibalas dengan kebaikan berlipat. Stay healthy...stay strong... stay happy and  stay with Kia. See you next time.... anyong... sayonara... sampai jumpa di chapter depan... terima kasih.


__ADS_2