
Miko memandangku dengan mesra saat kami menunggu Dokter Dian yang sudah membuat janji di sebuah restoran. Dokter Dian sudah menyanggupinya karena aku juga sering bertemu dengannya di luar tidak di klinik agar lebih santai suasananya.
"Hai Beb, how are you now? Fine?"
Dokter Dian datang langsung memelukku, duduk di depan kami dan memegang tanganku. Dia bukan hanya Dokter bagiku tapi juga sebagai support yang terbaik untuk masalah kesehatan ku.
"Lumayan baik, sudah agak kontrol lah," jawabku tersenyum padanya dan Miko.
"Kalau sudah agak baik keadaannya dosis obatnya kita kurangi ya, supaya tidak ketergantungan nanti."
Dokter Dian memandang Miko kemudian memandangku juga.
"Apa hubungan kalian serius? Apa kamu sanggup Kia untuk melupakan semua trauma kamu di samping dia yang notabene adik Bimo?"
Miko langsung memegang tanganku dan tersenyum, dia cuma memandangku dengan tatapan sangat meyakinkan.
"Semua harus di coba Dok, saya bukan orang yang pesimis begitu juga dengan Kia, kita akan jalani berdua... iya kan sayang?"
"Baiklah akan aku coba, saya akan coba Dok," jawabku sambil menatap Dokter Dian.
"Kadang-kadang untuk menyembuhkan suatu trauma obatnya adalah sesuatu yang bersumber dari trauma itu sendiri," sambung Miko.
Dokter Dian memandangku setelah mendengar ucapan Miko dan aku mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Aku ingin kamu bicara Kia, apa yang kamu rasakan ketika dekat dengannya?"
"Aman, bagiku sekarang dia orang yang paling aku butuhkan disampingku Dok," jawabku.
"Tidak teringat dengan yang lalu? Bagaimana saat kamu memandangnya?"
"Masih teringat, itu pasti tapi saya sangat ingin sembuh dan melupakan sakitnya, saya ingin hidup seperti yang lain dan sekarang saya punya dia yang membuat saya kembali percaya bahwa saya masih punya kesempatan untuk mencintai."
Di luar dugaan Dokter Dian langsung memelukku sambil berkata dengan senang.
"You pasti sembuh sayang, sure... aku selalu ada dan berjuang juga untukmu."
Miko tersenyum melihat Dokter Dian memelukku, dia bahkan membiarkan aku memeluk Dokter Dian sangat lama karena senang dengan apa yang diucapkan Dokter Dian yang membuat Miko yakin aku bisa melewati semuanya.
Kami ngobrol sangat lama hampir 3 jam sambil menikmati makanan. Banyak sekali anjuran yang Dokter Dian katakan pada Miko agar bisa mengatasi saat trauma padaku datang dan juga supaya aku bisa tetap fight dalam menjalani kegiatan sehari-hari.
*******
Mobil memasuki tempat parkir kantorku yang hampir penuh karena sudah agak siang. Kami turun dan memasuki loby depan ternyata beberapa pegawai sedang kumpul dan duduk di sana. Lisa langsung berlari menghampiri dan memelukku rupanya mereka juga sedang menantikan kedatanganku karena tadi Miko menelpon Wiwin kami akan mampir sebentar ke kantor setelah bertemu Dokter Dian.
"Sudah baik kan Kak? Aku punya sesuatu buat kesehatan Kakak."
Lisa langsung memberikan minuman vitamin botol padaku.
"Terima kasih adikku sayang."
"Aku tinggal sebentar ke ruangan Alan ya, tuh ada Kak Santi," kata Miko menunjuk Kaka Santi yang baru keluar dari lift sambil tersenyum padaku.
Miko langsung menuju ruangan Alan dengan memasuki lift yang di depan kami.
"Jangan sakit lagi dong... siapa yang urus keuangan kantor nanti, bisa pusing sendiri akunya ," katanya sambil memelukku.
"Senang banget rasanya hari ini, banyak sekali yang memelukku."
Aku memandang Kak Santi sambil tersenyum.
"Mau makan apa?"
"Sudah tadi makan waktu bertemu Dokter Dian."
"Jadi pulang ke rumah Papa?"
"Nanti sore sama Miko, sepertinya masih ada yang harus diselesaikannya dengan Alan."
"Bagaimana kalau ikut Miko nanti ke Jakarta minggu depan, kita mau kirim orang kantor juga buat melihat prospek mahasiswa kita di sana?"
"Apa harus aku? Bukankah ada Bang Riko?"
"Sekalian liburan, otakmu perlu refreshing supaya ada new spirit nanti."
"Apa aku separah itu menurut Kakak?"
"Liburan dan hiburan dibutuhkan semua orang, tidak perlu jauh tempatnya dan tidak perlu mahal biayanya yang penting bisa melupakan beban walau sebentar nanti kita bisa berpikir lagi setelahnya, refresh brain lah wajar saja itu."
"Baiklah nanti di pikirkan, mumpung gratis kantor yang bayar," kataku sambil tertawa.
Wiwin datang dengan menenteng box yang berisi kopi dari salah satu kedai kopi terkenal bahkan jadi tempat favorit kami sering nongkrong dan kumpul. Dia tersenyum senang dan memberikan satu ice latte.
"Your favorit coffe item, Beb."
__ADS_1
"Thank you, Cinta."
*************
Miko memasuki ruangan Alan ternyata sudah ada Kak Arya sedang berbicara sambil duduk di sofa.
"Ho... oo, yang di cancel lamarannya, apa kabar Bro?"
Alan langsung tertawa mendengar sapaan Kak Arya pada Miko dan Miko akhirnya ikut tertawa juga.
"Bicaramu menaikan emosi Bro, enggak gagal cuma nunggu sebentar, satu step lagi lah."
Miko seperti yakin dengan pikirannya bahwa semua akan berjalan sesuai keinginannya dan lancar tanpa hambatan.
"Bagaimana keadaan Kia?"
"Agak mendingan sudah bisa tertawa dan senyum, dia lagi di bawah bersama yang lain," jawab Miko sambil mengambil minuman soda kaleng yang ada di atas meja.
"Love her so much ternyata, good luck Bro, doaku menyertaimu," ujar Kak Arya sambil tersenyum memandang Miko.
"Jangan meledekku, pikirkan dirimu sendiri yang masih jomblo," sungut Miko mulai kesal.
"Sorry ... eh kalian mau makan di restoran Pak Wijaya?"
"Dia baru buka restoran, menunya masakan Makasar," ajak Kak Arya.
"Aku harus siap-siap mau berangkat pulang bersama Kia, besok harus masuk kerja pula ada rapat penting, maaf Bro."
"Wah benar-benar, begini rasanya kalau punya teman yang sudah berpasangan sementara diriku tidak, okelah mulai besok mau cari pacar yang serius."
"Sudah insyaf rupanya," ujar Alan.
"Bagaimana lagi kalau kalian nanti menikah, apa aku harus sendiri saja?"
"Ayo ke bawah aku mau ketemu sama Kia," ajak Kak Arya.
**********
Aku memandang tiga orang laki-laki yang baru keluar dari lift dan sedang menuju ke arahku sambil tersenyum. Kak Arya langsung ingin memelukku tapi di tahan Miko.
"Hey... she is my mine."
Aku langsung tertawa mendengar kata-kata Miko yang membuat Kak Arya berhenti dan memandang Miko dengan tajam.
"Oke, tapi jangan peluk-peluk dong."
"Iiihh... protect banget sih, santai aja cuma Kak Arya ini," ujarku sambil memegang tangan Miko.
"Heh... baru pacaran aja sudah begitu nanti kalau sudah menikah tidak bisa lagi di pegang bahkan di lihat kamu Kia," sungut Kak Arya sambil menatapku.
Yang lain cuma tertawa menanggapi ucapan Kak Arya sedang Miko terlihat senang karena berhasil menggodanya.
"Satu jam lagi kita pulang, jadi nanti tidak kemalaman di jalan," kata Miko dan aku menurut saja.
Koper pakaian sudah siap tadi pagi saat mau berangkat menemui Dokter Dian jadi kami langsung saja pulang setelah dari kantor tidak balik lagi ke rumahku.
********
Sepanjang perjalanan Miko memegang tanganku dengan erat padahal sudah ku ingatkan agar berhati-hati mengemudi nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tapi dia tidak mengindahkan dan masih memegang tanganku.
Alunan lagu A whole new world terdengar syahdu mengiringi perjalanan kami. Sesekali aku memandang Miko sambil tersenyum menatap wajah di sebelahku yang sedang berusaha fokus menyetir sambil memegang tanganku.
Tak sengaja kulihat sebuah foto tergantung di sebuah tali rantai kecil yang ada di kaca spion depan. Rasa penasaran pun menyelimuti aku segera mengambil dan melihatnya. Ternyata foto seorang anak kecil seperti aku pernah melihatnya.
"Siapa ini?"
"Nanti kubawa kamu padanya," jawab Miko sambil tersenyum.
Aku kembali memandang foto itu merasa pernah kenal dengan orang itu tapi lupa dimana dan kapan waktunya. Aku cuna mengangguk membiarkan Miko kembali fokus menyetir karena aku tidak mau bertanya terlalu jauh mengenai foto itu. Sifatku yang sangat menyebalkan juga mungkin karena selalu tidak mau mengejar sesuatu yang orang lain tidak mau memberitahukan padaku.
Orang sering bilang aku cuek, acuh dan sombong sebenarnya aku hanya tidak mau orang terbebani dengan rasa ke ingin tahuanku. Sering aku malah membiarkan saja walaupun orang berbohong bahkan memanfaatkan, kuterima saja karena yang kulihat adalah orang itu sekarang bukan hidupnya yang dulu dan semua rahasianya.
******
Kami sampai di komplek pemakaman saat Miko membelokan mobil aku agak kaget juga tapi dia bilang ada yang harus di temuinya dan aku menurut saja bahkan ikut turun menemaninya.
Kami sampai di makam Ayahnya Miko, aku hanya diam dan cuma ikut berdiri di samping Miko.
"Miko bawa seseorang Yah, mungkin Ayah juga kenal dia anak teman Ayah, izinkan Miko menjadikan dia pasangan."
Miko berkata lirih sambil memandang nisan Ayahnya, aku mendekatinya dan memegang tangannya. Air mataku jatuh karena terharu mendengar Miko bicara pada Ayahnya dengan penuh perasaan.
"Ayah lihatkan dia menangis, hatinya sangat lembut tidak bisa di sentuh dengan kata-kata sayang," kata Miko sambil memandangku yang masih terisak dan mencoba menghapus tetesan air mata yang jatuh di pipiku.
__ADS_1
Miko kemudian menarik tanganku dengan lembut dan mengajakku ke makam Bimo yang ada di sebelahnya.
"Aku datang Bim, sesuai janjiku saat aku melamar Kia aku akan meminta restu dari kamu."
Aku kaget juga mendengar Miko meminta izin pada Bimo untuk melamarku, hatiku berdegup kencang dan ingin beranjak dan lari dari tempat itu tapi di cegah oleh Miko dengan memelukku dari belakang.
"Biarkan aku memenuhi janjiku pada Bimo, tolong pegang tanganku sekarang, aku mohon Kia," bisiknya.
Hatiku langsung sakit seperti diiris, lelaki di depanku orang yang pernah kucintai dulu yang pernah kuberikan segala milikku tanpa menuntut apapun saat di sakiti dan ditinggalkan hingga terjatuh dalam jurang yang sangat dalam dengan kesedihan bahkan meninggalkan rasa sakit yang tidak bisa sembuh sampai sekarang.
Lelaki yang di belakangku sekarang berusaha keras menyembuhkan dan membuat aku bangkit dari semua rasa sakit dan trauma yang di tinggalkan lelaki di depanku tak lain adalah kakaknya sendiri. Aku memejamkan mata menahan perasaan yang bergemuruh dalam hatiku sekarang yang membuat kakiku hampir tidak berdaya serasa lumpuh untuk berdiri lebih lama lagi.
Akhirnya aku terduduk di depan makan Bimo sambil menangis keras. Miko memelukku makin erat ketika aku hampir terjatuh sambil membisikan kata yang membuat tangisku makin pecah.
"Aku adalah lelakimu sekarang, biarkan aku mengobati luka yang dittinggalkan kakakku padamu sampai sembuh."
"Ayo... ikhlaskan semua Kia, semua yang tidak bisa kau raih dalam hidupmu dulu bersama Bimo, karena hanya itu yang bisa menyembuhkan trauma yang ada, relakan semua rasa sakit yang ada biar kamu bisa kembali dengan Kia yang baru."
Aku memandang Miko dengan tatapan sendu masih menangis terisak dan memegang tangannya kemudian memeluknya sambil mengangguk kepala.
"Aku akan coba sekarang," isakku.
Miko tersenyum senang, dia makin mengeratkan pelukannya sambil membelai kepalaku dengan mesra.
"This is my woman, I love you so much dear," kata Miko sambil mencium dahiku dan menghapus air mataku.
Miko kemudian memegang tanganku sambil memandang ke arah nisan Bimo.
"Lepaskan Kia sekarang Bim, agar dia bisa bahagia bersamaku, aku berjanji akan sering mengunjungi kamu."
Aku memandang Miko dan mencoba tersenyum walau masih sedikit terisak.
"Hey Bimo... bebaskan Kia demi aku........."
Miko berteriak dengan keras ke arah langit sambil mengangkat tangan kami yang berpegangan kemudian memeluk dan tersenyum padaku.
"Dasar egois," kataku pelan.
"Aku akan jadi egois sekarang kalau semua menyangkut tentang kamu," ujar Miko tersenyum senang melihatku agak kesal padanya.
********
Mobil berhenti di depan rumahku, saat itu hari sudah malam jadi agak sepi. Miko turun duluan mengangkat barang-barang yang ada di bagasi mobil kemudian menaruh di teras depan. Aku masih dalam mobil membereskan tasku dan mengambil tas Miko yang tertinggal.
Tak lama pintu terbuka terlihat Papaku yang berdiri di depan Miko. Aku yang ingin menghampiri mereka mendadak menghentikan langkah ketika Papa memeluk Miko dan terlihat sangat senang tapi memanggil nama Bimo. Miko juga membalas memeluk Papa dengan rasa senang.
"Dari mana malam-malam begini ke sini, baru datang Balikpapan ya?" tanya Papa sambil menepuk bahu Miko.
Aku menatap mereka berdua dengan tak percaya akan pemandangan di depanku. Begitu akrabnya Miko dengan Papa selama ini aku cuma dengar Miko bertemu Papa tapi tidak menyangka mereka akan se akrab ini.
Apalagi ketika Miko berbicara dengan Papa sambil tertawa bersama seperti sedang bercanda saja. Aku melangkahkan kaki dengan pelan ke arah mereka sambil memandang Papa yang masih tertawa bersama Miko.
Aku melihat wajah Papa dan terbayang lagi tindakan Papa dulu yang hampir membuat nyawa Bimo dan Miko melayang sangat menakutkan bagiku kalau ingat itu. Tapi semua sirna ketika melihat interaksi Miko dengan Papa sekarang yang terlihat seperti ayah dan anak.
"Siapa yang datang Om, coba lihat," seru Miko menunjuk ke arahku ketika aku muncul tepat di dekat mereka.
Papa langsung menatapku kemudian tersenyum lebar.
"Kamu jemput Kia ya?" tanya Papa pada Miko dan dia hanya mengangguk masih tersenyum.
Papa melambaikan tangan padaku menyuruhku mendekat pada Papa dan Miko. Aku menghampiri Papa dan Papa langsung mengambil tanganku kemudian menautkannya dengan tangan Miko sambil berkata dengan tegas.
"Ayo... kalian segera menikah."
Miko memandang Papa dengan senyum yang lebar dan perasaan senang.
"Siap Om, saya akan melakukan yang Om sarankan dengan segera."
Papa kemudian masuk sepertinya mau mencari Mamaku. Aku menatap Miko tidak percaya, ingin sekali aku bertanya apakah dendam pada Papaku yang ada dalam hatinya sudah musnah?. Tapi semua percuma karena sudah terjawab dari sikap Miko pada Papa yang sangat hangat.
Tuhan... dimana lagi aku menemukan lelaki seperti Miko yang mengedepankan kebahagiaanku dari pada sakit hatinya di masa lalu. Sekarang aku baru menyadari bahwa Miko lah orang yang bisa membuat aku percaya ternyata merelakan sakit masa lalu bisa dilakukan asal dengan ikhlas dan percaya diri.
Apalagi di sampingku ada orang seperti Miko yang sanggup menggenggam tangan dan memelukku dengan rasa sayang yang teramat tulus.
"Thank you my man, untuk semuanya," bisikku pada Miko.
**********
**Aku kehilangan Bimo, aku bahkan kehilangan jati diriku selama ini, tetapi aku menemukan dan mendapatkan Miko, seseorang yang punya hati seluas samudera, yang bisa melapangkan semua masalah kami, ternyata dia lah obat untuk semua kesakitan yang ada dihatiku.You are truly my man, I am the winner of your heart and thank you for all the support for me.
**Mohon dukungannya pembaca semua untuk vote, like dan komen, nanti akan di feedback asal tinggalkan jejak di sini.
**Terima kasih buat pembaca setia novel ini yang sudah menunggu update, maaf saya selalu terlambat. Terima kasih sedalamnya buat yang datang ke novel ini, mari kita saling dukung. Buat semua teman-teman sehat selalu, bahagia selalu, semoga berkah selalu menghampiri kita amin. Salam paling hangat dari Rahasia Hatinya Kia dan Miko😊😊
__ADS_1