Rahasia Hati

Rahasia Hati
I didn"t Expect Anything


__ADS_3

"Kamu belum meminta maaf padaku," desisku sambil memandang pesan dari Rima.


Aku menjalankan mobil dengan pikiran yang mengambang, tak terasa air mataku menetes tak bisa dihentikan. Bagaimana ini aku sangat bingung, masih bisakah aku menyimpan kebencian pada Bimo sedangkan Bimo sudah meninggal. Baiklah aku akan memaafkannya sedikit demi sedikit mulai sekarang.


********


Aku memandang layar laptopku dan ada gambar Bimo di sana yang sedang terbaring dengan infus dan oksigen.


"Laki-laki jahat!" desisku sambil menangis dan menaruh kepalaku di atas meja.


Handphoneku berbunyi dan kulihat dari Mama. Aku cepat-cepat menyahut takut kalau terjadi sesuatu dengan Papa.


"Kia! Papa sudah bisa operasi." Kata Mamaku.


Aku bergegas berlari ke ruangan Kak Santi untuk meminta izin kalau aku harus kembali kerumah karena aku tidak mau melewatkan operasi Papa.


"Kak Santi... Kia akan mempertimbangkan posisi di cabang sekarang Kia harus pulang, Papa harus di operasi," kataku pada Kak Santi.


Kak Santi memandangku dengan terkejut sambil mengangguk. Aku bergegas turun dan memeluk Wiwin ketika aku lewat diruangannya. Dia sangat terkejut dan hanya menatapku yang lari dengan cepat menuju tempat parkir.


"Tolong lihat pekerjaan Lisa...terima kasih, aku pulang dulu," teriakku pada Wiwin.


*******


Aku menuju ke kotaku dengan hati tak karuan dan berdoa semoga aku sempat menemani saat Papa di operasi. Aku sangat bersemangat kembali ke Kotaku karena mengingat Papa.


Setelah sampai di parkir Rumah sakit aku langsung berlari menuju ruang operasi. Aku menemukan Mama dan Lala serta si kembar tapi Andi masih bekerja kata Lala ketika aku tanya.


"Dokternya langsung dari Jakarta," kata Mama ketika aku tiba di depan ruang operasi.


Tak lama operasi selesai, Papaku di bawa ke ruang perawatan VIP. Aku yang minta. Walau harus menambah biaya tidak apa asal penyembuhan Papa berjalan baik. Mama menggenggam tangan Papa dan aku duduk menunggu di sebelah Mama.


Handphoneku bergetar aku langsung melihatnya, ternyata dari Tari. Apa yang membuat Tari menelponku aku jadi berpikir mungkin untuk memberitahu bahwa Bimo sudah tiada. Sekarang prioritasku adalah kesembuhan Papa tapi tetap ku terima juga.

__ADS_1


"Kak Kia, ini Tari apa kakak bisa ke rumah?"


"Tari mohon Kak Kia ada yang mau Tari berikan," lanjutnya.


Aku terdiam sejenak saat Tari menelponku. Tari sangat baik padaku mungkin ini masalah berkaitan dengan Bimo pikirku. Aku jadi bertanya apa yang akan Tari berikan mungkin barang-barangku yang ada pada Bimo.


Baru dua hari sejak aku menerima kabar dia meninggal. Aku juga harus mempersiapkan diriku untuk mendengar semunya dan tahu aku pasti akan menangis. Harus bisa menahan perasaanku karena ini memang harus di akhiri sekarang.


********


Aku sampai di depan rumah Bimo. Suasana semua sama tidak ada yang berubah. Hanya perabotan yang sudah terlihat agak usang karena selama Bimo sakit tidak ada yang mencari nafkah. Bimo bahkan harus menjual mobil dan motornya, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untungnya pengobatan masih dibayar perusahaan dan gajinya pun cuma gaji pokok saja.


Aku terkejut ketika Tari muncul sambil mendorong kursi roda. Mama Bimo stroke hingga kakinya lumpuh jadi sekarang tidak bisa apa pun dan aku baru mengetahuinya sekarang. Tari yang merawat Mamanya dan Bimo ketika masih sakit. Aku membuang rasa terkejutku dan bergegas menghampiri Mama Bimo.


"Kia...Kia...maafkan Mama," kata Mama Bimo sambil menangis keras dengan tangan yang ingin menggapai aku.


Aku langsung menggenggam tangan Mama bimo dan duduk di depannya. Kemudian Tari masuk ke dalam kamar Bimo dan keluar membawa sebuah kotak. Mama bimo memberikan kotak itu padaku sambil terisak.


"Bimo menyuruh Mama memberikan ini pada Kia dan menyuruh Mama meminta maaf juga," katanya sambil menyerahkan kotak padaku.


"Bimo meminta maaf pada Kia karena dari awal sampai akhir Bimo cuma mencintai Kia," kata Mama Bimo sambil menangis pilu.


"Semua Mama yang salah Kia, Mama yang memaksa Kia menggugurkan anak kalian, Mama yang memaksa Bimo menikah, semua Mama yang salah," lanjut Mama Bimo menatapku sambil menangis.


Air mataku akhirnya jatuh dan hatiku sakit sekali mendengar semuanya.


"Bimo memutuskan menjauhi Kia karena Papa Kia yang menabrak Bimo sampai pingsan satu hari lamanya, Papa Kia juga yang membuat pekerjaan Bimo hampir berantakan dan nyaris dipecat."


Mama Bimo menjelaskan padaku kenapa dulu Bimo berubah sampai meninggalkanku. Ternyata Papa berusaha mencelakai Bimo karena marah pada Bimo yang berhubungan terlalu jauh denganku menyebabkan aku hamil dan Mamanya yang memaksaku menggugurkan bayi kami.


Aku sangat terkejut memdengar Papa mengetahui rahasia yang ingin kusimpan sampai mati dan Papa mengetahui sebelum aku dan Bimo berpisah. Pantas saja Papa tidak terima saat aku memilih Bimo dulu. Aku sungguh tidak menduga Papa sudah mengetahui jauhnya hubungan kami.


Aku lebih tidak percaya Papa ingin mencelakai Bimo dan bisa berbuat seperti itu. Pantas saja dulu waktu Bimo kecelakaan ada beberapa polisi yang tidak percaya dengan penjelasan Bimo bahwa dia mengalami kecelakaan tunggal. Bimo bersikukuh saat itu bahwa tidak ada yang menabraknya.

__ADS_1


Aku menunduk sambil mengenggam tangan Mama Bimo dan menangis keras. Kenapa aku sampai berburuk sangka pada Bimo saat itu, aku mengira dia sudah memyerah pada cinta kami. Aku sangat menyesal karena semua disebabkan keegoisan Papaku.


"Sampai akhir Bimo tetap mencintai dan mengingat Kia, dia bilang pada Mama untuk memberikan kotak yang ada di kamarnya pada Kia, dia ingin Mama memintakan maaf pada Kia sampai Kia mau memaafkan Mama dan Bimo," jelas Mama bimo terbata-bata karena tangisan.


Aku tidak bisa lagi menahan sakit di dada dan tangisku semakin keras. Selama ini aku membencinya sampai terakhir bertemu dengannya. Aku bahkan mengatakan tidak akan memaafkannya. Ternyata seperti ini kisahnya yang sebenarnya, aku benar-benar tidak pernah menyangka sama sekali.


Aku menangis keras sambil bersimpuh di pangkuan Mama Bimo sambil menepuk dadaku, sakit sekali rasanya. Rasa penyesalan yang kurasakan saat ini begitu dalam sampai membuatku susah bernapas. Tari langsung memelukku erat dan dia ikut juga menangis denganku.


"Dari semuanya Mama yang paling bersalah sampai kalian menjalani kisah seperti ini, tolong maafkan Bimo Kia, tolong maafkan Mama Kia," mohon Mama Bimo sambil memegang kepalaku yang menangis di pangkuannya.


Aku tidak bisa menjawab cuma bisa mengangguk rasanya badanku lemas sekali menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Aku mencoba menarik napas dan masih terisak aku menatap Mama Bimo.


"Iya, Ma... Kia maafkan semuanya, semuanya yang pernah Bimo dan mama lakukan, Kia juga minta maaf atas kesalahan Papa Kia, tolong maafkan Papa Kia," pintaku sambil menangis dan memandang Mama Bimo.


Mengapa kenyataannya seperti ini dan mengapa semuanya terungkap saat Bimo dan aku sudah terpisah jauh. Bagaimana caranya aku meminta maaf padanya atas semua yang pernah Papa lakukan padanya hal itu membuatku sangat terpukul.


"Maafkan aku... Bim," bisikku sambil terduduk di depan pintu keluar.


Luthfi berdiri di depan pintu dia menatapku dengan sedih. Aku menangis keras dan memeluknya sambil memohon padanya.


"Bawa aku ke Bimo...bawa aku ke Bimo," teriakku histeris sambil memukul bahu Luthfi.


"Kenapa tidak pernah mengatakan semua ini padaku, kenapa...kenapa?"


Luthfi memelukku sangat erat sambil mengelus punggungku mencoba menenangkanku yang sangat histeris karena tidak terima dengan kenyataan yang ada.


"Bimo ingin mengatakan saat terakhir bertemu denganmu, tapi dia terlalu lemah saat itu," kata Luthfi dengan pelan memberiku pengertian.


"Ayo kita temui Bimo," ajaknya sambil menuntunku yang masih shock dan menangis karena tidak menduga kejadian yang sebenarnya.


*****************


**Paling susah adalah meminta maaf pada seseorang dan orang itu sudah tidak ada di dunia. Tidak ada salahnya memberi maaf karena akan membuat hati lebih damai dan tidak ada salahnya juga meminta maaf karena itu bukan suatu kekalahan.

__ADS_1


** Terima kasih sudah mendukung karya saya..selamat membaca.


__ADS_2