
Ketika sampai di Bandara terlihat Kak Arya sudah berdiri menunggu kami di halaman parkir. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah kami yang masih di depan jalan masuk sedang mengambil tiket parkir di palang otomatis.
"Kak Arya Ikut?"
Miko yang aku tanya cuma menggeleng kepala. Aku heran karena kemarin saat Wiwin menjelaskan rencana dinas kami cuma berempat yang pergi.
"Dia hanya mengantar sekaligus membawa pulang mobilku."
Setelah turun Miko langsung menyerahkan kunci mobil pada Kak Arya.
"Ciee.... yang mau liburan," ledek nya.
"Ihhh... orang lagi dinas, tapi sekalian liburan sih," sahutku sambil tertawa.
"Sambil menyelam minum air."
"Jelas." Miko menyela perkataan Kak Arya dengan wajah gembira sambil merangkul pundakku.
Tak lama Wiwin datang bersama Alan dengan taksi online. Mereka menghampiri kami yang masih berdiri di samping mobil.
"Ngapain di sini? Mau ikut?"
Wiwin keluar dari mobil dan bertanya pada Kak Arya. Sedang Alan sibuk menurunkan koper dari bagasi dan menaruh di depan kami.
Wajah Kak Arya langsung cemberut. "Kalau tidak karena Miko yang mau menitipkan mobil, ngapain aku ke sini kayak orang mau mengantar keluarga saja."
"Kan, bisa sewa parkir bandara Mik?"
"Biar saja, mau menge-tes kesetiaannya padaku," jawab Miko sambil tertawa.
"Kenapa aku jadi merasa punya selingkuhan ya?"
Wiwin tertawa mendengar celutukan kesalku.
"Apa kamu tidak merasa kalau kalian juga berselingkuh dariku?"
Miko bertanya dengan wajah datar ketika melihat Wiwin yang tertawa sambil merangkulku.
"Enggak benar tingkah kalian semua, absurd," cibir Kak Arya sambil berjalan memasuki loby bandara.
Aku tertawa geli dan mengikuti Miko yang berjalan di samping Kak Arya sambil memegang tangannya. Wiwin mengambil tiket yang sudah di pesan di sebuah maskapai penerbangan regional di Indonesia dan cuma mengambil tiket saja karena sudah check in lewat online.
**********
Wiwin datang dan menyerahkan tiket kami masing-masing.
"Apa lama lagi? Aku buru-buru nih, sudah janjian sama seseorang."
Kak Arya melihat jam tangan dan memandang Miko dengan wajah memelas.
"Siapa sih? Mencurigakan, cewek ya?"
Wiwin mendelik pada Kak Arya dan cemberut.
"Iya dong, masa kalian aja yang bisa bahagia."
"Memang kamu udah punya pasangan? Kok aku enggak tahu?"
"Kenalan baru di online," jawab Kak Arya ketika Miko bertanya dengan wajah sangsi.
"Hah... memang meragukan," celutuk ku sambil mencibir.
"Terserah kalian mau mengejek aku, yang penting aku happy lah," kata Kak Arya sambil memandang Miko.
"Awas kalo nanti kamu telepon aku sambil mabuk dan menangis," ancam Miko
"Wah, temen apa-an malah main ancam."
"Ya sudah, semoga berhasil kencannya," ujar Alan yang dari tadi cuma diam sambil memainkan handphonenya.
"Ayo masuk, sudah waktunya," ajak Wiwin.
"Okey... bye Bro," kata Miko sambil menepuk bahu Kak Arya.
"See you next time Mik, save flight kalian semua, jumpa minggu depan," ujar Kak Arya sambil melambaikan tangannya pada kami semua yang memasuki boarding lounge.
*********
Suasana depan kantor pusat sangat ramai karena ada beberapa mahasiswa yang mau mengadakan praktek. Miko sedang memberikan materi di aula kantor dan Wiwin serta Alan sedang menjenguk orang tua Alan sekaligus perkenalan calon menantu.
__ADS_1
Aku hampir berteriak ketika melihat seseorang keluar dari pintu lift sambil membawa beberapa berkas.
"Kak Lily............."
Begitu girang aku berteriak memanggil Kak Lily yang sudah lama tidak ketemu, terakhir kami bersama saat liburan dengan Kak Santi di Surabaya.
Kak Lily kaget dan berlari kearah ku, langsung memelukku. Aku bahkan meloncat kegirangan dan tak berhenti tersenyum senang.
"Miss you so much... so much."
Aku hampir membuat keributan di loby karena teriakan kerinduan ku pada Kak Lily yang lama tidak bertemu. Kak Lily membalas dengan penuh gembira sambil memegang tanganku.
"Me too Kia sayang."
Kak Lily kemudian menarikku menuju ruang kerjanya yang sangat asri dengan tanaman hidup di dalamnya. Terasa sangat segar, memang Kak Lily sangat menyukai warna yang bertema alam sejak sama-sama sekantor makanya aku suka duduk di dalam ruangan kerjanya dulu saat magang.
*********
"Jadi menikah dengan Miko?"
"Doakan ya Kak, semoga semua dimudah kan," jawabku sambil duduk di sofa.
"Berarti sama dengan Wiwin rencananya, dia bahkan sudah meminta untuk pindah ke sini bersama Alan, katanya mau dekat dengan orang tua Alan."
Aku kaget sekali mendengar perkataan Kak Lily. Wiwin tidak pernah memberitahukan padaku hal tersebut ini jadi membuat aku merasa agak kesal.
"Benarkah? Mengapa Kia tidak tahu Kak?"
"Mungkin nanti setelah semua di setujui," jawab Kak Lily.
"Memang kapan dia mulai urus kepindahannya?"
"Dua bulan lalu."
Aku terdiam sejenak, ada rasa sakit menusuk di hatiku mengapa Wiwin tidak meminta pendapat atau bilang tentang rencananya. Rasanya seperti dia ingin meninggalkanku dengan diam-diam. Aku jadi agak marah sekarang kenapa dia menyimpan sesuatu yang membuat aku merasa sedih.
Aku adalah sahabat nya, aku bahkan menganggap dia keluarga tapi kenapa masih menyimpan rahasia padaku. Aku terpaksa bersikap biasa karena tidak ingin Kak Lily merasa bersalah memberitahukan padaku masalah Wiwin jadi aku berusaha menahan rasa kesalku.
Sekitar 2 jam kami bercengkerama sambil bercerita, akhirnya aku pamit pada Kak Lily dan pulang ke hotel menggunakan taksi online. Di dalam taksi aku sudah tidak sabar untuk bertemu Wiwin yang ternyata dia juga sudah balik dari rumah orang tua Alan sekarang sudah di hotel.
*********
Ketika aku masuk ke kamar hotel, Wiwin baru saja keluar dari kamar mandi.
"Dia masih ada pertemuan dengan beberapa temannya, jadi aku pulang duluan," jawabku langsung melemparkan badan ke kasur dengan posisi tiarap, menutupi wajahku yang kesal.
Wiwin mendekat dan duduk di ranjang. Dia sepertinya kebingungan melihat sikapku yang aneh karena tidak mau menatapnya.
"Kenapa Kia? Bertengkar dengan Miko?"
Tanya Wiwin penasaran sambil menggoyangkan badanku. Aku menggeleng kepala masih menutup mukaku menahan supaya jangan marah padanya.
"Ada apa sih? Katakan Kia... ada apa?"
Aku langsung membalik badanku menghadapinya dengan muka kesal dan sedih saat dia memberondongku dengan pertanyaan.
"Kamu kenapa tidak bilang kalau mau pindah? Kenapa mau meninggalkan aku dengan tiba-tiba? Kenapa begitu jahat padaku?"
Aku setengah berteriak tidak terima dengan kabar yang kuterima bahwa dia akan pindah kerja nanti setelah menikah tanpa bicara sedikitpun denganku.
"Aku sedih... kamu mau pergi dariku, nanti siapa yang menemaniku heh? Kamu tega pergi meninggalkan aku? Kamu temanku bukan sih?"
Aku masih berteriak menangis sambil memukul bahu Wiwin. Bagaimana aku tidak sedih teman yang selama ini tempat aku berkeluh kesah akan pergi jauh dariku. Sekarang hal yang paling aku takutkan adalah merasa kehilangan apalagi seorang Wiwin yang aku sayangi.
"Rasanya ingina ku melakukan apapun supaya kamu tidak jauh dariku, aku sayang kamu Win lebih dari saudara," isakku sambil menaruh kepalaku di bahunya.
"Itu masih rencana belum pasti makanya aku belum bilang sama kamu Kia, kan begini reaksinya kalau sudah tahu, itu yang aku takutkan."
"Jadi kamu mau bilang padaku saat nanti semua sudah final dan disetujui pusat, dasar jahat... ternyata memang mau pergi tanpa bilang."
"Hmmm... segitunya, apa benar sangat sedih kalau kehilangan aku? Betul apa bohong?"
Aku memperbaiki posisi duduk dan mencoba mengerti masalah ini. Bagaimana juga suatu saat Wiwin pasti akan pergi karena dia akan menikah dengan Alan. Aku juga akan menikah dengan Miko jadi tidak ada gunanya aku berdebat dengan Wiwin hanya karena dia mau pindah.
"Seharusnya aku tidak dengar dari mulut orang lain tentang kepindahan kamu, aku marah bukan karena kamu mau meninggalkan aku tapi karena kamu yang tidak bilang sendiri padaku."
"Maaf... kan sudah aku bilang tadi alasannya karena belum di acc pusat jadi tidak mau ribut dulu, Kia walaupun aku jauh dari kamu kalau kamu membutuhkan aku usahakan pasti ada untuk kamu," bujuk Wiwin sambil membelai pipiku.
Kalau di lihat Wiwin memang sangat menyayangiku dia seperti Kakak yang selalu menjagaku dan aku adalah adik yang egois tidak mau berpisah jauh darinya.
__ADS_1
"Berapa lama sih naik pesawat ke sini, tidak sampai dua jam kalau mendesak kamu bisa langsung terbang menemui ku."
"Iya... tapi lain kali harus bilang padaku kalau punya rencana jangan sampai aku dengar dari orang lain kalau terjadi aku benar-benar marah Cinta," rajukku.
"Ihhh... apaan sih! Nanti di kira orang kita punya hubungan yang aneh kalau kamu ngomong begitu."
"Biarkan saja orang berpikir aneh, aku memang cinta padamu... sure, no lie sumpah," kataku sambil memeluk Wiwin.
"Kamu tidak pernah mengatakan cinta padaku, kenapa malah mengatakannya pada Wiwin?"
Miko tiba-tiba membuka pintu kamar hotel bersama Alan. Wajahnya terlihat agak bingung dan kesal mendengar pembicaraan kami. Mungkin dia cuma mendengar yang terakhir saja.
Alan juga sampai mengerutkan kedua alisnya karena merasa heran. Jadilah aku dan Wiwin salah tingkah seperti orang tertangkap basah karena selingkuh tapi dengan cepat Wiwin mendorong badanku sampai terjatuh ke belakang.
Kami kemudian tertawa melihat Miko dan Alan yang masih bingung karena tingkah laku kami berdua.
"Tidak apa... Kia kesal karena rencana kita mau pindah ke sini," Wiwin menjelaskan pada mereka berdua sambil memeluk tangan Alan
"I dont want to lose you Cinta," ucapku.
"Iya."
"Oh ya... bagaimana pertemuan keluarga?" tanyaku.
"Sukses dong," jawab Alan.
"Finishing dengan manis Lan, atur tanggal mainnya," kata Miko sambil duduk di sampingku.
"Kalian sendiri bagaimana? Jangan kamu bilang masih mikir."
Wiwin melotot padaku seakan menyuruh aku membuat kepastian.
"Sudah janji dengan Mama akan dibicarakan setelah pulang dari sini," jawab Miko tersenyum memandangku.
"Besok setelah selesai meeting kita akan pulang , aku akan pesan tiket di aplikasi travel," ujar Wiwin.
"Tidak usah, kami akan pulang hari esoknya mau lihat konser dulu."
"Kenapa tidak bilang mau lihat konser, kan aku bisa ikut," sesal Alan.
"Tidak di rencanakan juga, semua mendadak dan kebetulan."
"Kalau begitu kami pulang duluan, titip Kia nanti kembalikan padaku tanpa kurang satu apapun," ancam Wiwin pada Miko.
"Okey... very understand, I am promise," kata Miko.
**********
Sebenarnya aku tidak suka berkumpul dengan banyak orang apalagi berdesakan tapi karena Miko bilang konsernya sangat rapi semua penonton duduk di kursi. Kebetulan di tiket kami menempati kursi kategori 1 yang view nya langsung ke panggung. Dan kursi sudah ada nomornya hingga kita tidak perlu berebut untuk mendapatkannya. Konser sekelas Internasional pasti sudah direncanakan dengan matang.
Ini adalah pertama kalinya nonton konser musik di stadion jadi aku tidak tahu bagaimana ekspektasinya, di jalani saja. Sering sekali nonton konser musik tapi di dalam ruangan dan tidak ada orang berdesakan jadi aman menurutku.
Dari awal masuk sampai konser berakhir Miko selalu memegang tanganku, kami bahkan ikut menyanyikan lagunya. Rasanya sangat berbeda saat lagu yang aku sukai di nyanyikan ada getaran hangat dengan Miko di samping hangatnya bertambah bahkan jadi romantis.
Miko yang berada di sampingku membawa tanganku ke dadanya sambil berteriak memanggil namaku di tengah suara musik. Aku tertawa melihatnya, Miko dengan segala tingkahnya yang sekarang membuatku merasa benar-benar jatuh cinta lagi.
"I love you Mik."
"Love you too Beb," ucap Miko sambil mencium pipiku.
Tak terasa konser berakhir, kami keluar pintu selatan stadion. Saat itu sangat ramai bahkan berdesakan tapi Miko ada di belakangku menghalangi supaya jangan terdorong. Entah aku yang cepat atau Miko yang lambat membuat kami terpisah. Aku menoleh kebelakang tetapi tidak menemukan Miko.
Aku memutar pandanganku ke segala arah tetap tidak menemukan Miko. Panik melanda karena aku sendirian dan seseorang tanpa sengaja mendorongku hingga jatuh ke lantai. Ketakutan akan kehilangan Miko dan sendirian di tengah kerumunan seperti berputar di otakku.
Aku sendirian sekarang mencoba berdiri setelah jatuh di dorong seseorang. Aku bahkan menangis karena ketakutan sambil mencari dan memanggil nama Miko berulang kali walau hanya dengan suara pelan di dalam lingkaran kebingungan.
Seseorang mengangkat bahuku dan membantu menolong ku untuk berdiri yang ternyata adalah Miko. Aku langsung menangis keras dan memegang tangan Miko dengan cepat.
"I dont want to lose you... I dont want to lose you........"
"I am here Beb...still here for you, maaf tadi terpisah jangan menangis lagi please."
Miko memegang wajahku, menghapus air mataku dan memelukku dengan erat serta melindungi dari orang yang lewat di samping kami.
"Aku tidak mau kehilangan kamu," bisikku lirih di telinga Miko saat dia memelukku.
************
**Yang pergi belum tentu hilang, yang pergi belum tentu buruk keadaannya. Prasangka lah dengan pikiran yang universal jangan men-judge bahwa itu tidak baik. Salah satu penyakit hati adalah berprasangka tidak baik terhadap siapapun. Positive thinking lebih di butuhkan karena akan ada energi positif yang akan selalu melingkari sekeliling kita. Apapun yang positif akan memberikan semangat baru untuk ke depannya.
__ADS_1
**Maafkan saya reader karena sesuatu dan lain hal saya lambat update, kesibukan dan yang pasti author sedang butuh liburan dan hiburan. Sekali lagi maafkan saya karena sudah membuat hal yang tidak nyaman.
**Terima kasih atas semua dukungan terhadap Rahasia Hati, jangan lupa rate, vote, like dan komen. Komen ya... supaya saya bisa feedback, Don't be afraid to look real, so let's support each other. Thank you all, dont forget always healthy and happy, see you next time😊