
Miko tersenyum ketika melihat Luthfi datang ke kantornya dan dia langsung mempersilahkan masuk dan duduk.
"Apa yang membawa kamu ke sini, bukan masalah Bimo lagi kan?"
Luthfi tertawa sambil menyerah kan amplop yang di pegang dan menjelaskan pada Miko.
"Aku baru dari kantor Perizinan untuk mengesahkan PT yang akan aku kelola disitu ada uang Bimo yang nanti akan diberikan pada Mama Bimo tiap bulannya."
Miko memandang Luthfi dan mengambil amplop yang diberikan dan membukanya.
"Rekanan perusahaan tambang dalam bidang konstruksi?"
Luthfi mengangguk sambil meminum kopi yang disediakan oleh OB kantor.
"Agak susah sih, banyak sekali saingannya dan yang paling susah semua adalah teman tapi akan aku coba supaya bisa gol."
"Aku kenal dengan orang dalam PT XX mungkin nanti bisa ku bantu tapi ini cuma seandainya aku tidak berani berjanji," ujar Miko sambil mencoba meyakinkan Luthfi.
"Kadang-kadang karena teman kita jadi susah bertindak serba salah dan serba tidak enak," sahut Luthfi.
"Hmmm... teman juga yang sering menusuk dari belakang tapi itu sudah lumrah, kalau kita tinggi sedikit saja pasti ada yang tidak senang."
Miko berdiri mengambil handphone di atas meja yang mulai tadi bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dia melihat dan langsung mematikannya kemudian kembali bicara serius dengan Luthfi.
"Waah.... ada pengalaman rupanya?"
"Iya... sering malah, tapi aku cuma diam mencoba memperbaiki diri saja dan nanti ada waktu yang tepat untuk membalas, kalaupun tidak berdoa saja supaya yang punya Kuasa bermurah hati untuk memperlihatkan karmanya," jawab Miko yang kemudian ditimpali Luthfi dengan tertawa kecil.
"Benar juga, ulat saja harus tidur dan diam untuk jadi kupu-kupu, yang penting itu proses tidak ada hal yang instant apapun di dunia ini, kalau cepat naik cepat juga turunnya."
"Yah... sebagai teman membantu itu penting apalagi kalau untuk kemajuan, nanti akan aku hubungi temanku jangan khawatir lah," kata Miko sambil menepuk bahu Luthfi.
"Setelah sukses aku akan coba membuka hati mungkin akan menikah juga," ujar Luthfi tersenyum agak malu.
"Bagus tuh......"
"Jadi cepat bereskan janjimu pada Bimo kalau tidak aku akan merebut Kia dari kamu," ancam Luthfi sambil tertawa.
"Waahh.... bakal seru ini, apa kita harus bersaing?" tanya Miko sambil memandang Luthfi.
"Teman masa mau makan punya teman, tidak asyik kamu cari yang lain dong," lanjut Miko dengan wajah agak di tekuk seolah marah.
"Bercanda... jangan di masukan ke hati, sepertinya kamu harus mulai mengunjungi Ibu tirimu karena sepeninggal Bimo mereka hanya bertiga, Kakakmu jarang sekali datang."
"Belum saatnya sekarang, nanti kalau semua sudah 75% beres, perlahan aku akan coba bertemu dengan Beliau."
Miko memberi pengertian pada Luthfi bahwa dia masih belum bisa memenuhi keinginan Luthfi yang mengajaknya agar berdamai dengan Mama Bimo, Tito dan Tari. Kalau dengan Kak Lina, Miko sudah tidak ada masalah karena dia dulu pernah tinggal di rumah Kak Lina saat kuliah.
"Aku akan tunggu itu Miko, karena mungkin ada yang harus di diperjelas nanti," ujar Luthfi sambil tersenyum.
"Sepertinya ada yang aku tidak tahu, ayo katakan jangan main sembunyi denganku."
Luthfi langsung tertawa keras karena melihat wajah Miko yang kelihatan bingung.
"Bagaimana kalau aku menikah dengan Tari?"
Miko langsung meloncat dari sofa dan langsung berdiri sambil menyodorkan tangannya pada Luthfi agar bersalaman sambil berseru gembira.
"Deal... aku setuju dan mendukung 100% tidak ada keraguan lagi kan, jangan sampai kamu menarik ucapan tadi dan jangan berani mangkir."
Miko langsung memeluk Luthfi dan Luthfi jadi salah tingkah karena ekspresi Miko yang diluar dugaannya.
"Aku belum menyatakan pada Tari dan belum disetujui juga cuma ideku saja, aku sudah menyayangi Raffa dan lagipula sepertinya keluarga kamu memang jodohku."
"Aku akan bantu sebisanya," janji Miko.
"Makanya cobalah berdamai dengan mereka supaya cepat terealisasi keinginanku."
"Baiklah aku akan pikirkan, mudah saja bagiku cuma waktu yang sering tidak memungkinkan karena tidak bisa di bagi-bagi," jelas Miko pada Luthfi.
"Janji ya, jangan lama-lama," pinta Luthfi.
"Iya."
*********
Kak Santi sibuk menata ruang kerjanya ketika aku datang membawa kopi yang di pesan delivery dari sebuah kedai kopi kesukaanku.
"Panas sekali, apa AC rusak?" tanyaku sambil menekan remote ke 25°C.
"Kayaknya perlu di ganti semua interior ruangan ini sudah membosankan," jawab Kak Santi sambil menerima panggilan telpon.
"Dari Abang?"
__ADS_1
Aku bertanya dengan siapa Kak Santi sedang berbicara sambil duduk di kursi depan balkon tingkat yang mengarah ke jalan besar. Ternyata dengan suaminya yang sering aku panggil Abang karena kami sudah sangat akrab.
"Iya, ada sidang di di Gedung pusat sekaligus ulang tahun Departemen tempat kerja Abang."
"Keluarga tidak ikut?"
"Kalau aku ikut kantor bisa berantakan, event ulang tahun kantor saja belum klop, semua masih membingungkan," keluh Kak Santi.
"Pergi saja, aku yang akan bereskan," janjiku pada Kak Santi sambil menengok kebelakang karena Bang Riko datang.
"Negoisasi dengan Departemen pemerintah sudah deal dari pusat, kita disuruh mengisi sesi Web untuk arahan virtual nya, semua ada 3 sesi masing-masing jadi pilih 3 orang untuk MC nya, Kia kamu akan masuk sesi ke -dua," jelas Bang Riko sambil berdiri di sebelah Kak Santi.
"Bolehlah, apa ada sesion A&Q?"
"Tidak ada cuma pengarahan saja," jawab Bang Riko.
Kak Santi langsung memandangku sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Tidak bisa ikut ke Jakarta kantor bisa collapse, ini cuma satu kebijakan belum lagi untuk event ulang tahun."
"Karena lagi masa susah sekarang bagaimana kalau acara yang tidak penting diganti dengan acara amal, tentukan wilayah yang akan kita bantu sepertinya lebih berguna," ujarku sambil mengambil kertas yang di serahkan Bang Riko.
"Untuk donor darah masih kita pertahankan, tapi untuk hiburan bagaimana kalau diganti pemberian bantuan sosial jadi lebih bermanfaat, nanti kita koordinasi dengan PEMDA setempat."
Kak Santi langsung setuju dia kemudian memandang Bang Riko sambil memberi instruksi.
"Hubungi costumer kita yang bergerak di bidang bahan pokok dan makanan agar ikut berpartisipasi dalam acara ini."
"Baik."
"Oke... rapat 15 menit lagi panggil semua Divisi baik plasa, kantor Asset dan Centrum," perintah Kak Santi.
Kami langsung berdiri dan melaksanakan perintah, Bang Riko bahkan langsung berlari ke lantai bawah menemui Staff admin dan financial. Aku mengikuti Kak Santi menuju metting room dan berhenti di depan ruangan Wiwin.
"Rapat sekarang, urgent!"
Wiwin langsung melepas earphone di telinganya dia langsung mengambil handphone dan berlari ke arahku.
"Bangun... konsolidasi buat event ulang tahun, go metting room now!"
Teriakku sambil menggedor pintu ruangan Kak Arya yang saat itu sedang minum kopi. Dia langsung melotot padaku karena hampir tersedak sebab teriakan ku yang nyaring dan aku langsung berlari sambil tertawa keras melihat reaksinya.
"Busyet Kia...tidak bisa pelan apa kalau bicara!"
***********
Si kembar berlarian sambil berteriak di depan rumah yang kebetulan persis dibelakang salon mobil sehingga membuat suara ribut dengan canda dan teriakan mereka berdua.
Lala sibuk mengejar mereka berdua dengan membawa sepiring nasi untuk makan siang si kembar Bena dan Beny.
"Bena... jangan lari-lari nanti jatuh."
"Beny... jangan pegang tanah tangannya nanti kotor."
Lala seperti putus asa karena menegur mereka yang tidak bisa diam, apalagi Bena yang sangat cerewet itu berlari sambil memegang kayu membuat Lala langsung mengambil dan memukul kaki Bena.
Bukannya takut Bena malah tertawa kegirangan saat di kejar Bundanya. Tanpa disadari dia berlari ke arah Miko dan menabrak kaki Miko hampir saja terjatuh.
"Aduh."
Bena menjerit kecil lalu menatap Miko yang tersenyum sambil membangunkan lalu menggendong Bena.
"Maaf... Om."
Bibir kecil Bena berbicara kata maaf sampai membuat Miko tertawa keras dan mencubit lembut pipi Bena yang agak gembul. Bena hanya tersenyum malu sambil menunduk dan minta turun dari gendongan Miko.
Andi yang melihat Miko datang langsung keluar dari salon dan menghampiri sambil tersenyum senang.
"Kemana saja, lama tidak terlihat?" tanya Andi sambil menyuruh Bena masuk ke rumah menyusul Bundanya.
"Di Kota ada beberapa acara kantor, ketemu Kia juga," jawab Miko sambil duduk di sebuah kursi yang ada di depan salon mobil.
"Mobil ini lagi yang dibersihkan nanti kalau sudah yang itu selesai," suruh Andi pada Pegawai salon mobil.
"Waah... dua bersaudara tapi satu hati hanya untuk Kia, ckckck.... parah kalian."
Andi tertawa sambil menepuk bahu Miko dan Miko cuma bisa ikut tertawa mendengar kata-kata Andi.
"Sebenarnya bisa saja tidak aku ikuti saran Bimo, tapi ketika melihat Kia pingsan didepanku, hatiku sangat khawatir dan dia seorang diri di Kota cuma punya satu orang teman itupun belum tentu bisa menemani setiap saat, Kia kesepian sendiri bagaimana aku harus meninggalkannya, sama saja aku menyakiti diriku sendiri."
"Apa sekarang keputusanmu?"
Andi mencoba menggali kebenaran di hati Miko lebih dalam.
__ADS_1
"Aku akan berada di sampingnya sekarang, aku mencintai Kia dulu, sekarang dan nanti."
Miko memandang Andi dengan wajah yang serius seakan mencoba meyakinkan Andi bahwa dia tak akan berdusta.
"Aku pegang semua kata-kata kamu walau aku jarang bertemu Kia, tapi aku tahu bagaimana seorang Kia karena dia sepupuku."
Tiba-tiba Andi melihat ke arah atas kepala Miko kemudian melihat ke belakang Miko.
"Oh... Om Hendra."
Andi memanggil nama Papa dan terlihat perubahan wajah Miko saat itu. Ada rasa terkejut dalam diri Miko karena dari sekian tahun setelah kecelakaan itu dia tidak pernah bertemu dengan Papaku.
Orang yang menabrak dia bersama Bimo dulu dengan sengaja yang menyebabkan semua masalah terjadi antara aku dan Bimo juga membuat keluarga Bimo menyerah mempertahankan aku sebagai calon menantu mereka.
Dengan gugup Miko berdiri dan mencoba menoleh kearah Papa yang ada di belakangnya. Bagaimana Miko tidak terkejut dia tidak menyangka akan secepat itu bertemu dengan Papa yang pernah berusaha mencelakai dia dengan Bimo.
Perlahan dia menoleh dan mendapati wajah Papa yang sangat terkejut melihat Miko.
"Bimo... kenapa baru datang?"
Papa langsung memeluk Miko sambil menepuk bahu dan tersenyum senang.
"Om... dia bukan Bimo dia Miko."
Andi mencoba menjelaskan pada Papa bahwa Papa salah mengenali orang tapi dengan cepat Miko menyuruh Andi berhenti dan membiarkan Papa melakukan apa yang diinginkannya.
"Bimo pasti ini, Om pasti tidak salah Andi, kapan mau melamar Kia? Sudah selesai dinas di Balikpapan?"
Miko hanya terdiam ketika di serang dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dari Papa. Dia tidak menyangka ternyata benar yang dikatakan Bimo kalau Papaku juga sakit sama seperti Bimo tapi Papa lebih beruntung karena menjalani pengobatan yang terbaik sedang Bimo hanya membiarkan penyakitnya begitu saja tanpa berusaha mengobatinya.
Perasaan cemas menyelimuti hati Miko, tapi dia tetap berusaha terlihat tenang. Andi sepertinya tidak enak pada Miko karena kalau bertemu dengan Papaku pasti akan membuka luka lama keluarga Bimo dan itu pasti juga pasti akan menyakiti Miko.
Tapi Miko segera menyadari bahwa cepat atau lambat dia pasti berhadapan dengan Papa karena bagaimanapun dia sudah berjanji berdiri disampingku jadi dia sebisa mungkin menahan perasaan yang sedang bercampur aduk di dadanya.
"Om masih mengenali saya?"
Miko mencoba berbicara pelan bahkan terkesan terbata-bata sambil mengangguk pada Andi mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja dan Papa langsung memukul tangan Miko dengan pelan.
"Kamu lucu Bimo, Om sangat mengenal kamu dari cara bicara dan postur badan kamu," ujar Papa sambil terkekeh senang.
Miko memandang mata Papa dengan lekat karena dia tahu itu adalah mata Bimo. Ada gurat kesedihan menyeruak di hati Miko mengingat Kakaknya yang sudah rela mendonorkan kornea mata untuk orang yang ingin membunuh mereka berdua.
"Apa kabar Bim, kamu harus bahagia juga di sana," monolog Miko dalam hati sambil menatap kedua mata Bimo yang sekarang ada pada Papa.
"Om sehat? Bagaimana kalau saya secepatnya melamar Kia?"
"Ide bagus, ayo cepat jangan di tunda lagi... kalian harus cepat menikah, Andi ayo telpon ke Balikpapan kita harus diskusikan masalah ini dengan keluarga."
Papa sangat senang dengan kata-kata Miko yang berjanji akan melaksanakan lamaran dengan cepat. Miko masih memandang wajah Papa yang terlihat senang. Dia jadi bingung dengan perasaan hatinya yang berubah dengan cepat ketika melihat keadaan Papa sekarang yang terkena demensia dini.
Miko merasa perasaan marah yg dulu di pendamnya hilang seketika saat melihat kelakuan Papa yang sudah seperti anak-anak apalagi saat bermain dengan Bena dan Beny terlihat senang dan ikut juga berlarian.
Pelaku dahulu yang memegang kendali penuh pada hidup Bimo dan membuat Bimo terpuruk begitu dalam sampai menutup mata kini tak lebih dari sebuah badan kosong yang tidak bisa menggunakan sepenuhnya fungsi dari otak.
Miko merasa semua keadaan yang Papa jalani saat ini sudah mampu membayar apa yang dialami dia dengan Bimo dahulu. Ternyata Tuhan masih berbaik hati pada Miko untuk bisa melihat sinar mata Kakaknya yang ada di tubuh pelaku kejahatan dulu sekaligus Ayah dari orang yang dicintainya dan sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya.
Miko berjalan menghampiri Papa, tersenyum pada Papa sambil memegang tangan Papa dan mencoba akrab dengan memanggil Papa.
"Saya akan membahagiakan Kia, Pa... percayalah."
"Papa pegang janjimu."
Papa langsung terharu dan kembali memeluk Miko sambil menepuk belakang Miko seakan percaya penuh dengan kata-kata Miko. Papa langsung pergi kembali menemui si kembar yang sedang bermain di teras depan rumah.
"Berjanji dengan Om berarti kamu harus menepati semua kalau tidak kamu berhadapan denganku," ancam Andi sambil berdiri di samping Miko yang memandang Papa bermain dengan si kembar.
"Aku sudah mendapatkan izin yang tidak pernah di dapat oleh Bimo sampai dia menutup mata."
"Bagaimana dengan Kia?" tanya Andi.
"Izin dari yang paling atas sudah turun, masalah Kia hal yang mudah."
"Waah.... benar Kia tidak mungkin bisa melawan Papanya sekarang, cerdik juga otakmu."
Andi dan Miko tertawa bersama sambil kembali duduk menunggu mobil Miko selesai di bersihkan.
*************
**Kadang-kadang kita melihat seseorang hanya dari satu sisi dan mengakibatkan cara pandang terhadap orang tersebut hanya pada pemikiran kita saja dan menjudge dengan dugaan sendiri tanpa tahu bagaimana dia menjalani hidupnya. Cobalah sekali-kali pandang dari sisi yang berbeda mungkin kamu akan menemukan hal yang baru mengenai dia.
**Balas lah kejahatan orang dengan kebaikan karena kebaikan menciptakan kedamaian, kalau dia masih jahat juga di doakan saja agar Tuhan membuka hatinya dan membuat dia sadar bahwa tidak ada manfaatnya untuk membenci.
**Selamat membaca dan terima kasih atas dukungannya. Penulis tidak ada apa-apanya tanpa pembaca jadi untuk semua pembaca saya ucapkan terima kasih sekali lagi, sehat selalu dan jangan lupa bahagia😊
__ADS_1