
WARNING : ada adegan manis dan romantis di chapter ini, jadi buat Pembaca mohon jangan baper takut kalau nanti akan terkena Diabetes😁😁
Saat melihat Miko keluar dari mobil, entah kenapa hatiku berdebar kencang tidak seperti biasanya. Aku bahkan menahannya dengan menutup mulutku sambil menatap Tari dan Tari tersenyum melihat kegugupan ku.
"Astaga Kak Kia, tangannya dingin sekali," ucap Tari dengan keras sambil menahan geli.
Miko yang mendengar tersentak dan langsung menghampiri kami yang berdiri di samping meja dapur tanpa menyapa Ibunya sedang duduk di ruang tamu dengan Raffa.
"Kok kamu ke sini tidak bilang?"
"Entahlah, tadi spontan langsung ke sini," jawabku dengan perasaan malu, bisa-bisanya Tari bicara dengan suara keras seakan memberitahu Miko Kakaknya bahwa aku sangat nervous.
"Mama memandang kita Kak."
Tari memberitahu Miko sambil mengarahkan dagu ke arah Ibunya yang duduk di ruang tamu sedang memandang kami. Miko lalu sadar dan cepat pergi ke arah Ibu nya sambil tertawa kecil karena merasa lucu juga sedikit merasa bersalah mengabaikan Ibunya.
"Dasar tidak sopan, memang sudah nasibku punya semua anak laki-laki kalau sudah melihat perempuan yang disayangi, sama Mama sendiri saja lupa."
Mama menggerutu sambil memukul tangan Miko yang ingin meraih tangan Ibu nya tapi Miko langsung memeluk Ibu nya yang memasang muka cemberut. Aku ikut menghampiri dan tidak kaget dengan kata-kata Mama karena Tari sudah memberitahu tadi bahwa Mama sudah tahu hubungan ku dengan Miko.
"jadi agak canggung satu panggil Ibu yang satunya panggil Mama, gimana nih?" tanya Miko.
"Terserah kalian saja, Mama tidak ada pengaruhnya."
"Ya sudah panggil Mama saja Kak, biar lebih akrab," seru Tari yang ada di dapur dan Miko mengangguk kepalanya.
"Kapan mau diresmikan? Bagusnya sih setelah Tari menikah dengan Luthfi, harusnya kamu dulu yang menikah tapi karena duluan rencana Tari dan Luthfi jadi setelah acara mereka saja."
"Nanti kita bicarakan lagi Ma, sekarang banyak yang harus dibereskan dulu, ya kan sayang?"
Miko bertanya dan memandangku yang duduk di sebelahnya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Hmmm, sok mesra," cibir Tari yang lagi membuat teh di meja makan sambil tertawa.
"Benar Ma, banyak yang kita selesaikan dulu jadi pelan-pelan saja."
Aku menatap Miko sambil tersenyum dan dibalas Miko dengan senyuman.
"Kaa..an, kentara banget kasmarannya, ihhh...Tari gemes lihatnya," ujar Tari sambil meletakan gelas berisi teh hangat untuk kami.
"Apaan sih, Tari ngawur nih."
"Malu ya Kak, dulu tidak pernah begini loh, Kak Kia malu kalau di ledek lagi jatuh cinta," kelakar Tari sambil tertawa dan aku langsung melotot padanya.
"Benarkah? Surprise dong......"
Aku langsung menatap tajam pada Miko yang menyahut perkataan Tari kemudian ikut tertawa merasa lucu juga.
"Sudah, terserah kalian saja yang mana baiknya, tapi ingat Mama selalu siap kapan pun mau bertemu dengan keluarga Kia."
"Jangan sampai kesalahan yang dulu terulang kembali, Mama yang nanti yang akan minta maaf nanti atas segalanya, tidak akan terjadi lagi egois di atas logika."
Beliau seperti menyesali dan berjanji pada kami bahwa tidak akan lagi menggunakan masa lalu sebagai tameng membenci keluargaku. Aku sangat bahagia dengan perkataan Beliau dan ternyata benar, satu-satu persoalan rupanya bisa selesai sekarang.
Aku sangat berharap di masa datang keluargaku dan keluarga Miko bisa duduk bersama menyelesaikan semua salah paham, kalau itu terjadi tanpa melakukan kekerasan baik fisik maupun verbal lagi seperti dulu.
**********
Miko menyetir dengan sangat hati-hati karena jalanan masih licin bekas hujan deras sebelum kami berangkat tadi. Dia mengajakku ke sebuah tempat ingin menemui seseorang katanya, yang memang harus aku temui sebelum balik ke Kota.
Betapa kagetnya aku ketika sadar bahwa jalan yang kami lalui ini menuju ke arah Panti asuhan tempat aku selalu merayakan ulang tahun dulu.
"Kita menemui anak itu? Anak angkatmu?"
"Anak angkat Bimo sebenarnya karena yang menemukan adalah Bimo, waktu itu dia ditinggalkan orang tuanya di lokasi Bimo bekerja, karena Bimo sakit dan pergi jadi aku yang mengasuhnya sampai sekarang."
Miko menjelaskan perihal anak itu padaku dengan santai tapi mampu membuat aku terdiam dan terharu. Bimo merawat anak itu demi menebus dosanya pada kedua calon anak kami yang telah tiada.
__ADS_1
"Astaga... apa lagi ini? Kenapa aku sangat bodoh sekali, tidak tahu apapun tentang Bimo dulu."
Aku memandang Miko yang masih menyetir dengan perasaan sedih, mengapa selalu Bimo yang sekarang terlihat seperti innocent man. Parahnya aku karena tidak pernah tahu apapun kebaikannya dulu, karena rasa benci di hatiku yang tidak bisa kuhilangkan hingga menutupi semua kebaikannya.
Air mataku menetes tanpa bisa kutahan, aku bahkan harus menutup mukaku menahan semuanya. Miko langsung menggenggam tanganku dan menciumnya.
"Kita perbaiki semua kesalahan Bimo dulu dan kita rawat semua yang ditinggalkannya," ucap Miko sambil menghentikan mobil di depan kantor panti asuhan tempat anak itu tinggal.
Aku mengangguk sambil menarik napas dalam meredakan semua rasa sedih ku. Dengan lembut Miko menghapus air mataku dan membelai kepalaku seolah menguatkanku.
"Kamu pasti mau bilang aku cengeng."
"Bukan cengeng sih, tapi lebih seperti smooth felling," ucapnya sambil tersenyum.
********
"Waa...aah, apa ini? Kenapa anak Bunda jadi datang bersama? Apa ini artinya?"
Bunda panti berteriak senang ketika kami muncul bersama di depannya. Miko langsung memeluk Bunda panti karena sudah seperti Ibunya sendiri yang merawatnya ketika Miko masih kecil.
Kemudian Bunda panti memelukku yang dari tadi diam hanya tersenyum senang melihat mereka berpelukan.
"Apa kabar Kia sayang? Apa terjadi sesuatu di antara kalian sampai bisa datang berdua?" tanya Bunda panti sambil menatapku penuh selidik kemudian menatap Miko yang sedang tersenyum sedang aku hanya menunduk menahan malu dengan wajah bersemu merah.
Aneh rasanya Bunda tidak kaget melihatku datang bersama Miko malah merasa senang. Ternyata Miko sudah menceritakan semua pada Bunda tentang hubungan kami.
"Sekarang Miko bawa kesini secara resmi, biar disaksikan Bunda."
Miko menjelaskan sambil memandangku masih tersenyum dengan mesra, jantungku berdetak dengan cepat sampai membuatku sulit bernapas saat mata kami bertatapan. Bunda panti langsung tertawa melihat tingkahku yang kikuk dengan sikap Miko.
"Kalau menikah nanti harus undang Bunda, yah."
Bunda memegang tanganku terlihat sangat bahagia membuat hatiku seperti meledak karena senangnya. Ternyata semua orang yang ada disekitar kami sangat antusias sekali dengan hubunganku dengan Miko dan berharap yang terbaik bagi kami.
"Pasti Bunda, nanti Bunda yang mendampingi Miko meminang Kia," ucap Miko sambil memandangku dan meraih tanganku.
Cinta? Yah... cinta itu datang sekarang, masuk ke dalam hatiku dengan rasa yang sulit dijelaskan. Sekarang setiap menatap wajah Miko dan berada di dekatnya, jantungku berdebar kencang lebih dari biasanya. Tempat dimana cinta itu tertanam, tumbuh dan mulai berbunga menghadirkan sebuah keindahan. Aku hanya memandang Miko dengan mesra dan meneguhkan hati bahwa dia lah masa depanku.
"Mana anakku, Bunda?"
"Oh... pasti sedang di ruang baca, coba kamu lihat dia," jawab Bunda.
Kami langsung menuju ke tempat yang disebutkan Bunda karena mungkin Miko ingin mengenalkan aku dengannya sekarang.
"Siapa namanya?" tanyaku sambil berjalan di samping Miko.
"Dio... anaknya ramah," jawab Miko.
"Benar, aku pernah bertemu dengannya saat ulang tahun anak Andi di sini."
Miko membenarkan juga dan kami sampai di depan ruang baca. Miko masuk dengan perlahan karena tidak ingin menganggu anak yang lain.
************
Dio tersenyum ketika melihat kedatangan Miko. Anak umur 10 tahun itu langsung melepas bukunya dan berlari ke arah kami. Dia memeluk Ayahnya dengan senang dan senyum yang lebar.
Miko langsung membawa Dio ke luar ruangan dan mendekati tempatku berdiri dari tadi.
"Dio... bagaimana kalau Ayah menikah dengan wanita yang di samping kamu sekarang?"
Dio langsung memandangku dan aku tersenyum agak khawatir juga dengan reaksinya. Tapi diluar dugaan Dio mengangguk sambil memandang Miko dengan senang.
"Dio sudah tahu Yah, Bunda panti yang bilang kalau Ayah mau menikah, Dio punya Mama nanti kan? Bunda panti berkata bahwa Mama Dio orangnya baik hati, Dio sangat percaya pada kata-kata Bunda panti ."
"Tuh... sekarang peluk calon Mama Dio," kata Miko menunjuk ke arahku yang berdiri di samping Dio.
Dio langsung tersenyum menatapku dan aku membalas senyum anak itu.
__ADS_1
"Benar kata Bunda panti Yah, Dio sudah kenal dan pernah bertemu dengan Mama ini."
Anak itu berseru senang sambil memelukku dan aku sangat terkesima dengan reaksinya yang menerima kehadiranku dengan tangan terbuka. Aku tidak percaya Dio bahkan sekarang memanggilku Mama tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Mama......."
Aku langsung mengelus mukanya dengan lembut dia memandangku dengan senyum polosnya. Satu hal lagi yang membuat aku meneteskan air mata karena haru sekali tatkala bibir kecil Dio memanggilku Mama. Dia adalah anak angkat Bimo yang sekarang di asuh oleh Miko dengan perantara Bunda panti.
"Dio senang bertemu dengan Mama?" tanyaku pelan sambil memegang wajahnya.
Dio mengangguk masih dengan senyuman di bibirnya dan aku menatapnya dengan rasa bahagia. Aku sekarang berjanji dalam hatiku akan merawat lelaki kecil yang dititipkan Bimo padaku setelah semua yang di korbankan Bimo untukku, Dio tidak akan pernah berani aku sia-siakan.
Hampir dua jam kami bersama dengan Dio sambil menyatap makanan yang tadi di beli Miko sebelum menuju Panti asuhan dan se-dapat mungkin Miko pasti membawa Dio jalan-jalan sebulan sekali untuk menghabiskan waktu bersama -sama.
********
Miko menghentikan mobil tepat di depan garasi mobil rumahku karena tadi kami memakai mobilku dan mobil Miko ditinggal dirumah Mama jadi dia pulang dengan mobilku, besok baru akan di antar kembali.
Hari sudah malam sekitar jam 20.00, jadi terasa agak sepi. Biasanya saat ini Mama dan Papa sedang di depan televisi dengan santai. Andi juga pasti sedang di rumahnya mungkin istirahat bersama anak-anaknya.
"Capek ya? Tunggu sebentar kita bicara dulu."
Miko membuka minuman soda memberikan padaku dan aku langsung meminumnya, setelah aku selesai minum dengan cepat Miko mengambil kaleng yang kupegang dan meminumnya juga.
"Kan ada lagi minumannya, kenapa ambil punyaku?" tanyaku sambil menatapnya dengan bingung.
"Biar irit," jawabnya sambil tertawa menggodaku.
"Ihh... kalau pelit lebih baik tidak usah bersama deh, gini... ada yang bilang kalau mau wanita cantik modalnya harus uang kalau mau wanita setia modalnya harus waktu dan kepercayaan, naa...ah kalau aku keduanya, bagaimana sanggup tidak?"
"Heh... percaya diri sekali," jawab Miko langsung mendekat.
"Kalau mendapatkan laki-laki seperti aku modalnya harus apa?" tanya Miko semakin dekat dengan wajahku dan tatapan menggoda.
"Enggak tahu ah, jawab sendiri," jawabku agak jengah lalu memundurkan badanku untuk sedikit menjauhinya.
Miko memandangku dengan wajah yang sulit ku artikan.
"Aku mau mencium kamu sekarang, kalau tidak mau kamu boleh menghindar."
Miko makin mendekat dan aku makin gugup, bingung antara menolak dan ingin merasakan bagaimana berciuman dengan Miko yang sebenarnya. Aku memandang wajah Miko yang hanya beberapa sentimeter di depan wajahku dengan tersenyum.
"I love you."
"Me too."
Miko lalu mendekatkan bibirnya, tak lama bibir kami berdua terpaut menyatu, debar jantungku tak bisa ku kendalikan seakan terdengar sangat jelas. Miko mengecup sambil sedikit menyesap dan menghisapnya dengan lembut membuat aku harus memejamkan mata merasakannya.
Rasa seperti ini sudah begitu lama tidak ku dapatkan. Seperti bintang-bintang berada di atas kepalaku karena merasa bahagia. Sentuhan bibir Miko membuatku melayang dan aku hanya bisa memejamkan mata membiarkan Miko melakukan apa yang dia inginkan.
Aku berusaha untuk tidak membalas ciuman Miko karena kalau itu terjadi kami bisa tidak dapat menghentikannya. Aku sadar semua ini harus berhenti sekarang lalu aku membuka mata dan membalas kecupannya sekali.
"Cuu...uup."
Langsung ku mundurkan wajahku supaya semuanya berakhir sambil tersenyum geli melihat Miko yang menghentikan ciumannya dan menatapku dengan wajah agak kesal seperti tidak terima dengan yang kulakukan.
"Lama--an sedikit dong," keluhnya sambil kembali duduk di kursi depan setir mobil dan menyandarkan kepalanya ke jok serta memukul pelan kaca di samping dengan tangannya. Aku langsung membuang wajahku ke arah luar kaca mobil sambil menahan tawa supaya Miko jangan marah.
"Huu...uuhh, kesalnya," kata Miko sambil menutup wajah dengan telapak tangannya.
************
**Ketika sedang bersamanya, menatapnya dan semua sikap nya membuat hatimu berdebar lebih kencang dari frekuensi biasanya maka dia sudah menempati satu tempat istimewa dalam hatimu. Riang cinta yang bisa membuatmu hangat sehangat musim semi dengan berbagai keindahannya.
**Saat kamu tidak bisa lagi mengubah situasi yang ada maka tantang dirimu sendiri untuk berubah dan jadi lebih baik dari sebelumnya, belajar dari apapun atas semua yang telah kamu lewati selama ini.
**Happy reading buat semua pembaca, terima kasih atas semua dukungannya, saya tidak ada apa-apanya tanpa support kalian. Thank you for everything, dan tetap sehat, bahagia selalu, don't forget healthy protocol, semoga badai virus cepat berlalu, happy weekend all😊
__ADS_1