Rahasia Hati

Rahasia Hati
Pillow Talk


__ADS_3

Jam masih menunjukan pukul 10 pagi tapi aku sudah agak bosan, padahal dua jam lagi rapat presentasi target costumer dan pembahasan pendirian universitas jurusan bidang perusahaan kami akan di mulai. Kulihat Lisa sedang sibuk dengan laptopnya mungkin meneliti angka-angka yang dari kemarin belum bisa sama.


Aku kemudian berjalan mendekatinya dan ikut melihat layar laptopnya, Lisa agak terkejut melihatku seperti itu karena aku jarang sekali ikut membantu langsung pekerjaannya.


"Masih belum seimbang?" tanyaku.


Lisa mengangguk sambil manatapku kemudian berusaha kembali memperbaikinya.


"Kirim lewat e-mail atau telegram ke laptopku nanti aku selesaikan semuanya, kamu tinggal menyelesaikan akhirnya saja," suruhku pada Lisa.


"Tinggal dua jam lagi, kalau tidak selesai juga habislah kita," keluhku sambil duduk kembali ke mejaku menyelesaikan pekerjaan Lisa.


Bang Riko datang terburu-buru sambil menyerahkan sebuah dokumen dengan amplop coklat.


"Berangkat ke Bali besok, pertemuan manager DBS se-Indonesia," katanya sambil melempar amplop ke mejaku.


"Tidak bisa yang lain, aku lagi badmood," pintaku pada Bang Riko.


Aku juga bingung kenapa perasaanku sangat tidak enak dalam beberapa hari ini. Seperti ada yang membuat dadaku sesak dan Bang Riko menyuruhku melakukan perjalanan dinas saat keadaanku seperti ini.


"Kenapa bukan Kak Santi yang pergi?" tanyaku.


"Dia menyuruh kamu yang pergi, tidak terima alasan apapun katanya," jawab Bang Riko sangat jelas penuh penekanan pada kata tidak terima.


Aku yang sudah sangat badmood semakin merasa frustasi ketika Bang Riko mengatakan keputusan Kak Santi, akhirnya aku terpaksa menerima karena aku sudah sering menolak dinas keluar kota sebab alasan kesehatan Papa.


********


Bandara Internasional Ngurah Rai Bali saat ini sangat ramai. Aku sudah di sambut seorang Supir yang menenteng kertas bertuliskan namaku di terminal kedatangan penumpang. Aku segera mendatanginya dan dia langsung membawa semua tas dan koperku.


"Hotel sudah dipesan dan semua dokumen buat acara besok sudah disiapkan ada dalam mobil," katanya sambil memasukan semua koper ke bagasi mobil.


********


Kami menuju hotel dan betapa terkejutnya aku saat kami sampai di parkir hotel. Ini hotel tempat aku dan Bimo menginap saat ulang tahunku dulu.


"Waahhh, mengapa sangat kebetulan sekali," desisku yang kemudian turun dari mobil.


Hotel itu sangat banyak perubahannya dari dulu sekarang semakin megah saja. Aku segera menuju meja Resepsionis dan mengambil kunci kamar lalu mengisi data tamu. Resepsionis tersenyum sambil memberikan kunci dan ID card peserta rapat tahunan perusahaan kami se-Indonesia.


"Aahh...kenapa kamarnya juga sama," keluhku hampir menangis karena kesal.


Resepsionis itu kebingungan memandangku tapi dia masih tersenyum.


"Apa tidak bisa tukar kamar?" tanyaku padanya.

__ADS_1


"Itu sudah di booking seminggu yang lalu, jadi tidak bisa di ganti Nona," jawabnya.


Kamar yang diberikan perusahaan untuk aku menginap ternyata sama dengan kamarku yang aku tempati dulu bersama Bimo. Aku melangkah lesu menuju pintu lift dengan wajah cemas dan menarik napas panjang berdoa semoga aku bisa melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Supir tadi masih bersamaku dia mengantarkan barang-barangku sampai ke kamar.


*******


Kami sampai di depan pintu kamar langsug memasukan kunci dan setelah terbuka Supir tadi langsung menaruh barang-barangku ke samping meja rias. Kemudian dia pamit serta menolak ketika aku mau memberikan tip alasannya dia sudah di kontrak oleh kantor untuk melayaniku saat berada di sini.


Aku melihat kamar yang dulu ku tempati dengan Bimo sambil tersenyum pahit. Dulu nuansa ruanagan berwarna coklat sekarang sudah berubah total nuansanya berwarna biru langit dengan aksen sama dan hiasan dinding dari kulit kerang. Langit-langit kamar bahkan bergambar abstrak sepeti awan yang berada di langit biru.


Aku menengok ke kamar mandi sangat berbeda sekarang lebih elegan dan terkesan mewah dengan bathroom yang berbentuk bulat dan ada jendela yang langsung mengarah ke laut jika dibuka gordennya. Ada lemari kecil di dekat kaca wastafel tempat menyimpan handuk dan peralatan mandi.


Aku merebahkan tubuhku di ranjang terlihat semua perabotan di kamar juga berganti. Lama aku menatap ke arah meja rias di depan ranjang sambil berbaring dan tak terasa air mataku jatuh menetes mengingat saat Bimo mengucapkan akad nikah.


Dia memasangkan cincin di jari manisku sebagai pengikat cinta kami dan itulah hadiah ulang tahun yang terindah yang tidak pernah bisa kulupakan sampai sekarang. Hatiku makin sakit ketika aku mengingat bagaimana dia menjanjikan akan tetap berada disisiku.


Aku membenamkan wajahku di bantal sambil menangis keras bagaimana mungkin semuanya terlihat amat jelas sekarang. Aku hampir memukul dadaku dengan keras karena sangat sesak dan perlahan mengambil handphoneku menelpon Wiwin.


Wiwin sangat kaget ketika mendengarku menangis keras di telepon.


'Apa yang terjadi Kia?" tanyanya dengan panik.


Aku tidak menjawab yang kulakukan hanya menangis dengan keras.


"Aku akan menyusulmu ke sana malam ini juga, tunggu ya...jangan berbuat yang aneh-aneh," teriaknya sambil menutup telepon.


Empat jam setelah menerima teleponku Wiwin datang di hotel dia langsung berlari ke dalam dan menanyakan kamarku di meja informasi. Setelah mendapat jawaban dia langsung menaiki lift menuju lantai dua dan setibanya di depan kamar dia menekan bel dengan tergesa-gesa.


Pintu kamar terbuka dan aku melihat Wiwin datang hanya dengan membawa sebuah tas tanpa koper pakaian. Rupanya ia langsung berlari setelah mendengarku menangis di telepon. Dia langsung memelukku yang baru bangun tidur karena kecapekan menangis.


Wiwin membawaku masuk dan menyuruhku berbaring lagi. Dia kemudian membersihkan muka dan mengambil minum di kulkas lalu memberikan padaku. Aku meminum orange juice yang diberikan Wiwin dan kembali berbaring.


Wiwin ikut berbaring dia menatapku dan tersenyum kecil melihat mataku sembab dan muka yang acak-acakan.


"Ceritakan semuanya kenapa menangis seperti itu?" tanyanya.


Kami di atas bantal berdua, aku kembali menangis sambil menatapnya. Wiwin sahabatku yang paling dekat sekarang karena dengan Rima aku sudah tidak pernah menghubunginya lagi. Dengan Nisa juga aku jarang sekali menelponnnya, ingin menjauh dari orang-orang yang berhubungan dengan Bimo itulah alasanku tapi untuk melupakan Bimo saja aku tidak pernah mampu.


Apalagi ketika sampai di tempat yang pernah menjadi memori paling berkesan di hatiku. Aku menceritakan tentang kamar tempat kami berbaring sekarang pada Wiwin secara detail sambil sekali-kali memghapus air mataku. Terbata-bata sambil terisak aku mengatakannya sampai tidak sadar bantal yang ku rebahi sudah basah.


"Kamu harus kuat Kia, ini adalah keputusanmu," katanya sambil membelai rambutku.


"Aku selalu bersamamu Kia, walaupun aku selalu menyemangatimu tapi semua tergantung dirimu sendiri, hanya kamu sendiri yang bisa membuat dirimu bisa menerima apa yang digariskan, relakan semua yang terjadi kalau kamu bisa merelakan apa yang terjadi, kamu pasti bisa menerima suratanNya."


Wiwin menggenggam tanganku sambil membelai kepalaku, dia sangat mengerti apa yang kurasakan apalagi sekarang dia tahu Bimo lagi berjuang dengan ganasnya penyakit yang sedang di deritanya. Hanya menunggu waktu yang akan datang menjemputnya. Hal itu semakin membuatku tidak bisa menghentikan tangisku.

__ADS_1


Aku Saskia Septiara hanya seorang wanita biasa yang masih memiliki rasa cinta pada orang yang pertama kali mengenalkanku dengan cinta itu. Sangat menyesali mengapa aku tidak bisa meraihnya kembali saat orang itu menggenggam tanganku dan mengajak berdamai.


Air mataku makin deras mengalir mengingat semua yang terjadi di kamar ini. Bagaimana cintaku dan Bimo menyatu, kami sangat bahagia saat itu serasa tidak akan pernah terpisahkan.


Aku masih berbaring bersama Wiwin, dia menatapku sambil menghapus air mataku yang masih menetes. Dia tersenyum sambil menghela napas dan mengelus bahuku lalu memelukku sembari menguatkanku. Sahabat yang terbaik bagiku dan orang yang selalu ada saat aku memerlukan.


Berbaring di ranjang yang sama dan aku bisa bercerita apapun tanpa takut padanya. Wiwin menjadi orang yang sangat spesial bagiku sampai kapanpun. Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya sambil tersenyum.


"Coba kalau kamu cowok, Win... aku bersumpah akan menikah denganmu saja," kataku sambil menyapu air mataku dan beranjak mengambil air minum.


Wiwin tertawa keras sambil melempar bantal tepat ke arahku sambil berteriak.


'Dasar wanita tidak tahu malu, berani-berani menembak sahabat sendiri sesama jenis...masih waras kamu?"


"Lagi pula mana sanggup aku bersaing dengan Bimo di hatimu," katanya mengejekku.


"Jadi kamu di jodohkan sama Kapten kapal itu?" tanyaku pada Wiwin sambil duduk di kursi depan meja rias.


"Aku pacaran sama Alan sekarang," jawabnya pelan sambil tersenyum malu padaku.


Aku berteriak keras sambil melempar botol minuman ke arahnya dan Wiwin gelagapan menghindarinya.


"Ternyata suka juga sama berondong," kataku masih tertawa keras.


"Sini...aku akan ceritakan semuanya," ajaknya.


Wiwin menepuk bantal di depannnya mengajakku berbaring dan aku menurutinya. Kami bercerita malam itu sampai hampir jam tiga malam padahal besok aku ada acara pertemuan.


*******


Pintu ruangan tempat Bimo di rawat terbuka saat Bimo duduk di samping ranjang. Bimo sangat terkejut melihat siapa yang datang. Orang yang sangat ingin di temuinya dalam dua tahun terakhir ini. Orang yang sering di teleponnya dan di pintanya untuk pulang menemuinya.


Bimo tersenyum melihat Pria itu langsung menghampiri serta memeluknya dan menyuruhnya duduk di sofa. Saat itu Bimo sendirian di kamar tidak ada orang lain karena Heri sudah selesai bertugas. Luthfi pamit pulang untuk berganti pakaian dan berjanji akan datang saat malam.


Bimo mengambil sebuah amplop besar di lemari kecil dekat ranjangnya sambil memandang Pria itu sesaat dan duduk serta menyerahkan kertas yang berisi Surat kuasa sebagai Wali dari Bimo.


"Tanda tangani semuanya kamu sekarang menjadi Waliku," kata Bimo menyuruhnya.


Pria itu membuka amplop dan asal-asalan membaca kemudian menatap Bimo dengan tajam.


"Apa isinya ini, kamu mau suntik mati?" tanya Pria itu pada Bimo sambil tertawa mengejek dan menggelengkan kepalanya.


*********


**Cinta ternyata tidak selamanya harus bersama, berterima kasihlah karena pernah memiliki rasa cinta walupun mendatangkan rasa sakit, di episode depan mari kita lihat siapa sebenarnya Pria itu? Apa yang ada dalam pikiran Bimo?

__ADS_1


**Selamat membaca...Terima kasih atas dukungannya...


__ADS_2