Rahasia Hati

Rahasia Hati
He's My Papa


__ADS_3

Rumah keluarga Kia pagi jam 8, saat sarapan Mama memberitahu bahwa hari dua hari lagi Bena anaknya Andi ulang tahun. Aku jadi kecewa karena kemungkinan aku sudah pulang untuk bekerja.


"Hari ini akan dirayakan di panti asuhan Lala sudah pesan makanan kotak dan goody-bag buat dibagikan," jelas Mama.


"Jam berapa acaranya Ma?" tanyaku sambil makan.


"Siang nanti sekitar jam 1," jawab Mama.


"Iya...Kia bisa Ma, sore baru pulang nanti Kia pesankan kue nya," kataku sambil berdiri dari meja mengambil handphone dan memesan kue ulang tahun buat Bena dan Beny.


Padahal Lala sudah memesan tapi aku tetap mau memesan juga karena aku sekarang belum punya hadiah buat mereka. Untuk membelikannya disini aku sangat malas keluar rumah.


Tak lama datang dua anak kecil yang satu sangat centil , dia adalah Bena.


"Mama Kia, Bena ulang tahun hari ini," teriaknya sambil memelukku.


Dan yang satunya lagi Beny si anak pendiam tapi menghanyutkan, dia juga langsung memelukku sambil tertawa senang. Lala hanya tertawa melihat tingkah anak kembarnya dan duduk di meja makan sambil memgambil roti yang ada di meja.


"Oma dan Opa kalian tidak datang ya?" tanyaku pada Bena.


"Besok Mama dan Papa datang, ada Istrinya Kak Ari juga katanya mau melahirkan di Balikpapan," jawab Lala.


"Aahh....Kia sudah pulang Om sama Tante malah datang," keluh ku.


"Memangnya tidak jadi pindah ke sini?" tanya Lala.


"Sudah ada yang mengisi jabatannya dua bulan yang lalu, aku terlambat," jawabku sambil menurunkan Bena dari gendongan ku.


Bena dan Beni kemudian bermain dengan Papa diruang tengah, aku membantu Lala menyusun goody-bag ke dalam kotak yang akan dibawa nanti sore.


"Andy tidak ikut?" tanyaku pada Lala.


"Nanti siang setelah istirahat kalau bisa pulang kalau tidak bisa ya apa boleh buat," jawab Lala.


"Nanti kotaknya jam 12 diantar langsung ke tempat acaranya," kata Mama pada Lala.


"Jangan kurang La, nanti malu," ujarku.


"Sudah pesan dua kali lipat Kia, apa mau tambah lagi?" tanya Lala.


"Tambah lagi, biar banyak tak apa nanti kalau ada yg tidak kebagian kan kasihan," jawabku.


Lala kemudian memesan nasi kotak lagi seperti apa yang kukatakan. Kulihat si kembar sangat gembira apalagi Bena si centil.


"Mama Kia...nanti Bena pakai ini ya?"


Bena datang dan membawa lipstik punyaku, dia tersenyum menenteng lipstik itu. Aku langsung tertawa melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan dan aku kenudian memeluknya.


"Ya ampun, anak siapa ini kecil-kecil sudah pengen dandan," kataku sambil tertawa.


Bena cuek saja dia bahkan membuka dan mengoleskan lipstik di bibirmya. Lala sangat marah dan menyuruh Bena menaruh kembali lipstik yang diambilnya tapi bukannya menaruh Bena malah berlari menjauhi Lala.

__ADS_1


******


Kami sampai di sebuah panti asuhan ternyata banyak sekali Anak-anak yang sudah menunggu di depan aula panti. Rupanya Mama sudah memberitahu pada pengurus bahwa akan ada acara ulang tahun disini.


Bena terlihat sangat senang dia yang paling antusias sedang Beny tetap dengan sikap diamnya hanya memeluk Papa ku yang juga ikut. Sedang Andi belum datang mungkin sebentar lagi kata Lala ketika aku bertanya.


Bena terlihat cantik dengan baju dress warna pink sedang Beny pakai kemeja warna hijau. Bena memilih pesta yang bertema Little Ponny, semua ornamen bergambar tokoh Ponny dan kuenya juga berhiaskan si Apple jack kesukaan Bena.


Sedang kue Benny yang ku pesan pagi tadi bergambar tokoh yang disukai Benny yaitu Ben 10 sesuai dengan baju Benny warna hijau. Beny juga terlihat sangat senang ketika kuenya di taruh di meja dan berteriak memanggil nama tokoh yang ada di kuenya.


"Teen....teen...teen...."


Seru Beny kegirangan sedangkan Bena sibuk dengan Lala karena bajunya agak kusut. Aku yang menjaga Beny jadi Lala dan aku seperti punya anak masing-masing satu. Mama ku sampai geli melihat kami yang sibuk dengan si kembar. Tak lama Andi datang dan acaranya di mulai, meriah sekali terlihat anak-anak panti sangat senang. Mamaku sudah menyiapkan uang untuk dibagikan kepada mereka dan mereka terlihat bahagia sekali.


"Inilah indahnya berbagi," kata Mama sambil tersenyum padaku.


********


Aku memandang sebuah foto usang yang terpampang di dinding ruangan kantor panti asuhan.


"Eh...Kia, tidak ikut makan-makan dengan anak-anak di sana?" tanya Bunda panti.


Aku sangat mengenal Bunda panti walaupun tidak sering kesini dulu waktu SMA ulang tahun ku selalu dirayakan disini.


"Sekarang Kia sudah sukses, cari pasangan jadi nanti ulang tahun anaknya dirayakan disini," kata Bunda panti sambil menyuruhku duduk di sofa.


"Belum dapat jodohnya Bunda," kataku pada Bunda karena dari dulu aku memanggilnya Bunda.


"Atau memang tidak mau membuka hati, sudah...jangan terlalu larut dalam masa lalu, Kia berhak bahagia," kata Bunda sambil memegang tanganku.


Aku memandang foto-foto yang tergantung di dinding, aku tertarik dengan sebuah foto yang telah usang. Ada beberapa anak kecil di situ, yang berbaju kaos biru menggugah perhatianku.


"Siapa ini Bunda?" tanyaku sambil memandang Bunda yang berdiri disebelah ku.


"Itu Sajad anak Bunda,, ibunya meninggal saat usianya 3 tahun, itu anak Bunda yang sudah sukses sekarang," jawsb Bunda.


"Cuma itu foto yang tertinggal semua habis di lalap api saat kebakaran dulu," lanjut Bunda.


Aku kemudian melihat lagi dengan jelas lagi foto itu, seperti ada perasaan tidak asing saat melihat anak itu.


"Mereka sudah dewasa sekarang, seumuran Kia," kata Bunda sambil tersenyum.


Aku mengangguk dan kemudian Mama datang memanggil ku dan memberitahukan bahwa acara sudah selesai tinggal membereskan saja. Aku langsung minta izin pada Bunda untuk kembali ketempat acara ulang tahun si kembar.


Aku berjalan menyusuri lorong panti di jalan menuju tempat acara. Terlihat seorang anak laji-laki berusia sekitar 8 tahun duduk di sebuah bangku di bawah pohon. Aku menghampirinya karena merasa heran anak-anak yang lain sedang di Aula merayakan ulang tahun keponakanku Bena dan Beny.


Tapi dia terlihat sedih sambil tertunduk dia menggesek-gesekan sepatunya ke tanah seolah-olah dia sedang gelisah.dan wajahnya terlihat sendu seakan mau menangis.


"Ada yang kamu tunggu sayang?" tanyaku pelan sambil menatap wajahnya.


"Iya...menunggu Papa," jawabnya.

__ADS_1


Hatiku langsung terasa nyeri mendengarnya jawabannya, anak itu ternyata sedang menunggu Ayahnya datang.


"Ayo kita masuk, merayakan ulang tahun," ajakku padanya.


Dia menggeleng kepala dan berkata dia ingin menunggu Papanya. Aku tidak bisa memaksa dan aku kemudian tersenyum sambil membelai kepalanya lalu masuk menuju tempat ulang tahun si kembar.


******


Acara selesai kami akan segera pulang, aku menyuruh Mama dan Papa ikut dengan Andi karena ada yang mau ku temui setelah ini. Mama dan Papa pulang duluan dengan Lala dan Andi karena si kembar terlihat sudah kecapekan si Bena bahkan mulai menangis karena cerewet dan Lala bergegas pulang.


Aku masih disekitar halaman ingin berpamitan dengan bunda panti . Tiba-tiba terlihat sebuah mobil melaju meninggalkan halaman parkir panti asuhan. Aku menoleh karena merasa kenal dengan mobil itu.


Tapi aku tidak melihat siapa yang menyetir karena kacanya tertutup. Aku langsung memasuki kantor dan berpamitan dengan Bunda panti, Bunda sangat senang dan mendoakan agar aku bahagia kelak.


Ketika aku keluar kulihat anak yang tadi termenung di bangku bawah pohon berdiri di depan halaman. Tapi kali ini wajahnya sangat gembira seakan-akan dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.


Aku jadi penasaran lalu mendekatinya dan tersenyum sambil menepuk bahunya. Dia juga tersenyum riang ke arahku lalu dia berkata yang membuatku ikut senang.


"Saya sudah bertemu Papa."


"Benarkah, kenapa tidak ikut dengan Papamu?" tanyaku penasaran.


Kenapa Papanya tidak membawa dia, aku jadi berpikir apa dia punya ibu tiri yang tidak menyukainya.


"Papa harus bekerja jadi aku tidak bisa ikut," jawabnya dengan pelan.


"Aku cuma anak angkat," jelasnya padaku.


Baru aku mengetahui setelah dia mengatakan bahwa dia diangkat oleh orang yang dipanggil Papa tapi orang tersebut harus bekerja lagipula orang itu belum punya istri. Anak itu menjelaskan padaku hingga aku mengerti latar belakang semuanya.


Dia kemudian mengambil selembar foto di saku bajunya dan memperlihatkannya padaku.


"Ini Papaku, dia tadi datang kesini untuk menjengukku," kata anak itu sambil tertawa senang padaku.


Aku melihat foto yang di berikannya padaku betapa terkejutnya aku ternyata orang di foto itu adalah Miko. Aku langsung melihat foto itu lagi supaya lebih jelas dan ternyata benar dia adalah Miko. Berarti mobil yang kulihat pergi tadi adalah mobil Miko.


"Ini adalah Papamu, berapa lama sudah dia jadi Papamu?" tanyaku penasaran.


"Sudah lima tahun sejak ditinggal orang tuaku dirumah sendiri," jawabnya sambil memandangku.


Aku langsung pamit dengan anak itu dan langsung menuju rumah Miko. Tetapi Miko tidak berada di rumah yang ditinggali dan aku menunggu siapa tahu Miko datang sebentar lagi tapi ternyata sampai hampir sore Miko tidak muncul padahal aku harus bersiap untuk pulang karena besok sudah mulai masuk kantor.


Aku pergi dalam keadaan kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Miko. Tidak bisa menambah izin lagi karena kalau kulakukan Kak Santi bisa-bisa mengomeliku dari pagi sampai sore. Aku akan mencoba bertanya dengan Luthfi saja nanti pikirku sambil menyetir mobil menuju pulang.


***********


**Ternyata sedikit demi sedikit Kia sudah mengetahui rahasia Miko, tapi ini belum seberapa nanti di episode selanjutnya kita akan buka lagi.


** "Bantu aku kali ini, jadi pacarku sebentar ya, peluk aku sekarang," pintaku sambil memandangnya dengan penuh harap.


** Selamat membaca jangan lupa dukung Author, vote like dan komen... terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2