Rahasia Hati

Rahasia Hati
Fright


__ADS_3

Saat aku baru tiba di halaman kantor, pak Satpam menghentikan mobilku dan aku langsung membuka kaca kaca mobil.


"Mbak Kia, parkir di bassement hotel, halaman parkir mau dipakai event," katanya dan aku langsung menurut karena kulihat sudah banyak bed kecil dari PMI untuk acara donor darah salah satu event ulang tahun perusahaan.


Kak Santi sudah ada di sana terlihat sibuk berbicara dengan pihak PMI dan ada beberapa wartawan dari media pers cetak dan online yang akan meliput acara hari ini. Sangat ramai padahal masih pagi mungkin mereka ingin bersiap supaya acaranya sukses.


Wiwin langsung melambaikan tangan saat aku memasuki tempat acara menyuruhku datang ketempat para pegawai yang lagi duduk menunggu acara di mulai. Ada beberapa tamu dari beberapa Instansi pemerintah dan costumer besar seperti hotel, pemilik gedung yayasan pendidikan dan perusahaan jasa lainnya.


"Semua pegawai harus ikut setelah lulus tes kesehatan," jelas Wiwin sambil menarik tanganku agar duduk disampingnya.


"Oke, no problem."


Aku menyetujuinya karena ku pikir tidak ada salahnya menyumbang beberapa tetes darah bagi yang membutuhkan seperti di katakan ketua PMI tadi saat aku lewat di samping mereka bahwa mereka sangat kekurangan untuk membantu para pasien yang memerlukan.


********


Setelah selesai acara aku memasuki ruangan kerja, kulihat Lisa sedang sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari aku yang datang.


"Eh, Kak Kia baru selesai Kak acaranya?"


"Iya, kamu tidak ikut?"


Lisa menggeleng dia mengatakan bahwa banyak yang harus di kerjakan jadi tidak bisa turun ke bawah melihat kami yang mengikuti event.


"Siap-siap Kia... mobil logistik sudah stand by, kita bersama manager dari PT Ico marco membagikan sumbangan di daerah X ," kata bang Riko saat lewat di depan ruanganku


"Aku tidak ikut, nanti siang ada charity di ballroom hotel depan, takut waktunya enggak sempat," tolak ku.


"Ya sudah, nanti acara charity sama bang Beny dari plasa dan ada Miko juga dia masih dalam perjalananke sini," jelas bang Riko sambil meningalkanku.


"Miko datang?"


"Iya."


Aku langsung mengambil handphone dalam tas dan mencoba menghubungi Miko.


"Kamu mau kesini?"


Tanyaku saat tersambung dan aku dengar bunyi mobil itu berarti Miko memang dalam perjalanan.


"Kenapa, kangen sama aku?"


"Percaya diri banget."


"Akui saja."


"Semua kangen kamu, kak Arya, aku apalagi bang Riko dia dari tadi nunggu kamu datang."


Miko tertawa mendengar jawabanku yang meragukan baginya. Seolah sangat membingungkan saat aku mencari alasan lain.


"Iya, miss u," kataku pelan sambil tersenyum.


"Oke, tunggu ya... paling satu jam lagi sampai," jelas Miko.


*********


Aku menuju ruangan kak Santi, terlihat dia sudah siap untuk acara donasi gratis bersama distributor makanan besar di Indonesia.


"Kamu tidak ikut?"


Kak Santi langsung menghampiriku yang dari tadi cuma memandangnya di depan pintu.


"Ada acara charity bea siswa untuk Universitas perusahaan kita, jadi aku ambil yang itu saja biar Kakak yang hadir untuk donasi," jelasku pada Kak Santi.


"Ya sudah, nanti sama Wiwin biar donasi aku sama yang lain saja," kata kak Santi langsung meninggalkanku dan turun ke lantai 1. Aku ikut mengantar ternyata disana sudah siap Kak Arya dan tim Alan serta para staff kantor asset tapi Alan tidak ikut.


"Kalau sempat nanti aku akan kesana."


Kak Santi mengatakan itu saat mobil yang membawa rombongan akan pergi. Terlihat Kak Arya dan bang Riko ikut dengan mobil perusahaan. Aku melambaikan tangan dan mengangguk kepala melihat mereka semua berangkat.


******


Aku menoleh ke arah samping kanan saat pintu di ketuk dan ternyata Miko berdiri di depannya sambil tersenyum.


"Belum ke acara di hotel depan?" tanyanya sambil duduk di sebelahku.


"Sebentar, masih satu jam lagi," jawabku.


Miko duduk dan menyandarkan badannya.


"Capek ya?" tanyaku dan dia hanya mengangguk.


"Memangnya berapa orang penerima bea siswa sih? Aku minggu depan akan ke Jakarta diminta memberikan materi praktek singkat buat calon tekhnisi."


Miko mengatakan jadwal minggu depan ketika aku memberikan minuman kaleng padanya.


"Benarkah?"


"Kamu mau ikut?"


"Aku mau pulang, kangen sama Papa dan Mama," jawabku sambil duduk di depannya.


"Ditunda saja, kita liburan ajak Wiwin sama Alan," bujuknya.


"Atau kalau perlu ajak Lisa," lanjut Miko berusaha keras agar aku mau ikut.

__ADS_1


Lisa yang dari tadi cuma menatap laptop langsung memandang tajam pada kami.


"Tidak mau, nanti Lisa jadi patung lihat Kak Miko sama Kak Kia berdua an" kata Lisa.


Kami cuma tertawa mendengar kata-kata Lisa.


"Sudah sembuh Ayahmu?"


"Lumayan Kak Miko, setelah operasi pemasangan pen, Ayah sudah bisa beraktivitas tapi tetap tidak boleh lelah."


Lisa menjelaskan keadaan Ayahnya ketika ditanya Miko.


"Jaga Ayah baik-baik selagi ada, jangan ada penyesalan di kemudian hari," saran Miko sambil tersenyum pada Lisa.


"Terima kasih Kak."


"Belum siap juga? Ayo cepat kita sudah di tunggu."


Wiwin datang langsung menyuruh kami untuk ke acara secepatnya karena waktu tinggal 15 menit lagi dan semua peserta penerima sudah siap. Program charity ini di adakan setiap tahun saat tahun ajaran baru untuk membantu calon mahasiswa tidak mampu yang sudah di pilih oleh tim Akademis kampus dari sekolah Kejuruan dengan berbasis tekhnologi.


Bekerja sama dengan salah satu Bank swasta, jadi setiap nasabah bisa berpartisipasi menyisihkan sedikit dana buat membantu pendidikan mereka yang pintar dan berprestasi. Salah satumya adalah yang pemenang lomba robotic dan hacking se Indonesia yang diadakan oleh perusahaan untuk menarik minat generasi muda pada tekhnologi masa depan.


***********


Kami berempat sudah di tempat acara, kulihat bang Beny dari plasa melambaikan tangan ke arah kami langsung dengan cepat menghampiri kami dan mempersilahkan duduk di kursi barisan official.


Terlihat Miko, Alan dan bang Beny berbicara serius sedangkan aku dan Wiwin langsung duduk di barisan depan. Tak lama mereka bertiga juga duduk di barisan depan menyusul kami. Miko tersenyum padaku saat duduk di sebelahku karena tidak pernah aku dengan Miko seperti ini di acara formal kantor kami.


Acara sudah berlangsung sekitar 1 jam tapi masih uraian dan sambutan dari berbagai pihak termasuk sponsor charity. Kak Santi datang lewat pintu samping dan langsung duduk di sebelahku karena Miko pindah ke belakang agar Kak Santi bisa duduk.


"Hampir selesai cuma sambutan dari bang Beny saja lagi," jelasku sambil melihat Kak Santi yang kelelahan.


"Banyak sekali orang yang datang dan panasnya itu kebangetan," keluhnya sambil menghembuskan napas karena kecapaian.


Acara selesai tinggal istirahat dan makan, terlihat makanan prasmanan hotel yang bertema daerah. Mungkin hotel juga ingin memperkenalkan makanan daerah kami karena ada beberapa tamu dari luar daerah bahkan luar negeri yang mengikuti lomba robotic dan hacking kemarin di antara mereka ada yang berasal dari Singapura dan Malaysia.


Kami berlima makan di satu meja setelah mengambil makanan dan terlihat Wiwin mengambil makanan untuk Alan mereka terlihat mesra sekali.


"Tidak mau mengambilkan aku makanan juga seperti itu?"tanya Miko tepat di samping telingaku. Aku kaget sekali sampai piring ditangan hampir terlepas dari tanganku.


"Kagetnya!"


Aku memukul bahunya dan langsung berjalan ke arah meja, Kak Santi sudah ada di sana. Dia terlihat lelah karena seharian harus memberi kata sambutan di tiga acara event ulang tahun perusahaan.


"Setelah ini aku mau pulang, capek sekali."


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Miko padaku.


"Kalian senang-senang saja, aku mau pulang," kata Kak Santi sambil berdiri dan pamit bermaksud ingin pulang.


*******


"Kita mau kemana?" tanyaku saat dalam mobil Miko. Aku memang pulang bersama Miko karena dia minta ditemani membeli sesuatu di pusat perbelanjaan dan ketika aku tanya mau beli apa jawabannya rahasia.


"Hmm... membuat penasaran saja."


"Biar lebih surprise," katanya sambil fokus menyetir.


Mobil berhenti saat pemeriksaan scan body mobil dan valet boy menyerahkan karcis. Miko langsung naik ke lahan parkir tingkat tiga tepat didepan toko Frank & co jewellery. Aku kaget sekali langsung merasa bahwa Miko akan membeli sesuatu yang berhubungan dengan perhiasan.


"Turun yuk," ajaknya.


Aku cuma mengikuti Miko diam tidak bertanya apapun. Hatiku kenapa sangat gugup sekali jadi serba salah karena sangat ingin bertanya tapi takut.


Sampai di depan toko kami di sambut oleh Pelayan yang tersenyum menyuruh kami masuk.


"Mau cari cincin nikah atau pasangan?" tanya Pelayan pada Miko.


"Mau cari kalung yang cocok untuk pacar saya," jawab Miko sambil melihatku.


Aku merasa lega sekali ternyata Miko mau memberikan kalung bukan cincin. Entah kenapa saat ini aku belum siap untuk menjalani hubungan sangat serius karena Miko juga belum tahu semua tentang aku.


Aku tertarik dengan kalung serut Italy dengan liontin bunga bermata biru safir. Penampilannya sangat elegant sekali walau kelihatan sangat sederhana. Pelayan memberikan padaku dan menyuruhku mencoba memakainya.


Miko terlihat sibuk memilih sesuatu di ujung lemari kaca pajangan. Aku mencoba memakainya ternyata cantik sekali dan aku langsung menyukai kalung ini.


"Aku mau yang ini."


Aku tersenyum pada Mikp saat dia menghampiriku yang menatap kalung di leherku.


"Yakin? Kalau yakin kita ambil itu."


Aku mengangguk kegirangan karena sudah lama sekali tidak ada yang memberi ku hadiah spesial seperti ini.


"Terima kasih," bisikku ketika Miko di sampingku masih melihat kalung yang kupilih.


"Jangan sekarang nanti saja, aku mau yang lain selain ucapan."


Aku langsung memandangnya dengan melotot.


"Jangan macam-macam," ancamku dan Miko cuma tersenyum.


"Mau langsung dipakai juga tidak apa-apa," ujar Pelayan pada kami.


"Tunggu disini, aku bayar."

__ADS_1


Kulihat Miko di kasir, aku menunggu di depan masih memegang kalung yang baru saja kami beli. Tak lama Miko datang dengan sebuah bag kertas kecil dan kami melanjutkan perjalanan. Miko dari tadi ingin mengajakku ke sebuah cafe temannya karena Miko ingin makan pancake dengan selai maple dan mencoba matcha kopi.


*********


Sesampai di cafe, teman Miko sudah menunggu di depan sambil mempersilahkan kami masuk di ruangan khusus . Betapa kagetnya aku saat masuk ruangannya penuh bunga mawar pink yang di tata sedemikian rupa sehingga terlihat seperti kebun bunga.


Aku takjub sekali dengan kejutan demi kejutan yang di buat Miko sampai menutup mulutku supaya tidak berteriak kegirangan. Air mataku sampai menetes karena terharu bercampur bahagia. Miko adalah orang pertama yang melakukan ini dalam hidupku.


Aku tidak pernah membayangkan Miko sangat romantis walaupun sering kata-katanya bercanda dan tidak serius. Aku memandangnya dan memeluknya erat, Miko tersenyum membalas pelukanku.


"Kamu istimewa bagiku Kia," bisiknya sambil menghapus air mataku.


Aku memandangnya sambil mengangguk masih merasa seperti bermimpi kalau semua ini dilakukannya demi aku.


"Aku juga mau kasih hadiah buat kamu, pejamkan matamu," kataku pelan.


Miko terlihat kaget langsung menutup matanya. Tiba-tiba di membuka matanya kembali dan mengambil sesuatu di kantong celananya. Ternyata semprotan penyegar napas dan menyemprotkan ke mulutnya. Aku langsung tertawa melihat yang dilakukan Miko sambil memukulnya.


"Apa yang kamu pikirkan," ujarku merasa malu sendiri.


"Oke, aku siap tidak ada orang cuma kita berdua di ruangan ini."


"Tidak jadi."


"Ayolah," bujuknya sambil memejamkan mata.


Aku kemudian menarik napas panjang dan mencuim pipi Miko dengan lembut.


"Sudah? Cuma segitu?"


Aku langsung mendorongnya dan duduk di kursi yang ada di dekatku. Pelayan datang membawa pesanan kami, Miko menyantap pancake dengan santai sambil bercerita tentang pertemuannya dengan Ibu tirinya yang sangat membuatnya senang. Aku ikut senang karena Miko sudah bisa berkumpul kembali keluarganya.


Setelah selesai menyantap hidangan kulihat hari mulai malam, aku bermaksud mau pulang karena sudah capek sekali. Seharian dengan aktivitas kantor dan bersama Miko jalan-jalan, rasanya sepeeti mau beristirahat saja.


Tanpa kuduga Miko menyodorkan sebuah kotak kecil dan membukanya terlihat sebuah cincin bermata satu indah sekali sambil berkata pelan.


"Will you marry me?"


Hatiku seperti di pukul, tidak menduga Miko akan melamarku saat ini. Aku masih belum siap untuk menikah dan bingung harus menjawab apa. Dadaku berdegup kencang karena takut, trauma itu muncul seketika dan membuatku gelisah sampai berkeringat dingin.


"Miko... aku mohon jangan sekarang, aku belum siap."


"Kapan lagi Kia? Aku pikir ini saat yang paling tepat."


"Jangan sekarang, please," pintaku sambil berdiri ingin pulang.


"Aku pulang sekarang, besok kita lanjutkan, ku mohon Miko."


Miko sangat bingung melihatku gelisah dan ketakutan seperti ingin menjauh darinya. Dengan cepat Miko menahan ku tapi kutepis tangannya dan berlari kedepan halaman cafe langsung memanggil taksi.


Miko masih terpaku bingung di tempat tidak menyangka reaksiku seperti itu. Dia masih kaget saat berada di depan ternyata aku sudah ada dalam taksi. Dia bergegas kembali ke dalam menyelesaikan pembayaran dan langsung memacu mobil menyusulku.


***********


Di tengah kebingungan yang melanda Miko jadi menyesal, padahal dia bermaksud ingin memberi surprise padaku tapi malah membuatku teringat kembali akan trauma dulu. Miko jadi kesal pada dirinya sendiri dan lebih kecewa lagi saat kehilangan mobil taksi yang kutumpagi.


"Berikan alamat rumah Kia sekarang," katanya pada Wiwin ditelpon. Memang Miko tidak tahu dimana rumahku jadi dia terpaksa bertanya pada Wiwin.


"Ada apa? Kalian bertengkar?"


"Lebih dari itu," jawab Miko.


Miko memarkir mobil dengan sembarang dan berlari menuju pintu rumahku. Dengan tergesa-gesa memencet bel yang ada di depan dan mencoba menelponku tapi tidak dijawab. Miko mencoba menunggu di depan selama 5 menit berasumsi mungkin aku belum datang.


Sudah 10 menit Miko mencoba menunggu tapi tidak ada tanda-tanda pintu di buka dan telponpun tidak dijawab membuat Miko jadi panik. Dia mencoba menelpon Wiwin sekali lagi kalau ku bersama Wiwin tapi ternyata tidak ada jawaban Wiwin.


"Berikan password pintu rumah Kia," kata Miko dengan tidak sabar.


"Ulang tahunnya Kia."


Miko langsung menekan nomor dan pintu terbuka. Miko langsung masuk ke dalam rumah, dia berteriak memanggil namaku dengan sangat cemas sambil membuka pintu yang ada di rumah satu persatu. Miko juga mencari ke dapur yang ternyata tetap dia tidak menemukanku.


Miko berlari kearah kamarku dengan cepat membukanya dan ternyata aku juga tidak ada. Miko berniat mencari ke lantai atas tapi langkahnya terhenti mendengar suara shower dinyalakan. Miko lalu berpikir bahwa aku lagi mandi jadi dia menunggu di depan meja rias sambil mengatur napas karena merasa sangat cemas.


Namun sudah lebih dari 30 menit aku belum keluar dan shower masih berbunyi. Miko langsung mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil namaku tapi tidak ada jawaban dari dalam. Kembali Miko merasa cemas kalau terjadi sesuatu padaku.


"Kia... sampai tiga kali aku panggil kamu tidak keluar, aku akan dobrak pintunya," ancamnya.


Miko sudah tidak sabar lagi, hatinya sangat takut kalau terjadi sesuatu yang buruk. Dia langsung mendobrak pintu dan betapa terkejut dia ketika melihat keadaanku saat itu hanya duduk diam di bawah shower dengan baju masih lengkap yang kupakai saat makan dengan Miko tadi siang.


Hanya duduk sambil menangis dan memeluk kedua kakiku dengan badan menggigil karena hampir satu jam lebih aku berada dibawah shower yang menyala dan tidak bergerak.


"Jangan seperti ini Kia."


Miko langsung memelukku dan mematikan shower, dia tidak perduli badannya ikut basah terkena air. Miko hanya memelukku yang terlihat ketakutan bahkan tidak berani memandang wajah Miko. Aku cuma menunduk sambil menangis dengan badan basah dan pandangan mata yang kosong, trauma itu membuatku sangat ketakutan menerima ajakan Miko untuk menikah. Ternyata belum sembuh benar karena masih membuatku seperti ini.


"Aku tidak akan memaksa kamu lagi Kia, katakan kapan kamu siap baru saat itu aku akan melamar kamu, aku berjanji akan menunggunya jadi aku mohon jangan begini," bisik Miko sambil memelukku.


***********


**Akan indah pada waktunya, jadi kalau percaya itu tunggulah sampai waktunya akan datang dan jangan lupa berusaha serta berdoa.


**Kesempatan tidak datang dua kali jangan sia-siakan saat itu, ada yang paling penting yaitu turuti kata hati dan berpikirlah dengan jernih untuk mempertimbangkan situasi yang ada.


**Terima kasih atas segala dukungan dan semangatnya pada semua reader yang setia dengan novel Rahasia Hati, saya sebagai penulis meminta maaf tidak bisa update terlalu sering karena sesuatu dan lain hal dan saya berharap semua bisa memakluminya. Sekali lagi terima kasih, sehat selalu semuanya, karena kesehatan lebih penting dari apapun, sampai jumpa lagi salam hangat dari Kia, I'm OK... everything is alright and see you again🙂

__ADS_1


__ADS_2