Rahasia Hati

Rahasia Hati
38 (JR)


__ADS_3

Julia tersenyum menatap raskal yang mulai menjauh dari pekarangan rumah nya. Cowok itu mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang.


Julia menghela nafas.


Setelah memastikan sosok raskal tidak lagi terlihat julia pun memutar tubuh nya dan melangkah menuju rumah.


"Raskal udah pulang?" Pertanyaan nia membuat julia berhenti melangkah.


Cewek itu tersenyum menatap sang bunda yang masih sibuk dengan setrikaan nya yang masih menumpuk.


"Udah bun" Jawab julia tersenyum.


Julia menghampiri nia dan duduk tepat di samping wanita itu.


"Julia bantuin yah bun?" Tanya julia menaruh bingkisan yang di bawanya dan meraih sebuah kaos berwarna merah yang ada di depan nya.


"Nggak usah nak" Tolak nia halus.


Julia hanya diam saat nia mengambil alih kaos yang sedang di pegang nya.


"Kamu sejak kapan dekat dengan raskal dan tiara?" Pertanyaan nia membuat julia mengeryit. Tidak pernah sebelum nya nia bertanya tentang siapa teman nya atau pun yang dekat dengan nya.


"Sejak julia pindah sekolah" Jawab julia.


Nia mengangguk.


Ibu beranak 2 itu mengangguk dengan senyuman di bibir nya.


Terimakasih tuhan engkau selalu mempermudah jalan putri hamba.


"Bunda kenapa?" Tanya julia menatap bingung bunda nya.


Nia menggeleng dengan senyuman di bibir nya.


"Nggak papa sayang" Jawab nia.


"Kamu istirahat gih udah malem" Tambah nia.


Julia mengangguk.


Dengan pelan julia berdiri kemudian melangkah meninggalkan bundanya menuju kamar.


Apa yang harus gue lakuin sekarang. Kenapa bunda selalu saja menolak untuk gue bantu.


Julia membuka pelan pintu kamar nya. Ingin sekali julia membantu nia menyelesaikan pekerjaanya. Tapi nia selalu saja menolak. Julia benar benar tidak bisa memahami sikap nia sekarang.


"Jul" Belum sempat julia menutup pintu kamar nya, panggilan nia terdengar.


Julia kembali keluar kamar nya dan menghampiri bunda nya lagi.


"Iya bunda" Saut julia berdiri di seberang bunda nya.


Nia tersenyum.


Tangan nia mengulurkan sebuah bingkisan yang tadi di berikan raskal pada julia.


"Ada yang ketinggalan" Katanya.


Julia tersenyum.


Bahkan dia sampai melupakan bingkisan nya karna bingung dengan sikap nia.

__ADS_1


Julia menerima bingkisan yang di ulurkan nia.


"Kalau gitu julia masuk lagi bunda" Kata julia.


Nia mengangguk dengan senyum manis di bibir nya.


Julia kembali masuk ke kamar dan langsung menutup pintu.


Di tatap nya bingkisan pemberian raskal yang di pegang nya.


"Isinya apaan yah?" Tanya raskal pada dirinya sendiri.


Julia melangkah menuju ranjang nya.


Cewek itu mendudukan dirinya di ranjang. Tangan nya dengan pelan mulai membuka bingkisan pemberian raskal.


Sebelah alis julia terangkat ketika membuka bingkisan yang ternyata berisi sebuah kado berukuran sedang.


Julia semakin penasaran di buat nya.


"Bantal leher?" Julia tersenyum begitu membuka kado dari raskal yang ternyata berisi sebuah bantal leher berwarna pink dengan huruf JR di tengah nya.


Julia segera mencobanya.


Cewek itu mengenakan bantal itu di leher nya kemudian menghempaskan tubuh nya di atas ranjang.


Pelan pelan julia menutup matanya.


Hari ini cukup melelahkan baginya, meskipun dia tidak bekerja di toko bunga milik oma raskal tetapi belajar seharian juga berhasil menguras otak dan tenaganya.


___________________________________________


Paginya julia tampak sangat bersemangat. Gadis itu menyisir rambut nya dengan bersenandung kecil.


Nggak tau kenapa, pagi ini gue merasa sangat bahagia. Rasa semangat gue begitu berkobar. Bibir gue rasanya ingin selalu tertarik ke belakang.


Tok tok


Suara ketukan pintu membuat julia menoleh. Cewek itu menguncir rambut nya kemudian menyambar tas selempang milik nya dan melangkah menuju pintu kamar nya yang masih tertutup.


"Selamat pagii" Sapa julia saat membuka pintu. Cewek itu terus saja tersenyum menatap anya yang berdiri dengan wajah bingung menatap nya.


"Kenapa dek?" Tanya julia berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi anya.


"Kakak lama banget sih. Buruan ayo sarapan. Nanti telat" Kata anya judes.


Julia tersenyum mendengar nya.


Entah apa yang sedang terjadi pada adik nya yang tiba tiba saja bersikap begitu judes padanya.


"Oke boss" Balas julia memberi hormat pada adik nya.


Anya tidak menjawab.


Anak kecil yang sudah rapi dengan seragam pramukanya itu berlalu begitu saja meninggalkan julia yang masih berjongkok di ambang pintu kamar nya.


"Dia kenapa?" Batin julia.


Julia bangkit berdiri.


Entah apa yang sedang terjadi pada adik nya, tapi sepertinya suasana hati anya sedang tidak dalam keadaan baik.

__ADS_1


Julia menghela nafas.


Dia tidak mau ambil pusing. Mungkin saja anya marah karna uang saku nya yang kurang atau yang lainya.


"Nak, buruan sarapan" Teriak nia dari meja makan.


"Iya bunda" Jawab julia sedikit berseru.


Julia melangkah menuju meja makan yang barada di tengah ruangan rumah sederhana nya.


Ketika sampai di meja makan langkah julia terhenti melihat raskal yang sudah duduk dengan menyuapi anya yang berada di kursi samping nya.


"Raskal?" Tanya julia.


"Hy jul" Sapa raskal tersenyum manis.


Julia tersenyum manis membalas nya. Cewek itu merasa dadanya bergemuruh ketika raskal menatap nya.


Gugup sebenar nya.


Tapi julia berusaha bersikap sewajar nya.


"Ayo makan dulu julia" Kata rendy menyadarkan julia.


Julia mengangguk dan segera mengambil tempat di samping anya.


Kini anya tepat berada di tengah antara raskal dan julia.


"Kakak anterin anya dulu" Rengek anya menatap raskal.


Anak kecil itu bahkan menolak suapan raskal sebelum mendapat jawaban dari cowok ganteng itu.


Raskal tersenyum.


Dengan lembut di usapnya puncak kepala anya. Entah kenapa anya bisa seklop itu padanya. Raskal sendiri tidak tau.


"Lain kali kakak anter yah? kan sekarang kakak juga harus sekolah. Nanti kakak telat gimana?" Balas raskal.


Anya mengerucutkan bibir nya mendengar balasan raskal.


Julia yang melihat nya tertawa dalam hati.


Sikap anya memang sangat aneh. Anya terkesan selalu menuntut pada raskal seperti pacar nya saja.


"Julia ayo buruan di makan sarapan nya. Raskal sudah nunggu dari tadi loh" Ujar rendy menegur putrinya yang sibuk mendengarkan celotehan anya yang sedang merajuk.


"Oh iya ayah" Jawab julia.


Rendy menghela nafas.


Dengan lembut pria berkumis tipis itu menatap bungsunya.


"Anya biar ayah yang anter yah. Kasian kak raskal nya kalo harus mondar mandir anterin anya sama kakak" Kata rendy mencoba memberi pengertian.


"Iya ayah" Anya mengangguk lesu.


Anya memang bisa begitu penurut jika sudah berhadapan dengan ayah nya.


Nia yang sedari tadi mendengarkan hanya menggeleng. Bahkan anya sampai meminta raskal untuk menyuapinya.


Meskipun terlihat begitu lesu tapi anya tidak protes ketika julia naik ke boncengan raskal. Anya hanya menunjukan ekspresi tidak bersahabat nya melihat kakak nya dan raskal berangkat bersama.

__ADS_1


"Ayo sayang" Ajak nia menuntun putri kecil nya.


__ADS_2