
Saat di dalam pesawat menuju kota kami, Miko masih terlihat sedih. Tangan yang sedari tadi kupegang masih tetap kugenggam. Aku menatap Miko dengan sedikit cemas walaupun aku juga sangat sedih.
"Are you ok, Beb?"
Miko menoleh dan mencium dahiku.
"Kamu yang lebih aku cemaskan, jangan sampai pingsan nanti ya."
Aku menatap Miko dan hampir menangis. Bagaimana bisa dia malah mencemaskan aku sedang yang pergi adalah mamanya. Laki-laki di depanku ini bersikap kuat, walau aku tahu dia juga sangat terpukul.
"I love you."
Setengah berbisik aku memeluk lengan Miko dan menaruh kepalaku di bahunya.
"Too."
Miko kembali mengecup dahiku, entah perasaan seperti ini kah yang kami rasakan. Baru ingin memulai bahagia tapi kabar buruk datang tidak disangka.
"Aku sedih, karena semua orang tuaku pergi tanpa pamit, tanpa ada aku mendampingi. Mungkin sudah nasib seorang Miko selalu seperti ini."
"Aku janji, aku tidak akan seperti mereka. Nanti kalau aku pergi aku pastikan kamu ada di sampingku."
"Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi dariku Beb, tidak akan," tegas Miko sambil menaruh kepala di atas kepalaku.
*******
Rumah duka terlihat sangat ramai ketika kami datang. Mas Tito menyambut Miko dengan pelukan sambil terisak.
"Maafkan Mas Mik, Mas juga tidak percaya rasanya terlalu cepat. Padahal Mas ingin menelepon kamu kemarin mengabarkan Mama sakit, tapi Mama sudah pergi lebih dulu."
"Iya Mas, tidak apa."
Aku menyeka air mata yang tidak bisa kuhentikan saat masuk ke rumah. Apalagi ketika melihat Tari yang menangis di samping Luthfi. Aku bergegas menghampiri dan memeluknya. Aku tahu Tari lah yang paling kehilangan.
Dia menangis kian keras sambil memelukku, tanpa bicara apapun. Hanya menangis dan memelukku, hingga aku bisa merasakan kesedihan dan kehilangannya. Setelah beberapa saat aku baru melepaskan pelukan Tari.
"Tari... jangan sampai sakit," bisikku yang dibalas anggukan dari Tari.
Aku menoleh ke samping, terlihat kak Lina memegang tangan Mama sambil menangis. Aku segera mendekati dan memeluk bahunya.
"Maafkan Kia Kak, kami terlambat."
Kak Lina menoleh sambil menggeleng kepala. Memegang tanganku dengan tangan yang lain tanpa melepaskan tangan Mama.
"Kia... satu keinginan Mama. Kia harus bahagia agar Mama bisa tenang. Mama selalu ingat kesalahan Mama pada Kia sampai beliau mau menutup mata. Jadi kalau terjadi sesuatu dengan hubungan kalian kasih tahu Kakak, biar kita selesaikan secara keluarga."
"Kia percaya Kak, Miko orang tepat untuk Kia. Jadi Kakak jangan khawatir."
Miko mendekat saat aku berbicara dengan kak Lina, dia memelukku yang masih terisak.
"Jadi suami yang baik Mik, Kakak percaya pada kamu."
"Terima kasih Kak."
*********
Dari arah belakang tamu duduk, kulihat Mama bersama Lala juga Ikut melayat. Segera kuhampiri mereka, tak kuasa tangisku kembali terisak sambil memeluk Mama. Miko ikut mendekati kami, dengan cepat Mama melepaskan pelukanku kemudian memeluk Miko dengat erat.
"Harus kuat Mik, ini Mama kamu juga. Ingatlah kamu punya banyak orang yang menyayangi;" tegas Mama sambil menepuk bahu Miko.
Miko mengangguk lemah, aneh sekali pikirku. Mengapa sedikitpun Miko tidak menangis padahal semua saudaranya tidak bisa menutupi kesedihan. Ingatanku melayang saat kematian Papa mereka dulu , di mana Bimo tidak menangis sama sekali bahkan tidak menampakan sedikitpun raut sedih. Tapi saat itu aku tahu dia butuh kekuatan dariku. Hal itu membuatku semakin yakin bahwa Miko sekarang menyimpan kesedihan sangat dalam namun tidak nampak.
"Anak lelaki Bunda memang kuat,' sebuah suara halus membuat kami menoleh ke arah belakang. Ternyata Bunda panti juga ada di situ. Miko memeluk Bunda dengan senyum tipis menutupi kesedihan hatinya.
"Terima kasih Ma, terima kasih Bunda," ucap Miko dengan memandang Mama dan Bunda bergantian.
**********
Upacara pemakaman berjalan dengan khidmat. Terlihat semua sudah rela dengan kepergian Mama. Tari yang tadi sangat sedih sekarang agak tenang. Saat terakhir kudengar Miko bicara padanya.
"Mama sudah bahagia Tari, jangan sedih. Beliau sudah tidak merasa sakit lagi karena penyakit."
Sangat berbeda sekali sikap Miko, saat kami berdua di mobil sekarang. Tadi sebelum pulang dia masih terlihat kuat bahkan tidak ada satu tetespun air mata yang keluar saat di rumah duka dan pemakaman. Tapi sekarang raut wajah orang yang kusayangi terlihat sendu, beberapa kali dia menarik napas dalam dan menghembuskan kembali. Seperti ada sesuatu yang ditahan dari tadi dan ingin dikeluarkan dalam dada.
Segera aku pegang tangan Miko walau masih memegang setir.
"Nanti sampai rumah aku kasih pelukan hangat," bujukku.
Kalimatku berhasil membuat Miko tersenyum, dia memandang dan mencium tanganku.
__ADS_1
"Atau... lebih dari itu juga boleh," kataku sambil menyembunyikan wajah di bahunya.
Gelak tawa kecil Miko berhasil membuat suasana sedikit hangat.
*******
Suasana kembali dingin saat kami kembali ke rumah. Mama yang menyambut langsung menyuruh kami makan. Kulihat Papa dan Andi sekeluarga sudah siap di meja makan.
"Kia sama Miko mau mandi dulu Ma. Mama sama yang lain makan aja dulu."
"Nanti Mama siapkan, makan di kamar aja," ucap Mama seolah mengerti perasaan kami.
"Tidak usah Ma, nanti kita makan di sini saja," tolak Miko halus.
"Ya sudah... terserah kalian."
******
"Sudah selesai?"
Aku menyapa Lala yang berdiri ingin beranjak dari meja makan.
"Iya... Beny mau mau tidur tuh."
"Kok cepat amat, emang belum tidur dari tadi?"
"Kalau ditinggal sama Papanya, nggak akan bisa tidur."
Aku baru sadar tadi Lala ikut melayat sampai selesai bersama Mama.
"Aku duluan ya... kalian yang sabar," kata Lala sambil menepuk bahuku dan tersenyum pada Miko yang di belakangku.
Papa.juga sudah selesai makan, beliau duduk di depan televisi. Hanya Mama yang masih menemani kami.
Lama Mama memandang Miko, kemudian tersenyum kecil.
"Jangan berkecil hati Mik, Mama juga Mama kamu. Kamu sangat beruntung banyak sekali punya Mama."
"Iya Ma.... Miko sudah rela, jangan khawatir."
"Yang penting Mama kamu sudah melihat kalian menikah. Jadi sekarang cobalah untuk bahagia supaya beliau tidak menderita di sana. Semua orang punya masalah, selesaikan dengan baik tanpa menimbulkan rasa sakit pada siapapun."
"Yang Mama khawatirkan sebenarnya bukan kamu Mik tapi Kia. Ragu saja bisa tidak dia menghadapi nanti. Jadi tolong Mama berikan banyak pengertian kamu untuk Kia."
"Mama pikir Kia masih seperti dulu?"
Aku sedikit sewot mendengat ucapan Mama, bagaimana mungkin Mama masih mengira aku anak manja.
"Buktikan kalau kamu isteri yang baik. Jangan bikin Mama sangsi nanti. Miko, akhirnya Mama bisa bicara panjang lebar sama kamu. Mulai saat ini Mama tidak ikut campur masalah kalian berdua, tapi ingat Mama masih bisa kasih nasehat."
"Sekarang kalian makan, kalau bicara terus tidak akan selesai."
Mama berdiri dan membiarkan kami berdua makan.
*******
"Miko sudah masuk?" Pertanyaan Mama mengagetkan aku yang sedang membereskan meja.
"Iya Ma, Kia suruh istirahat dulu. Mungkin Miko perlu waktu sebentar untuk sendiri."
"Laki-laki kuat," desis Mama sambil ikut membantuku.
"Miko bahkan tidak menangis saat jasad Mamanya di kubur. Persis saat Bimo yang kehilangan Papanya dulu, tidak menangis sedikitpun."
"Mama masih ingat?"
"Tentu, bagaimana mungkin Mama lupa. Karena itulah awal bencana bagi kalian."
Aku terdiam, memang benar saat itulah awal masalah bagi kedua keluarga kami. Untung semua sudah berlalu kami bisa berdamai.
"Mama senang Kia, Laki-laki yang bersamamu selalu laki-laki kuat. Tapi sekuat apapun mereka pasti hatinya sangat sedih."
"Takdir Kia bagus kalau begitu Ma."
Aku duduk kembali setelah selesai semua. Rasa bingung melanda, apa yang harus aku katakan untuk menghibur Miko. Miko pastilah sedih karena kehilangan Mama dan aku bukan penghibur yang baik dalam hal ini.
Aku menghela napas panjang, biarlah kita lihat nanti saja saat bersama Miko. Mengalir saja semua semoga bisa meringankan kesedihan Miko.
*****
__ADS_1
Pintu kamar terbuka pelan, sengaja kubuka perlahan agar tidak mengganggu Miko. Takut kalau dia sedang tidur dan aku membangunkan karena suara pintu.
Tapi yang kulihat justru Miko sedang berdiri di depan balkon. Dengan secangkir kopi yang ku buat tadi sebeum dia masuk. Langit sore menjelang senja menemani Miko yang terdiam menatap pemandangan di depan jalan.
Dari belakang kulihat Miko masih berdiri di depan, sesekali dia menghembuskan napas. Aku masih diam hanya bisa memperhatikan. Perlahan bahu kekar itu bergerak turun naik. Terguncang beberapa kali dan Miko menunduk, meletakan kepala di pagar balkon tanpa menghiraukan cangkir yang jatuh di lantai.
"Suamiku menangis," teriakku dalam hati.
Tak sadar air mataku keluar, hati ini rasanya sakit sekali. Aku bahkan terduduk di depan pintu dengan menutup mulut, menahan supaya tidak bersuara. Bagamana ini, apa yang harus ku lakukan, aku masih terduduk menahan isak sambil berusaha tenang. Aku tidak mau mengganggu Miko dengan suara tangisanku.
Aku cuma bisa menatap dari jauh bagaimana Miko menahan kesedihan. Dia juga beberapa kali memukul dada, hal itu membuatku semakin tidak bisa menahan isak tangis. Pikiranku terasa ingin berlari memeluknya tapi kuurungkan karena takut Miko akan kaget. Jadi aku biarkan dia melepaskan semua dan aku menunggu saat sudah terasa tenang.
Beberapa menit kemudian Miko mengangkat kepala dan berteriak seakan melepaskan semua sesak di dada.
"Aaaaa......aaaaaa."
Perlahan kulihat Miko sudah tenang dan aku segera berdiri menghampiri walau aku juga masih terisak menangis.
"Hai Beb.... kamu baik-baik saja?"
Dengan lembut kupeluk Miko dari belakang. Miko tersentak kaget, dia mungkin tidak mengira aku datang. Kulihat dia dengan cepat mengusap wajah dan berbalik menatapku sambil tersenyum.
"Everything is ok."
"No... kenapa aku merasa kamu tidak baik."
Perlahan kupegang pipinya, benar terasa basah. Kutarik tangan Miko mengajak masuk, karena angin berhembus agak kencang.
"Ayo masuk, nanti sakit."
Dia menurut saja dan mengikuti kemauanku. Bahkan ketika aku duduk di ranjang Miko ikut tanpa membantah.
"Sini," ajakku sambil menepuk bantal.
Tapi Miko malah berbaring di paha dan memeluk pinggangku.
"Aku mau peluk kamu, tidak bisa kalau begitu. Ayo berbaring di sampingku."
Miko mengeratkan pelukan sambil menggeleng.
"Begini saja."
Lama kami terdiam, Miko cuma memainkan telapak tanganku yang di genggam dan aku mengelus kepalanya dengan lembut.
"Maafkan aku, tidak tahu cara menghiburmu. Apa kamu mau bicara sesuatu? Aku akan jadi pendengar yang baik."
Terlihat ragu dan berpikir, kemudian dia mulai menatapku.
"Mereka semua selalu pergi tanpa kata. Pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku. Selalu terpikir apa arti aku bagi mereka."
"Dulu Ibuku malah mengancamku sehari sebelum kematian. Jangan pernah berani menangis karena sedih, kalau kamu lakukan itu Ibu tidak akan memaafkan. Kata-kata itu tertanam di otakku sampai sekarang, jadi mulai saat itu sampai kini walau sedih aku hanya menangis dalam hati."
Mata Miko menerawang ke langit-langit kamar. Kesedihan terpancar di matanya membuat hatiku teriris sakit.
"Kamu berarti bagiku Beb... kamu orang yang paling berarti untukku," bisikku terbata tanpa terasa air mataku menetes di dahi Miko yang sedang berbaring menatapku.
"Hey... maafkan aku kalau membuatmu sedih," Miko kaget melihat reaksiku atas kesedihannya.
Miko segera bangun dan memelukku.
"Aku janji tidak akan seperti mereka. Tidak akan meninggalkanmu tanpa kata. Akan menyayangimu selamanya. Tidak akan pernah berani menyakitimu."
Untuk kesekian kali aku berucap janji pada Miko, supaya dia tahu seorang Kia tidak akan ingkar. Miko tersenyum lebar dan mengangguk mendengar ketegasanku Dia kemudian menghapus bulir bening di pipiku.
"I love you."
"I love you too."
***********
**Salah satu hal yang membuat laki-laki menangis adalah kehilangan orang yang disayangi. Mereka jarang sekali memperlihatkan emosi kesedihan jadi jangan salah paham tentang itu.
**Tangisan bentuk dari emosi sedih, kalau tidak menangis belum tentu tidak sedih. Jangan pula dengan menangis terlihat sangat sedih karena siapa tahu semua itu cuma palsu.
**Maaf raeder tercinta saya baru bisa update sekarang. Semoga masih ada yang mau baca novel ini. Saya sebenarnya mau ganti judul " Kia Story" judul cerita seperti biografi seorang Kia, tapi masih dipertimbangkan. Kalau ada yang mau kasih saran, dan kritik bisa tulis komen di kolom komentar.
**Terima kasih pada semua yang masih mendukung Kia. Masih mau read vote gift like dan komen. Saya terharu ternyata masih ada yang sayang sama Kia. I love kalian semua, kalian yang terbaik. Stay healthy... stay happy... stay strong and stay here with Kia. Thank you, see you next time.
.
__ADS_1