Rahasia Hati

Rahasia Hati
Di Kamu Hatiku Bermuara


__ADS_3

Miko membuka mata perlahan sambil menggerakan tubuhnya yang terasa pegal karena harus tidur dengan posisi duduk. Dia kaget melihatku tidak ada di sebelahnya lalu beranjak menuju wastafel mencuci muka dan mencari air mineral dalam kulkas.


Miko melihat ke arah clean kitchen kalau aku ada di situ, tapi ternyata kosong kemudian dia berjalan ingin menuju kembali ke ruang santai untuk membangunkan Wiwin dan Alan.


Praa...aaang.


Suara benda pecah terdengar mengejutkan saat Miko yang masih berdiri di depan meja makan. Miko langsung berlari pada asal suara yang ternyata dari arah kamarku.


"Bangun!"


Miko langsung menepuk bahu Alan dan langsung menuju ke arah kamarku. Alan langsung bangun dari tidur dan menggoyang bahu Wiwin mencoba membangunkan Wiwin juga. Alan sangat kaget melihat Miko panik yang berlari ke arah kamarku.


"Botol wine kosong, ayo lihat Kia," ajak Alan pada Wiwin yang masih mengucek matanya dan mereka bergegas menyusul Miko yang sudah duluan.


**********


Miko langsung menghampiriku yang duduk di ujung kasur dengan tangan berdarah karena menggenggam pecahan kaca pigura dan foto dua janin ku.


Aku cuma menatap Miko dengan tatapan kosong. Dengan cepat Miko meraih tanganku sambil duduk di sebelahku.


"Kenapa? Marah sama siapa?"


"Sama diriku sendiri semua salahku, kematian Bimo, perbuatan Papaku dan kematian kedua anakku, semua salahku.... kamu menjauh saja dariku jangan mendekatiku lagi," teriakku sambil menangis.


"Dia menghabiskan setengah botol wine," jelas Alan pada Miko.


Miko langsung menutup muka dengan kedua tangannya dengan perasaan menyesal mengapa sampai lupa menyimpan dan ketiduran terlalu lama serta membiarkanku bangun duluan.


Miko kemudian memelukku dan mencoba menenangkan aku yang ingin berdiri ke arah meja rias mengambil botol parfum.


"Kenapa kamu ada di sini Bim? Kenapa.... kenapa....?"


"Tenang sayang, ini aku Miko bukan Bimo, tenang Kia," kata Miko sambil memelukku erat.


Aku berteriak histeris dambil menangis dan Wiwin panik melihat keadaanku yang seperti tidak mengenali Miko bahkan menganggapnya Bimo.


"Aku akan telpon Dokter kunjungan ke rumah, Miko tenangkan Kia dulu," kata Wiwin langsung keluar.


Miko masih memelukku sambil mengelus kepalaku, berbicara perlahan dan memanggil namaku dengan lembut mencoba membuatku diam. Setelah merasa agak tenang Miko melepaskan pelukannya perlahan dan melihat darah yang masih menetes di tanganku.


Dengan cepat Miko memgambil kotak obat yang ada di dinding depan kamar mandi. Dia lalu membasuh tanganku dengan air supaya bersih dari darah, mengoleskan salep luka dan membalut dengan perban.


Miko memandangku yang masih diam sambil tersenyum.


"Berhenti lah membenci dan menyalahkan diri sendiri, masih banyak yang menyayangimu Kia."


Aku cuma memandang Miko sambil menangis karena pengaruh wine hingga aku menganggap Miko adalah Bimo. Memang secara fisik mereka tidak berbeda tapi itulah yang ku alami sekarang.


"Satu lagi, jangan meyuruhku pergi dari kamu, bagaimana mungkin aku menjauh dari kamu karena hatiku dari dulu sampai sekarang semua terisi dengan seorang wanita yang bernama Saskia."


Miko mengatakan semua dengan pelan dan tulus sambil memelukku. Air mataku mengalir deras bagaimana aku bisa menghadapi semua, Miko terlihat sangat tulus sekarang sedang aku masih saja belum bisa percaya diri sepenuhnya.


Dokter Dian, spesialis psikiater langananku datang langsung masuk ke kamarku, Miko langsung minggir dan berdiri memberi tempat untuk Dokter dekat denganku. Dokter lalu duduk di sampingku sambil memegang tanganku memeriksa denyut nadi tanganku.


"Tidak bisa tidur lagi Kia? Di infus saja ya, biar bisa tidur supaya tenang dan menurunkan kadar alkohol nanti baru kita bicara," bujuknya.


Aku menurut saja ketika Dokter mulai memasangkan infus dan berbaring kembali mencoba tidur. Wiwin duduk di sampingku sambil mengelus belakangku, dia berbicara dengan Dokter Dian. Lama kelamaan aku mulai mengantuk karena obat yang disuntik ke dalam cairan infus mulai bereaksi.


*********


"Untung tidak collapse, bahaya sekali kalau anti depresan di minum bersama alkohol, untung cuma halusinasi coba kalau kena serangan jantung," kata Dokter Dian sambil duduk di sofa.


"Aku lupa, aku yang salah," sesal Miko.


"Aku sudah tambahkan dosis obatnya mungkin Kia akan tertidur lama," jelas Dokter Dian.


"Sementara jauhkan dulu Kia dari wine, kalau cuma satu atau dua gelas masih bagus tapi kalau kelebihan sangat bahaya."


"Skizofrenia?"


"Tidak separah itu, Kia cuma terkena PTSD ringan, bisa sembuh tapi lingkungan harus mendukung dan menyingkirkan semua pemicu yang mengakibatkan naiknya tingkat kecemasan dan kepanikan,"


Dokter Dian meminum teh yang disediakan Wiwin dan memberikan resep obat yang harus kuminum.


"Bagaimana kalau pemicu kecemasannya adalah keinginan saya untuk menikah dengan Kia, Dok?" tanya Miko.


Miko lalu menceritakan semua kisah yang ku alami dari awal tapi Dokter Dian menyela bahwa aku sudah menceritakan semuanya. Tapi ketika Miko mengatakan bahwa di adiknya Bimo, Dokter Dian langsung kaget lalu menatap Miko dengan tidak percaya.


"Kamu... jadi kamu adiknya dan kalian berhubungan serius bahkan ingin menikah?"


"Apa menurut Dokter itu tidak bisa dilakukan, apa saya harus membatalkan semua demi kesehatan mental Kia?"


Miko terlihat agak cemas menunggu jawaban Dokter Dian.


"Tapi bukankah ada seseorang disamping Kia itu lebih baik?"


Wiwin menimpali pembicaraan Miko seperti ingin menguatkan Miko bahwa keinginannya tidak salah dan mereka semua sangat menyetujui sebagai teman yang mendukung Miko.


"Sebenarnya bagus kalau ada seseorang disamping Kia, tapi karena kamu adalah seseorang yang berhubungan dekat dengan orang yang memberikan trauma pada Kia, memang agak sulit jadinya," jelas Dokter Dian.


"Saya tulus ingin menikah Dok," lirih Miko.


"Nanti kita bicarakan lebih lanjut, ini kartu nama saya nanti kalau Kia bangun usahakan jangan membicarakan tentang pernikahan dulu cukup temani dan dampingi saja."


Dokter Dian pamit dan Wiwin mengantar sampai ke depan.


"Apa efeknya seperti itu Dok? Berapa lama pemulihan nya?" tanya Wiwin sambil membuka pintu pagar depan.


"Tergantung situasi, kalau Kia bangun telpon saya, jelaskan keadaannya nanti," pinta Dokter Dian sambil membuka pintu mobil.


"Baik Dok, saya akan menghubungi Dokter nanti."


*************

__ADS_1


Miko memandang kepergian Dokter Dian di depan kaca depan dan Alan ikut berdiri disampingnya.


"Bagaimana Miko? Apa rencana kamu selanjutnya?"


"Aku juga bingung, heh... aku tidak menyangka serumit ini keadaannya," jawab Miko.


"Ambil cuti minggu ini, temani Kia aku akan ke kantor cabang menggantikan kamu sementara."


"Tidak usah, Kia saja yang ambil cuti aku akan bawa dia pulang ke orang tuanya."


"Aku setuju," sahut Wiwin.


"Aku akan urus semua masalah kantor, Kia sembuh itu lebih penting, Miko jangan putus asa aku mohon," kata Wiwin menatap Miko.


Miko mengangguk menegaskan pada Wiwin bahwa dia tidak akan mundur dan menjauh dariku hanya karena masalah ini. Dia sudah berjanji pada Bimo, keluargaku bahkan dirinya sendiri untuk mendampingiku dan itu tidak bisa di ingkari lagi. Dia tidak mau nanti berhadapan dengan Andi kalau mundur dari semua janji yang diucapkannya pada Papaku.


Yang paling penting bagi Miko tetap akan menggenggam cinta pertamanya yang sekarang berada dalam tangannya dengan sekuat yang dia bisa, tak pernah terlepas lagi seperti dulu saat Bimo merebutnya karena dia sangat menyesal melewatkan semua rasa begitu saja tanpa berjuang sedikitpun.


"Kalau kalian mau pulang silahkan, aku akan menjaga Kia disini," kata Miko pada Alan dan Wiwin.


"Nanti setelah Kia bangun aku pulang, kamu di sini saja nanti aku ambilkan keperluan kamu dirumah telpon orang rumah untuk menyiapkan semuanya," suruh Alan pada Wiwin.


************


"Ayo makan dulu," ajak Wiwin ketika Miko selesai mandi dan ada Alan juga yang sudah siap di meja makan.


"Aku masak yang ada di kulkas saja, sepertinya Kia belum belanja jadi kupakai bahan yang ada, semoga enak ya."


"Wah, ideal nih Lan dia pintar masak," goda Miko pada Alan sambil menonjok pelan bahu Alan.


"Kalau Kia tidak bisa masak, bagaimana denganmu?"


"Hey... aku mau cari isteri bukan pembantu, tidak masalah tak bisa masak yang penting sayang sama aku."


"Tapi Kia pintar cari duit, balanced lah tak bisa masak bisa cari duit," sahut Wiwin.


"Kalau bisa dua-duanya sih, paket lengkap jadinya," kata Alan sambil tertawa.


"Huh... serakah, mana ada manusia sempurna semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing tergantung kita menyikapinya."


Miko lalu memakan sarapan yang dibuat oleh Wiwin demgan lahap memang sudah lapar sekali sepertinya dia. Wiwin menyerahkan gelas berisi air putih pada Miko dan duduk di samping Alan, dia juga mulai memakan sarapannya.


"Kalian kapan diresmikan?" tanya Miko pada Alan.


Wiwin langsung tersipu sambil memandang Alan dengan tajam.


"Iya nih, kapan?"


"Hmmm... tidak peka sekali jadi lelaki," sahut Miko sambil tertawa kecil.


"Bukan begitu, ini masalah serius dan aku tidak mau terburu-buru," jawab Alan.


"Alasan saja itu kasih waktu Win kalau lepas target tinggalkan saja, menunggu mau sampai kapan lagi."


"Jangan dengarkan provokator nih, iya... akan secepatnya sabar sayang," bujuk Alan dengan rasa salah tingkah yang membuat Miko tertawa keras.


Wiwin mendelik pada Alan dan meneruskan sarapan begitu juga dengan yang lain.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini mengenai masalah Kia?" tanya Alan pada Miko.


"Buat Kia tenang dulu, aku akan membawanya ke sumber masalah ini nanti yaitu Bimo dan Papanya, aku ingin melihat reaksi Kia ketika aku mengatakan nanti pada Bimo akan menikah dengannya."


"Bagaimana kalau makin parah? Miko jangan terlalu memaksa semua bisa satu-satu diselesaikan."


Wiwin menatap Miko dengan perasaan cemas, dia sepertinya mau menghalangi niat Miko.


"Cepat atau lambat ini pasti terjadi, Kia harus berani menghadapinya dan aku akan ada disisinya tidak pernah menjauh agar dia tetap merasa di dampingi."


"Semua harus di selesaikan dari awal dari akar masalahnya, Kia tidak perlu takut masih banyak yang mendukungnya, aku dan kalian contohnya belum lagi keluarga, dia harus tahu bahwa untuk melangkah ke jenjang berikutnya ada hal yang harus dilewati walau tidak mudah."


Miko seakan menegaskan bahwa dia ingin sekali aku bisa membuang trauma masa lalu dan hanya membuatnya menjadi pelajaran saja karena bukan saja dia ingin secepatnya menikah denganku tapi juga ingin membuat semuanya lebih baik.


************


Miko berdiri di depan pintu kamarku, menatap aku yang masih tertidur. Berjalan perlahan mendekatiku dan duduk di ujung ranjang sambil memperbaiki selimutku.


Dia memegang tanganku yang di perban karena pecahan kaca sambil menghembuskan napas panjang menaruh air mineral ditangannya ke atas nakas masih memandangku.


Ingin sekali rasanya Miko membuat aku melupakan dan menghapus Bimo dari hatiku tapi itu sesuatu yang tidak mungkin tapi setidaknya dia sudah senang bahwa aku membuka hati untuknya sekarang.


Perlahan aku membuka mata dan menatap Miko yang duduk tersenyum di depanku.


"Hai... sayang."


Miko menyapa sambil memberikan botol air mineral padaku yang pelan beranjak lalu duduk walau kepalaku masih pusing. Aku meminumnya dan kembali berbaring sambil memegang tangannya, menutup wajahku dengan selimut karena malu.


"What scary face?"


"No... you look so sweet, very sweet," jawab Miko sambil menyibak selimut yang menutup wajahku.


"Ah, bohong," sungutku sambil menutup kembali.


Miko tertawa ketika melihatku makin menutup mukaku dengan bantal tapi di ambil Miko dengan cepat.


"Sepertinya sudah baik, kalau sudah merasa malu dengan wajah bangun tidur."


Aku langsung cemberut dan turun dri ranjang perlahan lalu menuju kamar mandi dengan di bantu Miko karena aku merasa masih pusing.


********


Wiwin langsung masuk kamarku ketika mendengar aku bangun dan dia menunggu aku keluar dari kamar mandi.


"Siapa aku?" tanyanya ketika aku baru keluar dan aku langsung memeluknya dengan senang.

__ADS_1


"Cinta aku," jawabku pelan.


"Waah, yang benar saja lalu aku ini siapa?"


Miko tidak terima dengan jawabanku dan Wiwin tertawa mendengarnya.


"Aku ambilkan bubur, tadi aku buatkan untuk kamu."


Wiwin langsung keluar mengambilkan bubur untukku. Miko masih duduk di ranjang sambil tersenyum padaku. Aku juga duduk di sampingnya, tak lama Wiwin datang membawa makanan untukku.


Aku mulai memakannya sampai habis dan meminum obat yang di berikan Wiwin. Akhirnya Wiwin pulang dengan Alan setelah menelpon Dokter Dian dan mengatakan aku akan ke klinik minggu depan.


*************


Miko menatapku yang berbaring di depannya kemudian ikut berbaring menghadap padaku.


"Besok kita pulang ke rumah ya, bertemu dengan Papa dan Mama," ajaknya.


"Sudah izin cuti nanti Wiwin yang urus, pekerjaan di handle Lisa saja cek semua lewat online nanti aku bantu," lanjutnya.


"Thank you...buat semuanya."


"I am your man, don't forget it," kata Miko sambil menyentuh dahi ku perlahan dan aku cuma mengangguk.


"Kenapa mau seperti ini dan sebegitu baik padaku?"


"Kia bagiku bukan hanya seseorang yang kucinta saja tapi juga orang yang membuatku merasa sebagai pelindung, serta dari awal dan akhir tempat dimana hatiku bermuara."


"Membingungkan sekali."


"Akan kujawab semua dengan jelas nanti saat kita pulang, aku janji akan menceritakan semuanya."


Aku memandang Miko dengan rasa percaya yang penuh karena aku adalah orang yang tidak pernah ingin memaksa siapapun menceritakan apa yang ingin disimpannya. Bagiku yang lebih penting adalah Miko mau bersama dan menemaniku seperti sekarang ini, itu sudah lebih dari cukup. Aku merasa sangat bahagia dengan perlakuannya yang membuatku merasa jadi orang istimewa di matanya.


Miko mengambil hanphone dan memutar lagu yang sangat menyentuh. Aku tersenyum ketika melihat Miko yang ikut menyanyikannya dengan pelan sambil memegang tanganku.


Kau adalah puisi hati


Di kala rindu tak bertepi


Kuingin kau ada


Saat 'ku membuka mata


Hingga 'ku menutupnya kembali


Kau sirnakan kabut kelabu


Di sabana pencarianku


Bagai embun pagi


Kau lepaskan dahaga kemarau hati


Kaulah lukisan pagi


Yang kugambar untuk senjaku


Kaulah selaksa bunga


Yang warnai musim semiku


Di kala hati ini gundah


Kau membuatnya menjadi cerah


Kaulah matahariku


Dan kaulah samudra


Tempat hatiku bermuara


Kau jawaban dari doaku


Yang akhiri penantianku


Bagai bintang jatuh


Kau hadirkan harapan di dalam hati


Kaulah deburan ombak


Yang pecahkan batu karangku


Kaulah gugusan bintang


Yang hiasi malam gelapku


Di kala hati ini gundah


Kau membuatnya menjadi cerah


Kaulah matahariku


Dan kaulah samudra


Tempat hatiku bermuara


Song tittle Muara by Adera.


***********


**Saat terluka tanyakan pada diri sendiri, "layakkah hatiku diisi dengan kebencian serta menempatkannya begitu lama dalam hati, apakah tidak lebih baik menghapusnya saja dengan satu kata maaf dan menumbuhkan kembali rasa cinta juga semangat?"

__ADS_1


**Selamat membaca semoga semua bisa bermanfaat, terima kasih sedalamnya buat pembaca dan mohon maaf jika ada kesalahan di novel ini, I'm just an ordinary human who is still lacking. Sehat selalu dan salam paling hangat dari Kia.


__ADS_2