
Mama membuka pintu kamarku saat aku sedang mencoba berbaring karena merasa capek di seluruh tubuhku. Seharian tidak ada istirahat padahal di mobil tadi aku mau tidur tapi tidak enak karena Miko sendirian menyetir. Terpaksa aku tahan kantuk supaya bisa menemaninya walaupun berulangkali Miko menyuruhku untuk tidur.
Mama duduk di ranjang dan aku langsung bangun menatap Mama. Firasat ku mengatakan Mama pasti akan menunggu aku bicara dan mengatakan semuanya.
"Kia akan cerita Ma."
"Tapi apa harus sekarang?"
"Kia sedang capek Ma."
Tapi Mama tidak bergeming tetap duduk akhirnya aku menyerah, aku jadi tersenyum ternyata sifat Mama kalau sudah ingin tahu persis seperti aku, tidak bisa di tunda.
"Kia lagi mencoba serius dengan Miko," jelasku pelan.
"Tidak ada coba-coba lagi sekarang harus pasti, Mama tidak mau ada kejadian salah paham untuk kedua kalinya dengan keluarga Bimo yang juga keluarga Miko."
"Kenapa semua ingin Kia menikah dengan Miko harus terburu-buru sih, yang menjalani semua adalah kami Ma, Miko saja mau menunggu kapan Kia siap."
"Tidak ada kata tunggu, lebih cepat lebih baik jangan menolak kesempatan yang ada di depan mata, Mama bisa tahu Miko sangat serius denganmu karena mau saja saat Papa panggil dengan nama Bimo."
"Biarkan Kia yang memutuskan Ma," pintaku pada Mama karena aku sampai sekarang tidak bercerita apapun tentang trauma yang ku alami semua disimpan sendiri.
Mama langsung memelukku dan tiba-tiba melepaskannya.
"Oh ya, Rima kemarin ke sini bersama keluarganya saat acara syukuran salon mobil."
"Benarkah?"
"Iya....."
"Apa kalian masih tidak berhubungan satu sama lain?'
Aku menggeleng kepala sambil bersandar di bahu Mama.
"Apa masih sakit hati?"
"Jangan begitu sama teman, kalian berteman dari kecil masa hanya masalah seperti itu bisa tidak saling sapa sampai sekarang."
Aku cuma diam masih bersandar di bahu Mama sambil memainkan jari tangan Mama.
"Iya... nanti Kia coba hubungi Rima sama Nisa juga," janjiku dengan pelan.
"Apa Kia sanggup Ma, menikah dengan Miko?"
"Dengar!"
"Kamu harus mencoba, Mama ingin sekali Kia seperti yang lain punya pasangan juga punya anak seperti Bena dan Beny."
Hatiku langsung sakit ketika mendengar kata-kata Mama. Tak terasa air mataku jatuh, Mama tidak tahu bagaimana aku menyimpan rapat tentang vonis Dokter.
"Mama..."
Aku terisak memanggil Mama sambil memeluk tubuh Mama dan menyembunyikan tangisku di dalam pelukan Mama.
"Katakan pada Mama apa yang Kia rahasia kan selama ini?"
Tangisku makin keras dan aku cuma bisa menggeleng kepala sambik memeluk Mama yang membelai kepalaku dengan sayang.
"Jangan di simpan sendiri, katakan semua pada Mama."
"Apa karena dua janin kamu yang telah tiada?"
Aku langsung melepaskan pelukan Mama dan betapa kagetnya aku ketika Mama langsung membicarakan hal itu. Aku sangat tidak menyangka Mama mengetahui semua kisah itu. Mataku yang masih berderai air mata menatap Mama dengan nanar.
"Mama tahu semua yang Kia simpan? Siapa yang bilang Ma ?"
"Tidak penting siapa yang kasih tahu, tapi kebenaran sudah di amini oleh Bimo saat terakhir Mama bertemu di rumah sakit."
Mama menangis terisak saat mengatakan hal itu sambil kembali memelukku. Kami berdua menangis bersama, Mamaku selama ini tidak pernah menanyakan hal itu padaku karena tidak mau menambah kesakitan pada hatiku.
Aku juga tidak mau mengatakan semua pada Mama karena tidak ingin menambah beban pikiran pada orang tuaku, lagi pula aku merasa saat itu bukan anak yang baik bagi mereka.
Selama ini kami semua saling menyimpan rahasia dalam-dalam dengan maksud tidak akan melukai siapapun. Tapi kenyataan sangat berbanding terbalik, kami semua yang sangat terluka. Jadi siapa diantara kami yang sangat benar dan yang sangat sakit, tidak ada yang tahu bagaimana ketakutan itu masih bisa membuat aku merasa tidak percaya diri untuk menikah.
Semua merasa benar dan semua merasakan sakitnya jadi langkah yang kami ambil saat itu benar-benar meninggalkan penyesalan yang teramat dalam. Seandainya saja waktu dapat di putar kembali, aku akan berteriak mengatakan semuanya dan tidak akan mau menyimpannya sendiri. Aku, Bimo, keluargaku, keluarga Bimo, semua terluka. Walau akhirnya aku harus berujung dengan Miko tapi dia juga pernah tersakiti oleh keadaan yang disebabkan keluarganya sendiri.
"Kia divonis susah punya anak Ma dan Kia masih trauma dengan menikah, apa yang harus Kia lakukan?"
"Mama akan bersamamu, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini serahkan semua pada yang di atas, cobalah untuk bersama Miko semua pasti akan mendukungmu."
Aku langsung memeluk Mama kembali, nyaman sekali rasanya berada di dekat orang-orang yang menyayangiku. Sekarang aku hanya akan fokus dengan orang yang mencintai dan menyayangiku saja karena mereka pasti akan menggenggam tanganku saat aku terjatuh dan memerlukannya.
**********
Suasana meja makan saat pagi hari sangat berwarna dengan teriakan dan celotehan Bena si cantik anaknya Andi.
"Kapan datang? Kok aku tidak dengar?"
"Tadi malam bersama Bimo," sahut Papa yang membuat Andi langsung memandangku dan memberi isyarat.
"Miko?"
__ADS_1
"Iya... tadi malam sudah agak larut jadi Miko langsung pulang," jelasku sambil mengambil segelas teh hangat yang diberikan Lala.
"Cepat Ayah, mobil jemputan datang tuh," kata Lala pada Andi sambil menunjuk mobil perusahaan yang dari tadi menunggu di depan.
Andi langsung berdiri mencium Isteri, kedua anaknya serta minta izin pada Papa dan Mama.
"Aku akan telpon Miko, mau buat janji bertemu nanti malam," ujarnya sambil berlari ke depan.
"Hey... tidak usah ikut campur urusanku," seruku sambil mengangkat sendok yang ku pegang.
"Andi selalu begitu," gerutu ku dan Lala cuma tertawa melihat aku jadi kesal.
"Bilang sama Papa jangan ganggu urusan Mama Kia," suruhku pada Bena yang duduk di sebelahku sambil menggelitiki pinggangnya.
" No...no...no, Papa Bena paling the best," katanya sambil tertawa geli.
***********
Aku memandang bangunan di depanku, ini adalah sekolahku dulu saat masih SMA. Terlihat sekarang sangat modern bangunannya lebih bagus dan bertambah banyak. Taman didepan yang dulu ada sekarang berubah menjadi bangunan, pohon-pohon yang dulu banyak sekarang sudah tidak ada diganti dengan bunga-bunga cantik.
Aku sengaja ke sini ingin bertemu dengan Rima sesuai dengan janjiku pada Mama untuk memperbaiki semua kesalah pahaman dengan perlahan dan satu demi satu. Dadaku berdegup kencang karena gugup merasa khawatir reaksi Rima seperti apa nanti. Apakah dia akan membenciku atau malah senang bertemu denganku.
Aku melangkahkan kaki perlahan dan bertanya pada petugas piket yang ada di depan. Petugas itu lalu masuk ke dalam kantor dan menyuruhku menunggu di kursi depan.
"Masih sama cuma catnya saja yang berbeda," guman ku pelan.
Aku langsung terperangah kaget ketika sebuah tangan menepuk belakangku dengan agak keras. Kulihat Rima sedang terisak sambil memandangku.
"Teman jahat, berani memutus tali persahabatan hanya karena masalah kecil, kalau sekali lagi mengulanginya aku benar-benar akan membencimu."
Aku tersenyum sambil menghapus air yang bergulir di pipiku karena merasa sangat terharu dengan reaksi Rima. Dia menangis saat melihatku datang berarti dia sangat merindukan dan menyayangiku.
"Siapa yang dulu mengkhianati aku, minta maaf sekarang atau aku benar-benar meninggalkanmu selamanya," rajuk ku.
Rima langsung memelukku, kami berdua menangis bersama sampai lupa kalau ada petugas piket yang memandang kami dengan wajah bingung.
Rima menarikku agar mengikutinya ke sebuah ruangan dari yang kulihat mungkin ruangan kantornya.
"Apa yang membuat kamu ke sini?"
"Tidak boleh? Heh... masa aku punya niat baik tidak di apresiasi, pulang saja ah."
"Ihh... dasar plin-plan, jelaskan sekarang."
"Maafkan aku sudah membuat persahabatan kita renggang, eh putus," kataku sambil tertawa kecil menggoda Rima.
"Aku sangsi kalau kamu tulus."
Aku cemberut memandang Rima dengan kesal. Benar aku merendahkan diriku dengan meminta maaf bukan karena aku bersalah tapi karena aku tidak mau memperlebar masalah kami dan aku juga akan memulai hidup baru dengan Miko jadi mau tidak mau aku harus membereskan semua masalah satu persatu.
"Kalau aku datang dengan kata damai saja masih diragukan ya sudah, anggap saja selesai sampai di sini, sebenarnya tanpa kamu pun aku masih bisa hidup dengan baik," kataku sambil membuang muka seolah merajuk.
"Heh, dasar jahat, siapa yang bilang aku meragukanmu, aku menyayangimu Kia, tanpa kamu tahu aku tetap mendoakan kebahagiaan untukmu," isak Rima memelukku.
Sirna sudah kemarahan yang selama ini tinggal di hati kami. Aku lega sekali Rima masih seperti dulu sahabatku yang menyayangiku. Apapun masalahnya itu cuma sebuah angin kecil yang menyapu rasa sayang kami sebentar saja kemudian kembali dengan kata maaf. Kami berjanji ke depan akan lebih meluangkan waktu untuk bersama walau cuma sebentar.
***********
Nisa tersentak kaget ketika membuka pintu depan rumahnya karena melihat aku berdiri tepat di depannya. Dia tidak bisa menahan tangisnya dan langsung memelukku.
"Astaga Kia, kemana saja kamu baru sekarang bisa ke sini," katanya terbata-bata.
"Aku kangen banget sama kamu Nis," isakku masih dalam pelukan Nisa dengan waktu agak lama.
"Kamu tahu rumahku terbuka kapanpun kamu mau masuk," jelasnya sambil mengusap bekas air mata.
Nisa menarikku untuk duduk di sofa depan.
"Bagaimana kamu serius kan dengan Miko?"
"Tahu dari mana?"
"Luthfi yang cerita."
"Wah, kenapa sekarang Luthfi kayak perempuan ya, suka gosip."
"Ihh... Luthfi keluargaku, lagipula dia cuma cerita denganku."
"Apa sudah menyebar di sini beritanya kalau aku akan serius dengan Miko? Bagaimana menurutmu apa akan jadi gosip yang hot karena aku akan menikah dengan adik tiri Bimo?"
"Kenapa suka memikirkan perkataan orang sih, yang penting itu kamu, Miko, temanmu dan kedua keluarga semua mendukung, penilaian orang tidak usah perduli."
"Aku belum bertemu dengan keluarga Bimo, apa mereka sudah tahu?"
"Kalau Mamanya sepertinya belum, tapi Tari kayaknya sudah tahu, dia sekarang dekat dengan Luthfi."
"Hah, Luthfi juga serius dengan Tari?"
"Iya."
Aku kaget sekali mendengar penjelasan Nisa kalau Luthfi akan menikah dengan Tari mereka bahkan sudah mendaftarkan pernikahan secara sah tinggal acara peresmian saja.
__ADS_1
Benar-benar tidak kuduga selama ini aku masa bodoh dengan kabar berita siapapun dan sekarang aku terlihat seperti orang bodoh yang kaget mendengar berita teman-temanku. Bukan tidak mau tahu tapi aku saja yang sering malas mendengar hal-hal berlabel gosip, lebih baik tidak tahu sekalian.
*********
"Kak Kia.........."
Tari berteriak memanggil namaku ketika aku keluar dari mobil. Dia sedang duduk di depan rumah dengan Mamanya sepertinya sedang santai dan aku tersenyum melambaikan tangan.
Dengan cepat aku berjalan menuju tempat mereka duduk. Terlihat Mama Bimo juga melambaikan tangan ke arahku. Beliau duduk di kursi roda dengan tersenyum senang memandangku yang berjalan ke arah teras rumah.
Aku menghampiri Mama Bimo yang juga Ibu tiri Miko. Beliau langsung memegang tanganku sambil tersenyum. Tari memandangku sambil tersenyum penuh arti ternyata benar yang di katakan Nisa, Tari sudah mengetahui hubunganku dengan Miko.
"Apakah sangat sibuk sekali, sampai tidak sempat menjenguk Mama?"
"Lagi sibuk Ma, banyak acara kantor yang tidak bisa ditinggal."
Aku menjawab pelan sambil memandang wajah Mama, orang yang melahirkan lelaki yang pernah menyayangiku. Aku sebenarnya sangat ingin melihat reaksi Mama tentang hubunganku dengan Miko tapi aku urungkan karena menunggu Miko yang bicara.
Tapi dari tadi Tari menatapku penuh arti sambil tersenyum kecil.
"Ini tabungan Bimo dulu Ma, sudah saatnya Kia serahkan sama Mama," kataku sambil menyerahkan buku tabungan dan ATM milik Bimo yang diserahkan Luthfi sesudah Bimo meninggal.
"Mama tidak mau, itu milik Kia."
"Bukan Ma, ini milik Bimo."
"Mama mohon Kia jangan seperti ini, Bimo meninggalkan untukmu jangan di berikan pada Mama," isak Mama Bimo sambil kembali memberikannya padaku.
Aku menurut saja karena tidak mau membuat Mama teringat dan merasa sedih pada Bimo lagi. Kulihat Mama Bimo menangis sambil menutup muka dan aku jadi merasa bersalah.
"Maafkan Kia Ma, bukan maksud Kia membuat Mama sedih."
Mama Bimo membuka tangan yang menutupi muka sambil memghapus air mata dan menatapku. Beliau memegang tanganku dan mencoba tersenyum.
"Ayo... sekarang Kia fokus sama diri sendiri, menikah dan buka hati selebarnya dengan orang yang bisa membahagiakan Kia, jangan selalu teringat Bimo yang sudah di alam sana."
Aku menatap Mama Bimo, tak terasa aku ikut menangis mendengar kata Mama Bimo yang menyuruh aku merelakan kepergian Bimo. Aku langsung memeluk Mama Bimo sambil terisak, sekarang aku harus kuat karena Mama Bimo sudah berkata seperti itu.
Berarti Beliau sudah menerima dan berdamai dengan masa lalu karena bisa memegang tanganku dengan tulus. Hatiku jadi agak resah bagaimana kalau Beliau tahu aku sedang serius dengan anak tirinya yaitu Miko. Lamunan ku tersentak ketika Mama Bimo menarik tanganku mengajak masuk ke dalam.
********
Aku tersenyum saat melihat kamar Bimo dulu yang sekarang sudah berganti jadi kamar Raffa anaknya Tari. Raffa sudah besar sekarang, dia tersenyum saat melihatku masuk.
"Tari senang akhirnya Kak Kia menjadi Kakak Tari beneran sebentar lagi," bisik Tari padaku.
Aku langsung tersenyum, di rumah ini cuma Tari yang sangat tulus menyayangiku dulu saat semua orang membenciku dan menyalahkan aku. Tari memegang tanganku dan mengangguk tanda dia sangat senang.
"Kapan peresmian dengan Luthfi?"
Tari terkejut ketika kutanyakan dia tidak menyangka aku sudah mengetahui semuanya.
"Mungkin awal bulan depan pesta sederhana saja Kak, malu udah punya anak besar," jawab Tari pelan sambil menunjuk Raffa yang sedang berbicara dengan Neneknya.
"Bagaimana dengan Ayah Raffa?"
"Dia juga sudah punya Isteri dan anak lagi, jadi tidak masalah," jawab Tari.
"Selamat ya, semoga langgeng sampai nanti."
"Terima kasih doanya Kak."
"Aku jadi ingin bertemu Luthfi sekarang," godaku pada Tari sambil tertawa.
"Nanti malam dia datang, biasa membawakan makanan buat Mama."
Tari menarikku ke arah dapur supaya menjauh dari Mamanya yang sedang bicara dengan Raffa di ruang tamu.
"Mama sudah tahu kok, hubungan kalian tapi menunggu Kak Miko meminta izin,"
"Benarkah?"
"Beliau senang sekali tadi saat Kak Kia datang, sepertinya menahan semua supaya jangan terucap makanya Mama menangis."
"Oh... itu Kak Miko datang," seru Tari sambil menunjuk ke arah halaman depan rumah, saat itu sebuah mobil berhenti dan tak lama ku lihat Miko keluar dari dalam mobil.
***********
**Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku pasti akan berusaha memperbaiki semua kesalahan yang telah terjadi. Bukan hanya untukku saja juga untuk semuanya. Tapi itu semua tidak mungkin jadi sekarang hanya bisa memperbaiki semua secara perlahan dan kembali bersemangat demi diri sendiri.
**Jangan pernah lupakan tiga orang dalam hidupmu :
Orang yang membantu kamu dalam kesulitan.
Orang yang meninggalkan kamu dalam kesulitan.
Orang yang menempatkan kamu dalam kesulitan.
*Terima kasih Pembaca sudah mau membaca novel ini, sekali lagi maafkan saya yang hanya bisa update 1 minggu sekali. Semoga bisa di maklumi beginilah saya adanya. Stay healthy, stay happy and stay here with me, thank you😊.....
__ADS_1