
Tidak lama kemudian Tara keluar dari ruang perawatan dan dia sangat senang akhirnya bisa melihat putranya dengan dekat dan membelai rambutnya.
Hanya saja disayangkan karena saat itu anaknya sedang tidak berdaya. Bahkan dia tidak membuka matanya sama sekali. Dia terus terpejam dan banyak alat ditubuhnya.
Tara tidak mengerti dengan cara pengobatan modern. Tapi karena dia ingin agar putranya sembuh, dia tidak keberatan dengan cara pengobatan seperti itu.
Silsila cepat berdiri begitu melihat Tara keluar dari ruang perawatan.
Silsila langsung menarik tangan Tara dan menyuruhnya menjauh dari putranya.
"Jika kau sudah selesai, pergilah. Karena dirimu kami mengalami nasib sial seperti ini." kata Silsila dengan sombong.
"Tahan kemarahanmu Silsila. Kita sedang dirumah sakit. Jagalah sikapmu dan jangan membuat keributan disini. Bagaimana pun Tara sudah mendonorkan darahnya untuk Raka. Dan.... terimakasih Tara. Tapi sebaiknya kau boleh meninggalkan ruangan ini." Kata Bara.
Silsila tersenyum puas dan pura-pura menangisi Raka.
"Raka kesayanganku....maafkan ibu nak. Karena ibu kau jadi seperti ini ....hiks" tangis Silsila sengaja dibuat-buat.
Bara meraih Silsila kedalam pelukannya dan Silsila menatap sini pada Tara yang diajak pergi oleh Zayn.
"Ayo Tara, kita tunggu disana." kata Zayn mengajak Tara untuk menunggu Raka ditempat lain.
__ADS_1
"Tapi aku ingin tahu bagaimana keadaanya setelah aku memberikan darahku." Kata Tara.
"Tenanglah Tara. Raka pasti akan baik-baik saja." Kata Zayn memberikan sugesti positif padanya.
Tara bersandar pada pundak Zayn dan Zayn mengusap rambutnya yang halus.
"Aku sangat hancur melihat anakku dalam kondisi seperti ini." Kata Tara sambil mengusap airmatanya.
"Dia pasti akan sembuh. Kau berdoa saja." Kata Zayn menguatkan Tara.
Ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya tidak berdaya. Meskipun anaknya tidak mengenalinya tapi bagaimanapun seorang ibu tetap mencintai anaknya lebih dari dirinya sendiri.
"Kalian boleh masuk kedalam. Keadaanya sudah lebih baik." Kata Dokter memberitahukan pada Bara dan juga Silsila selaku orang tuanya secara hukum didunia modern.
"Jangan Tara. Raka tidak mengenalimu, jika kau kesana dan terjadi keributan, maka dia akan ketakutan dan semakin takut bertemu denganmu. Dia masih kecil. Dia hanya mengenali orang yang sering dia lihat setiap hari." Kata Zayn dan akhirnya Tara duduk kembali.
Tara terus menatap pintu itu dan menunggu hingga Bara dan Silsila keluar dan akan bertanya bagaimana keadaan Raka.
Satu jam kemudian, Bara keluar sendirian, Tara yang melihat tidak ada Silsila disampingnya langsung berlari mendekatinya dan menariknya kesamping gedung.
"Kenapa kau mencuri anakku! Jawab! Apa hakmu hingga kau mengakuinya sebagai anakmu?" Tanya Tara sangat emosional.
__ADS_1
"Kau menitipkannya padaku dan pergi tanpa pesan dan berita. Aku pikir kau sudah tiada dan tidak akan kembali lagi. Makanya aku mengadopsi Raka dan menjadikanya anak kami."
"Kau licik!" Umpat Tara.
"Jangan salahkan aku. Keadaan yang memaksaku untuk membuat keputusan itu. Didunia modern, setiap anak butuh pengakuan dan keluarga yang jelas. Jika tidak dia akan mengalami kesulitan, tapi kau tidak akan paham, karena entah kau berasal darimana." Kata Bara tidak kalah kesal. Karena dia masih emosional saat mengetahui jika Raka masih harus dirawat dirumah sakit.
Bara lalu pergi meninggalkan Tara sendirian.
Tara memang tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Sampai anaknya mengenali jika dia adalah ibunya, maka sebelum itu akan sulit membawanya.
Baginya Silsila adalah keluarganya. Dan Tara ibu kandungnya sendiri adalah orang asing. Dan setiap anak akan kesulitan beradaptasi dengan orang asing yang tiba-tiba mengaku sebagai ibunya diusia hampir dua tahun.
Mereka secara psikologis belum mengerti. Mereka hanya bisa memahami bahwa mereka akan aman bersama orang yang mereka lihat setiap hari, yaitu keluarganya.
Tara hanya bisa menangis menyadari kesalahannya karena tidak membawanya saat kembali ke kerajaanya.
Zayn mendekatinya dan menggandeng tangannya untuk pulang.
"Kau terlihat sangat lemah. Kau harus makan." Kata Zayn yang mengkhawatirkan kondisi Tara.
"Aku sangat bersalah padanya karena sudah meninggalkanya...." Kata Tara dengan tersedu-sedu.
__ADS_1
"Saat itu kau tidak punya cara lain selain meninggalkanya. Karena bahkan kau terpenjara saat sampai di kerajaanmu. Jika kau membawanya bagaimana jika Kaliya mencelakainya. Sudahlah, jangan menyesalinya....Semua sudah kau pikirkan dengan baik demi keselamatannya hingga kau terpaksa meninggalkanya." Zayn mencoba membuka pikiran Tara agar tidak larut dalam penyesalan.