Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Hainar Kaliya dan Putri Tara


__ADS_3

Bibi Kaliya kemudian mengendap-endap hingga sampai kekamar Putri Tara. Sementara Pangeran Hakim masih ada dikamar Ratu Mayang. Artinya saat ini Putri Tara sedang sendirian didalam kamarnya. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Putri Tara tentang rencana Ratu Mayang.


Bibi Kaliya akhirnya sampai didepan Kamar Putri Tara dan saat ini sedang membaca mantra untuk mengubah wujudnya menjadi seekor cicak. Namun tiba-tiba saat kakinya hampir berubah menjadi seekor cicak seseorang menegurnya. Dan orang itu melihat Bibi Kaliya dengan penuh keanehan.


"Hainar Kaliya, apa yang kamu lakukan disini?" Kata Panglima kumbang saat melihat Hainar Kaliya atau biasa dipanggil Bibi Kaliya sedang berdiri didekat pintu Putri Tara.


"Hamba akan mengantarkan minuman ini Panglima." Untung saja saat itu Hainar Kaliya membawa minuman, sehingga bisa dijadikan alasan untuk setiap kecurigaan dan pertanyaan anggota kerajaan.


"Kenapa berdiri saja disini, bukankah nanti minumanya keburu dingin?" Kata Panglima Kumbang sambil berlalu.


"Benar Panglima. Hamba akan segera mengantarkan minuman ini." Kemudian Hainar Kaliya membawa minuman itu untuk diberikan kepada Putri Tara.


"Mau kemana?" Tanya seorang prajurit yang saat ini berjaga didepan kamar Putri Tara.


"Saya akan mengantarkan minuman ini untuk putri." Kata Hainar Kaliya.


"Ya sudah. Masuklah...." Kata seorang prajurit yang sepertinya adalah prajurit baru sehingga tidak mengenal Hainar Kaliya yang sebenarnya adalah pengasuh Pangeran Hakim saatasih kecil dan bukan pelayan biasa.


Tanpa mengubah wujud menjadi seekor cicak akhirnya Hainar Kaliya masuk dan langsung mendekati Putri Tara yang sedang duduk didepan meja riasnya.


"Bibi?"


"Aku kesini karena ada hal penting yang harus kusampaikan padamu. Saat ini suamimu dan ibu mertuamu sedang merencanakan sesuatu dan sepertinya membutuhkan bantuanku untuk mencapai Kaisar langit."


"Lalu apa yang harus kulakukan bibi? Haruskah aku menolaknya?"


"Tidak!" Kata Bibi Kaliya d Ngan cepat sebelum Pangeran Hakim datang.


"Kau akan melakukan ritual bersama mereka dan setelah itu buat permintaanmu sendiri saat kau berhasil menemui Kaisar langit."


"Maksud bibi?" Namun tiba-tiba Pangeran Hakim masuk. Begitu menyadari Pangeran Hakim datang maka Hainar Kaliya langsung meminta izin untuk pergi.


"Apakah ada yang bisa saya lakukan lagi putri?" Tanya Hainar Kaliya kepada Putri Tara


"Tidak. Kau boleh pergi."


"Bibi...." Kata Pangeran Hakim manggil Hainar Kaliya yang saat itu sedang membawa gelas kosong diatas nampaknya.


"Bisa buatkan minuman kesukaanku? Apakah bibi masih ingat?" Kata Pangeran Hakim.

__ADS_1


"Tentu saja." Kata Bibi Kaliya yang memang mengurus Pangeran Hakim sejak masih kecil.


Kemudian Hainar Kaliya keluar dari ruangan Putri Tara dan langsung kedapur.


Apakah Putri mengerti apa yang kukatakan tadi? Putri Tara harus mengikuti ritual itu hingga selesai dan menemui Kaisar Langit. Jangan sampai Ratu Mayang curiga jika kita tidak berpihak padanya dan akan membuat permintaan sendiri.


Sementara Pangeran Hakim masuk kedalam dan langsung mendekati istrinya yang saat itu sedang duduk didepan cermin.


"Putri aku ingin mengatakan hal penting padamu. Tapi aku ragu jika kau akan menyetujuinya." Kata Pangeran Hakim.


"Katakan Pangeran."


"Aku dan ibunda punya satu permintaan padamu."


"Apa itu?"


"Tentang Kaisar Langit dan sebuah permintaan."


"Kaisar Langit? Aku baru mendengarnya."


"Ibuku punya sebuah kitab kuno yang didalamnya bercerita tentang Kaisar Langit dan sebuah permintaan. Namun memerlukan sebuah ritual dan syarat hingga permintaan kita akan dipenuhi oleh Kaisar Langit."


"Ibuku ingin agar rakyat Mayang hidup damai selamanya."


"Bukankah rakyat selama ini hidup dengan sejahtera?"


"Benar. Namun ada ancaman dari beberapa negara yang beberapa hari terakhir ini melakukan teror dan berniat untuk melawan kerajaan kita."


"Baiklah. Aku setuju." Kata Putri Tara saat teringat pada pesan bibi Kaliya.


"Benarkah?" Tanya Pangeran dengan terkejut. "Kau tidak keberatan untuk melakukan ritual itu?"


"Tidak. Aku akan melakukan apapun yang diinginkan oleh ibu Ratu dan demi rakyatku maka aku harus melakukanya."


"Terimakasih Putri. Besok pagi aku akan menemui ibunda. Dan akan memberikan kabar yang membahagiakan ini."


"Tentu saja." Kata Putri Tara. "Kau harus cepat memberitahukan kabar ini Pangeran. Aku dengar ritual ini harus selesai sebelum bulan purnama berikutnya.


"Kau juga mengetahuinya?"

__ADS_1


Putri Tara mengangguk.


"Aku sering mendengar jika sebuah ritual sebaiknya tidak melebihi bulan purnama selanjutnya atau harus mengulang lagi dari awal jika gagal dipurnama sebelumnya."


"Ternyata kau mirip dengan ibuku. Kau mengingat dan mengetahui banyak hal." Kata Pangeran Hakim.


Putri Tara kemudian duduk dipinggir ranjangnya dan akan berbaring. Tiba-tiba rambutnya tersangkut pada cincin yang dipakai Pangeran Hakim. Putri Tara pun berhenti dan diam sesaat tanpa bergerak dan tidak menoleh.


Deg.


Hatinya berdebar sangat kencang dan membuatnya kerjakan mundur kebelakang. Kemudian Pangeran Hakim terdiam dan menatapnya dengan tatapan tajam. Putri Tara menoleh dan rambutnya makin terasa tertarik oleh sesuatu. Pangeran Hakim kemudian berusaha melepaskan rambut yang melingkar dijari dan cincinnya. Namun rupanya sulit sekali melepaskan rambut Putri Tara yang tersangkut.


"Aku tidak bisa melepaskanya." Kata Pangeran Hakim.


"Lepaskan pelan-pelan dan putar jarimu berlawanan."


"Tetap tidak bisa. Malah semakin terikat. Haruskah aku ambil gunting?"


"Apa? Kau akan menggunting rambutku? Kau memang tidak berniat untuk melepaskanya."


"Lepaskan olehmu jika kau bisa."


Putri Tara berusaha memutar jari Pangeran Hakim dan semakin diputar justru rambutnya semakin ketarik dan kepalanya terasa sakit.


"Ambilah gunting! Potong saja bagian yang tersangkut." Kata Putri Tara setelah berusaha keras namun rambut itu tetap tidak mau lepas.


"Jangan!" Kata Pangeran Hakim. "Biar kucoba lepas cincinnya.


Sepertinya cincin itu terlalu kecil sehingga sulit dilepaskan. Dan akhirnya Pangeran Hakim mengambil pisau dan melukai jarinya hingga cincin itu terlepas dan jarinya berdarah.


Darah menetes dari sela-sela jari Pangeran Hakim hingga tetesannya jatuh kelantai. Dan Putri Tara menahan nafasnya dan memejamkan matanya. Setelah rambutnya berhasil terlepas maka Putri Tara langsung menyobek pakainya dan membalut jari Pangeran Hakim yang terluka.


Pangeran Hakim terdiam menatap wajah cantik Putri Tara yang sangat dekat dengan dadanya. Setiap kedipan mata Putri Tara sangat dinikmati oleh Pangeran Hakim. Putri Tara nampak serius mengobati jari itu hingga darah berhenti menetes.


"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Putri Tara setelah selesai membalut luka Pangeran Hakim.


"Karena aku harus melepaskan ikatan rambutmu, dan cincinku memang sudah lama aku ingin melepasnya namun sulit sekali. Berkat rambutmu yang tersangkut akhirnya cincin itu bisa terlepas dari jariku. Dan aku ucapkan terimakasih padamu."


"Hhhhhh...kau sangat aneh." Kata Putri Tara sambil membersihkan lantai yang ternoda oleh darah.

__ADS_1


Sementara Pangeran Hakim meliriknya dengan tatapan nakal dan sedikit mesra. Sepertinya Pangeran Hakim menikmati setiap ekspresi dari wajah Putri Tara yang tidak membosankan untuk dilihat.


__ADS_2