
Malam ini suasana begitu sangat sepi. Malam ini berbeda dengan malam-malam yang lainnya. Angin bertiup lebih kencang dan bulan pun tidak tampak sehingga menjadi sangat gelap.
Di perkampungan juga tidak terlihat hilir mudik orang keluar dari rumah mereka. Rata-rata mereka sudah di dalam rumah dan takut untuk keluar. Karena saat malam tidak ada cahaya maka binatang buas banyak keluar dari hutan dan memangsa hewan ternak atau bahkan manusia.
Hal berbeda justru dilakukan Ratu Mayang saat tidak ada cahaya bulan sama sekali seperti ini maka Ratu Mayang kemudian terbang meninggalkan istana tanpa diketahui oleh siapapun. Dia telah mengunci kamarnya dan tidak ada seorangpun yang bisa masuk sementara dia telah meninggalkan istana dan pergi ke suatu tempat.
Ratu Mayang terbang di atas ketinggian dan melewati beberapa perkampungan yang sunyi senyap dan sampai di tengah hutan Ratu Mayang kemudian turun. Di hutan larangan itu Ratu Mayang kemudian berjalan menuju sebuah goa. Disana Ratu Mayang kemudian membaca mantra dan menutup matanya kemudian dengan kedua tangannya Ratu Mayang membuka pintu gua itu.
Pintu gua itu pun terbelah dan bergeser, Ratu Mayang kemudian masuk kedalam dan dengan mantranya dia menutupnya kembali.
Di dalam goa raksasa itu sudah menjelma menjadi manusia biasa dan sedang menunggu kedatangan Ratu Mayang yang tidak lain adalah istrinya.
Ratu Mayang kemudian melihat jika raksasa itu sudah berubah wujud menjadi manusia biasa hanya saja giginya lebih tajam dari kebanyakan manusia. Taring dari raksasa yang sudah berubah wujud itu terlihat tajam dan menyeramkan.
"Kemarilah istriku." kata raksasa itu kepada Ratu Mayang.
"Hahaha aku pikir kau lupa kepada janjimu setelah aku memberimu seorang keturunan anak yang sakti mandraguna." Kata raksasa itu tertawa menyeringai.
"Aku tidak lupa kepada janjiku, sekarang aku datang untuk menemuimu, raksasa jelek." Kata Ratu Mayang kemudian berdiri di depan raksasa itu.
"Hai kamu bilang apa Mayang? Kamu berani menghina aku?" Kata Raksasa itu.
"Aku tidak menghinamu itu memang nyata kalau kamu adalah raksasa jelek."
"Hahaha hohoho jelek jelek begini aku sudah memberimu keturunan sekarang lakukan kewajiban dan tugas mu seperti biasanya."
Kata raksasa itu kemudian merebahkan dirinya di atas batu yang sangat lebar kemudian tangannya memanggil Ratu Mayang untuk berbaring disebelahnya.
Jika saja aku sudah menguasai buku bagaimana mengendalikan raksasa itu maka aku akan menghabisi mu dan aku tidak akan melakukan hal menjijikan seperti ini lagi." kata Ratu Mayang di dalam hati.
"Kesinilah Mayang aku sudah tidak sabar lagi." Kata Raksasa yang sudah menjelma menjadi manusia itu.
"Dasar raksasa jelek dan menyebalkan." Desis Ratu Mayang.
"Kamu mengatakan sesuatu Mayang?" Kata raksasa itu.
"Tunggulah sebentar hai raksasa jelek."
"Menunggu apalagi Mayang aku sudah sangat merindukanmu. Hahaha...hohoho...." Raksasa itupun kemudian tertawa.
"Cepatlah Mayang apa kamu tidak ingin menambah kekuatanmu?" Kata raksasa itu.
"Tunggulah kamu tidak sabaran amat." Kata Ratu Mayang melotot kepada raksasa itu.
"Menjauhlah cepatan kamu ke sana jaga jarak." kata Ratu Mayang.
__ADS_1
"Bagaimana kekuatan mu akan bertambah jika aku tidak mendekatimu dan tidak menyatu dengan tubuhmu?" Kata raksasa itu.
"Ya sudah! Cepatlah ngga pakai lama." kata Ratu Mayang.
Ratu Mayang kemudian memejamkan matanya dan tidak ingin melihat wajah raksasa yang jelek itu saat mereka melakukan penyatuan. Ratu Mayang membayangkan wajah Arjuna yang tampan saat penyatuan itu terjadi sehingga dia bisa melewati dengan perasaan yang tidak terlalu tertekan.
Membayangkan raksasa jelek itu yang menyatu dengan tubuhnya membuatnya menjadi mual dan ingin muntah. Setelah penyatuan itu terjadi kemudian Ratu Mayang melarikan diri menjauh dari tempat itu.
Ratu mayang kemudian pergi ke air terjun Sekar Langit untuk mandi dan berendam disana, menghilangkan bau dari raksasa itu yang masih menempel ditubuhnya.
Menjijikan sekali aku terpaksa melakukan ini demi untuk menambah kekuatan ku agar aku bisa menguasai dunia. Tapi jika aku sudah menguasai kitab tentang raksasa itu maka aku akan memindahkan nya dari dunia ini dia sungguh sangat merepotkan dan terus saja mengancamku atau dia akan mengambil putraku. Saat ini kekuatannya lebih besar daripada kekuatanku dan aku tidak mungkin untuk mengalahkannya.
Ratu Mayang berendam dalam air telaga itu hingga pagi hari dan sinar matahari mulai menembus dedaunan dan jatuh menyinari air telaga itu membuat airnya menjadi hangat. Ratu Mayang kemudian duduk dan bersemedi di atas batu itu. Setelah itu kekuatannya menjadi bertambah sebuah sinar dari atas memancar dan dan sinar itu berubah menjadi batu permata kemudian sudah terserap kedalam tubuhnya. Ritual penambah kekuatan itu selalu membutuhkan sinar matahari yang baru saja muncul dari pegunungan sehingga sinar matahari yang pertama kali harus mengenai tubuh Ratu Mayang sehingga setelah mereka melakukan penyatuan bersama raksasa itu Ratu Mayang langsung bertapa di batu di dekat air terjun itu.
Batu permata itu kemudian lenyap dan Ratu Mayang terbangun dari semedi nya. Ratu Mayang kemudian menghilang dan saat ini sudah ada di dalam kamarnya kembali.
Seorang dayang dayang dan mengetuk mengetuk pintu untuk membawakan makanan serta minuman rutin tiap pagi untuk Ratu mereka.
"Ya masuklah kata Ratu Mayang.Taruh di sana kemudian pergilah dari sini."
"Baik yang mulia Ratu hamba mohon diri."
Pintu kemudian ditutup kembali.
Seluruh tirai dari kamar itu tertutup dan pintu juga terkunci dari dalam.
Guru Duma yang tadinya ingin menemui Ratu Mayang dan saat ini sedang berdiri di depan pintu kamarnya kemudian kembali ke ke tempatnya lagi. Dia tahu jika Ratu Mayang baru saja melakukan ritual bersama raksasa itu di hutan larangan.
Guru Duma kemudian mencari dayang Tawang dan mengatakan sesuatu kepadanya.
"Ada apa guru? Apakah guru memanggil saya?"
"Ya, aku memanggilmu ke sini dan dengarkan baik-baik apa yang kukatakan ini."
"Kamu harus mengikuti kemanapun pengasuh Pangeran Hakim pergi aku mencurigai jika salah satu dari pengasuh itu menguasai ilmu sihir."
Namun kecurigaan Guru Duma tersebut tidak dia beritahukan kepada Ratu Mayang karena Guru Duma memerlukan bukti untuk membuktikan jika kecurigaannya itu benar.
Kecurigaan guru Duma itu bermula saat guru Duma mengikuti dayang pengasuh Pangeran Hakim itu ke sebuah ruangan rahasia dan kemudian dayang itu menghilang disana dan Guru Duma kehilangan jejaknya, sejak saat itulah Guru Duma mencurigai jika pengasuh itu memiliki dan menguasai ilmu sihir.
Guru Duma harus menyelidiki siapa dia sesungguhnya dan untuk apa dia berpura-pura menjadi pengasuh di sini. Apakah dia punya tujuan tersembunyi dibalik penyamarannya itu. Ataukah dia hanya ingin berlindung di kerajaan Mayang saja.
"Tapi untuk apa saya melakukan itu guru?" Tanya dayang Tawang kepada guru Duma.
"Lakukan saja tugasmu dan Jangan banyak bertanya." Kata Guru Duma.
__ADS_1
"Baiklah guru."
Dayang Tawang kemudian berjalan ke istana putri dan disana dia menyelinap dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh dayang pengasuh Pangeran Hakim.
Dayang itu nampak berbicara pada pohon dalam penglihatan dayang Tawang.
Padahal di antara pepohonan dedaunan yang rumpun itu terdapat peri hijau yang mengecil dan sedang berbicara kepada dayang Kaliya.
Apa yang sedang dilakukan dayang Kaliya pada pohon itu gumam dayang Tawang.
Apakah dia sudah gila dan berbicara pada pohon?
Lalu untuk apa aku mengintai orang yang sudah gila?
Guru Duma ada-ada saja memberikan aku pekerjaan yang tidak masuk akal mengintai orang yang berbicara pada pohon biarlah aku duduk di sini saja.
Kemudian dayang Tawang duduk di bawah tiang yang besar dan tidak kelihatan oleh dayang Kaliya saat dayang Tawang menoleh kearah dayang Kaliya ternyata dia sudah tidak ada.
Kemana dayang itu pergi aku tidak melihatnya lewat sini tapi dia tiba-tiba menghilang sungguh aneh apa yang aku lihat ini? Tadi dia berbicara kepada pohon dan sekarang dia tiba-tiba menghilang.
Baiklah untuk apa Aku di sini lebih baik aku pergi dari tempat ini.
Tempat ini malah seram dan membuatku menjadi ketakutan saja.
Akhirnya dayang Tawang berjalan mengendap-endap dan ketakutan seakan ada bayangan yang mengejarnya dan sampai di lorong istana dia menabrak guru Duma yang sedang membawa tongkat hampir saja Guru Duma jatuh akibat bertabrakan dengan pelayannya itu.
"Hei pakai matamu! Kenapa kamu menabrakku hingga hampir saja aku jatuh!"
"Aku menyuruhmu untuk mengikuti dayang kalinya kamu malah mengendap-endap seperti hantu saja?"
"Ampun guru hamba tadi mengikuti kaliya hamba melihat dia berbicara kepada sebuah pohon setelah itu hampa menoleh dan dia sudah tidak ada di sana hamba menjadi takut apakah itu dayang kaliya ataukah hantu yang hamba liat."
"Di mana kamu melihatnya?"
"Di sana guru di pohon dengan bunga berwarna merah itu."
"Ayo kita kesana dan kita lihat apa yang kamu lihat itu benar atau hanya halusinasimu saja."
"Baiklah guru."
Sesampainya di sana ternyata dayang kaliya tampak sedang menyiram bunga.
"Kenapa dia ada di sana guru? Tadi dia tidak ada kok sekarang bisa ada di sana dan sedang menyiram bunga ini sungguh sangat aneh."
"Bukan dia yang aneh! kamu yang berhalusinasi! Gunakan akalmu dasar tidak becus bekerja." Kata guru Duma.
__ADS_1