
"Siapa yang sudah melakukan ini?" tanya Raja pada kedua prajurit yang berjaga.
"Aku yang melakukanya." Jawab Ratu dengan lantang saat dia baru saja membuka pintu bawah tanah.
"Kau!?"
Raja shock dan kaget dengan jawaban istrinya.
"Kau mengikatku? Kenapa? Kenapa kau lakukan ini pada suamimu sendiri?!"
"Karena kau telah mengkhianati ku! Kau bersekongkol dengan ibumu dan Guru Duma untuk menculik putraku." Kata Ratu Tara sambil berjalan mendekati suaminya.
"Kau pasti sudah salah paham. Mana mungkin aku melakukan perbuatan serendah itu?"
Raja mengelak dan tidak terima dengan tuduhan istrinya.
"Aku tidak percaya ucapan manismu. Kau tetap akan berada disini, karena perbuatanmu dan juga ibumu."
"Lepaskan aku. Aku tidak mengkhianatimu. Percayalah padaku." Kata Raja dan Ratu Tara tidak menoleh sekalipun pada suaminya.
Hatinya benar-benar terluka dan sedih karena telah dikhianati oleh orang yang diam-diam mulai dia sukai.
"Istriku! Percayalah padaku!" Teriak Raja namun Ratu menutup pintu itu kembali.
Raja berusaha melepaskan rantai ditangan dan kakinya tapi tidak berhasil.
Tangannya bahkan tidak bisa bergerak untuk melakukan sihir.
"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia bisa berfikir jika aku mengkhianatinya? Sudah jelas aku bahkan menemaninya mencari putraku. Tuduhannya tidak masuk akal! Mana mungkin aku mencelakai putraku sendiri?"
Kata Raja Hakim menyesali perbuatan istrinya yang sudah gelap mata dan memenjarakan seorang raja diruang bawah tanah.
Keesokan harinya
Ibunya, permaisuri Andini datang dengan beberapa pasukan. Dia disambut oleh bibi Kaliya dipintu gerbang.
"Kaliya.... bagaimana keadaan putriku? Aku dengar dia melahirkan dan kehilangan bayinya?"
"Benar kakak ipar, tapi..." Bibi Kaliya lalu berbisik ketelinga kakak iparnya.
"Jika rakyat tahu jika putranya adalah jelmaan raksasa maka....mereka akan membenci ratu Tara." Bisik bibi Kaliya mulai membuat rencana demi keinginan terselubungnya.
"Maksudmu, apakah dia benar-benar bukan manusia? Dia berwujud raksasa?" Tanya kakak iparnya dengan cemas.
"Tidak. Dia berwujud manusia. Tapi sampai kapan wujud manusia itu akan bertahan? Bagaimana jika tiba-tiba dia berubah?"
"Tenanglah Kaliya, aku akan mengurus ini." Kata Permaisuri Andini.
Seluruh rakyat gempar karena ibunda Ratu Tara yang tidak lain permaisuri Andini masih hidup, dulu mereka mengira semua anggota kerajaan telah tiada.
"Permaisuri.....kau masih hidup?" Tanya seorang dayang yang sudah tua, yang dulu mengabdi padanya.
Kabar kedatangan Ratu sampai ketelinga Ratu Tara. Dia segera keluar dan menemui ibundanya.
"Putriku...." Kata Permaisuri Andini.
"Bagaimana keadaanmu, suratmu membuat ibu cemas." Kata Permaisuri Andini.
"Maafkan saya ibunda, saya tidak mendengarkan kata ibunda. Dan saya telah dikhianati oleh mereka...." Kata Ratu Tara merasakan sakit akibat pengkhianatan suaminya.
"Dimana putraku?" Tanya Permaisuri Andini dan membuat Ratu Tara shock.
"Ibu....dia ada didalam."
"Ibu akan melihatnya."
Ratu Tara lalu mengajak ibunya kekamar putranya. Dan Permaisuri sangat kaget melihat putra dari Ratu Tara dan Raja Hakim yang begitu montok dan tampan.
"Ohh cucuku....ohh, ehm, tidak! Dia adalah raksasa."
"Ibu. Kenapa ibu berbicara seperti itu? Dia adalah manusia, bukan raksasa. Lihatlah kulitnya dan kukunya. Dia manusia biasa." Kata Ratu Tara yang tadi sempat berfikir jika ibunya akan menerima putra yang sudah dilahirkannya.
"Tidak putriku, kau jangan terperdaya oleh wajahnya yang imut dan mengemaskan. Dia adalah benih putra ratu Mayang. Kau jangan lupa jika keturunannya adalah raksasa."
"Ibunda...."
Ibunya pergi dari kamar bayi itu tanpa mendekatinya dan menggendongnya.
Ehhhheekkk
Bayi itu menatap neneknya dan tertawa kepadanya. Sementara Permaisuri seperti jijik dan tidak sudi melihat cucunya sendiri setelah teringat jika ada benih raksasa dalam darahnya.
Ratu terlihat sangat sedih dan kecewa. Dia lalu berjalan mendekati putranya.
"Tenanglah putraku, jangan sedih, nenekmu mungkin sekarang tidak mau menggendongmu dan menerimamu. Tapi suatu saat nanti dia pasti akan menerimamu."
Mata Ratu Tara sambil menimang-nimang putranya dan menatapnya dengan tatapan lembut seorang ibu.
Dia sudah membuktikan, bahwa seorang ibu akan selalu menerima putranya dengan segala kekurangannya. Bahkan seorang ibu, akan melawan segala marabahaya demi putra yang sudah dilahirkannya.
***
__ADS_1
Kurang ajar!
Aku kalah lagi darinya!
"Andini dan keturunannya, aku pasti akan membalas apa yang sudah kalian lakukan!"
Ratu Mayang lalu melihat bila kristal dan mengucapkan mantra.
Didalam bola itu dia melihat putranya Raja Hakim dirantai seperti binatang dan diikat dituang bawah tanah.
"Penjara bawah tanah!?"
"Jadi, Istrinya memenjarakannya? Kurang ajar! Ibu dan anak itu sudah menyakiti putraku."
Kata Ratu Mayang.
***
Permaisuri berjalan kedapur dan menemui Kaliya, adik iparnya.
Permaisuri tidak tahu jika adik iparnya memainkan perannya sendiri dalam meraih tujuannya dan memanfaatkan balas dendamnya.
Dia adalah serigala berbulu domba. Dia pandai bersandiwara pada semua orang.
"Adik ipar, kau tahu tujuan kita sudah tercapai?" Kata Permaisuri Andini.
Bukan tujuanku. Tapi tujuanmu. Tujuanku baru saja akan dimulai.
"Kita sudah mendapatkan kerajaan ini. Semoga suamiku bisa tenang di atas sana." Kata Permaisuri Andini.
Kakakku sudah melupakan aku demi dirimu Andini? Istri kesayangannya.
"Iya. kakak ipar, kau bisa menjadi permaisuri kembali setelah berhasil mendapatkan kerajaan ini." Kata Kaliya.
Tapi itu tidak akan terjadi. Dalam waktu dekat, aku akan membuat rakyat mengusir putrimu dari istana ini.
***
Ratu sudah berdiri bersama ibunya dibalkon istana untuk melihat rakyatnya yang sudah berkumpul untuk melihat Permaisuri dari dekat.
"Akhirnya Permaisuri kembali. Dan kita tidak menyangka jika Ratu Tara adalah putri dari Raja Muria dan permaisuri Andini."
Mereka sangat bahagia karena akhirnya permaisuri dan putrinya bisa kembali kekerajaan yang awalnya memang milik mereka sebelum Ratu Mayang merebut kerajaan itu.
Namun kebahagiaan tidak berlangsung lama karena tiba-tiba datang raksasa dan membuat semua rakyat berlari pontang-panting meninggalkan kerajaan.
Mereka berlari kesana-kemari mencari perlindungan dari raksasa yang tiba-tiba ada didalam istana.
"Ibunda....raksasa itu....apakah dia...."
"Raja Hakim, dia adalah raksasa." Kata permaisuri Andini.
"Kau harus membawanya kehutan, sebelum dia membuat banyak kerusakan didalam istana." Kata Permaisuri Andini.
"Baiklah ibunda, saya menitipkan Raka pada ibunda, Jagalah dia sampai saya kembali." Kata Ratu Tara.
Ratu Tara lalu mengalihkan perhatian raksasa itu agar mengikutinya kehutan.
"Raksasa...kemarilah...ikuti aku...."
Mendengar Ratu Tara berbicara seperti itu, raksasa itu lalu mengikutinya kearah hutan.
Hahahaha....
"Kau mau lari kemana?"
Ratu Tara terus mempercepat larinya karena hampir saja tangan raksasa itu berhasil meraihnya.
Sampai ditengah hutan, Ratu Tara mengeluarkan daun yang waktu itu dia ambil dihutan.
Setelah membaca mantra, Ratu Tara meniup daun itu, tapi anehnya daun itu tidak berfungsi apapun.
"Kenapa daunnya tidak berfungsi? Ini daun yang sama dengan yang ada dibuku itu."
"Hahahaha...kemarilah! Ayo serang aku!" Rupanya raksasa itu tidak mengenali jika yang ada dihadapannya adalah istrinya sendiri.
Saat dia berubah wujud menjadi raksasa, maka sifat yang dominan adalah nalurinya sebagai iblis yang hanya punya satu keinginan yaitu menghancurkan.
Ratu Tara kewalahan menghadapi raksasa itu.
Hingga demi menyelamatkan dirinya terpaksa, Ratu Tara menggunakan keris keabadian untuk menaklukkanya.
"Keris keabadian! Datanglah!" panggil Ratu Tara.
Tanpa disadari, Ratu Mayang sudah mengintai dari tadi, begitu juga dengan bibi Kalinya.
Mereka menunggu kesempatan agar Ratu Tara memanggil keris keabadian dan mereka akan merebutnya setelah keris itu terlihat oleh mereka.
Permaisuri yang khawatir pada Ratu Tara, akhirnya menyusulnya kehutan untuk melihat apakah raksasa itu sudah berhasil dikalahkan atau belum.
"Putriku? Kau memanggil keris keabadian?"
__ADS_1
Tanya Ibunya pada putrinya yang terpaksa memanggil senjata yang hanya bisa dipanggil sekali itu demi keselamatannya.
Tidak lama kemudian, Keris itu muncul dari atas dan sinarnya menyilaukan mata.
Ratu Tara lalu mengambil keris itu dan memegangnya dengan erat.
"Itukah keris keabadian yang begitu sakti?" kata Kaliya bergumam.
Saat Ratu Tara akan mengarahkan keris itu pada Raksasa, tiba-tiba Ratu Mayang muncul dan menghalanginya.
Mereka saling beradu kekuatan, dan Ratu Mayang hampir saja bisa merebut keris itu dari tangan Ratu Tara hingga akhirnya Ratu Mayang terluka akibat terkena sabetan keris itu.
Permaisuri berdebar-debar karena raksasa itu juga terus menyerang Ratu Tara.
Tidak lama kemudian seekor serigala yang merupakan perubahan wujud dari bibi Kaliya juga menyerangnya dan berusaha merebut keris keabadian dari tangannya.
"Siapa mereka, kenapa mereka tiba-tiba datang dan menyerang putriku? Pasti karena keserakahan untuk memiliki keris keabadian."
Serigala itupun terkena sabetan dari keris yang dipegang oleh Ratu Tara. Namun sayangnya serigala itu menghilang tanpa diketahui siapa identitasnya.
Sekarang disana tinggal Permaisuri dan Ratu Tara dihadapan Raksasa itu.
"Cepat habisi dia!" kata Permaisuri Andini.
Dengan kesedihan yang mendalam, Ratu Tara terpaksa membunuh raksasa itu yang merupakan suaminya sendiri.
Karena dia tidak menemukan daun sakti yang bisa membuat wujud raksasa itu kembali sebagai manusia biasa.
Maka tidak ada cara lain untuk menghentikannya selain melukainya.
"Cepat lakukan Tara! Sebelum dia mencelakaimu! Tunggu apa lagi, habisi dia!" Teriak permaisuri dengan lantang.
Dengan berat hati, terpaksa Ratu Tara mengikuti keinginan ibunya untuk membunuh suaminya sendiri.
Ratu pun menghunuskan keris itu dengan bantuan sihirnya dan Raksasa itu langsung tumbang namun, jasadnya tidak ada disana.
Ternyata rohnya melakukan perjalanan waktu dan saat ini ada didalam tubuh seorang artis yang sedang koma.
Dia ada di kehidupan zaman modern dan serba canggih.
Ratu Tara menangis dengan sedih mengetahui jika dia telah membunuh suaminya yang juga ayah dari bayinya.
Raka bahkan menangis kencang saat keris itu terhunus keperut raksasa itu dan raksasa itu mengerang kesakitan dan hilang dari pandangan mereka semua.
***
Ratu kembali keistana bersama putra dan ibundanya. Sebelum kembali mereka mencari Ratu Mayang yang tadi terluka, namun mereka tidak menemukannya.
Ratu Tara lalu menggendong bayinya dan mencari daun ajaib yang tadi tidak bisa dia gunakan.
Ratu Tara membuka lembaran kitab kuno itu dan melihat sekali lagi gambar daun yang bisa mengendalikan raksasa.
"Ini bukan yang asli. Ini sudah ditukar!" Kata Ratu Tara.
"Tapi siapa yang menukarnya?Ratu Tara lalu pergi keruang bawah tanah, dimana waktu sebelumnya Raja Hakim terikat disana.
Dan Ratu Tara curiga jika ada yang sengaja membuat Raja berubah wujud, entah siapa yang melakukanya.
Ratu Tara lalu melihat disekeliling benar ikatan yang tergeletak dilantai.
Ada bekas gelas kecil tergeletak tidak jauh dari sana.
"Pasti ada yang meracik ramuan dari daun yang asli. Siapa yang sudah melakukanya dan apa tujuannya?" Gumam Ratu Tara.
Ratu Tara membawa gelas itu kedalam kamarnya. Dan mengatakan apa yang tadi dia temukan dan kecurigaannya.
"Ada yang sengaja melakukan ini ibunda." Kata Ratu Tara pada Permaisuri.
"Dia pasti menginginkan keris itu, dan sengaja membuat sifat iblis dari raksasa itu bangkit. Dan saat terdesak, maka kau akan menggunakannya."
"Dan benar saja, ternyata siasatnya berhasil ibu. Aku sudah tidak bisa memanggil keris keabadian itu. Sekarang keris itu sudah bukan milikku lagi." Kata Ratu Tara dengan sedih, dan melihat sekali lagi pada putranya.
"Bahkan aku harus mengambil hak putraku untuk melihat ayahnya."
"Kau tidak perlu menyesali semuanya. Dia sudah mengkhianatimu, jangan sedih karena kau telah melakukan yang harusnya kau lakukan sejak dulu, sebelum kau memilikinya. Anak ini, akan membuat masalah bagimu dan kerajaan ini dimasa depan."
"Kenapa ibu berkata seperti itu? Dia adalah putraku, bagaimana mungkin aku akan membunuh putraku sendiri?"
"Ini demi kebaikanmu Tara, dan juga kerajaan ini? Jika ada uang tahu bahwa dia adalah jelmaan, maka semua kerajaan akan memusuhimu." Kata Ibunya mengkhwatirkan masa depan putrinya.
"Tidak ibu. Apapun yang akan terjadi aku akan menghadapi siapapun yang berani menyakiti putraku. Apapun kondisinya, dia adalah putraku...." Kata Ratu Tara berurai air mata.
"Aku bahkan akan mempertaruhkan nyawaku demi melindunginya." Kata Ratu lalu memandang wajah mungil putranya yang putih dan montok.
"Ibu tidak setuju dengan pemikiranmu Tara, jangan karena demi melindungi putramu kau membuat seluruh rakyat kita menderita." Kata permaisuri dan melangkah keluar meninggalkan kamar putrinya.
Sementara Ratu Tara menatap dan mengelus pipi putranya dengan sedih.
"Tidak putraku. Aku pasti akan tetap menjagamu hingga nafas terakhirku. Ayahmu memang telah mengkhianati ibumu, tapi kau tidak bersalah. Kau adalah putraku. Aku tidak ingin kau menjadi korban dendam dan kebencian."
Ratu Tara lalu menimang-nimang putranya sambil terus berbicara padanya. Meskipun dia tahu jika putranya masih bayi dan tidak tahu apa yang dia bicarakan. Tapi rupanya putranya sangat cerdas bahkan merespon dengan tertawa dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1