Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Menerima hukuman


__ADS_3

Raja menatap mereka berdua dengan kemarahan yang tertahan.


"Apa yang membuat kalian harus bertengkar didalam istanaku?" Kata Raja dengan ucapan yang tegas.


"Dia yang memulainya." Kata Salma.


Salma menahan nafas karena dia keceplosan dan berani menyalahkan Silsila didepan Raja.


Meskipun itu kenyataanya.


Tapi, seharusnya lebih baik dia tetap tertunduk dan diam.


Tanpa berbicara dan mengatakan apapun.


Salma berusaha menenangkan dirinya dan detak jantungnya.


"Kau menerima tuduhan itu?Jika tidak, kau bisa berbicara!" Kata Raja menatap Silsila.


Silsila menggeleng.


"Hamba tanpa sengaja menyinggung perasaannya. Dan dia mencakar muka hamba." Silsila berbohong dan mencoba menekan Salma agar Salma dihukum oleh Raja.


Silsila tertunduk setelah mengatakan itu.


"Apa yang kau katakan! Kau menarik rambutku lebih dahulu!" Kata Salma membuat pembelaan.


Sementara panglima kumbang geram karena mereka tetap bertengkar dihadapan Raja.


"Apakah ada buktinya jika dia menarik rambutmu?"


Salma menggelengkan kepalanya.


Kenapa Raja harus meminta bukti? Haruskah aku biarkan rambutku ini rontok dan aku simpan sebagai bukti?


Salma bergumam didalam hati.


Raja menatap keduanya.


Raja lalu mengangguk-angguk dan mulai berbicara untuk memberikan mereka berdua hukuman.


"Sebagai hukumannya, Salam, kau akan ada didalam penjara sampai luka diwajah Silsila kering."


Salma menatap Raja dengan kaget.


Aku dihukum?


Hingga lukanya mengering?


Ini tidak benar!


"Apakah kau keberatan?" Tanya Raja pada Salma.


Salma sebenarnya tidak terima dengan hukuman itu.


Tapi dia juga tidak berani melawan Raja.


"Ampun yang mulia, baiklah, hamba bersalah, dan hamba berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi biarkan hamba bekerja seperti biasanya."


"Artinya kau tidak mau dihukum?!"


"Ampun yang mulia. Hamba tidak berani melawan perintah yang mulia."


"Panglima! Bawa Salma kedalam ruang di istana Putri. Biarkan dia beristirahat dari pekerjaannya untuk sementara waktu."

__ADS_1


Silsila tersenyum sinis melihat Salma dihukum oleh Raja.


Dan dia melirik tajam tepat kewajah Salma yang dibawa oleh panglima kumbang.


"Dan kau Silsila."


"Ampun yang mulia."


"Sebagai hukumannya, kau tidak akan menemuiku hingga hukuman Salma berakhir. Dan kau akan menggantikan pekerjaannya hingga lukamu sembuh."


"Tapi uang mulia...."


Silsila nampak keberatan karena dia juga dihukum.


Tadinya Silsila berfikir jika dia akan bebas tanpa hukuman.


Dan untuk tidak menemui Raja, artinya dia akan kehilangan kesempatan untuk melayani Raja hingga lukanya sembuh.


Dan menggantikan posisi Salma, itu juga membuatnya lebih tidak setuju dengan keputusan Raja.


"Tapi...kenapa hamba harus menggantikan posisi Salma?"


"Karena dia sedang menjalani hukuman. Dan posisinya akan kosong. Kau akan menggantikanya sementara mengatur istana Putri yang besar dan luas." Kata Raja.


"Baiklah yang mulia...." Kata Silsila pelan dan lirih.


"Kau boleh bekerja mulai sekarang." Kata Raja pada Silsila.


Silsila lalu pergi dari istana Raja dan Ratu mendengar jika mereka berdua dihukum oleh Raja.


Ratu lalu memanggil pelayan yang sudah dia persiapkan untuk melayani Raja dan menemaninya.


Ratu memang terluka karena Raja tidak datang kekamarnya dan tidak menyentuhnya.


Jika ada banyak selir, tentu Silsila tidak akan mendapat kepercayaan besar dari raja.


Kesombonganya akan segera berakhir, begitu ada selir yang baru yang akan menghatikanya.


Hanya itu yang saat ini bisa dilakukan Ratu untuk terus membuatnya aman didalam istana.


Dia sedang mengandung anak Raja, dan dia harus terus berpengaruh dikalangan prajurit dan juga para pelayan dan putri.


Dukungan akan keberadaanya harus terus diakui.


Itu penting untuk kelanjutan pemerintahanya saat ini. Dia harus mendapat dukungan agar posisinya kuat dan anaknya bisa tetap didalam istana.


Apalagi suatu saat jika Raja tidak mampu menahan aura raksasanya, maka Ratu harus mengambil alih kerajaan itu dan mengamankan Raja, yang merupakan ayah dari bayinya.


Saat ini yang harus dia lakukan adalah mengikuti permainan Raja. Dan bukan malah melawannya.


Diistana putri semua selir sudah siap dengan baju indah dan riasan yang cantik.


Tiba-tiba Silsila masuk dan kaget saat mereka berbaris dan akan keluar dari istana Putri.


"Kalian mau kemana! Sekarang aku adalah pemimpin kalian. Aku menggantikan posisi Salma atas perintah yang mulia raja."


Kata Silsila dengan sombong dan lantang.


mereka semua kaget mendengar Silsila berkata seperti itu.


"Apa!? Kau adalah pemimpin kami?" Tanya para pelayan dan juga para putri.


"Ya. Kalian semua harus patuh padaku. Jika tidak aku akan menghukum kalian semua."

__ADS_1


Mereka semua diam dan memilih untuk tidak melawannya, hingga Salma kembali.


Mereka menatap pintu dan berharap Salma lekas datang.


"Siapa yang kalian tunggu? Jika kalian menunggu Salma, dia tidak akan datang. Raja sudah mengirimnya kedalam penjara." Kata Silsila dengan congkak.


Mereka semua tertunduk dan sedih.


Salma lebih baik daripada gadis pendatang baru ini. Gumam mereka semua didalam hati.


"Kalian mau kemana?" Tanya Silsila sekali lagi.


"Kami akan menemui yang mulia Ratu." Kata para selir yang baru itu.


"Untuk apa!?" Silsila penasaran dan ingin tahu kepentingannya.


"Kami tidak tahu. Jika kau penasaran, ikutlah dengan kami." Kata salah satu selir dengan sinis.


"Kau berani melawanku? Tundukan wajahmu!" Perintah Silsila.


Salah seorang selir itu menjadi semakin kesal.


"Kami akan menemui yang mulia raja atas perintah Ratu." Katanya sengaja membuat Silsila kaget dan shock.


Dan benar saja. Silsila memang kaget dan sangat shock.


"Apa!?"


"Ya, kau tentu kaget dan heran. Tapi kau akan segera berhenti melayani yang mulia raja. Karena kami akan menemani yang mulia raja setiap hari secara bergantian." Kata salah seorang selir itu.


"Itu tidak mungkin!" Kata yang Silsila kesal dan menahan nafasnya.


Dia menyimpan kesal dan dendam pada Ratu yang sudah mempermainkannya.


Apalagi sudah menyiapkan banyak selir untuk menggantikan posisinya.


"Baiklah, selamat tinggal...dan nikmati tugasmu yang baru...!" Kata selir itu sambil berlalu.


Silsila terdiam dan berdiri seperti patung.


"Apa yang kalian lihat!? Bubar!?"


Hardik Silsila dengan marah dan amarah yang luar biasa.


"Kalian akan merasakan akibatnya karena melawanku! Terutama ratu, kau akan menyesal nanti!" Kata Silsila berbisik.


Matanya yang cantik dan biru berubah menjadi merah menyala.


Dikamar Ratu.


Ratu sedang tersenyum pada cermin didepannya.


Apalagi saat selir itu datang dihadapannya dan mengatakan jika Silsila terbakar api cemburu dan kemarahan.


"Kau pantas menerima ini!" Kata Ratu sambil menyisir rambutnya.


Semua pelayang yang menemuinya saat ini sedang berada dikamar raja untuk dipilih salah satu dari mereka.


Satu dari mereka akan menemani raja malam ini.


Ratu tidak tahu jika dikamar Raja, dia sangat murka dengan perbuatan istrinya itu.


Raja kaget saat Ratu mengirimkan begitu banyak wanita kehadapanya.

__ADS_1


Raja geram dan berusaha menahan amarahnya didepan para calon selir itu.


__ADS_2