Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Pembuktian kesucian


__ADS_3

Ratu Mayang sudah menunggu Pangeran Hakim dibelakang istana. Guru Duma nampaknya sudah tidak sanggup berdiri lebih lama lagi.


"Kemana mereka? Kau bilang mereka menyetujui ritual ini?"


"Pangeran Hakim sendiri yang mengatakanya guru. Jadi mana mungkin Pangeran Hakim berbohong?"


"Mereka jalan saja kayak siput. Bagaimana mungkin bisa bertemu Kaisar Langit jika jalan saja lambat sekali." Kata Guru Duma kesal.


"Jangan bicara begitu Guru. Nah...itu mereka datang."


"Apa yang harus kita lakukan sebagai permulaan Guru?" Tanya Ratu Mayang.


"Kita harus membuktikan kesucian dari Putri Tara." Kata Guru Duma.


"Maksud Guru? Bukankah kita tahu Putri Tara masih Perawan. Pangeran Hakim sendiri yang mengatakan jika sampai saat ini mereka belum berbulan madu." Kata Ratu Mayang.


"Tetap harus dibuktikan. Supaya kita tidak melakukan sesuatu yang sia-sia."


"Caranya Guru?"


"Kita akan membakarnya dan menaruhnya didalam lingkaran api."


"Itu sangat berbahaya Guru. Mana mungkin Pangeran Hakim mengizinkanya?" Ratu Mayang merasa ragu dengan cara yang diutarakan Guru Duma.


"Hanya itu satu-satunya cara yang akurat saat akan memulai ritual."


"Baiklah jika memang tidak ada cara yang lain maka nanti aku akan mengatakan kepada Pangeran Hakim dan mengajaknya ketempat yang sudah kita sediakan." Kata Ratu Mayang.


Pangeran Hakim dan Putri Tara berjalan mendekati Guru Duma dan Ratu Mayang.


"Kalian sudah siap?" Kata Ratu Mayang. "Jika kalian sudah siap ayo kita pergi" Kata Ratu Mayang berjalan paling depan kesebuah hutan.


Hutan itu tidak jauh dari Istana Mayang. Kemudian mereka sampai disebuah api unggun yang besar. Kayu-kayu disusun menyerupai sebuah gunungan kecil. Kemudian mereka berhenti dipinggir gunungan kayu itu.


"Untuk apakah kita pergi kemari Ibunda? Dan siapa yang membuat gunungan kayu ini?" Tanya Pangeran Hakim setelah sampai ditempat yang diinginkan Ratu Mayang.


"Kita akan menggunakan api ini sebagai ritual yang pertama." Kata Ratu Mayang. "Gurulah yang telah membuat gunungan kayu ini"

__ADS_1


"Apakah kita akan menginap atau bermalam disini? Tapi api ini terlalu besar jika hanya untuk menghangatkan badan saja."


"Kau pikir kita buang waktu kesini hanya untuk menginap dan menjadi makanan nyamuk disini?" Kata Guru Duma sambil berjalan mengitari gunungan kayu itu.


"Putri apakah kau benar ingin melakukan ritual ini?" Tanya Guru Duma.


Putri Tara mengangguk. Dan menatap sekilas kepada Pangeran Hakim.


"Guru untuk apa kau tanyakan lagi? Menantuku memang akan melakukan ritual ini. Jika tidak dia tidak akan sampai disini." Kata Ratu Mayang sambil melihat kearah Putri Tara.


Putri Tara mengangguk.


"Ya. Saya akan mengikuti seperti yang Ibu inginkan." Kata Putri Tara.


"Jika begitu apakah kau tidak keberatan jika kau membuktikan bahwa kau masih perawan dengan ritual api ini?" Tanya Ratu Mayang.


"Ibunda? Kenapa harus dibuktikan? Sudah aku katakan jika kami belum berbulan madu. Untuk apa melakukan ritual yang membahayakan ini jika hanya untuk membuktikan seseorang masih gadis atau tidak?"


"Dasar bodoh! Diamlah!" Hardik Guru Duma.


"Apa? Kau akan melakukan ritual dibakar dalam api unggun ini? Bagaimana jika kau terbakar?" Kata Pangeran Hakim panik.


"Itu tidak akan terjadi." Kata Putri Tara mantap.


"Baiklah jika Putri sudah setuju maka duduklah dan pejamkan matamu." Kata Guru Duma.


Kemudian Putri Tara duduk bersila dan memejamkan matanya. Sementara Guru Duma membaca sebuah mantra dan api itu langsung menyala. Nyalanya sangat besar dan siapapun yang masuk kedalam api itu maka pasti akan hangus terbakar dalam beberapa detik saja.


Pangeran Hakim menatap Putri Tara dengan wajah yang sangat cemas. Begitu juga dengan Ratu Mayang yang tak kalah cemasnya. Walau bagaimanapun jika Putri Tara terbakar didalam api itu maka Kerajaan Muria pasti akan berperang dengan Kerajaan Mayang. Itulah yang dikhawatirkan oleh Ratu Mayang.


"Tunggulah Guru, biar kutanyakan sekali lagi kepada Putri Tara." Kata Ratu Mayang kepada Guru Duma.


"Putri apakah kau yakin dengan pendapatmu? Kau tidak akan terbakar didalam api ini? Ini adalah api suci. Dia tidak akan menyentuh dan membakar seorang gadis yang masih suci. Tapi sebaliknya jika gadis itu telah berbohong dan tidak suci lagi maka dia akan langsung menjadi abu." Kata Ratu Memang memastikan bahwa Putri Tara yakin dengan kesuciannya yang belum pernah terjamah oleh siapapun.


"Lakukan saja. Tidak akan terjadi apa-apa dengan diriku. Namun jika kalian ragu maka ritual ini tidak akan kita lakukan." Kata Putri Tara.


"Baiklah. Bersiaplah Putri ...aku akan melemparkanmu kedalam nyala api itu." Kata Guru Duma.

__ADS_1


"Tunggu dulu! Apakah kita tidak bisa mengganti ritual ini dengan ritual yang lainya?" Tanya Pangeran Hakim yang jantungnya berdetak sangat kencang dan wajahnya menjadi pucat.


"Tidak! Hanya ini satu-satunya cara yang paling akurat untuk membuktikan kejujuran seseorang. Api suci tidak pernah salah dalam memilih pengikutnya.


"Baiklah. Lakukan pelan-pelan, jangan sampai istriku terluka. Kau tadi berkata akan melemparkanya bukan?"


"Aku akan memindahkanya dengan kekuatanku." Kata Guru Duma.


"Ya sebaiknya kau gunakan kata-kata itu. Kau akan melemparkannya seakan dia adalah barang saja." Kata Pangeran Hakim yang tidak terima istrinya akan dilempar kedalam api. Jika dipindahkan mungkin kesannya akan berbeda.


"Bersiaplah Putri." Kata Guru Duma.


"Aku sudah siap!" Kata Putri Tara sambil memejamkan matanya.


"Aku akan mengangkatmu sekarang. Pejamkan matamu." Kata Guru Duma.


Pangeran Hakim dan Ratu Mayang menahan nafasnya saat melihat Putri Tara melayang di udara dan masuk kedalam api yang menyala-nyala.


Dalam sekejam api itu telah menenggelamkan Putri Tara dan tidak terlihat dari luar.


Pangeran Hakim dan Ratu Mayang sontak langsung bingung dan terkejut. Dia tidak melihat Putri Tara sama sekali. Apakah dia benar-benar terbakar dan langsung menjadi abu? Harusnya dalam beberapa detik badanya masih terlihat. Kemana perginya Putri Tara?


"Sudah kukatakan jangan melakukan ritual ini. Tapi kalian keras kepala!" Kata Pangeran Hakim dengan sangat marah saat dilihatnya api itu menyala sangga besar dan Putri Tara tidak terlihat. Mereka berpikir Putri Tara telah berubah menjadi abu dalam waktu sekejap.


"Tunggulah beberapa saat lagi." Kata Guru Duma yang tidak kalah paniknya. "Kemana dia menghilang? Cepat sekali terbakar menjadi abu?"


"Apa kau bilang? Istriku terbakar dan telah menjadi abu?" Hardik Pangeran Hakim sangat marah.


"Bersabarlah Pangeran kita tunggu sampai api ini benar-benar padam." Kata Ratu Mayang yang wajahnya langsung pucat tanpa ekspresi.


"Jika dia mati maka kalian berdua akan berhadapan dengan Kerajaan Muria. Dan perang tidak bisa dielakkan lagi." Kata Pangeran Hakim sangat kesal.


"Tutup mulutmu. Kau terus saja mengoceh. Jika dia mati maka itu adalah kesalahannya. Kenapa dia berbohong jika dirinya masih suci maka api ini tidak akan menyentuhnya meskipun hanya sehelai rambutnya. Kau memang bodoh! Dia sudah membohongimu dan sudah tidak perawan lagi." Kata Ratu Mayang.


Mereka terus bertengkar hingga malam hari dan api itu tetap tidak mau padam meskipun sudah diucapkan mantra berulang kali. Dan Pangeran Hakim juga sudah menyirami nya dengan kekuatanya. Bahkan Ratu Mayang sudah menyiraminya dengan mendatangkan air dari laut namun api itu tetap tidak mau padam.


Mereka sangat kelelahan dan kehausan akibat mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk memadamkan api suci itu.

__ADS_1


__ADS_2