
Keesokan harinya Bibi Kaliya datang lagi dan memberikan minuman untuk Ratunya.
"Apakah Ratu akan berangkat hari ini?" Tanya Bibi Kaliya.
"Benar Bi, saya dan Raja akan berangkat hari ini. Kami akan pergi dengan menyamar, karena kami tidak membawa satu orangpun prajurit." Kata Ratu Tara.
"Hati-hati ratu, saya permisi dulu." Kata Bibi Kaliya lalu masuk kedapur dan membuat bola kristal.
Dia bisa melihat apa yang dilakukan Ratu dan Raja dan siapa pertapa sakti yang akan mereka temui?
"Kau sudah siap?" Tanya Raja pada Ratunya yang sudah berpakaian seperti rakyat biasa. Tanpa perhiasan dan baju mewah serba gemerlapan.
"Sudah Raja." Kata Ratu lalu mengambil bekalnya dan mereka pergi lewat pintu bawah tanah.
Pintu bawah tanah itu ada dikamar Raja tertutup oleh lemari kayu jati.
Rak kayu berisi buku itu ternyata bisa dibuka dan selama ini Ratu tidak mengetahuinya.
"Tidak ada yang tahu tentang pintu ini." Kata Raja.
"Pintu ini hanya akan digunakan saat keadaan darurat. Dan kau tidak boleh mengatakan kepada siapapun tentang pintu rahasia ini." Kata Raja.
"Termasuk pada bibimu Kaliya. Kau jangan terlalu terbuka pada siapapun. Kau tahu politik dalam kerajaan itu sangatlah kejam. Kau tidak akan tahu karena kau sibuk bermain saat menjadi seorang putri." Kata Raja.
"Apakah Raja sedang mengejeku dan meremehkan pengetahuanku?" Tanya Ratu dengan kesal.
"Kau kadang sangat ceroboh!" Kata Raja.
"Aku masih ingat saat kau mengambil senjataku saat kita akan berburu, akhirnya apa, aku hampir saja dimakan serigala karena alasanmu yang tidak masuk akal." Kata Raja.
"Kenapa Raja terus mengingatkanku pada kejadian itu?"
"Karena aku tidak bisa melupakan saat semua serigala itu hampir saja memotong setiap bagian tubuhku ini."
"Itu karena kesalahan Raja juga yang tidak memberi tahu saya jika ada hutan yang jika kita ada didalamnya sihir kita tidak berfungsi." Kata Ratu pada Raja.
"Demi menyelamatkan kelinci dan Rusa dari buruanku, kau telah mencuri semua peluru dan membuat aku yang hampir saja menjadi buruan mereka."
"Maaf, atas kejadian itu. Saya tidak tahu jika ternyata tanpa senjata memasuki hutan itu sangat berbahaya." Kata Ratu menyesali perbuatannya.
"Itulah makanya aku bilang kau tidak banyak tahu tentang pemerintahan kerajaan." Kata Raja.
"Bacalah buku tentang bagaimana mengatur kerajaan dan jangan terlalu memberi kebebasan pada rakyat."
"Maksud Raja?"
__ADS_1
"Maksudku, ibuku mengatur kerajaan ini dengan sangat tegas. Sehingga rakyat begitu tertib dan bahkan tidak berani menatap wajahnya. Dan kerajaan kita begitu disegani saat ibuku yang menjadi Ratunya."
"Dan sekarang kau adalah Rajanya. Kenapa kau tidak bisa memerintah dengan baik? Kenapa harus ada kekacauan dan paceklik dimana-mana?" Tanya Ratu dengan kesal karena dia selalu membandingkan pemerintahan yang sekarang dengan ibunya.
"Jangan marah, aku hanya memberimu pandangan dan sudut pandang diluar yang biasanya." Kata Raja sambil menyingkirkan rumput yang tinggi didepannya.
Saat ini mereka sudah tiba dihutan.
"Kita sudah sampai dihutan larangan." Kata Raja pada Ratunya.
"Ternyata melewati ruang bawah tanah, terasa tidak melelahkan." Kata Ratu sambil mengambil beberapa daun uang menempel di rambutnya.
"Diamlah! Jangan bergerak!" Kata Raja pada Ratunya.
"Ada apa?" Tanya Ratu dengan sangat kaget.
"Diam! Jangan bergerak!"
Ssssiiiiittt
"Lihatlah di belakangmu!" Kata Raja setelah memanah sesuatu.
"Kelinci?" Kata Ratu saat melihat dua ekor kelinci yang gemuk terkapar dibelakangnya.
"Kenapa kau menyuruh ratu mu yang membawa kedua kelinci ini? Kenapa tidak kau bawa sendiri?" Kata Ratu kesal karena disuruh membawa kedua kelinci itu.
"Jika aku yang membawanya, bagaimana jika tiba-tiba dibelakangku ada serigala atau harimau, maka aku tidak akan bisa dengan cepat menolongku." Kata Raja.
"Jika kau tidak mau membawanya, tinggalkan saja. Dan kau tidak akan makan apapun hingga sore hari." Kata Raja lalu berjalan dibelakang Ratunya.
Ratu dengan kesal lalu mengambil kedua kelinci itu dan membawanya.
Dia berjalan lebih lambat karena beban ditanganya. Sementara Raja tersenyum kecil melihat ratunya menurut pada perintahnya.
"Kenapa Raja tertawa? Apakah ini lucu?"
"Tidak! Apanya yang lucu. Semua wanita didesa sudah terbiasa dengan hewan buruan ditangan mereka."
"Tapi aku sekarang adalah seorang Ratu." Kata Ratu kesal.
"Tapi kau sedang menyamar. Jadi, bersikaplah seperti mereka." Kata Raja.
"Atau penyamaran kita akan terbongkar." Kata Raja pada pada Ratu yang wajahnyae memerah karena sinar matahari.
"Jika kau lelah, kita akan istirahat dulu."
__ADS_1
"Carilah kayu bakar didekat sini, jangan jauh-jauh." Kata Raja pada Ratunya.
"Saya?"
"Ya, siapa lagi? Apakah ada prajurit yang ikut dengan mu?"
"Kenapa tidak raja saja yang akan mencari kayu bakar?"
"Aku akan membersihkan kelinci ini. Apakah kau mau membersihkannya?"
Ratu langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Saya tidak terbiasa memegang hewan dan mengulitinya."
"Kalau begitu cepat cari kayu bakar!" Kata Raja dan tersenyum karena untuk yang kedua kalinya dia membuat Ratunya menurut.
Ratu pergi ke sekeliling tempat itu dan tidak lama kemudian dia datang dengan kayu bakar ditanganya.
"Apakah segini cukup?"
"Ya, cukup, tidak perlu mencari lagi." Kata Raja.
Raja lalu menyusun kayu bakar itu dan mulai memanggang daging kelinci yang sudah dibelah dan dibersihkan.
"Baunya harum, sebentar lagi matang." Kata Raja sambil memencet dagingnya yang muali masak dengan ranting kecil.
"Sekarang sudah matang, makanlah ini. Perjalanan masih panjang." Kata Raja lalu mulai memakan daging kelinci itu dan menghabiskannya.
Sementara Ratu masih tidak tega untuk makan daging dari kelinci yang imut itu.
"Kau tidak akan makan. Dan hanya akan melihatnya saja?"
"Terserah, jika kau tidak mau makan, maka kau akan pingsan dijalan dan aku akan meninggalkanmu dihutan ini."
"Kau memang raja yang kejam."
"Kau Ratu yang begitu manja. Kau memang seorang putri, tapi sekarang kau adalah Ratu. Jadi tinggalkan sikap manjamu."
"Kau terus saja mencelaku sepanjang perjalanan. Kau mengingatkanku pada hal-hal buruk, kau terus membuatku membawa kelinci ini dan sekarang kau akan meninggalkanku dihutan. Kau memang Raja tidak berhati." Kata Ratu pada suaminya yang hanya menggodanya.
"Baiklah, jangan menangis. Lihatlah burung dan ikan itu terus melihatmu? Malulah sedikit."
"Kau memang menyebalkan! Jika tahu begini maka aku lebih baik semedi 100 hari tanpa makan dan minum digoa saja." Kata Ratu, lalu karena sangat lapar, diapun menutup matanya dan memakan daging kelinci itu dan membayangkan seakan itu adalah daging unggas.
Raja melihat kelakuan ratunya yang masih belia dengan senyum tipis dan manis.
__ADS_1