Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Mandi kembang


__ADS_3

Setelah api itu padam maka terlihat Putri Tara sedang duduk bersila dan tidak terluka sedikitpun. Tidak ada dari anggota tubuhnya yang tersentuh api. Bahkan sehelai rambutnya pun tidak terlihat acak-acakan akibat terbakar oleh api. Tidak ada noda gosong. Semuanya masih utuh seperti sediakala.


"Putri.....!" Kata mereka bersamaan.


"Kau selamat...!" Kata Pangeran Hakim dengan sangat bahagia. Aura kebahagiaan terpancar jelas dimatanya.


"Iya Pangeran. Saya baik-baik saja."


"Tapi kenapa kau begitu lama ada didalam api? Kenapa kau tidak keluar?"


"Entahlah Pangeran. Aku merasa hanya baru beberapa menit saja ada didalam api ini."


"Kau sudah lebih dari enam jam ada didalam api?" Kata Guru Duma.


"Apa!?" Putri Tara terkejut dan melihat kearah bulan dan benar saja malam sudah larut dan sebentar lagi ayam akan berkokok.


Pangeran Hakim kemudian berjalan mendekati Putri Tara dan memapahnya.


"Bangunlah Putri." Kata Pangeran Hakim sambil mengulurkan tanganya.


Putri Tara menatap Pangeran Hakim dan teringat tentang kata-kata dari pertapa itu. Kemudian Putri Tara meraih tangan Pangeran Hakim dan bangun dari duduknya.


"Mari kita pulang." Kata Pangeran Hakim sambil menatap penuh kebahagiaan kearah Putri Tara.


"Baik Pangeran." Kata Putri Tara.


"Panggil aku kakanda. Bukankah aku adalah suamimu?" Kata Pangeran Hakim sambil menatap tepat dibola mata Putri Tara.


"Kakanda?" Tanya Putri Tara tampak ragu.


"Mari adinda....suamimu sangat merindukanmu... Begini lebih baik bukan? Hubungan kita jadi terasa dekat." Kata Pangeran Hakim.


"Terserah padamu saja." Kata Putri Tara.


Pangeran Hakim benar-benar merasa bahagia karena istrinya kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Guru....mari kita pulang." Kata Ratu Mayang. "Besok kita lanjutkan lagi ritual selanjutnya." Kata Ratu Mayang sambil mengibaskan jubahnya.


"Sekarang sudah terbukti jika kesucian Putri Tara tidak diragukan lagi. Maka kita bisa melanjutkan ketahap selanjutnya." Kata Guru Duma.

__ADS_1


"Benar Guru."


Sesampainya didalam istana Pangeran Hakim langsung mengganti bajunya karena kotor saat bertarung melawan para Serigala.


"Apakah kau tidak mandi?" Kata Putri Tara.


"Mandi? Jam segini? Bagaimana jika aku sakit? Ohh ya...kan sekarang sudah ada istriku yang akan merawatku. Jadi mana mungkin aku bisa sakit. Kemarilah istriku...." Kata Pangeran Hakim sambil mendekati Putri Tara.


Putri Tara berjalan mundur saat Pangeran Hakim semakin mendekatinya.


"Berhenti disitu, atau aku akan melukaimu!" Kata Putri Tara.


"Apakah aku tidak boleh menyentuhmu? Kau adalah istriku dan aku adalah suamimu." Kata Pangeran Hakim.


"Tidak! Sampai aku berhasil menemui Kaisar Langit atau kau akan menyesal karena tidak patuh pada ibumu...."


"Hahaha hanya itu alasanya. Kita bisa melakukan pemanasan bukan?"


"Aku bilang mundur! Atau anak panahku akan menembus dadamu!"


"Kau sungguh keterlaluan. Bahkan kau mengancam untuk melukaiku demi ibuku."


Padahal dalam hati Putri Tara merasa risih setiap kali berdekatan dengan Pangeran Hakim atau menyebut Ratu Mayang. Namun dia harus pandai bersandiwara agar mencapai Kaisar Langit dan membuat satu permintaan.


Dengan satu permintaan itu maka Putri Tara tidak memerlukan keris Keabadian ataupun keris Mayapada untuk memusnahkan Ratu Mayang.


"Aku senang akhirnya kau juga mengakui jika ibu adalah wanita termulia didunia ini." Kata Pangeran Hakim.


"Kau benar. Sekarang pergilah mandi. Aku akan tidur. Kau tidurlah disofa aku akan tidur diranjang." Kata Putri Tara sambil rebahan diranjang dan menutup tirai disekeliling ranjangnya.


"Dia sungguh keterlaluan. Diistanaku sendiri aku harus tidur disofa dan dia tidur ditempat tidurku. Dan jam segini menyuruhku mandi sedangkan dia sendiri tidak mandi. Wanita memang egois." Kata Pangeran Hakim sambil berjalan ke pemandian khusus.


Disana sudah ada beberapa dayang yang bersedia melayani Pangeran Hakim selama dua puluh empat jam. Dan empat orang dayang sudah duduk dikolam pemandian air hangat. Seorang pelayan mengambil bunga mawar dan wewangian yang sudah disiapkan disamping kolam. Bunga mawar itu diganti setiap hari dengan mengambil bunga yang bermekaran ditaman. Dan dipetik bunga yang paling segar.


Perlahan-lahan Pangeran Hakim masuk kedalam kolam dan dua orang dayang duduk disebelah kanannya, sementara dua orang dayang duduk disebelah kirinya. Dua orang memegang tangannya dan membasuhnya dan dua lagi memegang kakinya dan membasuhnya.


Pangeran Hakim nampak menikmati setiap pijatan lembut yang dilakukan oleh para dayang yang masih belia dan cantik. Mereka adalah dayang pilihan yang diambil dari setiap bunga desa disetiap perkampungan.


Pangeran Hakim memejamkan matanya dan lupa jika saat ini tengah malam dan hampir pagi. Rasa dingin itu telah sirna. Dan berganti rasa hangat oleh air dari kolam pemandian itu. Wangi bunga mawar semerbak diseluruh ruangan hingga tercium oleh Putri Tara uang sedang tidur.

__ADS_1


Letak kolam pemandian itu tepat disamping tempat tidur Pangeran Hakim, jadi wajar saja jika gemericik air dan juga wewangian tercium hingga sampai kekamarnya. Putri Tara mengendus-endus wewangian itu dan kepalanya menggeser mengikuti arah wewangian itu berasal.


Dan mata Putri Tara terbuka saat melihat pintu kolam pemandian itu terbuka dan terdengar suara cekikikan dari dalam sana. Putri Tara kemudian duduk dan bangun lalu berjalan kearah pintu yang terbuka.


Deg.


Dia sangat terkejut saat melihat Suaminya dikelilingi oleh para dayang yang cantik-cantik dan bahkan setengah telanjang sedang digosok-gosok oleh para dayang itu.


srek! srek! srek!


Terdengar langkah sandal yang begitu pelan dari arah punggung Pangeran Hakim. Pangeran pun menoleh dan sangat terkejut saat melihat Putri Tara berdiri tepat dibelakangnya.


"Pergilah kalian. Biarkan istriku yang meneruskan tugas kalian untuk memandikanku." Kata Pangeran Hakim.


Kemudian para dayang bergegas untuk pergi dan meninggalkan tugas mereka yang belum selesai.


"Silahkan Putri...." Kata salah seorang dayang sambil memberikan keranjang bunga mawar yang akan ditaburkan pada setiap siraman.


Putri Tara hanya berdiri seperti patung dan berbalik membelakangi suaminya.


"Kau mau kemana istriku?" Tanya Pangeran Hakim sambil menoleh kearah Putri Tara yang berdiri tidak jauh darinya.


"Aku akan melanjutkan tidurku." Kata Putri Tara.


"Setelah kau mengganggu dan membuat mereka tidak menyelesaikan tugas mereka lalu kau akan pergi begitu saja?" Kata Pangeran Hakim.


"Mandilah sendiri. Diistana kami tidak ada yang serepot dirimu saat mandi. Dan harus dimandikan oleh banyak dayang seperti bayi."


"Hahahaha....apakah kau cemburu? Diistanamu tidak ada seorang pangeran. Tentu saja tidak ada ritual mandi seperti ini."


"Untuk apa aku cemburu?"


"Kemarilah! Atau kau akan membiarkanku berendam semalaman disini?" Kata Pangeran Hakim dengan lembut.


"Nih gayungnya. Siram saja olehmu sendiri."


"Aku tidak bisa. Dari kecil aku terbiasa mandi disiram dan ditemani oleh para dayang. Jadi lakukan seperti yang mereka lakukan. Kau adalah istriku, dan aku suamimu. Jadi wajarkan jika kau melakukanya untuk suamimu?"


"Apa? Kau sangat merepotkan!" Gerutu Putri Tara sambil menyiramkan air kembang kepunggung suaminya.

__ADS_1


__ADS_2