
Pagi-pagi sekali Pangeran Hakim sudah bangun dan saat ini sedang berjalan-jalan ditaman istana Kerajaan Muria.
Sementara didalam kamar Putri Tara sendirian dan sinar matahari pagi membuat matanya silau. Cahayanya masuk melalui celah-celah fentilasi jendela.
Putri Tara membuka matanya perlahan dan didapatinya dia tidur sendirian dengan pakaian yang masih utuh. Pakaian pengantin yang tidak terkoyak sedikitpun. Artinya Pangeran Hakim semalam tidak menyentuhnya sama sekali.
Kemudian Putri Tara bangun dan mengganti bajunya dengan baju yang sudah tersedia diatas meja riasnya. Pelayan rupanya pagi-pagi sekali sudah datang kekamarnya untuk menaruh baju ganti untuk Putri Tara.
Dan berpapasan dengan Pangeran Hakim yang baru saja akan keluar dari kamarnya dan menyuruh pelayan itu untuk menaruh bajunya diatas meja rias Putri Tara.
Setelah selesai berganti baju maka Putri Tara berjalan ketaman untuk menghirup udara segar. Dan dari kejauhan dilihatnya Pangeran Hakim memanggilnya untuk mendekat. Putri Tara kemudian berjalan mendekat dan menghampiri suaminya, Pangeran Hakim.
"Bagaimana tidurmu putri?" Tanya Pangeran Hakim.
"Seperti biasanya, dan tidak ada yang berubah dalam waktu tidur saya." Jawab Putri Tara sambil memetik beberapa bunga.
"Tadi malam aku sangat lelah sekali, sehingga aku langsung tertidur disamping mu. Kenapa kau tidak membangunkan aku?" Tanya Pangeran Hakim.
"Untuk apa aku membangunkanmu?" Tanya balik Putri Tara.
"Bukankah tadi malam, adalah malam pertama kita?" Kata Pangeran Hakim.
Deg.
Putri Tara pun tersipu malu. Malam pertama, apa maksud ucapannya? Bukankah ini hanya sandiwara? Jiihh memuakkan! Rupanya kau mirip dengan ibumu. Kau pandai bersandiwara dan bermuka dua?
"Kau sangat cantik pagi ini Putri. Bahkan kau lebih bersinar dari dia?" Kata Pangeran Hakim sambil menunjuk sebuah cahaya yang indah diujung langit.
Cahaya apakah itu? Aku tidak pernah melihat cahaya seperti itu selama ini? Apakah itu pantulan dari sinar matahari yang terpantul dari permukaan laut?
"Kau sangat pandai berpura-pura." Celetuk Putri Tara.
__ADS_1
"Berpura-pura? Apa maksudmu Putri? Aku sungguh memujimu. Kau memang cantik wajahmu lebih indah dari bulan. Aku sangat bahagia karena bisa memilikimu."
"Benarkah?" Putri Tara berkata sambil tersenyum kecut.
"Kita tidak pernah bersama-sama dalam waktu lama. Dan tiba-tiba sekarang menjadi suami istri. Tentu kita merasa canggung." Kata Pangeran Hakim.
Putri Tara menghela nafas panjang dan mengalihkan pandanganya.
Diseberang taman terlihat Ratu Mayang dan Guru Duma sedang berjalan dan berbicara sambil melihat kearah Pangeran Hakim dan Ratu Mayang.
"Bagaimana menurut guru? Apakah Pangeran Hakim sudah berhasil melihat tanda itu?" Kata Ratu Mayang yang sudah menceritakan tentang kecurigaannya bahwa Putri Tara adalah pewaris keris Keabadian. Itulah alasan yang mendasari pernikahan mereka.
"Tidak! Pasti belum terjadi apapun diantara mereka." Kata Guru Duma.
"Bagaimana Guru bisa tahu jika mereka belum menghabiskan waktu bersama semalaman?"
"Karena mereka masih berbicara seperti orang asing." Kata Guru Duma.
"Aku berfikir untuk pulang siang ini Guru. Aku khawatir jika meninggalkan kerajaan terlalu lama." Kata Ratu Mayang.
"Ya sebaiknya kita segera kembali. Dan kita akan pikirkan rencana selanjutnya. Kau harus cepat membawa Putri Tara ke kerajaan Mayang. Karena saat ini kita sangat membutuhkan dirinya."
"Benar Guru, sebentar lagi malam bulan purnama. Kita akan melakukan persembahan dan kita akan menemui Raja Neraka bersama Putri Tara." Kata Ratu Mayang.
"Yang kau katakan benar Mayang, kita hanya bisa membuka gembok pintu langit dengan membawa gadis dengan hati yang suci." Kata Guru Duma.
"Aku akan memanfaatkan menantuku bertemu Kaisar Langit. Aku punya satu permintaan padanya. Jika aku menyelesaikan tujuh ritual dalam 40 hari maka, Kaisar Langit akan mengabulkan satu permintaan." Kata Ratu Mayang.
"Kita baru baru menyadari jika Kitab Raksa berbicara tentang Kaisar Langit dan tujuh ritual suci." Kata Guru Duma yang kembali teringat bagaimana halaman Kitab Raksa itu terbuka dan tertulis tentang sebuah ritual dan akan terpenuhinya sebuah permintaan yang akan dikabulkan oleh Kaisar Langit.
Didalam sidang istana nampak Raja Muria sedang duduk dan tersenyum menyambut kedatangan Ratu Mayang yang akan berpamitan kepada Raja Muria.
__ADS_1
"Kenapa tidak menginap lebih lama lagi disini Ratu?" Kata Raja Muria.
"Tidak Raja. Saya sangat khawatir jika meninggalkan kerajaan dan rakyat saya terlalu lama."
"Jika memang Ratu tidak bisa menginap lebih lama lagi. Saya mau bilang apa? Namun alangkah senangnya, jika Ratu bisa menginap semalam lagi dikerajaan Muria." Kata Raja berbasa-basi.
"Terimakasih Yang Mulia Raja. Tentu suatu kehormatan bagi saya bisa mendapat jamuan yang istimewa dari Kerajaan Muria. Kerajaan yang kuat dan besar." Kata Ratu Mayang berbicara dengan manis.
Akhirnya Ratu Mayang mohon diri dan kembali kekamarnya untuk bersiap-siap.
Dan sebelum pergi Ratu Mayang menemui Pangeran Hakim dan membisikan sesuatu ditelinga putranya.
"Baiklah Ibunda. Hamba akan segera memboyong Putri Tara keistana."
"Ya. Ibunda ada tugas penting Pangeran. Jadi besok kembalilah dan bawa serta istrimu." Kata Ratu Mayang.
"Iya Ibunda...."
Kemudian setelah itu, Ratu Mayang beserta rombongan berpamitan dan meninggalkan Istana Muria.
Putri Tara kemudian menyentuh kaki Ratu Mayang dan menunduk hormat pada ibu mertuanya.
Aku meminta restu untuk menghancurkanmu hingga kau menjadi seperti tanah yang kau pijak saat ini. Aku berjanji.
Putri Tara kemudian mengusapkan tanah yang baru saja dipijak Ratu Mayang dan diusapkannya dikeningnya.
Kemudian Putri Tara mundur selangkah dan berdiri disamping Pangeran Hakim yang sudah lebih dulu meminta restu dari ibundanya.
Ratu Mayang mengedipkan mata kepada Pangeran Hakim dan memberikan isyarat untuk mengingat pesannya.
Pangeran Hakim mengangguk dan semua itu tidak luput dari penglihatan Putri Tara. Namun Putri Tara tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh ibu mertuanya dan juga suaminya. Putri Tara hanya tahu jika mereka saat ini sedang merencanakan sesuatu. Itu saja.
__ADS_1