
Ratu Tara terbangun saat seorang pelayan membawa soup hangat untuknya. Aroma harum dan kelezatan soup hangat itu memenuhi seluruh ruangan dimana Ratu Tara beristirahat saat ini.
Ratu Tara memejamkan matanya dan menutup hidungnya saat aroma itu membuat perutnya mual.
"Bi, keluarkan makanan itu. Saya tidak tahan lagi." Kata Ratu Tara disambut oleh tatapan aneh dari bibi pelayan yang sedang membawa makanan diatas nampan.
Saat akan membawa makanan itu keluar dari kamar ratu Tara, bibinya berpapasan dengan permaisuri Andini.
"Kenapa makananya dibawa keluar lagi bi?" Tanya Permaisuri.
"Iya permaisuri, saya terpaksa membawa kembali minuman ini. Ratu Tara tampaknya tidak menyukai aromanya." Jelas bibi pelayan itu.
"Tapi bagaimana mungkin dia tidak menyukainya. Dahulu, ini adalah makanan kesukaannya."
"Ya sudah bi, bawa lagi kedapur jika Ratu Tara tidak ingin memakannya. Mungkin dia masih tidak enak badan." Kata permaisuri lalu masuk kedalam dan melihat keadaan putrinya.
"Kau nampak pucat? Haruskah ibunda panggilkan tabib?" Ratu sangat kaget saat mendengar kata tabib.
Jika tabib datang, maka semua orang akan tahu tentang kehamilannya.
"Tidak perlu ibunda." Kata Ratu Tara.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Perut hamba mual dan kepala saya pusing."
"Mungkinkah kau hamil?" Tanya Permaisuri dengan penuh selidik.
Ratu Tara menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu syukurlah. Ibunda tenang jika kau menjaga jarak dengan suamimu. Kau tidak boleh hamil. Dia adalah jelmaan raksasa. Jika kau hamil maka putramu juga akan menjadi setengah manusia dan setengah raksasa." Kata Permaisuri pada Ratu Tara putrinya.
__ADS_1
Ratu Tara berusaha tetap bersikap tenang dan menarik nafas dalam.
Itu hanya sangkaan dan perkiraan saja.
Belum tentu Raja adalah raksasa. Dan anakku ini akan menjadi setengah raksasa.
"Jika kau mau ibunda akan menyediakan makanan yang lain untukmu." Kata permaisuri.
Putri Tara lalu mengangguk karena sebenarnya dia sangat lapar. Tapi rasa mual membuatnya kehilangan selera makan.
"Kau harus makan." Kata permaisuri.
Jika rasa mual terus saja muncul, maka lama kelamaan permaisuri akan curiga jika dia hamil.
Akhirnya Ratu Tara berfikir untuk kembali esok hari.
"Saya akan makan, karena saya tidak mau mengecewakan ibunda. Tapi besok hamba akan segera kembali." Kata Putri Tara karena khawatir dengan rahasianya yang akan diketahui ibundanya.
"Tidak ibunda, saya harus kembali ke kerajaan, saya hanya berpamitan sebentar dan hanya ingin menjenguk ibunda dan saya rindu pada ibunda."
Ratu Tara lalu tidur dipangkuan ibunda permaisuri. Dan permaisuri membelai rambut putri kesayangannya.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang dengan beberapa camilan untuk Ratu Tara.
"Silahkan dimakan Ratu." Kata pelayan itu.
"Terimakasih bibi."
Ratu Tara lalu bangun dan makan sedikit demi sedikit. Ternyata makan camilan justru membuat perutnya nyaman.
Rasa mual itu perlahan menghilang dan Ratu Tara senang karena akhirnya kepalanya juga tidak pusing lagi.
__ADS_1
"Lama jauh dari ibunda ternyata kebiasaan makanmu telah banyak berubah." Kata Permaisuri tersenyum.
"Benarkah?" Tanya Putri Tara sambil mengunyah sebagian makananya.
"Kau bahkan tidak suka pada soup yang dulu sangat kau sukai." Kata Permaisuri.
"Ehm, mungkin karena saya sedang tidak enak badan."
"Kau agak gemukan. Apakah kau bahagia disana?" Tanya Permaisuri.
"Saya berusaha menyesuaikan diri." Kata Ratu Maya.
"Apakah suamimu memperlakukanmu dengan baik?"
"Ehm, iya. Dia sangat baik dan sangat sayang padaku."
"Lalu, kapan kau akan menyingkirkanya dan kau menjadi Ratu, menggantikannya?" Kata Permaisuri.
"Itu, sebentar lagi." Kata Ratu Tara.
"Jika kau melakukanya lebih cepat maka itu lebih baik. Karena jika kau terus menundanya, maka sebuah kekuatan besar akan muncul dalam wujud raksasanya. Dan kau akan sulit mengalahkanya."
"Kecuali dengan keris keabadian yang hanya bisa kau gunakan sekali. Dan jika kau menggunakanya terlalu dini, bagaimana jika nanti kau membutuhkanya untuk memusnahkan Ratu Mayang?"
Ratu Tara diam dan menatap ibundanya.
"Kita tidak tahu dimana Ratu Mayang saat ini. Aku bahkan sudah menyelam ke dasar samudra dengan kekuatan sihirku. Tapi aku tidak bisa menemukannya."
"Maka dari itu, jangan sampai Ratu Mayang kembali dan kau belum menghabisi keturunannya." Kata permaisuri.
"Baik ibunda. Hamba akan segera melakukanya." Kata Ratu Tara.
__ADS_1