
Setelah berpamitan kepada Raja Muria mereka langsung meninggalkan kerajaan itu. Raja dan permaisuri terlihat sangat sedih melepas kepergian Putri Tara.
Dari kecil hingga dewasa seluruh sudut istana penuh dengan keceriaan dan kelucuan Putri Tara. Namun saat ini mereka harus menyerahkan Putri Tara kepada Ratu Sihir dan tinggal bersama mereka.
Tidak terasa Rajapun meneteskan air mata dan menghela nafas dengan berat.
"Semoga saja pengorbanan yang kita lakukan tidak sia-sia permaisuri." Kata Raja yang melihat Permaisuri menangis dan bersedih.
"Benar Raja. Perpisahan ini sungguh berat bagi saya. Namun saya harus kuat karena penderitaan rakyat saya lebih pedih daripada perpisahan ini. Rakyatku sangat menderita. Dan kini saatnya untuk memberi pelajaran kepada Penyihir jahat itu."
"Iya. Kita berdoa saja semoga kita mampu mengalahkan Penyihir jahat itu."
"Benar Raja." Raja kemudian mengajak Permaisuri untuk masuk kembali kedalam istana.
Dan saat melihat kamar Putri Tara yang sudah kosong membuat Permaisuri tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dan saat sendirian didalam kamar itu maka Permaisuri menumpahkan seluruh kesedihannya dan menangis sejadi-jadinya.
Permaisuri memandangi setiap barang yang biasa dipakai oleh Putri Tara dan memegang beberapa barang itu kemudian mendekapnya kedalam pelukanya. Airmatanya terus berjatuhan hingga seorang dayang mengetuk pintu kamar Putri Tara.
"Permaisuri, apakah Permaisuri membutuhkan sesuatu?" Tanya Dayang itu karena khawatir melihat kesedihan Permaisuri.
Tidak ada jawaban.
Kemudian dayang itupun masuk dan perlahan dan melihat Permaisuri pingsan disamping ranjang Putri Tara.
"Prajurit!!! Tolong beritahu Raja! Permaisuri pingsan." Teriak dayang itu.
Kemudian sebagian Prajurit memberitahu Raja dan sebagian lagi berlari masuk kedalam dan mengangkat tubuh Permaisuri yang tengah pingsan.
Saat ini Permaisuri sedang berbaring dengan mata tertutup, kemudian Rajapun masuk dan duduk disamping Permaisuri.
Raja kemudian memegang pergelangan tangan Permaisuri dan nampak khawatir.
"Panggil tabib istana. Denyut nadi permaisuri sangat lemah." Kata Raja setelah melihat dan mengecek denyut nadi Permaisuri melalui pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Baik Raja." Kata seorang Prajurit dan tidak lama kemudian seorang tabib istana datang. Tabib itu langsung mengecek kondisi Permaisuri yang wajahnya semakin pucat.
Kemudian Tabib itu bertanya apakah Permaisuri baru saja pingsan atau sudah lama?
"Sudah berapa lama Permaisuri pingsan? Jadinya sangat lemah."
"Tidak ada yang tahu tabib. Karena sejak kepergian Putri Tara, Permaisuri mengurung dirinya didalam kamar Putri Tara." Kata Raja Muria.
"Kemungkinan Permaisuri pingsan sudah dua atau tiga jam yang lalu." Kata tabib istana.
"Kami tidak berani mengganggu Permaisuri Raja. Karena permaisuri sudah berpesan kepada penjaga untuk sendirian dan tidak ingin diganggu oleh siapapun." Kata seorang dayang yang biasa melayani Permaisuri sejak Permaisuri dan Putri Tara masuk kedalam istana.
Raja diam saja dan hanya menatap wajah Permaisuri dengan rasa khawatir.
"Semoga setelah saya oleskan obat ini maka Permaisuri akan segera siuman." Kata tabib tersebut.
Kemudian Tabib mengoleskan ramuan di kening, tangan dan juga kaki permaisuri. Dan mengoleskan cairan seperti minyak didekat hidung permaisuri. Kemudian Tabib itu duduk dan menunggu beberapa saat reaksi dari obat itu.
Tidak lama kemudian hari tangan permaisuri bergerak perlahan dan matanya terbuka pelan-pelan.
"Dimana Putri Tara?" Kata Permaisuri dengan lirih dan pelan.
Kemudian seorang dayang yang sudah dianggap seperti kakak oleh Permaisuri Andini, menggenggam tangan permaisuri dan menatap permaisuri dengan tatapan sedih.
Semua yang ada disekeliling Permaisuri kemudian terdiam dan menatap Permaisuri dengan tatapan sedih.
Raja yang duduk disamping permaisuri kemudian mengatakan jika Putri Tara saat ini sudah sampai di Kerajaan Mayang.
"Apakah putriku sudah sampai disana?" Tanya Permaisuri Andini.
Raja kemudian mengangguk.
"Putri sudah sampai di Kerajaan Mayang. Dan saat ini mungkin sedang bersama suaminya."
__ADS_1
"Suami?" Tanya Permaisuri yang sepertinya lupa jika Putri Tara sudah menikah.
"Iya. Putri Tara saat ini tinggal bersama suaminya."
"Ooh, aku lupa jika putriku sudah menikah." Kata Permaisuri kemudian tertunduk menatap lantai.
"Bersabarlah. Putri Tara pasti bisa menjaga dirinya dengan baik. Dia adalah seorang Putri yang cerdas dan kuat. Dan kau lupa jika disana ada bibinya, Kaliya." Kata Raja yang sempat mendengar jika Putri Tara bertemu dengan Bibinya yang sedang menyamar.
Kemudian seuntai senyum menghiasai Permaisuri Andini saat dia teringat jika disana ada adik dari mendiang yang Mulia Raja, yaitu Kaliya saudara iparnya.
*****
Sementara di Kerajaan Mayang sedang dirayakan pesta yang sangat meriah diistana dan juga oleh para warga disetiap kampung untuk menyambut kedatangan Putri Tara. Yang digadang-gadang menjelma sebagai Dewi Kemakmuran suatu saat nanti.
Dan saat ini seluruh rakyat mempercayai jika Putri Tara adalan jelmaan dari Dewi kemakmuran yang akan menyelamatkan rakyat dari kekejaman Ratu Mayang.
Didesa-desa berbondong-bondong rakyat berjalan dan berbaris disepanjang pintu gerbang Istana untuk menyambut kedatangan Putri Tara.
Mereka tidak mengenal lelah meskipun berdiri dibawah terik matahari dan peluh membuat pakaian mereka basah. Mereka tetap setia menunggu kedatangan Putri Tara.
Nampak sepanjang jalan penuh dengan warga desa yang berdiri dari anak-anak hingga orang dewasa. Dan wajah mereka langsung bersinar dan tersenyum saat melihat dari kejauhan kuda Pangeran Hakim dan tandu Putri Tara.
Putri Tara membuka tirai pintunya dan melambai kepada rakyat yang berdiri disepanjang jalan.
Putri Tara kemudian tersenyum dan melihat setiap wajah rakyatnya dengan perasaan bahagia.
Bersabarlah rakyatku, tidak lama lagi kalian akan terbebas dari penderitaan ini. Aku berjanji untuk secepatnya mengambil alih Kerajaan ini. Dan akan membuat hidup kalian bahagia sebagaimana saat dulu ayahanda menjadi Raja.
Dan pangeran yang ada di depanku ini? Malang sekali nasibnya karena hatinya telah tertutup oleh tipu daya ibunya sehingga tidak bisa melihat penderitaan rakyatnya.
Pangeran yang tampan dan gagah ini begitu kuat namun tidak menggunakan kekuatannya untuk kebaikan melainkan justru mendukung kejahatan ibunya.
Pangeran Hakim kemudian menghentikan kudanya didepan gerbang istana dan menoleh kearah Putri Tara.
__ADS_1
Setelah itu Pangeran Hakim turun dari kudanya, dan menghampiri Putri Tara.