Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Ular berbisa


__ADS_3

Pangeran Hakim kemudian memasukan kedua tangannya diantara kedua paha Putri Tara. Kemudian karena sesuatu itu sepertinya melawanya maka Pangeran Hakim hilang keseimbangan dan terjatuh diatas putri Tara yang sedang berbaring.


Saat ini Pangeran Hakim sedang menindih Putri Tara dan karena merasa ada tekanan dari atas tubuhnya maka Putri Tara membuka matanya. Dan betapa terkejutnya saat ada Pangeran Hakim tepat diatas tubuhnya dan mereka saling bertatapan.


Jarak wajah mereka sangat dekat dan Putri Tara menatap bingung dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Hakim.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa tiba-tiba ada diatas tubuhku? Apakah kamu mau kurang ajar padaku? Apakah seperti ini kelakuan seorang Pangeran. Mencari kesempatan dalam kesempitan? Memanfaatkan orang yang lagi tidur dan kamu ingin melakukan sesuatu tanpa izin? Huh, sudah kuduga kalau kamu seperti itu? Pasti kamu sudah mengincar tubuhku sejak lama dan kamu membuat kesepakatan dengan ibumu? Benarkan? Pantas saja kamu hanya diam. Karena seperti inikah kelakuanmu Pangeran!? Aku memang istrimu, namun seharusnya jika kau ingin melakukan sesuatu kau harus izin dulu padaku. Jangan seperti penjahat yang akan memperkosa tawanannya! Pergi dari badanku. Badanmu sangat berat!"


Kemudian Pangeran Hakim hanya diam tanpa mengatakan apapun. Matanya menatap tajam kearah Putri Tara. Dan kemudian Pangeran Hakim berdiri dan menunjukan sesuatu ditanganya.


"Ular?" Putri Tara berteriak.


"Kau terus saja mengatakan hal yang buruk tentang diriku. Sementara aku telah menyelamatkanmu dari gigitan ular ini. Kau bahkan tidak mengucapkan terimakasih padaku. Seperti itulah kepribadian seorang Putri dari Kerajaan Muria? Yang sangat dikagumi oleh rakyatnya karena kecantikan dan akal budinya. Namun hari ini kau telah menuduh orang yang telah menyelamatkan nyawamu."


Pangeran Hakim kemudian mengangkat kedua bahunya dan menatap Putri Tara yang tertunduk sambil membetulkan gaun malamnya yang tersingkap.


"Buang ular itu!" Kata Putri Tara begidik. Meskipun dia menguasai sihir dan pandai berperang namun bukan berarti dia juga kebal dari bisa ular.


"Nih untukmu! Terserah kau akan menghukumnya seperti apa? Bukankah dia telah lancang menyentuh dan memegang bagian tubuhmu yang bahkan aku tidak berani menyentuhnya?"


Wajah Putri Tara memerah dan dia tidak berani menatap wajah Pangeran Hakim yang telah mempermalukanya, karena tadi Putri Tara sempat memakinya. Dan dia sudah menuduh Pangeran Hakim lancang, namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Pangeran Hakim sudah menyelamatkan nyawanya dari gigitan ular itu.

__ADS_1


Pangeran Hakim akan melemparkan ular itu kelantai.


"Kau berhak menghukumnya! Dia hampir menodaimu." Kata Pangeran Hakim sambil tersenyum dan mengejek Putri Tara.


"Buang ular itu!"


"Kau hanya akan membuangnya? Kenapa kau tidak membunuhnya? Enak sekali nasib ular ini. Setelah puas menodai seseorang dan hanya akan dibuang tanpa mendapatkan hukuman. Namun jika aku yang berbuat seperti itu, mungkin kepalaku sudah dia kubur entah dimana."


"Jangan mengejekku! Cepat buang ular itu!"


"Kau yakin hanya akan membuangnya? Tapi aku tidak rela. Karena kau hampir menodai istriku, maka istriku telah memaafkanmu dengan mudah. Namun0l- tidak diriku. Aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuh istriku meskipun itu hanya seekor ular." Kata Pangeran Hakim kemudian membunuh Ular itu dengan pedangnya.


Ular itupun mati dan dibuang melalui jendela.


"Tidurlah! Kau sudah aman sekarang! Tidak akan ada yang berani menyentuhmu setelah ini. Meskipun itu hanya seekor nyamuk atau ular yang lainnya. Aku sudah menjalankan tugasku sebagai seorang suami yang bertanggung jawab dan siaga dalam menjaga dan melindungi istrinya. Meskipun saat kau tertidur atau kau terjaga. Apakah kau masih berprasangka buruk padaku Tuan Putri? Aku bisa saja melakukan kewajibanku malam ini, itu adalah hak ku. Karena kau telah rela menyerahkan dirimu tanpa paksaan dan menjadi istriku. Namun aku adalah seorang Pangeran sejati. Aku menunggu saat kau benar-benar datang sendiri padaku dan menyerahkan dirimu seutuhnya. Sebelum itu maka aku akan menjadi penjaga hatimu. Supaya tidak ada satu binatang pun yang akan mengganggu tidurmu."


Putri Tara malah tertidur mendengar ceramah Pangeran Hakim yang panjang kali lebar.


Pangeran Hakim terkejut saat melihat Putri Tara tertidur kembali.


"Dia tertidur. Bahkan wajahnya kelihatan sangat tenang sekali. Ternyata kata-kataku dia anggap sebagai dongeng pengantar tidur." Kata Pangeran Hakim kemudian rebahan disisi istrinya.

__ADS_1


Keesokan harinya Pangeran Hakim berbicara kepada Raja Muria akan niatnya membawa Putri Tara ke kerajaanya.


Sementara Permaisuri tengah menyamar sebagai pelayan dan menemui putrinya dikamarnya. Permaisuri sempat melihat Pangeran Hakim keluar dan saat ini sedang berbicara dengan Raja Muria.


Permaisuri tidak ingin dilihat siapapun jika dirinya masih hidup. Terlebih lagi terlihat dari keluarga Ratu Mayang. Untuk itu maka Permaisuri menyamar dan mengatakan sesuatu kepada Putri Tara.


"Apakah Pangeran itu telah kasar kepadamu Putri?" Tanya Permaisuri yang tahu jika putrinya telah mengorbankan dirinya demi bisa merebut kerajaan Mayang.


"Tidak Ibunda. Malah Pangeran sudah menyelamatkan hidup hamba dari gigitan seekor ular."


"Benarkah?" Tanya Permaisuri malah khawatir. Permaisuri khawatir jika suatu saat Putri Tara jatuh hati pada Pangeran Hakim.


"Jangan mudah terperdaya dengan apa yang kau lihat Putri. Yang diperlihatkan belum tentu sama seperti yang disembunyikan." Kata Permaisuri.


"Ibunda akan pergi, sepertinya suamimu datang." Kata Permaisuri kemudian mengangguk kepada Putri Tara dan juga kepada Pangeran Hakim yang baru saja masuk kedalam.


Pangeran Hakim kemudian melihat sekali lagi kepada pelayan yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Pelayan yang barusan berbeda dengan yang kemarin Putri." Kata Pangeran Hakim seperti melihat sesuatu yang janggal.


"Tidak Pangeran, mereka adalah pelayan hamba yang biasa melayani hamba. Mungkin yang kemarin sedang sakit sehingga yang ini menggantikanya." Kata Putri Tara menyembunyikan tentang kekhawatirannya. Dia khawatir jika Pangeran Hakim mengenali ibunya, Permaisuri Andini.

__ADS_1


__ADS_2