
Ratu Tara naik kuda disamping suaminya, Raja Hakim. Raja nampak khawatir dengan keadaan ratunya. Sementara Ratu Tara tidak mempedulikan keadaanya yang baru saja melahirkan.
Rasa sakit dan nyeri diperutnya tidak dia hiraukan. Dia melihat sekeliling dan berusaha menembus alam lain dengan mata batinnya.
Lamat-lamat terdengar suara bayi dari arah lautan didekat hutan.
"Apakah kau mendengar sesuatu Raja?" Tanya Ratu pada suaminya.
"Tidak. Aku tidak mendengar apapun." Kata Raja sambil berusaha memfokuskan pendengarannya.
"Apakah kau mendengar suara bayi yang sedang menangis?" Tanya Ratu lagi.
"Tidak. Aku tidak mendengarnya."
"Jika begitu dugaanku tidak salah lagi. Ibumu menyembunyikan putra kita dialam yang berbeda." Kata Ratu Tara.
"Alam yang berbeda, maksudmu di langit?"
"Bukan. Melainkan didalam bumi, bukan diatas langit."
"Didalam bumi? Apakah diruang bawah?"
"Bukan, suaranya dari sana!" Kata Ratu lalu menunjuk kearah lautan lepas.
"Aku pernah merasakan ikatan batin dengan putraku disana. Dan aku lama duduk mengamati sekelilingnya. Namun aku tidak menemukan apapun." Kata Raja yang pernah mendengar suara bayi diantara deburan ombak.
"Ayo kita kesana. Jika kau pernah kesana dan kau tidak menemukannya, maka pasti ada yang kau lewatkan." Kata Ratu Tara lalu memacu kudanya menuju kelautan.
Dipinggir laut Ratu Tara berdiri menghadap kepantai sambil mengucapkan mantra.
Tiba-tiba dari tengah lautan muncul kunang-kunang berwana keemasan yang sangat banyak.
"Ada hawa manusia dibawahnya. Pasti jumlahnya sangat banyak." Kata Ratu Tara dan mengamati kunang-kunang yang berputar melingkar ditengah laut itu.
"Maksudmu ada kehidupan didasar laut? Roh, jin atau iblis?"
"Bukan, mereka adalah manusia. Karena kunang-kunangnya berwarna keemasan. Artinya penghuni dasar laut adalah manusia." Ratu Tara lalu melayang di atas air dan tepat berhenti dimana kunang-kunang itu beterbangan.
Raja melihat dari kejauhan, lalu mengikuti jejak istrinya dan melayang diatas air.
Beberapa prajurit berjaga dipinggir laut karena mereka tidak bisa sihir.
"Apakah kau merasakan sesuatu?" Tanya Ratu Tara pada suaminya.
"Ya, aku merasakan udara disekitar sini lebih hangat dan aku mencium bau manusia."
"Hhh, itulah kenapa kau tidak menemukan ibumu dimanapun. Mungkin dia ada didasar air. Mari kita menyelam." Ratu Tara lalu masuk kedalam laut dan menemukan pintu besar mirip pintu sebuah kerajaan.
"Sudah kuduga, ada kerajaan didasar sini."
"Aku baru tahu jika mereka bisa mendirikan kerajaan didasar air."
"Ini adalah kerajaan sihir, jadi berhati-hatilah. Mungkin ada jebakan." Kata Ratu Tara.
"Aku akan berjalan lebih dulu. Kau dibelakangku." Kata Raja berada didepan Ratunya.
Tiba-tiba seekor ikan bergigi tajam melihat bayangan mereka dan melaporkanya pada Ratu Mayang.
"Ratu, ada penyusup yang datang keistana kita, mereka berjumlah dua orang."
"Tangkap mereka!' Teriak ratu pada prajuritnya!
Mereka lalu mencari keberadaan penyusup itu dari jejak mereka. Ikan bergigi tajam itu memiliki Indra penglihatan yang sangat tajam. Dia adalah kesayangan Ratu Mayang.
"Mereka disana!" Teriak Ikan itu.
"Ayo tangkap mereka!"
"Sepertinya ada yang mengikuti kita Raja." Kata Ratu Tara.
"Sebaiknya kita menyerahkan diri kita saja." Kata Raja.
"Kenapa begitu?" Tanya Ratu dengan bingung.
"Supaya kita dibawa ke Ratu dari kerajaan ini dengan lebih mudah." Kata Raja.
"Baiklah!" Kata Ratunya.
"Tempat ini sangat rumit, kita akan menemukan anak kita lebih mudah jika mereka membawa kita pada ratu dari kerajaan ini."
"Berhenti! Siapa disana!"
Para prajurit itu langsung mengepung mereka berdua dan membawanya kepada Ratunya dengan lebih mudah tanpa perlawanan.
Raja Hakim dan Ratunya kaget saat melihat siapa yang duduk di singgasana.
"Putraku!?" Tanya Ratu Mayang saat tahu jika putranya dan menantunyalah yang sudah menyusup ke istananya.
__ADS_1
"Ibunda!?" Tanya Raja Hakim kaget karena ternyata benar dugaan istrinya, jika ratu dari kerajaan ini adalah ibunya sendiri.
/
"Prajurit! Lepaskan ikatan mereka." Kata Ratu Mayang. "Mereka adalah keluargaku."
Hhhhh....
Ratu Tara menatap ibu mertuanya dengan kesal.
"Duduklah. Kalian adalah tamu di kerajaanku." Kata Ratu Mayang dengan manis.
"Putraku, bagaimana kabarmu? Kau sekarang sudah menjadi Raja dan lama kita tidak bertemu."
"Ibu...dimana putra kami?"
"Hahahaha....kalian tidak merindukan aku? Kita lama tidak bertemu, tapi putraku dan menantuku tidak merindukan ibunya. Ohh, malangnya nasibku ini...." Kata Ratu Mayang berpura-pura.
"Ibu, dimana putra kami?" Kata Ratu Tara dengan kesal karena dia sudah tahu jika ibunya pandai bersandiwara, apalagi didepan putranya.
"Kalian datang-datang langsung menuduh ibu telah mencuri putra kalian. Ya Tuhan, kalian tega sekali....menuduh ibu sudah mencuri cucu ibu sendiri, huhu...." Ratu Mayang pura-pura menangis.
"Ibu, tabib mengatakan jika ibu yang sudah mengambil putra kami yang baru saja lahir." Kata Raja Hakim.
"Dan aku melihat bahkan sempat mengejar orang yang mirip dengan ibu."
"Nah kan, ibu benar, kau mengejar orang yang mirip dengan ibu, tentu itu adalah orang lain yang menyamar menjadi ibu. Mana mungkin ibu melakukan hal itu....hiks hiks." Kata Ratu Mayang pura-pura menghapus airmatanya.
"Jika ibu tidak melakukanya lalu siapa yang sudah mencuri putra kami?" Tanya Raja Hakim.
"Raja, ibumu berbohong. Kenapa kau percaya pada ucapannya?"
"Ibuku berkata benar istriku. Mungkin yang mencuri putra kita adalah orang yang menyamar sebagai ibu." kata Raja yang luluh saat melihat airmata ibunya.
"Yang dikatakan putraku benar, sejak kalian berkuasa, semua orang bebas melakukan sihir, jadi mungkin orang lain menggunakan sihir untuk mencuri cucuku. Ohh, cucuku....aku belum sempat melihatmu dan orang lain sudah menculiknya, hiks hiks..." Ratu Mayang bersandiwara. Matanya melirik kesana kemari dan mulutnya tersenyum.
"Yang dikatakan ibu benar istriku. Di kerajaan kita banyak yang bisa menggunakan sihir. Kita telah salah menuduh ibu kita. Maafkan kami ibu, karena kami telah menuduhmu menculik putra kami." Kata Raja Hakim.
"Raja, kenapa kau percaya pada perkataan ibumu. Kau sendiri telah melihat jika ibumu membawa anak kita." Kata Ratu dengan marah dan kesal karena suaminya mudah terperdaya oleh wajah penuh tipu daya yang sedang tunjukkan oleh ibunya.
"Kalian sebaiknya pulang ke karajaan kalian, dan kalian cari diantara para penduduk didesa. Mungkin putra kalian ada disana."
Kata Ibunya menasehati.
"Raja, kita harus melihat setiap sudut istana ini. Pasti ibumu menyembunyikannya dikerajaan ya." Kata Ratu Tara berbisik.
"Tapi....lihatlah wajah ibu, dia sedang sedih dan dia tidak berbohong." Kata Raja.
"Anak dan ibu sama saja! Kalian jangan-jangan bersekongkol untuk menculik bayiku!" Kata Ratu Tara menuduh mereka berdua.
"Putraku, kemarilah, istrimu sedang marah dan kesal. Kemarilah putraku, aku akan membantumu mencari bayi kalian. Sebelum itu, ibu sangat merindukanmu. Apakah kau tidak akan memeluk ibumu ini?" Kata Ratu Mayang dengan tangan terbentang dan terbuka untuk putranya.
Ratu Tara menatap mereka berdua dengan sejuta rasa kesal dan jantungnya hampir meledak karena amarah.
Raja hakim berjalan perlahan pada ibunya. Ibunya tersenyum dan menatapnya dengan hangat.
Saat Raja menatap ibunya itulah, sihir Ratu Mayang masuk melalui matanya.
Ratu Mayang lalu memeluknya dan memasukkan sebuah sisik ikan keemasan dibelakang kepala putranya.
Saat ini Raja sudah dalam pengaruh sihir Ratu Mayang.
Mata Raja yang tadinya lembut tiba-tiba berubah.
Ratu Mayang melepaskan pelukannya dan Raja kembali pada istrinya.
"Mari kita pulang istriku. Putra kita tidak ada disini." Kata Raja yang sudah dalam kendali Ratu Mayang.
Tatapanya kosong dan dia seperti orang bodoh. Ratu Tara tidak begitu menyadarinya karena rasa amarah sedang membakar seluruh tubuhnya.
"Tidak! Aku tidak akan kembali sebelum menemukan putraku!" Kata Ratu Mayang menatap lurus pada ibu mertuanya.
Oek...oek....oek...
Bayi itu menangis dalam gendongan guru Duma. Guru Duma tidak tahu jika Raja dan Ratu sedang ada dihadapan Ratu Mayang.
"Bayiku.....putraku....itu suaranya..." Ratu Tara segera menoleh kebelakang. Dan dia mendapatkan guru Duma sedang menggendong putranya.
Ratu Tara akan mendekat dan tiba-tiba Ratu Mayang berteriak.
"Berhenti disitu!" Kata Ratu Mayang pada menantunya.
Raja diam saja karena sedang dalam pengaruh sihir ibunya.
"Itu adalah putraku. Guru Duma kembalikan dia padaku." Teriak Ratu Tara.
"Ini bukan putramu. Ini adalah anak yang aku temukan mengapung diatas air." Kata Guru Duma.
__ADS_1
"Kalian berbohong! Itu adalah putraku, serahkan dia padaku!" Kata Ratu Tara.
"Kenapa kau tidak percaya pada ucapan guruku. Yang dia katakan benar, itu bukan putramu, itu adalah anak yang ditemukan mengapung ditengah laut. Kau sudah menjadi gila karena kehilangan putramu. Guru, bawa bayi itu masuk kedalam."
Perintah Ratu Mayang pada guru Duma.
Bayi itu menangis semakin keras.
Lalu dengan sihirnya Ratu Tara mengikat tubuh guru Duma dan membuat guru Duma tidak bisa berjalan.
"Apa yang kau lakukan!" Teriak Ratu Mayang lalu dengan sihirnya melepaskan ikatan guru Duma yang sedang menggendong bayinya.
Ratu Tara menyerang guru Duma dan berusaha mengambil anak itu.
Ratu Mayang menggunakan sihirnya untuk menangkis sihir menantunya.
Merekapun akhirnya beradu kekuatan sihir. Ratu Tara sangat marah dan tidak peduli pada teriakan ibu mertuanya juga pada suaminya yang hanya diam saja.
"Raja! Kenapa kau diam saja? Cepat ambil putra kita dari tangan guru Duma. Dia adalah putra kita. Aku akan menahan ibumu!" Kata Ratu Mayang.
"Tidak! Dia bukan putra kita. Dan kau harus pergi dari tempat ini. Aku bukan suamimu, pernikahan kita hanya sandiwara." Kata Raja dan membuat Ratu Tara lemas seketika.
"Kalian bekerja sama untuk menipuku?" Kata Ratu Tara.
"Hahahaha....pergilah dari sini putri Andini! Kami sudah tidak membutuhkanmu lagi!" Kata Ratu Mayang tertawa karena berhasil menyakiti Putri dari permaisuri Andini.
"Pergilah dari sini!"
"Tidak! Aku tidak akan pergi tanpa putraku. Meskipun aku harus melawan kalian bertiga!" Teriak Ratu Tara lalu menyerang guru Duma dalam sekali serangan dan Ratu Mayang tidak sempat menangkisnya.
Guru Duma pun tumbang seketika dan Ratu Tara berhasil mengambil bayinya.
Saat ini bayinya sudah berada dalam gendongannya.
Guru Duma mati saat itu juga karena Ratu Tara menggunakan seluruh kekuatannya dalam sekali serangan. Hanya itu yang bisa dia lakukan melawan orang-orang licik seperti mereka.
"Guru....!" Teriak Ratu Mayang.
"Kurang ajar! Aku tidak akan mengampunimu!"
Teriak Ratu Mayang.
Ratu Tara lalu menarik suaminya dan mengikatnya dengan kekuatan sihir dari keris mayapada. Ratu Tara akan membuat perhitungan dengan suaminya dan menyanderanya.
Dia benar-benar marah saat ini. Dia menghancurkan istana Ratu Mayang dengan kekuatan yang dahsyat.
Ratu Mayang terus berusaha mengejar Ratu Tara yang membawa cucu serta putranya.
"Kau tidak tahu, apa yang bisa seorang ibu lakukan demi putranya. Bahkan seluruh kekuatanmu tidak akan mampu melawanku!" Teriak Ratu Tara dan melemparkan bola api pada Ratu Mayang yang mengejarnya.
"Keris mayapada...datanglah...." Ratu Tara lalu memanggil keris mayapada dan membuat kerajaan Ratu Mayang terbakar dengan kekuatan sihir dari keris itu.
Ratu Mayang terluka akibat ilmunya memang saat ini tidak sekuat dahulu akibat raja langit.
"Aku akan membuat perhitungan padamu! Tunggulah saat itu tiba!" Kata Ratu Mayang lalu pergi menghilang dari kerajaanya.
Sementara Ratu Tara membawa Raja dan mengurungnya dipenjara bawah tanah.
"Ratu....apa yang Ratu lakukan pada Raja?" Tanya Panglima kumbang saat melihat Rajanya dalam kondisi tidak sadar dan Ratu merantai kaki dan juga tangannya.
"Dia sudah bersekongkol dengan Ratu Mayang untuk menculik putraku. Aku akan membuatnya menderita karena sudah mengkhianatiku." kata Ratu Tara lalu pergi meninggalkan penjara bawah tanah itu.
Panglima kumbang lalu berjalan disamping ratunya.
"Tapi Ratu...apa yang sudah terjadi dan mari kita bawa putra mahkota kepada tabib." Kata Panglima kumbang.
Seluruh istana gempar karena Ratu memenjarakan raja. Dan mereka berbicara tentang persekongkolan Raja dan ibunya demi balas dendam.
"Aku tidak menduga Raja tega melakukan itu." Kata seorang pelayan.
"Iya, dia sudah bersekongkol dengan ibunya demi balas dendam."
"Aku dengar Ratu Tara adalah putri dari permaisuri Andini. Pemilik kerajaan ini sebelumnya. Tapi dimanakah Permaisuri Andini saat ini?"
"Tidak ada yang tahu hingga Ratu akan mengikrarkan dirinya sebagai Ratu satu-satunya dikerajaan ini." Kata Salma diantara para pelayan itu.
"Raja ada didalam penjara. Dan Ratu akan menjadi pemimpin tunggal dikerajaan kita." Kata yang lainnya.
Ratu Tara bersama putranya saat ini sedang berada didalam kamar.
Ratu lalu menulis surat pada ibunya dan meminta ibunya agar datang kekerajaanya.
Ibu, mereka sudah menipuku....suamiku sudah mengkhianatiku....
Itu adalah salah satu isi dari surat yang ditulis oleh Ratu Tara pada ibunya.
Seekor burung merpati putih, membawa surat itu dan dibawa ke kerajaan Muria.
__ADS_1
Sementara Raja bangun dari pingsannya akibat pukulan dan sihir ratu Tara.
"Kenapa aku ada disini? Dan kenapa aku terikat seperti ini? Siapa yang sudah mengikatku?" Kata Raja pada prajurit yang berjaga didekatnya .