Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Mual-mual


__ADS_3

Ratu Mayang berbaring diranjangnya dan ditemani Bibi Kaliya. Bibi Kaliya menatap Ratunya dengan sangat khawatir.


"Haruskah saya panggilkan tabib ratu?" Tanya bibi Kaliya sambil memijat telapak kaki ratunya.


"Tidak usah bibi, saya mungkin sedang tidak enak badan. Dan saya tadi mencoba makan daging rusa yang sebelumnya belum pernah saya makan. Mungkin itu sebabnya." Kata Ratu.


Namun bibi Kaliya mencurigai jika tetap terjadi energi yang berbeda dari tubuh Ratu Tarra. Energi itu begitu kuat dan aromanya bisa tercium oleh ketajaman Indra Bibi Kaliya.


"Jika ratu membutuhkan sesuatu panggilan saya." Kata Bibi Kaliya yang berangsur pergi saat melihat raja masuk dengan muka uang cemas.


"Kau baik-baik saja ratuku? Apakah tabib sudah datang?"


"Tidak yang mulia. Hamba tidak membutuhkan tabib. Hamba hanya belum terbiasa makan daging rusa, mungkin itu sebabnya." Kata Ratu pada suaminya.


"Baiklah, jika kau menjadi seperti ini gara-gara makanan itu maka lain kali aku tidak akan membunuhmu untuk memakannya." Kata Raja duduk dan memegang kening istrinya.


"Wajahmu terlihat begitu pucat."


"Tidak apa yang mulia. Hamba hanya butuh istirahat. Setelah itu, maka ....hamba akan sehat kembali."


"Baiklah jika begitu maka istirahatlah. Aku akan menemanimu." Kata Raja lalu melihat wajah istrinya yang matanya mulai terpejam.


Dia terlihat sangat cantik meskipun sedang tertidur.


Tidak lama kemudian Ratu sepertinya sudah benar-benar tidur. Raja lalu menarik selimut dan menyelimuti istrinya.


Dia sendiri berbaring disampingnya.


"Kau ini lucu sekali. Kau sangat marah, padahal aku hanya melakukan kewajibanku sebagai suami. Namun entah kenapa semua itu melanggar apa yang kau yakini. Dan keyakinan darimana yang melarang istrinya melayani suaminya. Ini sangat aneh,hhhhh."


Malam harinya saat tengah malam, Ratu membuka matanya dan melihat Raja yang tertidur pulas.


Pasti akan banyak kendala jika dia berpamitan pada raja tentang kepergiannya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku menulis surat padanya."


"Ya, ini lebih baik dan aku bisa bersemedi dengan tenang."


Setelah menulis kata-kata yang menguatkan, Ratu langsung keluar dengan sihirnya dan ternyata gagal.


Kamarnya telah diamankan oleh kubah yang tidak terlihat.


Siapa lagi yang akan melakukan hal itu, selain suaminya itu.


Berulang kali Ratu berusaha untuk keluar namun kekuatannya tidak bisa menembus kubah milik Raja. Akhirnya Ratu hanya bisa menghela nafas panjang dan duduk dipinggir ranjangnya.


"Bagaimana ini? Jika aku tidak melakukan semedi maka musibah akan terjadi."


"Kau bangun?" Kata Raja saat membuka matanya dia dilihatnya Ratunya duduk disamping ranjang.


"Iya, hamba ingin melakukan semedi malam ini juga, ijinkan hamba keluar istana."


"Kau tidak perlu melakukannya. Kita akan menemui pertapa sakti besok. Dan kau akan mendapatkan solusi yang lainnya." Kata Raja.


"Karena untuk menjaga keselamatanmu. Tidak mudah menembus kubah ini dari luar, dan saat aku berburu, kau bisa tidur dengan tenang." Kata Raja.


"Tapi saya kira tidak perlu menggunakan kubah ini, tidak akan ada yang bisa menyakiti saya." Kata Ratu Tara.


"Kau tidak tahu, kapan dan siapa orang yang akan berbuat jahat padaku atau padamu. Dan sejak kepergian ibunda, semua orang belajar ilmu sihir dengan bebas. Tentu saja semakin lama mereka akan punya kekuatan yang semakin besar. Dulu sihir dilarang di kerajaan kita, dan hanya anggota kerajaan saja yang boleh meggunakannya."


"Tapi mereka juga punya hak untuk belajar magic seperti itu." Kata Ratu.


"Tapi, kau tidak tahu, jika mereka kuat, mereka bisa saja menjadi ancaman bagi kerajaan ini." Kata Raja.


"Yang mulia terlalu khawatir," kata Ratu lalu berbaring.


"Mari kita istirahat lagi, besok pagi-pagi kita akan pergi menemui pertapa sakti itu." Kata Raja lalu mengajak ratunya untuk tidur kembali.

__ADS_1


Keesokan harinya.


"Ratu akan kemana?" Tanya Bibi Kaliya saat memberikan minuman untuk Ratunya.


"Saya akan pergi menemui pertapa sakti Bibi."


"Untuk apa?"


"Saya khawatir dengan musibah yang mengancam kerajaan dan rakyat kita akibat saya melanggar janji itu."


"Ratu tidak jadi kegoa?"


"Tidak bibi, Raja akan mencoba mencari solusi yang lainnya." Kata Ratu.


"Sepertinya Ratu mulai lebih percaya pada Raja daripada pada buku sakti itu." Kata Bibi Kaliya.


"Tidak bi, Raja sangat khawatir, jadi jika ada cara yang lebih ringan, maka kita akan melakukan cara yang kedua untuk terhindar dari bencana itu."


"Ratu jangan terlalu percaya pada Raja. Dia adalah titisan Ratu Mayang. Darah dan pemikiran ibunya masih kental dalam darah dan sumsumnya. Jangan sampai Ratu tertipu oleh ilusi cinta." Kata Bibi Kaliya memperingatkan.


"Tidak bibi, bibi jangan terlalu khawatir, Raja berbeda dengan ibunya. Ibunya sudah tiada, dan Raja saat ini sudah berubah."


"Anak selalu menuruni sifat ibunya. Mungkin tidak sekarang. Dan saat itu terjadi, Ratu sudah dalam cengkeramannya. Ratu harus tetap menjaga jarak dengan Raja."


"Baiklah bibi." Kata Ratu Tara karena apa yang dikatakan bibinya ada benarnya juga.


Bagaimana jika Raja hanya berpura-pura baik padanya? Bagaimana jika ternyata Raja sebenarnya tahu jika ibunya tidak tinggal bersama Kaisar langit. Tapi ada dilautan paling dalam?


Aku harus tetap waspada dengan Raja, gumam Ratu Tara.


Bibi Kaliya melihat dari kejauhan dan tersenyum tipis. Matanya menatap Ratu dengan tatapan yang tidak biasanya.


Entah apa yang tersembunyi dari hati yang tertutup daging itu? Kebaikan atau keburukan, hanya bisa dibuktikan setelah pemilik raga itu melakukanya.

__ADS_1


Selama semua itu hanya berupa keinginan dan masih tersimpan dihatinya, tentu tidak bisa dilihat atau di terka. Dan yang tahu apa keinginan hatinya hanyalah dipemiliknya saja.


Apalagi Ratu yang masih belia, masih polos dan tidak tahu muslihat dalam kerajaan.


__ADS_2