
"Nah ini sudah selesai putri. Sekarang coba kau pakailah. Nanti jika ukurannya kurang pas maka akan aku perbaiki sebelum fajar tiba." Kata Peri Hijau sambil menyerahkan sebuah untaian bunga yang sangat indah.
"Baik peri.."
Kemudian Putri Tara mencoba baju itu dan diluarnya dia tutupi dengan hiasan bunga yang sudah dirajut dengan indah oleh Peri.
"Sempurna Putri. Ukuranya pas. dan kau terlihat sangat cantik dengan baju itu. Sekarang berputar lah." Peri Hijau kagum dengan baju dan juga rangkaian bunga yang begitu serasi dipakai oleh Putri Tara.
"Terimakasih Peri, ternyata hasilnya bisa menutupi gambar keris dipunggungku."
"Benar....sekarang gambar keris itu sudah tidak terlihat, tertutup oleh rangkaian bunga."
"Baiklah, bantu aku melepaskan baju ini peri, aku takut hiasan bunganya rusak."
Setelah mencoba baju yang terbuat dari bunga itu, kemudian Putri Tara menyimpanya kedalam lemari.
"Sekarang tidurlah putri, kau masih bisa tidur beberapa jam lagi sebelum fajar tiba."
"Baiklah peri, selamat malam."
Kemudian Putri Tara tertidur dalam waktu cepat. Dan didalam mimpinya dia melihat dirinya dan Pangeran Hakim dalam kehidupan sebelumnya. Mereka adalah pasangan yang sangat bahagia sampai akhirnya dipinggir jurang Pangeran Hakim menusuknya dengan sebuah belati yang sudah dilumuri racun dan Putri Tara jatuh kedalam jurang. Dan sudah tidak bernafas lagi.
Akhirnya Putri Tara terbangun dari mimpi buruknya. Apakah mimpi ini nyata? Terlihat seperti nyata sekali. Dan aku menjadi pasangan Pangeran Hakim namun, entah kenapa Pangeran Hakim tiba-tiba menusukku dan aku jatuh kedalam jurang dengan belati diperutku.
Apakah saat ini aku telah berenkarnasi? Apakah itu kehidupan masa laluku? Atau itu yang akan terjadi pada masa depanku? Tidak! Aku tidak akan jatuh cinta pada Pangeran dari titisan Ratu yang kejam.
Bagaimana aku bisa bermimpi seperti ini? Ini tidak masuk akal. Aku mencintai musuhku? Jika itu memang pernah terjadi di kehidupan ku sebelumnya. Maka tidak akan kubiarkan aku mengalaminya dikehidupanku yang saat ini.
Kemudian Putri Tara tertidur lagi. Dan tiba-tiba terjaga saat sebuah wajah sedang ada dihadapannya dan memandangnya dengan tersenyum.
"Pangeran?"
"Maafkan saya Putri. Pintunya terbuka dan saya masuk. Tapi ternyata kau masih tertidur pulas. Aku pikir kau sedang sakit, karena kelelahan."
"Lain kali saya mohon jangan masuk tanpa izin dari saya pangeran."
"Ya maaf Putri. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu sehingga terpaksa aku masuk tanpa izin darimu."
"Sekarang hamba mohon pangeran tinggalkan saya sendiri. Saya akan mengganti baju."
"Baiklah. Silahkan Putri. Dan jangan lupa untuk memakai baju dari ibunda. Ibunda ingin sekali melihat Putri dengan baju itu."
"Baiklah Pangeran, saya mengerti."
Kemudian Pangeran Hakim pergi meninggalkan Putri Tara sendirian. Putri Tara segera bangun dari tempat tidurnya dan mengambil baju itu. Dan dengan cepat memakai hiasan bunga. Saat ini Pangeran Hakim dan Ratu Mayang pasti terkejut karena usaha mereka untuk melihat tanda dipunggungku gagal.
__ADS_1
Kalian memang cerdik tapi aku juga tidak sebodoh itu.
"Pangeran silahkan masuk." Ujar Putri Tara setelah berganti baju dan memakai hiasan bunga yang telah dirajut oleh Peri Hijau.
Kemudian pangeran Hakim masuk dan dia berdiri mematung karena terpana melihat kecantikan dan keindahan baju yang dikenakan Putri Tara.
"Kau sangat cantik dengan baju itu. Kau seperti bidadari yang baru saja turun dari langit."
"Kamu terlalu memuji pangeran. tapi.... terimakasih."
"Baiklah ayo kita menemui ibunda Ratu." Kata Pangeran dan ingin menggandeng Putri Tara tapi niat itu diurungkannya.
Kemudian Pangeran Hakim mengajak Putri Tara menemui Ratu Mayang.
Dari jauh Ratu Mayang melihat Pangeran Hakim dan Putri Tara masuk dengan perasaan bahagia karena sudah tidak sabar lagi ingin melihat tanda itu dipunggung Putri Tara.
Namun wajah Ratu Mayang berubah muram dan kecewa saat dilihatnya Putri Tara menggunakan hiasan bunga dari leher hingga kepunggungnya.
"Salam Ibunda..." Kata Pangeran Hakim memberi hormat.
"Salam Ratu...." Kata Putri Tara yang tersenyum didalam hati melihat wajah Ratu Mayang yang kecewa setelah tidak berhasil melihat tanda di punggungnya.
"Baiklah kita berangkat sekarang!" Kata Ratu Mayang.
"Mari ibunda...."
Ini adalah hutan sihir, Dan dihutan ini sihir Putri Tara sepertinya melemah. Putri Tara mulai waspada dan harus selalu siap terhadap segala kemungkinan diluar dugaan.
Dari ujung tanganya Putri Tara berusaha mengubah batu kecil menjadi seekor kelinci, namun ternyata batu itu tetap dalam wujudnya semula.
Untunglah saat Putri Tara melakukan sihir itu, pangeran Hakim sedang berada didekat Ratu Mayang dan entah apa yang mereka bicarakan.
Aku harus waspada karena disini sihirku sepertinya melemah. Setidaknya aku tahu jika aku tidak boleh melawan Ratu Mayang dalam hutan buatanya ini. Suatu saat Hutan buatan sihir Ratu Mayang pasti akan digunakan untuk seseorang dimasa depan.
Pangeran hakim pasti tidak menyadarinya. Tapi aku tahu untuk apa hutan ini dibuat. Ini akan digunakan untuk memenjarakan seseorang dan orang itu tidak akan bisa melawanya ataupun menggunakan kekuatanya selama berada dihutan ini. Sehingga orang itu tidak bisa melawan Ratu Mayang.
"Putri kemarilah..."
"Ada apa Ratu."
"Kenapa kau tidak membuat hiasan dengan bunga yang ada disini? dan gantilah hiasan bunga yang saat ini kau pakai. Sepertinya hiasan bunga yang kau pakai mulai layu."
Ratu Mayang benar-benar penasaran dengan tanda dipunggungku. Dan dia ingin sekali melihatnya. Dan jika berhasil melihat tanda itu, Ratu Mayang pasti akan mengurungku disini. Sementara aku tidak bisa melawan atau menghunakan kekuatanku ditempat ini.
Bagaimana ya? Jika aku menolaknya, aku takut dia mencurigaiku.
__ADS_1
"Baiklah Ratu.... hamba akan mengumpulkan bunga dan mengganti hiasan yang hamba pakai."
"Aku sengaja mengajakmu berjalan kemari karena aku tahu kau menyukai bunga. Kau juga bisa membawa bunga dari sini untuk wewangian atau parfum.
Beberapa bunga disini tidak tumbuh ditaman istana."
"Iya benar Ratu."
"Baiklah kalian berdua habiskan waktu kalian disini dan bersenang-senang lah, aku akan kembali ke istana.
"Baik Ratu."
Kemudian Ratu Mayang pergi meninggalkan mereka berdua.
Pangeran Hakim berjalan mendekati Putri Tara. Dan memberikan sebuah keranjang untuk Putri Tara.
"Gunakan keranjang ini Putri..." Kata Pangeran Hakim.
Namun Putri Tara tidak bergeming. Putri Tara sedang melihat sesuatu diantara semak-semak, sehingga tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Pangeran Hakim.
Pangeran kemudian melihat apa yang saat ini sedang dilihat oleh Putri Tara. Ternyata seekor rusa emas yang sangat cantik.
"Rusa itu cantik sekali, bisakah kita membawanya keistana?" Tanya Putri Tara.
"Jangan Putri, Ibunda melarang berburu dihutan ini." Kata Pangeran Hakim kepada Putri Tara.
"Baiklah tidak papa. Aku belum pernah melihat rusa secantik itu."
"Oohh itu Rusa liar. Kami sering melihatnya berkeliaran disini."
"Apakah Rusa itu bukan rusa sungguhan?"
"Maksud Putri? Aku tidak mengerti." Kata Pangeran Hakim.
"Itu Rusa sungguhan, bukan sihir." Kata Pangeran Hakim yang akhirnya mengerti pertanyaan Putri Tara.
"Kau juga pasti pandai melakukan sihir seperti Ratu Mayang..." Kata Putri Tara.
"Ya. Aku dan Haris menguasai Sihir yang diajarkan oleh ibuku sejak kami masih kecil."
"Siapa Haris?"
"Dia adalah putra dari Panglima Kumbang, namun sudah dianggap seperti putranya sendiri oleh ibunda."
Mungkin dia adalah perisaimu. Yang bersedia mengorbankan nyawanya demi melindungi mu. Dan kau adalah perisai ibumu.
__ADS_1
Dalam hati Putri Tara bergumam.