
"Akhirnya kita sampai." Kata Raja dan duduk didepan sebuah goa
"Tapi banyak jaring laba-laba dipintu goa ini?" Tanya Ratu.
"Mungkinkah ada pertapa itu didalamnya? Jaring laba-labanya sangat penuh dan banyak." Kata Ratu menyentuh jaring laba-laba itu dengan jari kelingkingnya.
"Apa kau pikir aku berbohong padamu?"
"Aku tidak bilang begitu." Kata Ratu sambil memonyongkan bibirnya.
"Tunggulah disini. Aku yang akan masuk kedalam. Jika aku tidak keluar dalam waktu lama, kau bantu aku, jangan-jangan ada hantu yang menahanku didalam."
"Mana mungkin ada hantu. Kau hanya akan dimakan ular jika kau terus jahat padaku Raja."
"Aku akan masuk dari sebelah kiri, pintunya nampak sudah lapuk. Hati-hati batu bisa menutupnya jika kau terlalu kencang membukanya." Kata Raja.
"Tidak akan ada kecerobohan seperti itu. Aku adalah seorang Ratu. Tentu aku tidak sebodoh itu hingga membuat batu ini runtuh dan menutup goa ini." Kata Ratu Tarra.
"Masuklah Raja. Aku akan berjaga disini." Kata Ratu Tarra sambil melihat kesekililing hutan itu.
"Baiklah aku akan masuk. Ingatlah pesanku." Kata Raja lalu masuk dengan hati-hati.
Suara kakinya bergaung ketelinganya. Raja muda itu terus berjalan tanpa rasa takut. Ada danau kecil didalam goa itu dan betapa kaget Raja saat ada manusia lumut didalamnya.
"Siapa kau! Kenapa kau lancang masuk dan mengganggu pertapaanku?" Kata suara manusia lumut yang semua wajahnya tertutup lumut hijau dan hanya rambutnya yang terlihat putih bersih tanpa lumut.
Raja tertegun dan kaget melihat penampakan aneh seperti itu.
"Maafkan saya atas kelancangan saya pertapa. Saya adalah raja muda Hakim. Saya datang bersama Ratu. Dan kami ingin meminta bantuan pada guru?"
"Kau bukan muridku, kenapa kau memanggilku guru? Aku tidak punya murid, dan aku tidak akan membantumu. Jadi pulanglah!" Kata Pertapa berlumut itu.
"Tapi hamba mohon demi istri hamba, kami sangat membutuhkan pencerahan dari dilema dan kecamatan istri hamba yang tidak masuk akal."
"Bawa istrimu kemari! Sudah kubilang untuk pergi tapi kau ngeyel, raja muda bodoh!" Kata Pertapa itu.
Meskipun tersinggung tapi Raja muda Hakim tidak mau melawan pertapa sakti itu. Dan dia menututi perkataanya untuk membawa Ratu kehadapan ya.
__ADS_1
"Kemarilah, cepat."
"Hamba yang mulia raja."
"Iya cepat!" Kata Raja lalu mengajak Ratunya menghadap pertapa sakti yang masih saja menamakan matanya.
"Kenapa kau lakukan ini? Kau adalah istrinya, jadi lakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Dan katakan pada suamimu yang bodoh itu untuk jangan datang lagi."
"Hhhhhhaaahh! Darimana guru tahu semua itu? Kami bahkan belum mengatakanya?"
Tanya Raja muda Hakim dengan takjub akibat pengetahuan dari pertapa sakti itu.
"Sekarang kau sudah menemukan jawabannya, ambilah bunga didepan goa, secukupnya, dan taruh itu dikamar kalian." Kata Pertapa sakti itu.
"Tapi...bagaimana bencana yang akan terjadi guru sakti?" Tanya Raja.
"Istri hamba begitu ketakutan dan tidak mau melayani hamba karena musibah yang akan terjadi." Kata Raja muda Hakim.
"Musibah hanya akan terjadi saat kalian kehilangan kepercayaan pada pasangan masing-masing. Dan saat kalian tahu itulah musibah akan datang." Kata Guru sakti berlumut itu.
Tiba-tiba pertapa sakti itu menghilang dan tidak terlihat oleh Raja dan Ratu muda itu.
"Kemana guru sakti itu menghilang?"
"Sepertinya, pertapa sakti itu tidak mau kita mengganggunya lagi. Mari kita pulang!" Kata Raja.
Mereka lalu keluar dari goa dan anehnya begitu mereka keluar, jaring laba-laba yang tadinya rusak bersatu kembali dan menutupi pintu goa.
"Lihatlah itu Raja." Kata Ratu.
"Bahkan tidak ada kerusakan pada pintu goa yang tadi kita pegang." Kata Ratu.
Raja mengangguk dan mengerti jika itu adalah cara guru sakti agar tidak terganggu oleh kedatangan tamu tak diundang.
"Ayo kita kumpulkan bunga kuning ini." Kata Ratu yang mulai memetik bunga kuning dan masukkanya kedalam daun.
"Bunga ini harum dan membuat kepalaku sedikit pusing." Kata Ratu.
__ADS_1
"Baguslah, artinya bunga itu ada khasiatnya." Kata Raja.
"Maksud Raja?" Ratu nampak bingung dengan khasiat yang dimaksud.
"Kau akan mengerti saat kita kembali."
"Ini sudah cukup. Tadi pertapa itu berpesan untuk memetik secukupnya saja." Kata Ratu dan membungkus bunga itu dan memasukkannya kedalam kantong dari kain yang dia bawa.
"Dengarkan apa kata pertapa itu. Kau ini sudah menyusahkanku sekian lama." Kata Raja dengan kesal.
"Apa maksudnya?" Gumam Ratu dan berjalan didepan Raja.
"Apakah kita akan bermalam dihutan malam ini?" Tanya Ratu pada Raja saat mereka sudah sampai ditengah hutan dan dekat dengan sungai.
"Sebaiknya tidak. Tempat ini sangat berbahaya. Kita cari rumah penduduk saja. Dan kita berjalan lagi sampai dipinggir hutan." Kata Raja.
Mereka sampai diperkampungan.
"Pak, adakah kamar yang kosong untuk kami beristirahat?"
"Masih ada. Silahkan masuk akan saya tunjukan." Kata pak tua itu.
"Duduklah disini. Saya akan membersihkan kamarnya dulu."
Pak tua itu lalu membersihkan kamarnya untuk tuanya beristirahat.
"Silahkan masuk kedalam, kami sudah membersihkannya." Kata pak tua itu.
Ratu dan Raja yang sedang menyamar lalu masuk kekamar untuk beristirahat.
"Kau tidurlah Ratu, aku akan berjaga." Kata Raja.
"Ratu segera terlelap karena merasa lelah dan capek setelah seharian berjalan terus."
"Haruskah kita menggunakan sihir disini?"
"Sebaiknya jangan. Tidurlah, aku akan menjagamu." Kata Raja.
__ADS_1