Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Ratu Tara berduka


__ADS_3

Pagi harinya saat bangun dari tidurnya karena kelelahan setelah menangis sepanjang matanya terjaga, Raja sudah duduk disampingnya.


Layaknya suami yang siaga siang dan malam, namun rasanya terlambat, bagi sang Ratu.


Dia sudah kehilangan putranya. Bahkan satu malam sudah berlalu dan dia tidak tahu nasip putranya kini.


"Raja, pergilah, carilah putraku....aku mohon...." Kata Ratu memohon kepada Raja agar pergi mencari putranya dan mengembalikanya kedalam pelukannya.


"Tapi, aku khawatir dengan keadaanmu?" Kata Raja menatap ratunya dengan jarak yang sangat dekat.


"Jangan khawatirkan aku, putra kita lebih membutuhkanmu saat ini. Tolonglah Raja, pergilah sekarang juga."


Tiba-tiba seorang pelayan masuk dan membawa sarapan untuk raja dan ratunya.


"Letakkan disitu saja bibi." Kata Raja pada pelayan yang sudah agak tua atau setengah baya.


Raja lalu mengambil piring dan mendekatkanya pada Ratunya.


"Kau harus makan ratu. Jika kau sakit, bagaimana putra kita akan bertahan. Kau harus cepat sehat, dan saat putra kita kembali, kau akan kuat untuk menggendongnya." Bujuk Raja agar Ratu mau makan.


Dari kemarin ratu tidak mau makan, padahal dia baru saja melahirkan dan tentunya badanya sangat lemas dan kehilangan banyak energi.


"Bagaimana aku bisa makan jika anakku belum ditemukan?" Kata Ratu dengan suara parau.


"Aku akan menemukannya, kau makanlah dulu. Sedikit-sedikit, aku akan menyuapimu." Kata Raja lalu mengambil sesuap untuk Ratunya.


Ratu membuka mulutnya dengan perlahan.


"Sudah Raja."


"Kau baru makan sesuap. Itu belum cukup. Kau harus segera pulih kembali dan sehat." Kata Raja membujuk lagi.


"Aku tidak sanggup makan lagi, aku terus memikirkan putra kita. Aku bahkan belum menyusuinya."


"Tenanglah, setelah kau menghabiskan sarapanmu, aku akan mencari putra kita."


"Berjanjilah padaku kau akan membawanya kembali dengan atau tanpa ibumu."


"Ya, aku berjanji." Kata Raja lalu menyiapkan sesuap lagi pada Ratunya.


Raja lalu makan sedikit dan bersiap untuk mencari keberadaan ibunya.


"Aku akan pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik. Kau harus makan saat aku belum kembali." Kata Raja.


Ratu mengangguk dan Raja meninggalkan istana Ratu dan mengajak beberapa prajurit untuk pergi bersamanya.


"Panglima, kemarilah!" Panggil Raja.


"Ya yang mulia." Jawab panglima berjalan mendekat pada rajanya.


"Jagalah Ratu hingga aku kembali. Aku akan mencari keberadaan ibuku. Putra mahkota bersamanya." Kata Raja berpesan pada panglima kumbang.


"Baik Raja." Kata Panglima kumbang dan derap kaki kuda Raja meninggalkan istana bersama beberapa prajuritnya.


***


Bibi Kaliya datang dengan membawa sebuah ramuan.


"Ratu, minumlah ini." Kata Bibi Kaliya dan melihat keadaan Ratunya dia tiba-tiba tersenyum bahagia.


"Taruh saja disitu bi." Kata Ratu Tara.


Bibi Kaliya segera berpamitan dari kamar Ratunya.


"Apakah Raja sedang pergi mencari putranya?"


Tanya bibi Kaliya memastikan jika Raja sudah benar-benar pergi.


"Raja sedang mencari keberadaan Ratu Mayang. Entah apa maksudnya, dan apa tujuannya hingga dia harus membawa putraku yang masih merah." Kata Ratu dengan sedih.


"Tenanglah Ratu, Raja pasti berhasil menemukan persembunyian Ratu Mayang."


Bibi Kaliya lalu keluar dan segera pergi keistana Raja.


Tidak ada pangeran Haris disana yang selalu mengintainya sekarang. Begitu Raja tidak ada dalam istana, Bibi Kaliya bebas pergi kekamarnya dan masuk kedalam perpustakaan bawah tanah.


Tapi Salma melihat apa yang dilakukan bibi Kaliya itu.


"Sudah kuduga jika dia adalah serigala berbulu domba. Dia bermuka dua dengan siapapun." Kata Salma dari kejauhan.


Salma sayangnya tidak punya ilmu sihir, sehingga tidak bisa melewati prajurit penjaga kamar Raja.


Sedangkan bibi Kaliya menguasai ilmu sihir, sehingga bisa memperdaya kedua prajurit penjaga kamar raja.


Saat ini Bibi Kaliya ada diruang bawah tanah. Dia segera mencari buku pengendali raksasa yang lainnya.


Dia ingin segera mengendalikan raja karena waktunya sudah dekat. Sebentar lagi akan terjadi masalah dengan kerajaannya. Dan sebelum semuanya terjadi, dia ingin bisa mengendalikan Raja dan sewaktu-waktu membuatnya berubah wujud.


Bibi Kaliya lalu membaca sebuah kitab kuno tentang siasat merebut kekuasaan. Dan didalamnya ada juga cara mengendalikan raksasa yang berwujud jelmaan.


Bibi Kaliya pun membacanya hingga sore hari.


"Sebentar lagi Raja akan kembali. Sebaiknya aku membacanya dikamarku." Kata Bibi Kaliya lalu menyimpan buku kuno itu diantara bajunya yang lebar.


Dia keluar dan berhasil membuat kedua penjaga itu menutup matanya untuk sesaat.


"Eehhhh, kenapa sepertinya ada yang lewat, dan kenapa dengan kita?" Tanya seorang prajurit.


"Iya, aku tiba-tiba mengantuk sekali. Untunglah yang mulai raja belum kembali. Kita bisa dipecat jika ketahuan seperti ini." Kata temannya.


"Mungkin ada yang menggunakan sihir diistana ini."


"Pelayan menggunakan sihir?"


"Ya, sejak pemerintahan Raja dan Ratu, sihir dibebaskan dan siapapun boleh menggunakanya."


"Kau benar, kita tidak tahu siapa saja diantara para pelayang yang mempelajari ilmu sihir. Sedangkan di zaman Ratu Mayang, sihir itu dilarang, sehingga tidak ada yang berani menggunakannya."

__ADS_1


"Aku dengar, Ratu Mayang dayang dan menculik cucunya sendiri?"


"Ya, aku juga mendengarnya. Dia datang tiba-tiba dan pergi dengan cepat setelah berhasil mendapatkan cucunya."


"Kenapa dia menculik cucunya sendiri?"


"Ya, itulah yang sedang aku pikirkan."


***


Ditengah hutan Raja dan beberapa prajurit sedang duduk dibawah pohon karena kelelahan.


Mereka sudah berkuda kesana kemari dan menanyakan jika saja ada yang mengetahui keberadaan ibunya.


Dan semua mengatakan tidak tahu jika Ratu Mayang membawa seorang bayi.


Rakyat juga bersedih begitu tahu jika Ratu Tara kehilangan bayinya.


Raja sedang duduk hingga tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari kejauhan.


"Itu suara bayi? Dimana suara itu berasal?" Tanya Raja pada para prajuritnya.


"Tapi disini jauh dari penduduk raja. Disini hutan dan sebelah sana lautan. Bagaimana ada bayi diantara hutan dan laut?"


Tanya prajurit dengan polos. Sementara Raja tahu jika Ratu Mayang pasti bersembunyi diantara kesunyian. Tidak mungkin dia berada diantara para penduduk.


oek...oekk... oekk...


Raja mendengar lagi jika bayi itu menangis. Raja berlari kesana kemari dan mencoba mencari asal muasal suara bayi itu.


Tapi, tiba-tiba suara itu sudah tidak terdengar lagi.


***


Kau ini sangat merepotkan!" Gerutu Guru Duma yang sedang memberikan susu untuk bayi itu karena dari tadi dia menangis saat merasa lapar.


"Kau jangan kasar-kasar padanya guru! Dia adalah cucuku. Dia akan menjadi kekuatan dan perisaiku. Aku yakin dia bukan bayi sembarangan. Dia adalah bayi ajaib. Dia pewaris keris keabadian dari ibunya " Kata Ratu Mayang.


"Ohh, otakmu encer juga Mayang. Kau tidak bisa mengendalikan putramu dan sekarang kau mendapatkan anaknya sang pewaris keris keabadian."


"Ya, itulah alasannya aku diam disini. Aku menunggu hingga menantuku melahirkannya. Aku akan membuat perhitungan dengan Andini dan putrinya melalui anak ini."


"Mereka akan saling bertarung saat besar nanti. Dan aku yang akan diuntungkan dari semua ini." Kata Ratu Mayang dengan liciknya.


"Menunggu dia besar maka kau sudah tiada!" Kata Guru Duma lalu menidurkan bayi itu.


"Jaga bicaramu Guru Duma. Aku tidak akan menunggu hingga dia dewasa. Aku akan kembali merebut tahtaku dengan segera."


"Bagaimana jika putramu menemukan tempat persembunyian kita?" Kata Guru Duma agar Ratu Mayang tidak terlalu berkhayal dengan ilmunya yang sekarang yang tidak sehebat dulu lagi.


"Itu tidak akan terjadi. Dan jika itu terjadi, dia adalah putraku, aku memahami kelemahannya." Kata Ratu Mayang.


"Apakah dia sudah tidur?" Tanya Ratu Mayang.


"Dia akan tidur dalam beberapa jam, aku juga akan tidur, mengurus bayi diusiaku ini sangat melelahkan." Kata Guru Duma.


***


Raja berlari hingga kepinggir laut. Dia merasakan keberadaan putranya diantara laut itu. Tapi tidak mungkin dia ada didalam laut bukan?


Raja merasakan ikatan batin dengan putranya begitu kuat ditempat ini. Hingga Raja duduk dan melamun dipinggir airnya.


"Putraku....kau dimana?"


Matahari mulai tenggelam diujung laut dan malam mulai semakin gelap. Raja akhirnya kembali bersama para prajuritnya.


Ratu sudah tidak sabar menunggu kedatangan Raja. Dia berharap Raja kembali dengan putranya.


"Pelayan, apakah Raja sudah datang?" Tanya Ratu.


" Benar Ratu, Raja sudah sampai di istana."


"Apakah Raja datang dengan putraku?"


"Tidak Ratu, sepertinya Raja hanya bersama prajurit saja." Kata Ratunya.


Ratu kecewa saat mendengar penuturan pelayan itu. Ratu terlihat sangat bersedih dan tidak bisa menahan rasa kecewanya.


Raja masuk dan menatap Ratunya dengan sedih.


"Maafkan aku, aku tidak menepati janjiku." Kata Raja pada Ratunya.


Ratu hanya diam saja.


"Aku mencarinya kemana-mana tapi aku tidak menemukan tempat dimana ibuku menyembunyikannya."


"Ya, besok baru kita cari lagi." Kata Ratu yang akan ikut mencarinya keesokan harinya.


***


Silsila masih terikat dikamarnya, hingga Salma datang dan melepaskan ikatannya.


"Kurang ajar! Aku akan membalasmu!" Kata Silsila lalu Salma mendekat padanya.


"Ini akibatnya karena kau berani melawanku!"


Kata Salma lalu pergi meninggalkan Silsila.


"Wanita itu! Aku pasti akan membalasmu!" Kata Silsila.


***


Keesokan harinya, Ratu Tara sudah bersiap dan mengikat perutnya dengan kencang. Dia akan keluar istana untuk mencari putranya.


"Apa yang kau lakukan? Kau sudah rapi, kau kau kemana?" Tanya Yang mulia Raja muda Hakim.


"Aku akan mencari putraku."

__ADS_1


"Kau istirahatlah, biarkan aku yang mencarinya. Kau baru saja melahirkan, kondisi badanmu masih lemah." Kata Raja.


"Tidak Raja. Aku akan tetap mencari putraku."


"Baiklah jika kau memaksa, aku akan bersamamu." Kata Ratu.


Begitu Raja dan Ratu pergi, Silsila menemui bibi Kaliya dan mengatakan apa yang baru saja dilakukan Silsila padanya.


"Dia berani melakukan itu padamu?" Tanya Bibi Kaliya.


"Iya bibi. Dia mengurungku dan mengikatku dikamar. Aku bahkan sampai kesakitan." Kata Silsila mengadu pada bibi Kaliya.


"Kalau begitu balaslah. Sekarang Ratu dan Raja sedang tidak ada diistana."


"Bagaimana caranya?"


"Suruh dia datang menghadapku." Kata Bibi Kaliya.


"Baiklah bibi."


Silsila lalu pergi keistana Putri untuk menemui Salma. Saat itu Salma sedang berbicara pada beberapa teman-temannya.


"Kau dipanggil oleh bibi Kaliya." Kata Silsila


"Ada apa?" Tanya Salma.


"Datanglah. Kau ditunggu diruanganya. Kau akan tahu setelah kau menemuinya." Kata Silsila.


"Ya, aku akan kesana." Kata Salma tanpa curiga.


Sesampainya dikamar bibi Kaliya, Salma menyapanya.


"Ada apa kau memanggilku?"


"Langsung saja pada pokok pembicaraan. Apa yang sudah kau lakukan pada Silsila?" Tanya Bibi Kaliya pada Salma dengan tatapan tajam.


Kurang ajar! Rupanya dia mengadu, bisik Salma.


"Tiarap dihadapan ku!" Teriak Bibi Kaliya.


"Kenapa aku harus melakukanya. Kau bukan Ratu dikerajaan ini. Kau hanya seorang pengasuh." Kata Salma dengan berani tanpa mengenal rasa takut.


"Aku bilang, tiarap. Jika kau tidak mau, aku akan menggantungmu di atas sana!" Ancam bibi Kaliya.


"Aku tidak mau. Aku tidak bersalah. Aku hanya menjalankan tugasku." Kata Salma.


"Gantung dia saja bibi. Aku ingin melihat sampai dimana keberaniannya." Kata Silsila.


Dengan sihirnya bibi Kaliya membuat Salma melayang diudara dan menggantung kakinya di langit-langit kamarnya. Kepalanya menghadap kebawah.


"Tolong! Turunkan aku! Apa yang kau lakukan. Aku akan mengadukanmu pada Ratu!" Kata Salma.


"Teriakkan sepuasmu! Ratu dan Raja sedang tidak ada diistana." Kata Silsila.


"Tolooooong! Turunkan aku!" Teriak Salma.


"Hahahaha...sebaiknya kita nyalakan perapian dibawahnya bibi." Kata Silsila.


"Ya idemu bagus juga agar dia jera!" Kata Bibi Salma lalu menyalakan perapian dibawahnya.


"Panasss! Lepaskan aku! Kalian orang jahat!" Kata Salma.


"Hahahaha....Dia mulai ketakutan." Kata Silsila.


"Jagalah dia. Aku ada urusan yang lainnya." kata bibi Silsila lalu pergi kekamar raja dan mengembalikan buku kuno yang sudah dibacanya.


Sementara Silsila berjalan dibawah Salma mengitari perapian itu.


"Panas bukan? Kau pantas mendapatkannya. Kau sok jagoan! Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?" Kata Silsila.


Salma mulai menangis dan ketakutan.


"Lepaskan aku...apa uang kalian lakukan. Dan kenapa kau dan bibi itu begitu jahat dengan Ratu? Padahal Ratu sangat baik pada kalian berdua." Kata Salma.


"Bukan urusanmu. Dan sebaiknya kau tidak usah ikut campur mulai sekarang."


"Lepaskan aku. Aku tidak akan mencampuri urusanku. Tapi lepaskan aku.... Aku tidak tahan lagi." Kata Salma lalu pingsan.


"Hhhh, dia pingsan."


Kata Silsila lalu meninggalkan Salma dan kembali keistana Ratu.


Dia masuk kekamarnya dan mulai mengecat kukunya.


Tiba-tiba, panglima kumbang datang dan menanyakan padanya dimana Salma berada?


"Kau tahu dimana Salma? Ada yang harus aku bicarakan dengannya." Kata Panglima kumbang .


"Apa!? Salma? Em, aku tidak tahu. Aku tidak melihatnya dari tadi." Kata Silsila berbohong.


"Baiklah jika begitu." Kata Panglima kumbang lalu mencari Salma ditempat lain.


Begitu panglima kumbang pergi, Silsila segera menaruh catnya dan keluar dari kamarnya.


Dia pergi mencari bibi Kaliya.


"Bibi Kamu dimana sih? Aku sudah mencarimu dimana-mana tapi kamu tidak ada." Kata Silsila.


Dan sampai didepan kamar Raja, tiba-tiba bibi Kaliya muncul dari pintu itu.


"Bibi, kenapa kau tiba-tiba ada disini? Dari tadi aku mencarimu."


"Ada apa kau mencariku?" Tanya Bibi Kaliya yang juga kaget karena dihadapannya tiba-tiba ada Silsila.


Anak bodoh ini, bagaimana dia bisa ada di hadapanku? Mengagetkan saja!


"Kita harus segera membebaskan Salma. Panglima kumbang mencarinya." Kata Silsila dan mereka segera pergi kekamar Bibi Kaliya.

__ADS_1


__ADS_2