
Dengan terpaksa Zayn mengajari Tara bagaimana supaya aktingnya bagus dan chemistrynya dapat.
Tara menjadi gadis dengan kekuatan magic, sutradara meminta agar Tara memperlihatkan beberapa kekuatannya dan akan menjadi bagian dari adegan yang harus dia lakukan.
"Tara, jangan lakukan itu. Itu sangat berbahaya untuk keselamatanmu. Jika semua orang tahu kau bisa menggunakan magic, mereka akan memburumu." Kata Zayn mengingatkan.
"Itu tidak akan terjadi."
"Aku hanya mengingatkanmu, itupun jika kau mau dengar, jika tidak,terserah padamu."
"Kau tiba-tiba menjadi peduli sampai harus mengkhawatirkan aku. Kemarin kau bahkan akan mengusirku malam-malam dari rumahmu?"
Zayn diam saja, sementara Barra sudah ada disamping mereka berdua.
"Kalian siap?" Tanya Barra pada mereka berdua.
Selesai syuting, Zayn mendekati Tara dan menanyakan sesuatu padanya.
"Kau tinggal dimana?"
"Dirumah Barra, oh ya, dan yang jelas, tidak semua orang seperti dirimu, kau sombong dan angkuh! Ternyata ada orang sebaik Barra, yang menolong orang dengan tulus, tanpa harus terus memarahinya sepanjang waktu."
"Jangan samakan aku dengan dia. Kau akan tahu siapa dia suatu saat nanti."
"Kau mencoba menakutiku?" Tanya Tarra.
"Tidak, aku hanya khawatir jika hari itu tiba, tidak ada satu orangpun yang akan menolongmu. Ini, simpan nomorku baik-baik."
Kata Zayn lalu pergi kemobilnya setelah memberikan kartu namanya.
Barra mendekati Tarra dan mengajaknya pulang.
"Tadi aktingmu lumayan bagus. Besok kau harus lebih fokus lagi. Terutama saat terbang dengan benda ajaib itu. Oh ya, ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa melakukan semua itu?" Tanya Barra saat mereka ada didalam mobil.
"Aku mewarisi bakat ibuku dan belajar sihir saat tinggal dikerajaan."
Karajaan? Gumam Bara.
"Oh ya, disini namanya magic, dengan keahlianmu, kau bisa memukau banyak orang dan kau bisa mendapatkan uang dari mereka."
"Ditempat kami dulu, magic hanya digunakan untuk menjaga diri sendiri dan menolong orang lain."
"Oh ya, apa yang tadi Zayn berikan padamu?"
Haruskah aku mengatakanya?
"Ohh, apa ya tadi? Aku lupa membawanya." Kata Tara pura-pura.
"Dia adalah aktor senior, tapi dia sangat berbakat, kau bisa banyak belajar darinya."
"Kau bilang aku bisa membeli rumah. Aku ingin tinggal sendiri." Kata Tara.
Bara menatap Tara, lalu tersenyum.
"Ayo kita cari rumah yang bagus!" Kata Barra.
__ADS_1
Saat mereka akan mencari rumah untuk Tara, ternyata Tara lupa membawa pempers untuk bayinya.
"Ya sudah, kita pulang dulu aja. Lagian kasihan anak kamu, dia mungkin kelelahan." Kata Bara.
Tara menganggukan kepalanya dan menenangkan bayinya.
Mereka sampai didepan rumah, Tara lalu turun dan Bara pergi lagi.
Tara menggendong anaknya masuk kedalam. Tiba-tiba saat dia menatap kearah langit, dia teringat pada keluarganya dan juga kerajaannya.
Aku sangat merindukan mereka. Tapi jika aku kembali, nyawa putraku dalam bahaya. Bagaimana kabarmu ibu? Dan...
Satu nama sudah tidak berani dia sebut lagi. Semuanya hanya tinggal kenangan, pertemuan, pernikahan, pengkhianatan, dan bayi yang dia tinggalkan.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, Tara yang tidak tahu jika dunia modern, dia tidak boleh sembarangan menerima tamu, langsung membukakan pintunya.
Orang itu langsung membekap mulutnya dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
Zayn penasaran dengan apa yang dilakukan Tara dirumah Barra. Zayn lalu meluncur kerumah Barra.
Zayn langsung masuk saat pintunya terbuka dan saat dia mengetuk pintu tidak ada sahutan dari dalam kecuali tangisan bayi.
"Tara! Orang aneh! Tara! Kau dimana? Bayimu menangis!" Zayn lalu menggendongnya, dan entah kenapa bayi itu langsung berhenti menangis.
Satu jam Zayn menunggu Tara, dan bingung dengan ibu seperti dirinya, yang tega meninggalkan bayinya sendirian.
Ibu macam apa dia? Apakah dia bersenang-senang dengan Barra? Bagaimana ada ibu yang tega meninggalkan bayinya dirumah tanpa siapapun. Dan pintunya, pintunya.....
Tiba-tiba Zayn teringat saat masuk tadi pintunya terbuka dan tidak terkunci.
Perampok....
Tiba-tiba Zayn menjadi cemas, apa jangan-jangan yang dia takutkan sudah terjadi?
Nyawa Tara dalam bahaya?
Zayn lalu menelpon Barra sebelum dia mencurigai jika Tara dibawa penculik.
"Barra....aku ada di rumahmu sekarang? Apa kau bersama Tara?"
"Tidak. Dia dirumah."
"Dia tidak ada dirumah. Bayinya sendirian. Aku masuk dan pintunya sudah terbuka. Apa jangan-jangan...."
Belum sempat Zayn melanjutkan kata-katanya, Barra langsung menutup teleponnya dan meluncur kembali kerumahnya.
Barra langsung masuk kedalam dan menemui Zayn.
"Dimana Tara?" Tanya Barra...
Oh my God, mesin uangku! Gumam Barra tanpa sadar.
"Apa kau bilang?" Tanya Zayn pada Barra.
"Ohh tidak! Ayo kita segera cari dia." Kata Barra dan langsung keluar.
__ADS_1
Saat sampai diluar, dia kaget karena tiba-tiba Tara muncul persis dari hadapannya.
"Kau! Kau darimana?!"
Barra dan Zayn kaget karena orang yang akan mereka cari tiba-tiba muncul entah darimana.
"Mereka membuatku tidak sadar. Setelah sadar, aku menghajar mereka semua." Kata Tarra menjelaskan apa yang baru saja dialaminya.
"Mereka, siapa?" Tanya Barra sementara Zayn masih menggendong anak Tarra.
"Orang jahat itu, tiba-tiba datang dan langsung membuatku tidak sadar." Jelas Tara.
Barra menarik nafas lega.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Lain kali kau tidak boleh membukakan pintu untuk sembarangan orang. Kau hanya boleh membukakan pintu jika aku atau dia yang datang. Kau mengerti?" Kata Barra merasa lega karena dia tidak jadi merugi.
Aku sudah mengeluarkan modal banyak, syukurlah kau kembali.
Zayn menyerahkan bayi itu pada Tarra.
"Kau ini sangat ceroboh dan bodoh! Bagaimana jika aku tidak datang? Apa yang terjadi dengan bayimu? Dia menangis sendirian dari tadi." Kata Zayn kesal.
"Terimakasih, kau sudah datang."
"Lain kali berhati-hatilah...."
Zayn lalu berpamitan untuk pergi, tapi Tara mencegahnya.
"Jangan pergi dulu! Makanlah dulu, tadi aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua."
"Benarkah?" Barra tidak percaya. Tapi Zayn langsung bersemangat karena waktu itu makanan yang dibuatnya sangat enak.
Ohh, tidak mungkin dia yang membuatnya, dia pasti pesan, tapi entah darimana dia memesannya.
"Zayn, sebaiknya kau makan dulu bersama kami." Kata Barra.
"Baiklah." Zayn pun senang dan mereka terpukau melihat makanan beraneka ragam tersedia di atas meja makan.
"Ayo kita makan, sepertinya semuanya lezat." Kata Barra.
Mereka makan hingga sangat kenyang. Padahal mereka sangat ingin menghabiskan semua hidangan itu, tapi karena perutnya sudah tidak muat, akhirnya mereka menyerah.
"Aku pulang dulu, sudah malam." Zayn berpamitan.
***
Siang hari, mereka syuting seperti biasa, tapi hari ini Tara tidak ikut karena dia akan syuting lusa.
Dislokasi syuting adegan akan dimulai tapi tiba-tiba naskah sutradara ketinggalan dirumahnya. Dia lalu menyuruh seorang kameraman untuk datang kerumahnya dan mengambil naskahnya.
Kameraman itu dengan cepat sampai dirumah Barra dan mengetuk pintunya.
"Katanya Tara ada dirumah, tapi kenapa dia tidak mau membukakan pintunya?" Tanya kameraman bingung.
"Aku sudah menunggunya setengah jam. Apa yang dia lakukan didalam? Mana mungkin dia tidak mendengarku!"
__ADS_1