
Ratu Tara menatap Raja berulang kali hingga membuat Raja kesal karena Ratu terlalu lama menjawab pertanyaannya.
"Mana hadiahnya? Bukankan kau akan menunjukkan sesuatu padaku?" Tanya Raja.
"Ya, awalnya aku akan menunjuka pada raja, tapi ternyata pertunjukannya gagal dan hancur, sesuatu meledak dan Raja terluka."
"Ohh, jadi luka ini akibat ledakan itu?" Tanya Raja sambil melihat tanganya yang tergores dimana-mana.
"Benar Raja."
"Dan tempat ini berantakan juga karena dirimu?"
"Ya, itu juga benar."
Syukurlah, mungkin aku tadi bermimpi. Gumam Raja.
Ratu terpaksa berbohong sambil berfikir langkah selanjutnya
Ratu segera berlari dan menumbuk beberapa tanaman untuk dijadikan ramuan.
"Tunjukan tanganmu!" Kata Ratu lalu mengoleskan bubuk tanaman yang sudah dihaluskan kebeberapa luka raja.
"Kau yang membuatku terluka, kau juga yang mengobatinya."
"Kau ini sangat cerewet!" Kata Ratu.
"Mungkin ini juga bagian keahlianmu. Kau merayuku keluar bukan untuk memberiku hadiah, tapi kau ingin membuatku terluka."
Kata Raja menebak isi hati Ratunya.
Ratu terlihat sangat kesal. Ratu lalu menghempaskan tangan Raja dengan kasar setelah memoleskan obat.
"Ya, yang kau katakan benar. Aku memang ingin membuatmu meledak. Tapi kau selamat!" Kata Ratu geram.
"Aku sudah menduganya. Jika ada disampingmu, nyawaku pasti selalu ada dalam bahaya, kadang binatang buas, kadang sebuah ledakan, kadang sebuah pengkhianatan!"
__ADS_1
"Kau memulainya lagi!" Ratu benar-benar marah dan kesal.
"Itu kenyataanya. Lihatlah tanganku ini? awalnya aku baik-baik saja. Dan sekarang aku terluka. Dan kau pura-pura mengobatinya.Hhhh,ck..."
"Pulanglah! Aku masih mau disini!" Kata Ratu.
"Ya, tentu saja aku akan pergi. Untuk apa aku disini bersamamu. Bagaimana jika tiba-tiba kau berubah menjadi jelmaan dan menyerangku!"
"Kenapa kau berbicara begitu hah!?" Ratu melotot pada Raja.
"Lepaskan! Aku akan pergi! Silsila pasti sudah menungguku!" Kata Raja lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Silsila pasti sudah menungguku!" Ratu menirukan perkataan Raja setelah kepergiannya
Silsila! Silsila! Silsila!
Wanita itu......
Aku akan membuat perhitungan dengannya.
***
"Hamba menghadap Raja." Kata Silsila yang tidak sempat berdandan.
"Kenapa kau menghadapku dengan penampilan seperti ini?" Tanya Raja kaget saat Silsila tidak berdandan ketika bertemu dengannya.
"Ini sudah larut malam, hamba tidak sempat berdandan." Kata Silsila.
"Jika begitu pergilah! Dan kembalilah tidur!" Kata Raja kecewa dan kesal.
"Baik Raja." Kata Silsila lalu keluar dari istana Raja.
Sampainya di istana para putri.
"Kenapa kau kembali?" Tanya pemimpin istana Putri melihat Silsila kembali dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Raja menyuruhku pergi?"
"Iya, itu pertanyaanku, jawablah yang benar!" Kata pemimpin itu kesal.
"Aku tidak berdandan saat menghadapnya. Raja kesal dan aku diusir dari kamarnya!" Aku Silsila.
"Kau memang bodoh! Kenapa kau tampil seburuk ini dihadapan Raja? Kau sudah tidak waras hah!?"
Kata pemimpin putri itu kesal.
"Diamlah Salma! Aku sedang kesal!" Kata Silsila pada Salma pemimpin istana para putri.
"Kau ini! Kau telah membuatku dalam masalah!" Kata Salma kesal karena besok dia pasti akan dipanggil ke istana raja karena perbuatan Silsila yang ceroboh ini.
"Sudah! Pergi istirahat sekarang. Jangan tunjukan mukamu dihadapan ku! Kau selalu membuatku dalam masalah!" Gerutu Salma.
Silsila lalu pergi menjauh dari hadapan Salma.
Salma mondar-mandir diruanganya dan hatinya berdebar-debar, karena besok dia pasti akan dipanggil untuk pekerjaannya yang tidak beres.
Dia harus memastikan setiap wanita yang diinginkan Raja harus selalu sempurna dan rapi.
"Si bodoh itu, sudah membuat kedudukan ku menjadi buruk dimata raja!"
"Bagaimana jika besok aku akan menjadi pelayan biasa! Aku tidak mau itu terjadi! Aku ingin menjadi pemimpin di istana Putri ini selamanya. Selama kerajaan ini berdiri. Uangku di kampung masih belum cukup. Aku harus terus menyimpanya dan membuatnya semakin banyak."
Jabatan pemimpin ini sangat penting. Karena ini adalah jabatan tertinggi bagi pelayan. Gajinya juga banyak, selain itu dia bisa berkuasa terhadap pelayan yang lainnya.
Dia bisa memerintah dan mereka semua menghormatinya sebagai pelayan yang jabatannya paling tinggi.
Aku harus mengatasi masalah ini secepatnya. Wanita itu suatu saat akan aku singkirkan dari istana Putri ini.
Dia yang paling sulit diatur dan pandai bersandiwara.
Aku tidak mempercayai si pemilik mata biru itu.
__ADS_1
Dia pandai berdiplomasi dan merayu, suatu saat bisa saja dia menggeser posisiku saat ini.
Ini tidak boleh dibiarkan!