
Pangeran Hakim memberikan surat itu kepada utusan yang akan mengantarkan surat dari ibundanya kepada Raja Muria.
"Prajurit! Kemarilah!" Seru Pangeran Hakim.
"Hamba menghadap Pangeran." Kata seorang prajurit yang biasa membawa pesan kepada kerajaan lain.
"Bawalah surat ini dan serahkan kepada Raja Muria. Ini surat penting. Jangan sampai hilang atau jatuh." Kata Pangeran Hakim.
"Siappp! Pangeran. Hamba akan langsung berangkat mengantarkan surat ini." Kata prajurit itu.
"Pergilah." Kata Pangeran Hakim sambil berlalu.
Dan tiba-tiba Pangeran Haris sudah ada dibelakangnya dan mengagetkan Pangeran Hakim.
"Haris? Kapan kau kembali dari perbatasan?" Tanya Pangeran Hakim. Melihat ada Haris maka Pangeran Hakim tidak jadi berlalu. Malah sekarang sedang duduk dibawah pohon yang sangat besar.
"Baru saja." Jawab Pangeran Haris.
"Wajahmu kelihatan ceria sekali Pangeran?" Ujar Pangeran Haris sambil duduk dibawah pohon. Pangeran Haris duduk disamping pangeran Hakim.
"Iya, aku sedang bahagia Haris."
"Apakah yang membuat sahabatku bahagia sedangkan aku tidak mengetahuinya." Kata Pangeran Haris.
"Kau pasti akan terkejut jika mendengarnya Haris." Kata Pangeran Hakim sambil menatap kelangit yang begitu cerah.
"Apakah gerangan yang tidak aku ketahui Pangeran?" Tanya Haris semakin tidak sabar.
"Aku akan menikah dalam waktu dekat."
"Benarkah?" Tanya Haris penasaran.
"Iya...Ibunda mempercepat pesta pernikahan kami. Dan aku tidak sabar untuk membawa Putri Tara ke kerajaan ini." Kata Pangeran Hakim.
"Ahk kau pasti sudah tidak sabar untuk melihat keindahan tubuhnya." Goda Pangeran Haris.
Kemudian Pangeran Hakim menginjak kaki Pangeran Haris.
"Jaga mulutmu! Aku tidak seperti kebanyakan pangeran yang mudah mempermainkan wanita dengan kekuasaannya." Kata Pangeran Hakim.
"Bagus! Aku salut padamu! Karena jika kau membuatnya sedih maka aku akan merebutnya darimu?" Goda Pangeran Haris.
"Apa? Kau pikir dia akan mau dengan dirimu?"
"Apa yang kurang dari diriku. Aku juga tampan dan hanya bedanya aku bukan pangeran sepertimu." Kata Pangeran Haris sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Hahahaha.....
"Aku sangat bahagia saat ini." Kata Pangeran Haris mengulangnya berkali-kali.
"Kau benar-benar telah terperdaya oleh kecantikanya." Kata Pangeran Haris.
"Mungkin...tapi aku tidak boleh melupakan kata-kata ibunda. Aku menikahinya untuk suatu tujuan yang lebih penting daripada apapun didunia ini."
"Tujuan? Tujuan apa?" Pangeran Haris nampak terkejut dan sontak saja membuat Pangeran Hakim gelagapan karena telah keceplosan.
"Maksudku...ehmm tujuan dari pernikahan. Yaa aku akan menjadikanya Ratu di kerajaan kita." Kata Pangeran Hakim asal-asalan.
"Aku pikir kau akan mempermainkannya." Kata Pangeran Haris dengan nafas lega.
Dikerajaan Muria.
Utusan itu sudah sampai di Kerajaan Muria sore harinya. Dan langsung menyerahkan surat itu kepada Raja Muria.
Kemudian Raja Muria masuk kedalam dan memberikan surat itu kepada Permaisuri Andini.
"Surat dari Ratu Mayang. Sepertinya Ratu itu berubah pikiran dan mempercepat acara pernikahan Putri Tara dan Pangeran Hakim." Kata Raja Muria kepada Permaisuri Andini.
"Baguslah jika begitu Raja. Maka saat ini sepertinya sudah waktunya bagi Putri Tara untuk melakukan misi balas dendamnya." Kata Permaisuri Andini.
"Saya akan memberikan balasan kepada Ratu Mayang dengan segera. Apakah utusan itu masih ada diluar Raja?" Tanya Permaisuri Andini.
"Hamba akan menyetujui jika pernikahan dilangsungkan dalam waktu dekat. Dan hamba akan menulis balasannya sekarang." Kata Permaisuri Andini dan langsung menulis surat balasan kepada Ratu Mayang.
Setelah selesai menulis surat balasannya, kemudian Permaisuri Andini memberikanya kepada Raja Muria. Selanjutnya Raja Muria kemudian keluar dari ruangan dalam dan duduk disinggasananya.
Raja Muria lalu memanggil Panglima dan memberikan surat itu untuk diserahkan kepada Utusan Ratu Mayang.
Permaisuri Andini kemudian mengirim pesan kepada seekor burung merpati dan memberikan sebuah surat untuk diberikan kepada Putri Tara.
Merpati itupun mengangguk dan terbang kearah hutan kemudian menuju ke bukit hati.
Sesampainya dibukit hati merpati itu kemudian hinggap dipangkuan Putri Tara dan memberikan sebuah surat dari Permaisuri Andini.
Putri Tara mengambil surat dari kaki merpati, dan merpati putih itupun kemudian terbang menjauh dan kembali keistana.
Putri Tara membuka surat itu perlahan dan membaca tulisan yang ditandai sangat penting oleh Permaisuri Andini.
Satu bab lagi maka semua sihir yang ada didalam buku ini selesai aku kuasai. Dan setelah itu maka aku akan mencari keberadaan Keris Mayapada. Namun esok hari aku harus keistana dan bertemu dengan ibunda terlebih dahulu.
Malam ini sebaiknya aku mencari tempat untuk menyimpan kitab ini.
__ADS_1
Putri Tara kemudian berjalan menyusuri taman yang penuh dengan beraneka macam bunga.
Dan diatas bunga itu nampak banyak binatang kecil terbang dengan nyala di ekornya?
Apakah itu kunang-kunang?
Batin Putri Tara didalam hati yang sangat takjub dengan cahaya berwarna-warni diatas bunga. Cahaya itu berkedip-kedip dengan sangat indah dan berganti warna dalam setiap detiknya.
Putri Tara kemudian mendekati dan menangkap salah satu dari binatang itu kemudian menaruhnya diatas genggamanya. Ternyata itu adalah seekor peri anak-anak yang sedang bermain bersama kawanannya.
"Indah sekali kalian para peri kecil?"
"Kckckckckck..." Peri-peri kecil itu kemudian tertawa cekikikan dan terbang mengelilingi Putri Tara.
"Hai...apa yang kalian lakukan?" Para peri itu tidak menghiraukan perkataan putri Tara dan tetap terbang mengitarinya.
"Dimanakah pimpinan Para Peri?" Tanya Putri Tara.
Kemudian mereka berbaris dan menunjukan arah kepada Putri Tara untuk menemui Ratu Peri.
"Siapakah kau yang masuk ke wilayah kami?" Tanya seorang peri biru.
"Aku adalah Putri Tara. Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya sedang bersemedi disini."
"Lalu untuk apa kau datang dan ingin bertemu dengan kami?" Tanya Ratu Peri.
"Aku pernah berjanji pada teman baruku peri kuning dan peri merah, untuk mengunjunginya jika ada waktu."
Kemudian Peri Kuning dan Peri Merah maju kedepan dan membungkuk kepada Ratu Peri.
"Iya, kami yang mengundangnya Ratu... Putri Tara adalah tamu kami."
"Berhati-hatilah jika berteman dengan manusia ananda." Kata Ratu Peri mengingatkan putri-putrinya.
"Tapi Putri ini sangat baik Ibunda. Aku bisa melihat dari sikapnya jika putri Tara berhati mulia."
"Ibunda dulu juga pernah berteman dengan manusia ananda. Namun Ibunda di hianati dan terusir dari kerajaanya." Kata Ratu Peri.
"Benarkah Ibunda?"
"Suatu hari ibunda menolong seorang wanita muda yang cantik dan berbaju serba hitam. Karena kasihan saat melihatnya terluka parah dan saat itu dia jatuh di wilayah kami maka aku pun bersama kedua orangtuaku memberikanya pertolongan. Namun saat dia berkuasa, dia menjadi orang jahat, dan kami para peri terusir dari kampung halaman kami."
"Apa sebabnya Ibunda harus meninggalkan kampung halaman?"
"Karena kami menguasai ilmu sihir. Sedangkan di negara mereka sihir dilarang oleh Ratu yang pernah kami tolong." Kata Ratu Peri sambil mengingat kisah pahit saat harus memindahkan seluruh rakyatnya keluar dari kampung halamannya.
__ADS_1
"Apakah yang dimaksud Ratu adalah Kerajaan Mayang yang dipimpin oleh Ratu Mayang?" Kata Putri Tara.
"Ya benar. Apakah kau punya hubungan dengan kerajaan itu?" Tanya Ratu Peri penasaran.