Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Bertengkar


__ADS_3

Ratu membuka matanya perlahan dan kaget saat tiba-tiba Raja berdiri disampingnya sambil melihat sempurna kewajahnya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Ratu dengan kesal.


"Kau batu bangun? Sepertinya tidurmu nyenyak sekali." Kata Raja menyindirnya.


"Ehh," Ratu lalu menatap sekeliling dan mulai sadar jika dia tidur dikamar Raja.


"Hhhhh, ck, kau rupanya sangat merindukan aku. Sepanjang malam kau pasti ingin agar aku datang menemanimu. Dan itu tidak akan terjadi." Kata Raja dengan nada sinis.


"Apa kau bilang? Kau bilang aku merindukanmu? Lebih baik aku tiada daripada berfikir tentang dirimu."


"Kau munafik." Kata Raja.


"Tapi aku tidak heran. Kau terbiasa hidup dalam kebohongan dan kemunafikan. Kau juga terbiasa berkhianat."


"Tutup mulutmu. Jangan sampai aku lupa jika kau adalah Raja. Dan pedangku yang berbicara."


"Itu kenyataanya. Kau memang wanita seperti itu. Pembohong, penghianat!" Kata Raja dan kata-katanya sangat melukai hati Ratu yang sedang hamil muda saat ini.


Dengan cepat Ratu langsung mengambil pedangnya dan mengarahkannya pada Raja.


Slliiinggg


Swoosshhhh


Pedang itu tepat menempel dijamin Raja yang kaget dan shock dengan serangan Ratunya.


"Aku bisa sqja membunuh hari ini. Tapi itu tidak akan baik untukmu. Aku tidak ingin namamu dikenang sebagai Raja yang terbunuh oleh Ratunya."


"Mintalah maaf padaku! Ucapanmu sudah melebihi batas! Raja!" Kata Ratu dengan pedang yang masih mengarah pada suaminya.

__ADS_1


"Aku akan terhormat karena mati ditangan istriku. Tapi kau akan dikenal sejarah sebagai istri yang kejam dan penghianat!"


"Jaga ucapanmu! Aku benci kau menyebutku penghianat!" Teriak Ratu kesal.


"Hheeemm, ck, lakukan saja. Aku yakin kau tidak punya keberanian untuk membunuhku!" Raja menantang Ratunya.


Tiba-tiba saja tangan Raja sudah bergerak dengan sangat cepat dan keadaan berbalik.


Sekarang pedang itu menempel dileher Ratunya.


"Keadaan mudah berubah. Jadi sebaiknya jangan terlalu banyak berkhayal."


"Aku tidak takut mati. Kau telah salah menilaiku!"


"Kau memang tidak takut mati. Dan aku juga tahu jika kau keras kepala. Tapi....aku adalah raja yang bijaksana."


"Pergilah dari kamarku!"


Kata Raja sambil memberikan pedang itu pada Ratu dan mendorongnya keluar dari kamarnya.


"Aku tidak akan memaafkanmu untuk penghinaanmu ini!" Kata Ratu Tara dengan muka merah terbakar oleh amarah.


Kata-kata Raja sudah sangat menyinggung perasaannya.


"Kau yang tidur dikamarku! Tapi kau bilang aku yang masuk kekamarmu!


"Dasar pecundang!"


Hardik Ratu dari luar kamar Raja.


Ratu lalu menarik nafas panjang dan memperbaiki bajunya yang kusut.

__ADS_1


Setelah itu Ratu masuk kekamarnya. Dia berbicara pada dirinya sendiri.


"Aaahhhhhkkk seandainya saja aku tidak hamil. Pasti aku sudah melenyapkannya!"


"Dia pikir dia itu siapa? Dia menjadi Raja karena aku yang telah memberikannya. Tapi dia tidak tahu berterima kasih!"


"Aku telah menyingkirkan ibunya lalu dia menjadi Raja. Tapi dia tidak tahu berterima kasih!"


Tiba-tiba, pintu diketuk oleh panglima kumbang.


"Ya, masuklah."


"Maafkan hamba Ratu, tapi tadi hamba dengar Ratu bertengkar dengan Raja. Apakah Ratu baik-baik saja?" Tanya Panglima yang mendapat laporan dari prajuritnya.


"Saya tidak apa-apa panglima." Kata Ratu.


"Baiklah, hamba permisi." Kata panglima.


Ahk, darimana dia tahu jika aku bertengkar!? Berita mudah tersebar seperti abu yang terbang setelah terbakar!


Ratu lalu duduk dan bercermin. Dia mengamati lehernya yang tadi hampir saja putus jika saja Raja benar-benar berubah menjadi raksasa saat itu.


"Raksasa? Sepertinya aku terpengaruh oleh ibunda, yang menganggap Raja adalah jelmaan Raksasa."


Jika dia raksasa, kenapa dia tidak berubah?


Aku akan menunggu hingga bulan purnama berikutnya.


Aku akan membawanya kehutan saat bulan purnama. Dan begitu cahaya bulan menerpa wajahnya, maka wujud aslinya akan berubah.


Ya aku harus melakukan itu. Aku ingin tahu dia raksasa atau manusia sungguhan.

__ADS_1


__ADS_2