
Hari ini tiba waktu yang ditunggu dan dinantikan oleh seluruh rakyat. Mereka ingin melihat wajah cantik calon pengantin Pangeran Hakim.
Konon katanya selain cantik putri dari kerajaan Muria itu berhati mulia.
Masyarakat sudah tidak sabar menunggu adanya perubahan dalam kehidupan mereka. Dan putri itu digadang-gadang bisa. rngembaljjan kemakmuran rakyat Kerajaan Mayang yang saat ini hidup dalam penderitaanmu.
"Ayo Pangeran. Kita akan kesana sekarang "
"Ratu Mayang telah tiba. Siapkan tandu " Teriak salah seorang prajurit."
Kemudian beberapa orang prajurit mendekat dan membawa tandu untuk Ratu Mayang.
Kemudian beberapa orang prajurit mendekat dan membawa randu untuk Ratu Mayang.
Ratu Mayang beserta Guru Duma dan juga para pelayan yang membawa hadiah untuk putri Tara.
Tandu-tandu berbaris sangat banyak dan siap diangkat oleh para prajurit. Iringan tandu itupun berjalan keluar istana Mayang menuju kerajaan Muria.
Para prajurit berjalan tanpa mengenal lelah karena mereka sudah terbiasa dan terlatih.
Sementara pemeran hakim dan pangeran Haris berjalan dibarisan paling depan dengan menaiki kuda putih yang terlah dihias dengan begitu indah.
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai diKerajaan Maya dan disambut oleh pejabat serta keluarga kerajaan.
Mereka kemudian diarahkan untuk masuk kedalam ruangan yang telah dihias untuk menyambut kedatangan mereka.
Tampak Raja Muria duduk disinggasana ya dan disampingnya ada putri Tara yang sudah berhias dan memang kecantikanya luar biasa.
Ratu Mayang dipersilahkan duduk di kursi yang indah dan berbeda dari semuanya. Karena dia adalah seorang ratu. Sementara disampingnya duduk pangeran haris dan juga pangeran hakim.
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai diKerajaan Maya dan disambut oleh pejabat serta keluarga kerajaan.
Mereka kemudian diarahkan untuk masuk kedalam ruangan yang telah dihias untuk menyambut kedatangan mereka.
Tampak Raja Muria duduk disinggasana ya dan disampingnya ada putri Tara yang sudah berhias dan memang kecantikanya luar biasa.
Ratu Mayang dipersilahkan duduk di kursi yang indah dan berbeda dari semuanya. Karena dia adalah seorang ratu. Sementara disampingnya duduk pangeran haris dan juga pangeran hakim.
Ratu Mayang memberikan semua hadiah untuk putri Tara. Dan Putri Tara menerima semua hadiah itu dengan ucapan terimakasih dan hati yang senang.
Ratu Mayang melihat sekeliling namun tidak menemukan sosok yang ingin sekali dilihatnya.
Aku pikir dia adalah keturunan Permaisuri Andini. Tapi seandainya dugaanku benar. Kenapa aku tidak melihat Permaisuri di ruangan ini.
Mungkin dugaanku salah! Dia memang bukan Putri dari Permaisuri Andini. Tapi dia adalah putri dari Raja Muria dan permaisuri nya.
__ADS_1
Pangeran Haris terus menatap Putri Tara tanpa berkedip. Matanya melebar dan bersinar seperti pelangi. Kecantikan putri Tara memang tiada tandingan, belum pernah dia melihat gadis yang cantik dan bersinar seperti dirinya.
Setelah acara sambutan oleh Raja Muria kemudian Pangeran Hakim meminta ijin Raja Muria untuk mengajak Putri Tara keistana Mayang.
"Bagaimana Putri?"
"Baiklah. Hamba bersedia Yang Mulia."
Kemudian rombongan itu kembali ke Kerajaan Mayang tanpa menginap.
Mereka tiba diKerajaan Mayang setelah matahari tenggelam.
"Istirahatlah Putri." Kata Pangeran Hakim sambil mengantarkan Putri Tara dikamar yang sudah disediakan.
Pangeran Hakim kemudian menemui ibunda Ratu dikamarnya.
"Bagaimana ibunda? Bukankah Putri Tara sangat cantik?"
"Ya. Yang kau katakan benar pangeran. Dia sangat cantik. Bahkan ibunda akui dia lebih cantik dari ibunda."
"Menurut ibunda, apakah Putri itu pewaris keris keabadian?"
"Ya benar pangeran. Kita harus secepatnya mencari tahu kebenaran ini."
"Caranya?"
"Apakah selain sihir yang bisa menunjukan jika dia adalah pewaris keris keabadian ibunda?"
"Dipunggunya ada gambar keris keabadian. Aku dulu pernah melihat Permaisuri Andini mempunyai tanda seperti itu."
"Besok suruh Putri Tara untuk memakai baju ini. Dengan baju ini maka kau bisa mengetahui dan melihat tanda dipunggungnya."
"Apakah Putri akan memakainya ibunda?"
"Katakan jika ini hadiah dariku."
"Baiklah ibunda hamba mohon diri."
Kemudian Pangeran Hakim membawa baju itu kekamarnya. Dan besok akan dia berikan kepada Putri Tara.
Pagi harinya Pangeran Hakim mengetuk pintu kamar Putri Tara.
tok tok tok!
Tidak ada sahutan.
__ADS_1
tok tok tok!
Kemana Putri pergi sepagi ini?
Kemudian Pangeran hakim membuka pintunya perlahan. Dan pangeran Hakim melihat sekeliling ruangan itu. Namun tidak ada putri Tara di mana pun. Tempat tidurnya juga sudah tertata rapi. Artinya mungkin putri sudah bangun dan keluar dari kamar itu.
Pangeran hakim kemudian meletakan baju pemberian ibundanya dan setelah itu mencari putri Tara disekeliling istana.
Sementara dayang Kaliya sedang mengejar putri Tara.
"Putri...." Kata dayang Kaliya. "Selamat datang diistana kami." Kata dayang Kaliya sambil tersenyum manis.
"Terimakasih..." Kata Putri Tara.
Setelah melihat tidak ada siapapun yang melihat mereka maka dayang Kaliya membisikan sesuatu ketelinga putri Tara.
Putri Tara melihat dayang Kaliya dengan perasaan terkejut dan tidak menyangka bahwa yang saat ini berdiri disampingnya adalah bibinya. Adik dari mendiang ayahnya yang sudah tiada akibat kejahatan Ratu Mayang.
"Berhati-hatilah jika berada disini. Jangan terlalu percaya pada pangeran Hakim. Dia adalah perisai Ratu Mayang. Kau boleh menikah dengan pangeran Hakim, tapi jagalah hatimu...jangan sampai kau jatuh cinta padanya."
Putri Tara mengangguk mendengarkan pesan bibinya. Saat ini Putri Tara sedang memetik beberapa bunga dan daun-daun diantara tanaman liar untuk dijadikan ramuan.
"Untuk apa semua ini putri?"
"Untuk ramuan bibi....eh dayang...." Supaya tidak ada yang mencurigainya maka putri Tara memanggilnya dengan sebutan dayang. Karena saat ini bibinya sedang menyamar menjadi seorang dayang.
"Rupanya kau pandai membuat ramuan?" Tanya bibinya.
"Iya dayang...ibuku memberiku sebuah kitab ramuan yang sudah selesai saya pelajari semuanya."
"Ternyata kau mewarisi kepandaian ibumu. Sekarang kau sudah dewasa, semoga kamu bisa membalaskan kematian ayahmu dan merebut kembali kerajaanmu."
"Iya dayang melalui pernikahan maka saya akan mencari dimana keris milik ayahanda. Sehingga saya bisa mengalahkan ratu Mayang."
"Iya, semoga kamu berhasil menemukan keris itu, dan aku akan selalu membantumu jika kau membutuhkan bantuanku."
"Terimakasih bibi..."
"Aku sudah disini dari pangeran Hakim masih bayi, akulah yang mengasuhnya. Namun sedikitpun tidak ku ketahui dimana Ratu Mayang menyembunyikan keris Mayapada itu."
"Kenapa bisa seperti itu bibi?"
"Karena selama ini tidak ada yang ilmunya tinggi dan berani melawan Ratu Mayang, sehingga keris itupun tidak pernah digunakan."
Kemudian dari jauh dayang Kalila melihat pangeran Hakim datang.
__ADS_1
"Ssssssttttt....dia datang. Pangeran Hakim."
"Apa yang kamu lakukan disini putri?" Tanya pangeran Hakim yang melihat keranjang putri Tara penuh dengan bunga.