Ratu Abadi Dan Sihirnya

Ratu Abadi Dan Sihirnya
Mencuri Kitab Keris Mayapada


__ADS_3

Putri Tara melihat dan berjalan ke sekeliling rak buku yang jumlahnya sangat banyak.


"Bibi...bagaimana kita dapat menemukan satu buku dari sekian banyak buku yang ada disini?"


"Iya Putri. Bibi juga bingung, harus mencari dari mana. Jika kita terlalu lama disini maka Ratu Mayang keburu datang dan kita akan terjebak disini."


"Sebaiknya kita cari secara berpencar bibi. Bibi bagian sini dan saya bagian sana."


"Ya baiklah Putri, mari kita cari secepatnya sebelum Penyihir itu datang."


Putri Tara kemudian berjalan disebelah timur sedangkan Bibi Kaliya disebelah Barat. Putri Tara mencari satu persatu setiap judul buku namun hingga beberapa rak dia cari dan dia belum menemukan kitab yang dia cari.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Dengan cepat Putri Tara berjalan mendekati Bibi Kaliya dan memberitahunya untuk berhenti mencari buku itu.


"Bibi...ada yang datang! Sebaiknya kita sembunyi...." Kata Putri Tara sambil sembunyi dengan menggunakan Sihirnya sehingga tidak terlihat.


"Siapa yang datang?" Tanya Bibi Kaliya.


"Sepertinya Pangeran Hakim bibi."


"Jangan sampai Pangeran melihat kita putri. Ini sangat berbahaya."


Pangeran Hakim kemudian berjalan didekat sebuah meja yang biasa digunakan untuk membaca buku.


"Kenapa buku ini begitu berantakan?" Kata Pangeran Hakim.


Kemudian Pangeran Hakim membaca sebuah mantra dan buku itu rapi seperti sediakala.


"Mungkin Ibunda sedang mencari buku dan lupa merapikanya." Gumam Pangeran Hakim.


Buku Keris Mayapada, datanglah kepadaku....


Sebut Pangeran Hakim didekat mejanya. Dan setelah Pangeran Hakim menyebut judul kitab itu, maka tiba-tiba buku itu terjatuh tepat diatas meja di hadapannya.


Putri Tara dan Bibi Kaliya saling berpandangan dan tersenyum. Ternyata begitu cara mencari buku di perpustakaan Ratu Mayang. Tanpa bersusah payah kesana-kemari tinggal sebut saja judul bukunya, maka buku itu akan datang sendiri.


Pangeran Hakim kemudian duduk dan membaca Kitab tentang Keris Mayapada. Dan setelah merasa mengantuk akhirnya Pangeran Hakim pergi dari perpustakaan itu. Sementara bukunya tetap berada diatas meja.


Pangeran Hakim sudah pergi dari Perpustakaan kuno itu, kemudian Putri Tara dan Bibi Kaliya keluar dan dengan cepat mengambil buku yang belum selesai dibaca oleh Pangeran Hakim.


"Buku ini terlalu besar bagaimana kita membawanya agar tidak terlihat?" Tanya Putri Tara.


"Kita masukan kedalam baju saja." Kata Bibi Kaliya.

__ADS_1


"Seperti ini?"


"Ya, seperti itu lebih baik Putri. Mari kita tinggalkan tempat ini sebelum Ratu Mayang kembali."


Akhirnya Putri Tara dan Bibi Kaliya berhasil keluar dari Perpustakaan itu. Saat ini Putri Tara sudah ada dikamarnya dan dengan cepat menyimpan kitab itu diantara lipatan bajunya.


Tidak lama kemudian Ratu Mayang yang baru saja melakukan Ritual bersama guru Duma masuk kedalam kamarnya.


Dan kemudian karena ada yang ingin dicarinya maka Ratu Mayang mengucapkan mantra dan pintu perpustakaan itu terbuka. Setelah Ratu Mayang masuk kedalam perpustakaan maka pintu itu tertutup kembali.


Ratu Mayang kemudian membaca sebuah mantra dan dia baca mantra itu berulang-ulang, namun buku yang dia sebutkan tidak juga turun dihadapannya.


"Kenapa buku itu tidak mau muncul?"


"Buku Keris Mayapada...datanglah dihadapan ku..." Kata Ratu Mayang karena kesal akhirnya Ratu Mayang mencari dengan kedua tangannya dan menyusuri rak-rak dimana biasa buku itu dia simpan.


Dan diantara susunan buku, ternyata ada ruang yang kosong dan ruang kosong itu adalah tempat dimana biasanya buku Keris Mayapada disimpan.


"Kenapa tempat ini kosong?"


"Apakah ada yang memindahkan buku itu?"


"Apakah Pangeran Hakim yang sudah memindahkannya? Dasar anak itu, tidak mau menaruh buku ditempatnya semula."


Tapi setelah berkomat-kamit berulang kali dan tetap saja buku itu tidak mau datang maka akhirnya Ratu Mayang keluar dari perpustakaan itu.


"Kemana buku itu? Apakah Pangeran Hakim sedang mempelajarinya?"


"Ya...mungkin Pangeran Hakim yang membawa buku itu."


Dikamar Putri Tara


Aku akan menyimpan kitab ini dan besok aku akan berpamitan untuk kali keistana Muria. Aku akan membuat alasan dan aku harus meyakinkan Pangeran Hakim agar memberikan ijin untuk pulang besok pagi-pagi sekali.


Aku harus mengamankan buku ini dan dengan cepat mempelajarinya. Sebelum ratu Mayang curiga dan mengetahui bahwa aku mencuri kitab ini. Jika sampai aku tertangkap, maka perang sudah tidak bisa dielakkan lagi. Namun aku pasti kalah karena ilmuku belum setinggi Ratu Mayang dan juga Pangeran Hakim. Mereka menguasai banyak ilmu sihir dari banyak buku hasil rampasan perang.


Aku harus mempersiapkan diri dulu sebelum akhirnya mereka tahu jati diriku yang sebenarnya.


Pagi-pagi sekali Putri Tara sudah menghadap Ratu Mayang dan akan berpamitan untuk kembali kerajaanya.


"Kenapa buru-buru Putri? Tinggallah satu malam lagi disini." Kata Ratu Mayang kepada Putri Tara.


Aku harus mencegah kepergiannya sampai aku yakin jika dia adalah pewaris keris keabadian itu.

__ADS_1


Batin Ratu Mayang yang keberatan dengan kepergian putri yang sangat mendadak.


"Benar Putri...tinggallah disini semalam lagi." Kata Pangeran Hakim mencegah kepergian Putri Tara karena mendapat isyarat dari ibundanya.


"Maaf Pangeran, izinkan hamba kembali."


Karena Putri Tara bersikeras akhirnya Ratu Mayang dan Pangeran Hakim mengizinkan Putri Tara kembali ke kerajaanya.


"Aku akan mengantarkanmu Putri." Kata Pangeran Hakim yang tidak bisa membiarkan Putri Tara kembali bersama pengawalnya.


Ibunda ingin agar aku berpura-pura menikahimu...namun kenapa jantungku berdebar dan hatiku ini menjadi hampa saat melihat kepergian mu...


Pangeran Hakim bergumam sambil berjalan dibelakang Putri Tara.


Aku tidak tahu Pangeran apakah aku nanti akan datang sebagai tamu atau sebagai mautmu ...


Akhirnya Putri Tara pulang dengan menaiki kuda bersama Pangeran Hakim.


Kuda Pangeran Hakim berjalan disamping kuda Putri Tara. Tak henti-hentinya Pangeran Hakim menatap wajah cantik putri Tara dan diapun hanyut dalam cinta yang mulai tumbuh direlung hatinya.


Aku benar-benar mencintainya. Aku tidak berpura-pura. Aku sungguh mencintainya.


Seandainya aku dilahirkan kembali maka biarlah aku menjadi orang biasa dan bukan seorang pangeran yang terbebani dengan tanggung jawab kerajaan. Sehingga aku bisa mencintaimu tanpa kepura-puraan dan tanpa syarat apapun.


Tanpa sadar Putri Tara dan pangeran Hakim bertemu pandang dan saling bertatapan lama sekali.


deg


Putri Tara merasakan perasaan yang tidak biasanya direlung hatinya. Jantungnya tiba-tiba saja berpacu lebih kencang dari kuda yang saat ini di naiki olehnya.


Tidak!


Dia adalah anak dari pembunuh ayahku. Aku sangat membencinya. Aku hanya hidup untuk balas dendam dan merebut kembali kerajaanmu. Aku tidak boleh memiliki perasaan ini. Ini salah! Ini tidak benar!


Kemudian Putri Tara cepat memalingkan wajahnya dari pandangan Pangeran Hakim.


Kya!


Kya!


Khya!


Putri Tara melecut kudanya agar berlari cepat dan berusaha untuk tidak terbawa perasaan.

__ADS_1


Pangeran Hakimpun demikian.


__ADS_2