
Setelah membeli baju, Barra mengajak Tara dan bayinya untuk tinggal dirumahnya sementara waktu.
"Kau dan bayimu bisa beristirahat disini. Telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu." Kata Barra sambil memberikan telepon genggam miliknya yang tidak terpakai.
"Apa ini?" Tanya Tarra.
"Maksudmu?" Barra jadi bingung dengan pertanyaan Tarra.
"Ini namanya apa?" Tanya Tara sambil menunjukan telepon genggam yang diberikan Barra.
"Itu, untuk komunikasi jarak jauh. Apakah kau belum pernah menggunakannya?" Tanya Barra yang mulai berfikir jika teman barunya benar-benar aneh dan mungkin dia tersesat dari dunia lain.
Ahk, mungkin aku kebanyakan membuat film, pikiranku juga jadi kacau.
"Di kerajaanku, tidak ada alat seperti ini. Kami berbicara dengan surat yang dibawa oleh burung merpati."
"Ok, ok...baiklah, aku akan mengajarimu." Kata Barra dan tidak peduli dengan imajinasi dan halu gadis itu.
"Seperti itu cara menggunakannya, kau bisa?"
Tara mengangguk.
"Kalau kau lapar, kau bisa ambil makanan dikulkas, dan kau tinggal menghangatkan saja. Pulang kerja aku akan membawakan makanan dan mengajakmu belanja." Kata Barra.
Tara menganggukkan kepalanya.
Kau sungguh baik.
Barra tersenyum bahagia karena dia mendapatkan gadis polos yang bisa terbang dengan karpet ajaib.
Aku sungguh beruntung bertemu dengannya.
Barra lalu pergi dari rumahnya kelokasi syuting.
Disana Zayn sudah menunggu bersama beberapa kru pembuatan film.
"Kau terlambat banyak hari ini." Kata Zayn pada Barra.
"Sorry bro, aku ada urusan mendadak!"
"Kau terlihat bahagia hari ini?" Tanya Zayn.
"Ya, aku menemukan Dewi Fortuna. Dia adalah sumber keberuntunganku. Tidak lama lagi kau akan beradu akting dengganya."
Kata Barra bersemangat. Dan Zayn hanya melengos saja.
Setelah selesai syuting, Zayn tidak langsung pulang kerumahnya. Dia penasaran dengan nasib gadis itu. Ada rasa khawatir dalam dirinya karena gadis itu pergi tanpa punya uang dan punya rumah dengan membawa bayi dalam gendongannya.
Ahk, sial! Kenapa aku terus memikirkannya. Seandainya saja tadi aku memberikan sedikit uang padanya.
__ADS_1
Zayn keliling kota hingga malam hari demi mencari gadis itu. Namun sampai waktu makan malam, dia juga tidak menemukannya.
"Sudahlah! Entah dia ada dimana? Semoga dia tidak bertemu dengan orang jahat!" Kata Zayn lalu teringat tentang buku sejarah kerajaan Maya yang dia pernah baca namun sayangnya belum selesai hingga akhir.
Zayn lalu mencari buku itu disetiap laci tuang tamu dan beberapa dilemari yang jarang dibuka. Namun dia tetap tidak menemukan buku itu.
Aku lapar sekali....
Sebaiknya aku pesan makanan...
Tapi...kenapa aku harus pesan makanan?
Bukankah ada makanan dimeja sisa tadi pagi dan masih banyak. Ohh God, syukurlah gadis itu menyediakan makanan untukku. Rasanya lezat dan entah dimana dia memesannya.
***
Barra pulang dan mengajak Tarra dan bayinya pergi ke mall untuk membeli perlengkapan yang dia butuhkan dan juga makanan serta susu bayi.
"Turunlah, kita sudah sampai." Kata Barra lalu membantu Tarra menggendong bayinya."
"Pertama-tama yang kita butuhkan adalah, stroller bayi. Kau membutuhkanya saat kau bekerja nanti. Tidak mungkin kau terus menggendongnya." Kata Barra dan Tara hanya menurut saja karena dia juga tidak mengerti maksud perkataan Barra.
Mereka sampai di toko perlengkapan bayi.dan Barra yang tahu jika Tarra tidak tahu apapun, berinisiatif untuk memilih semua keperluanya tanpa bertanya padanya.
Untuk apa bertanya padanya? Dia juga tidak tahu jawabannya. Yang ada aku malah capek karena harus menjelaskan semua barang yang tidak dia tahu. Gadis yang aneh, tapi kalau dibilang bodoh, bagaiamana dia bisa punya anak? Ahk, pasti dia korban kejahatan laki-laki. Dia terlalu polos, pantas saja dia punya anak dan tidak ada bapaknya.
Selesai belanja, Barra memanggil Tara yang hanya duduk saja bersama bayinya sambil melihat Barra belanja semua keperluannya.
Tara hanya mengangguk saja dan memilih untuk menurut tanpa banyak bertanya.
Barra pergi kebutik yang menyediakan semua yang dibutuhkan wanita, dari sepatu, perhiasan, baju, alat make up, pembalut dan semua pernak perniknya hingga dia kesulitan membawa semua barang itu.
"Ayo kita pulang. Kurasa hari ini belanja kita sudah cukup. Besok kau mulai bekerja. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli semua ini."
Barra masuk kedalam mobil disusul Tarra dan beberapa pelayan toko juga sudah selesai memasukkan semua barang belanjaan mereka.
***
Keesokan harinya
Barra sudah siap untuk berangkat kelokasi syuting.
"Tara, apakah kau sudah siap?" Tanya Barra pada Tarra.
"Sudah." Terlihat Tara menggendong bayinya.
"Kau tidak perlu menggendong lagi." Kata Barra.
"Gunakan ini." Kata Barra sambil mengambil stroller dan memberikannya pada Tara.
__ADS_1
"Ini untuk apa?"
"Kau tidak tahu cara menggunakannya?" Barra menebak jika Tara memang gadis langka yang tidak tahu apa-apa.
"Jika sudah disiapkan seperti ini. Kau bisa menaruhnya disana. Contohnya seperti ini." Kata Barra lalu mengambil bayi itu dari gendongan ibunya dan meletakkannya di atas stroller.
"Ya, baiklah, aku mengerti." Kata Tarra lalu berjalan dibelakang Barra. Barra mendorong stroller dan mereka masuk kedalam mobil.
Mereka sampai di lokasi syuting. Dan mereka datang lebih pagi dari semua kru.
"Hai boss! Kita terlambat atau bos yang pagian nih?" Tanya seorang kameraman.
"Eh, siapa dia?"
"Namanya Tara, dia artis pendatang baru. Dia akan menjadi peran pembantu dan akan berakting bersama Zayn. Jika mereka mempunyai chemistry yang bagus, maka bukan tidak mungkin suatu saat mereka akan beradu akting dan menjadi pemeran utama."
"Ok. Kita lihat bakatnya nanti." Kata kameraman.
Ratu Tara lalu meninggalkan bayinya dan mendekat pada Barra.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya karena dia tidak tahu pekerjaan seperti apa yang akan dia lakukan.
"Tunggulah. Sebentar lagi dia datang."
Dan dari jauh Zayn nampak berjalan mendekati mereka.
Dia terkejut melihat Tara ada disana.
"Kau disini? Apa yang kau lakukan disini?"
"Itu bukan urusanmu. Urus saja dirimu sendiri." Jawab Tara ketus karena dia tidak ingin Zayn menggagalkan rencana kerjasamanya.
"Pergi dari sini? Ini bukan tempatmu. Kita akan syuting. Kau hanya akan mengganggu saja, belum lagi jika bayimu menangis." Kata Zayn kesal karena kemarin dia mencarinya seharian dan sekarang Tara justru ada disini.
Padahal kemarin dia sangat mengkhawatirkannya.
Huh!?
Tara lalu pergi dan duduk disamping bayinya bersama kru yang lainnya.
Barra sang sutradara mulai mengatakan keinginanya dan Zayn keberatan dengan usulnya.
"Dia!? Gadis itu? Berakting denganku? Ohh, man, itu sangat buruk. Kau tahu dia adalah gadis yang bahkan tidak bisa membuat mie instan, bagaimana dia bisa berakting?"
"Kau akan mengajarinya." Kata Barra dan tidak suka dengan penolakan dari Zayn.
"Aku adalah sutradara, jadi aku yang akan menentukan dengan siapa kau akan berakting."
Huh, Sial!
__ADS_1
Zayn lalu mengambil air mineral dan menenggak semuanya hingga tidak satu tetes pun tersisa. Dia kesal karena Barra sebagai sutradara tidak mau mendengarkan pendapatnya.