
Putri Tara kemudian turun dari tandunya dan menyapa beberapa warga desa.
"Apa yang kamu lakukan Putri? Mereka hanya rakyat biasa dan kau seorang putri..." Kata Pangeran Hakim sambil berjalan dibelakang Putri Tara.
"Tidak bisa disebut Raja atau Ratu jika didalamnya tidak ada satupun rakyat yang mendukungnya. Peran rakyat sangatlah besar bagi sebuah kerajaan. Aku sangat menghargai rakyat, dan Raja atau Ratu yang perkasa adalah yang membuat rakyatnya sejahtera."
"Ibuku adalah Ratu yang sangat bijaksana. Ratu Mayang sangat dicintai oleh rakyatnya."
"Ya. Aku bisa melihatnya." Kata Putri Tara dengan nada sedikit kesal. Dan berpura-pura mendukung dan tidak menentang apa yang dikatakan dan pendapat Pangeran Hakim tentang ibunya.
Sekarang belum waktunya untuk memberitahumu siapakah ibumu yang sebenarnya. Dia hanya memakai topeng untuk menutupi kejahatannya. Andai kukatakan, kau juga tidak akan mempercayaiku karena aku tidak mempunyai bukti.
"Kau belum mengenal Ibuku secara dekat. Jika kau mengenalnya, kau akan terkejut betapa ibunda berjuang keras demi kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat Mayang. Kau bisa lihat, besarnya kerajaan kami dan banyak kerajaan yang sudah tunduk dibawah kekuasaan ibunda."
"Ya, aku sudah banyak mendengarnya dari sahabatku. Oh! Aku baru ingat jika sahabatku Reksa tidak ikut bersamaku. Padahal aku sudah berjanji untuk mengajaknya tinggal bersamaku." Kata Putri Tara sambil berjalan masuk keistana.
Tiba-tiba Pangeran Haris datang dan mengulurkan tanganya pada Putri Tara.
"Kenalkan, dia saudaraku Pangeran Haris."
"Kita pernah bertemu sebelumnya." Kata Putri Tara.
"Benar Putri." Kata Pangeran Haris berjabat tangan dengan Putri Tara. "Dan selamat datang di Kerajaan Mayang."
Pangeran Hakim kemudian menarik tangan Putri Tara dari genggaman Pangeran Haris.
"Lepaskan!" Kata Pangeran Hakim.
Pangeran Haris hanya tertawa melihat kelakuan sahabatnya. Sementara Putri Tara terkejut melihat kelakuan suaminya yang aneh seperti itu.
Mereka bertiga kemudian masuk kedalam Istana dan disana sudah duduk Ratu Mayang, dan sudah disediakan tempat juga bagi Putri Tara dan juga Pangeran Hakim.
Para tamu yang hadir pun berdiri dan memberi hormat kepada calon Raja dan Ratu itu. Semua orang berfikir Ratu Mayang akan turun tahta saat Pangeran Hakim menikah. Dan kerajaan akan dipimpin oleh seorang Raja, seperti dulu.
__ADS_1
Kemudian semua orangpun duduk kembali. Dan Putri Tara duduk disamping Pangeran Hakim. Pangeran Hakim menggenggam erat jemari Putri Tara yang ada diatas pangkuannya.
Putri Tara kemudian menoleh kepada Pangeran Hakim dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Pangeran Hakim. Pangeran Hakimpun memberi isyarat dengan matanya untuk diam dan tidak banyak bergerak.
"Lepaskan tanganku." Kata Putri Tara sambil melirik pangeran yang duduk disebelahnya.
"Diamlah! Ada banyak tamu disini." Kata Pangeran Hakim.
Putri Tara kemudian membiarkan Pangeran Hakim menggenggam tangannya hingga acara tari-tarian dan penyambutan itu selesai.
Setelah itu Putri Tara menarik tangannya dengan sangat keras hingga terlepas dari genggaman suaminya. Dan Putri Tara berpamitan kepada Yang Mulia Ratu Mayang untuk pergi beristirahat.
"Pelayan! Antarkan Putri kekamarnya." Kata Ratu Mayang.
"Baik yang mulia." Kemudian pelayan itupun mendekati Putri Tara dan berbicara dengan penuh hormat padanya.
"Mari, saya antarkan kekamar Putri." Kata Pelayan itu.
Kemudian Putri Tara berdiri dan berjalan mengikuti pelayan itu. Sementara Pangeran Hakim tetap duduk bersama ibunya.
Ratu Mayang berjalan terlebih dahulu sedangkan Pangeran Hakim berjalan belakangan. Namun tanpa mereka ketahui sepasang mata terus mengawasi setiap gerak gerik mereka. Bibi Kaliya yang mengasuh pangeran Hakim sejak kecil nampak mengawasi apa yang mereka lakukan dari tadi.
Pangeran Hakim saat ini tengah berjalan kekamar Ibundanya. Dan dibelakangnya Bibi Kaliya mengikutinya secara diam-diam. Sesekali Pangeran Hakim menoleh kebelakang dan setiap kali pangeran menoleh kebelakang maka dia tidak menemukan siapapun yang mengikutinya meskipun kadang dia merasa seperti ada seseorang yang mengawasinya.
Ceklek!
Pangeran Hakim langsung masuk kekamar ibundanya dan nampak empat orang penjaga sedang berdiri diluar kamar Ratu Mayang. Meskipun begitu Bibi Kaliya yang berpura-pura membawa minuman berjalan pelan dan mendekati keempat Prajurit itu tanpa ada kesulitan karena statusnya sebagai pengasuh pangeran Hakim. Dan semua itu memudahkannya untuk mengelabuhi beberapa prajurit yang sedang berjaga.
Saat prajurit itu terlena maka Bibi Kaliya dengan menggunakan kekuatannya mengecilkan tubuhnya dan menaruh gelas yang dia bawa diatas meja tidak jauh dari tempat berdirinya prajurit itu.
Pangeran Haris yang baru saja lewat dan melihat pelayan Kaliya, terkejut saat pelayan itu tiba-tiba tidak ada dan hilang dari penglihatannya.
"Kemana pelayan itu pergi?" Bisik pangeran Haris. "Aku tadi melihatnya ada disini. kenapa tiba-tiba menghilang? Kemana perginya? Pangeran Haris kepada kemudian melihat gelas ada diatas meja dan tidak diserahkan kepada Ratu Mayang. Hak itu semakin menambah kecurigaan Pangeran Haris pada pelayan Kaliya.
__ADS_1
Namun selama dia tidak menemukan bukti maka diapun tidak bisa melaporkanya pada Pangeran Hakim dan juga Ratu Mayang. pangeran Hakim sangat menghormati Bibi Kaliya karena telah mengasuhnya dan menganggap bibi Kaliya sudah seperti ibunya sendiri.
Pangeran Haris kemudian bertanya kepada salah seorang prajurit yang berjaga.
"Apakah kalian melihat Bibi yang mengasuh Pangeran Hakim datang kesini?"
"Tidak Pangeran." Jawab beberapa prajurit itu serempak.
Apakah aku yang salah lihat. Tapi tidak mungkin mataku salah. Aku jelas melihatnya berjalan dan berdiri didepan kamar Ratu Mayang. Dan setelah itu minuman itu ada diatas meja dan dia menghilang seperti ditelan bumi.
Sementara didalam kamar, Pangeran Hakim sedang berbicara kepada Pangeran Hakim tentang keinginanya untuk mengajak Putri Tara menemui Kaisar Langit.
"Tapi ritual itu tidak mudah ibu. "Kata Pangeran Hakim keberatan dan takut akan membahayakan keselamatan istrinya.
"Tapi kau tahu jika ritual itu berhasil maka kita bisa membuat satu permintaan dan kau juga tahu jika kitab Mayapada telah hilang. Jadi ibu sangat khawatir suatu saat tiba-tiba Kerajaan kita diserang dan jika ibu kalah maka apakah kau tidak kasihan kepada rakyat?"
Ibunya selalu mengatasnamakan rakyat untuk meminta simpati Pangeran Hakim.
"Baiklah ibu jika itu demi rakyat." Akhirnya Pangeran Hakim menyetujui keinginan ibundanya.
"Kita akan mulai melakukanya besok malam." Kata Ratu Mayang.
"Tapi ibu, kenapa cepat sekali. Putri baru saja datang dan bagaimana saya akan mengatakanya tentang ritual itu." Kata Pangeran Hakim yang kebingungan karena permintaan ibunya.
"Sudah tidak ada waktu lagi pangeran." Kata Ratu Mayang. "Waktu kita tinggal tiga Minggu lagi dan ritual itu harus selesai sebelum purnama berikutnya."
"Baiklah ibu. Besok siang saya akan mengatakanya kepada Putri Tara. Dan semoga saja Putri Tara tidak menolaknya." Kata Pangeran Hakim.
Setelah mendengar pembicaraan merekapun Bibi Kaliya keluar dari kamar Ratu Mayang dan setelah sampai diluar kamar maka dia menggunakan sihir untuk kembali kewujudnya semula.
Sementara salah satu prajurit yang menyadari keberadaanya mengatakan jika tadi Pangeran Haris mencarinya.
Bibi Kaliya mengangguk dan tersenyum kepada prajurit itu yang memberitahunya jika Pangeran Haris mencarinya.
__ADS_1
Anak bodoh itu selalu saja memata-matai apa yang kulakukan. Suatu saat aku harus menyingkirkannya dan berhati-hati saat berhadapan dengannya. Dia sepertinya mulai mencurigaiku. Aku harus selalu waspada saat bertemu dengannya. Saat ini yang harus kulakukan adalah menemui Putri Tara dan mengatakan apa yang baru saja kudengar. Sebelum Pangeran Hakim masuk kedalam, aku harus sudah lebih dulu menemuinya. Sebelum Putri Tara membuat keputusan yang salah.